Okay, I'd be really honest: I've been at my lowest point in the past 3 days. I've been terribly sad. I've also been so badly broken. I knew I had to pass this phase, but still my human feeling cculd not deny that it's been so badly hurt. For a reason I could not tell.
Hari ini, saya sering blank di sela sela jadwal kerja yang cukup padat. Harus berangkat pagi pagi, mempresentasikan sebuah topik bahasan, makan siang bersama seorang rekan wartawan, berkutat dengan kesibukan rutin kantor, had a dinner date, and then, I briefly met again with a friend of mine that I mentioned in yesterday's blog. Bertemunya sebentar saja, karena sudah malam, dia hanya ingin memastikan saya baik baik saja. And I showed up more composed than yesterday, and I managed to smile too. Dan ketika sampai, di rumah, dia pun memastikan bahwa saya sudah tiba dengan selamat. Dan ia menulis di blackberry messenger nya : It's nice to c u tonite ... More smile ..
Ketika saya berterima kasih, dia bilang "my pleasure, it's all because of you too". Kok bisa? Ia menjawab, "Iya ... no matter how hard I tried, if you don't have the will to set yourself free and smile ... it wouldn't happen :-)" Ketika saya berterimakasih sekali lagi, jawabnya, "It's a pleasure for me too, if I can make you smile :-)" WOW!
Detik ini saya langsung menyadari bahwa kalau di urut ke belakang, di setiap keterpurukan, Tuhan selalu memberi saya seseorang yang setia mendampingi melalui setiap tahap kesusahan hingga saya bisa pulih dan bangkit lagi. Dan kali ini, tak terkecuali. Saya tidak mengerti bagaimana Tuhan bekerja, namun di saat yang terburuk, Tuhan sudah menyediakan "malaikat"nya untuk menolong. Seperti teman saya ini. Out of the blue, tiba tiba ia men sms saya kemarin pagi. Saya mengomel dan mengatakan sombong karena ucapan natal dan tahun baru saya tidak dibalas. Ternyata blackberrynya rusak dan baru sembuh 2 hari lalu. Dan sejak saat itu, dia selalu menemani saya, dan memberi encouragement yang membesarkan hati sehingga saya jadi lebih mampu bertahan.
Saya benar benar bersyukur bahwa ternyata Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendirian. Tanpa diduga, Ia selalu mengirimkan bantuan, memberi pendampingan, dan penguatan, dalam bentuk nyata. "Malaikat penolong" saya selama ini memang selalu berbeda orang, dari latar belakang yang berbeda pula, namun kalau direnungkan lagi, selalu orang yang paling tepat untuk menemani saya melalui saat saat terberat di situasi tertentu di masanya. Saya harus mengakui bahwa sebagian besar mereka yang pernah menjadi "malaikat penolong" saat ini sudah tidak berhubungan lagi karena situasi. Namun, setelah saya renungkan kembali, saya belajar bahwa ada orang orang yang memang dikirim Tuhan untuk terlibat dalam hidup kita dengan tugas hanya untuk mendampingi saat saat berat dan setelah "tugas"nya selesai, mereka kemudian berlalu dan meneruskan perjalanan hidupnya lagi. Saya tentu berharap hal ini tak terjadi dengan teman saya yang satu ini.
Dari pengalaman, saya berani bilang kalau kita mau lebih peka saat sedang dalam kesusahan, atau tertimpa bencana, atau derita, atau sedang terpuruk, selalu saja ada "malaikat" yang dikirim Tuhan untuk kita. Sayangnya kita sering kali tidak peka. Kalaupun mengerti, kita jadi terlalu terikat pada sang "penolong" karena berhutang budi yang berlebihan, dan merasa bersalah dan tak mau mengikhlaskan bahwa waktu bagi sang penolong itu sudah habis bersama kita, dan harus meneruskan perjalanannya sendiri. And it's okay, because they have done their part and duty. And now they have to continue their journey with new task of life in order for them to grow. Kalau kita tahan, bisa jadi malah kita tidak berbuat yang terbaik baginya. Malah menghambat.
Maka, saat ini saya mau berterima kasih dan mengirim doa untuk "malaikat" saya. Agar ia mendapat berkah melimpah atas perannya yang luar biasa, telah setia menemani saya berjalan melalui tebing terjal kehidupan dan menuntun saya melewati titian tipis agar sampai dengan selamat tiba di seberang untuk meneruskan perjalanan ...
Welcome to the world of Lawrence Tjandra where you celebrate life to its fullest. Come to see places I've been, read the articles published in media and share thoughts and views on diverse issues of life!
Thursday, January 14, 2010
Wednesday, January 13, 2010
13 Januari 2010 : Peka
Malam ini saya bersantap sambil berbincang panjang dengan seorang teman. Saya sempat bercerita tentang apa yang terjadi pada teman saya dua malam lalu, dan teman santap malam saya mengeluarkan pendapatnya: sebenarnya tidak ada yang salah dengan teman saya yang satu itu, ia hanya bertemu dengan orang yang tidak baik. Orang yang sudah dari awalnya punya niat tersendiri. Saya hanya terdiam. Jadi, ada kategori orang baik, dan orang yang tidak baik. Lalu, dia bilang lagi, proses sebuah hubungan itu perlu waktu. Kita tidak bisa menilai dari tahap awalnya saja, karena apa yang menggebu gebu di awal itu sebenarnya adalah area abu abu. Hm, ini menarik. Yang dimaksud dengan abu abu, adalah area yang antara bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya. Ok, I get it. Setelah melalui masa ini, masih butuh waktu yang cukup dan pertimbangan yang matang untuk sampai pada tahap mengikat janji untuk hidup bersama. Hm, saya teringat pesan Gill di Australia soal mencintai 100%. O, soal yang seratus persen ini, teman saya bilang, dia menahan diri. Saya jadi ingin tahu lebih jauh, bagaimana caranya. Dia bilang dengan tidak berharap banyak di awal. Ah, that's the point! Selama ini saya rasanya menaruh beban harapan yang terlalu besar di awal hubungan saya. And it's just not working. So, I have to change.
Teman saya bercerita dia pernah melakukan kesalahan juga. Saat itu dia suka pada seseorang dan berharap. Di saat semuanya indah, tiba tiba sang pujaan menghilang lenyap begitu saja. Menjawab sms pun seperlunya. Perlu waktu tiga bulan untuk membujuknya makan malam bersama. Dan saat makan malam tiba, sebenarnya ia ingin menanyakan apa yang terjadi. Namun bahasa tubuh sang pujaan mengurungkan niatnya. Ia tahu bahwa harapannya sudah berakhir.
Tapi menghilangnya sang pujaan ternyata membawa dampak lain padanya. Ia jadi tidak percaya diri. Maka ia pun mencoba memikat orang lain, hanya untuk mendapat konfirmasi bahwa ia masih menarik dan masih dapat menggait hati orang. Dan ketika orang itu sudah terpikat dan menanyakan arah hubungan mereka, ia pun mundur teratur, yang penting ia tahu, dia masih punya daya pikat!
Wait a minute, saya juga melakukannya saat saya kehilangan percaya diri ditinggal selingkuh! Saya memejamkan mata memikirkan hati yang terlukai hanya untuk membuktikan bahwa saya masih punya daya pesona. Saya jadi ingin tahu, apakah menurut pendapat teman saya, saya ini flirty. Jawabannya seolah meneguhkan penelaahan pribadi saya saat di Perth beberapa lalu. Dia bilang, saya tidak flirty, hanya too nice. Too nice sampai orang salah sangka, dan punya persepsi lain atas laku saya terhadap yang bersangkutan. Dikira saya ada hati, tapi yang sebetulnya terjadi adalah saya hanya being nice.
Masalah ini, sudah pernah saya bahas dengan kakak saya Gita berpuluh tahun lalu. Waktu itu, ada rekan kerja wanita saya yang usianya 12 tahun di atas saya, dan mempertanyakan arah hubungan kami. Saya benar benar terkesiap karena selama ini saya menganggapnya seperti kakak saja. Rekan kerja wanita yang lain, sampai pernah mengunci pintu ruang kerja saya, dan membuat saya keringat dingin karena menyangka akan diperkosa! Lalu ada seorang petinggi sebuah surat kabar nasional yang berkomentar, "I like you, because you are such a gentleman. Jarang sekarang saya melihat ada orang yang membukakan pintu mobil seperti ini." Saya merasa ada yang salah. Selalu telat sadar. Namun, mungkin karena saat itu masih terlalu muda, saya merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan bagaimana mengatasinya.
Saya memang dididik untuk sopan. Seorang pria harus berjalan di sisi luar jalanan bila sedang berdampingan dengan wanita. Dia harus membukakan pintu. Harus perhatian. Jadi saya merasa aneh ketika hal seperti ini dipermasalahkan. Dan diperhatikan.
Saya jadi ingat ketika sedang mengantri ke kamar kecil di lorong pesawat saat mengantar ibu saya ke Perth tanggal 20 Desember yang lalu. Rupanya gerak gerik saya mengurusi ibu saya, jadi perhatian seorang ibu yang mengantri di depan saya. Dia bilang, dia memperhatikan saya dan begitu perhatiannya saya pada ibu. Dia jadi ingat anaknya, dan dia "kepingin punya anak seperti kamu." Ketika kembali duduk, saya bercerita pada ibu saya, dan kami berdua terbahak lirih (saya rasa Ibu saya bangga, dan to tell the truth saya bangga juga dimaui orang untuk jadi anaknya. hahaha) Dalam hati, saya agak heran karena buat saya, bukannya sudah seharusnya seorang anak berbakti dan hormat pada orang tuanya (catatan: berbakti bukan berarti mengikuti kemauan orang tua secara membabi buta karena kita juga tahu apa yang terbaik untuk kita sendiri, bukan menurut orang lain, termasuk orang tua kita). Karena begitulah kami di keluarga dididik.
Maka, di tengah didikan untuk sopan, perhatian, menghargai orang lain, dan sebagainya, saya kemudian menjadi apa yang dikatakan teman saya, kurang peka. Bahwa hal hal seperti ini bisa memacu persepsi lain atas diri saya. Bahwa saya ada hati.
Saya tercenung. Jadi apa yang harus saya lakukan? jadi judes? cuek? teman saya bilang nothing. The only thing you have to change is to be more sensitive. Perhatikan reaksi orang yang menerima treatment yang kamu lakukan secara alami itu. Dia bilang saya harus lebih peka terhadap reaksi orang. Dan saya harus lebih berhati hati dalam bersikap baik. It's a must to be nice to people. Just don't be too nice...
Saya bersyukur punya momen seperti ini yang menjadi masukan berharga untuk memperbaiki diri. Saya jadi harus belajar untuk bisa mendefinisikan tindakan mana yang akhirnya melangkah melebihi batas kata "terlalu" tadi. Dan lebih peka. Lebih peka, dan lebih peka ...
Teman saya bercerita dia pernah melakukan kesalahan juga. Saat itu dia suka pada seseorang dan berharap. Di saat semuanya indah, tiba tiba sang pujaan menghilang lenyap begitu saja. Menjawab sms pun seperlunya. Perlu waktu tiga bulan untuk membujuknya makan malam bersama. Dan saat makan malam tiba, sebenarnya ia ingin menanyakan apa yang terjadi. Namun bahasa tubuh sang pujaan mengurungkan niatnya. Ia tahu bahwa harapannya sudah berakhir.
Tapi menghilangnya sang pujaan ternyata membawa dampak lain padanya. Ia jadi tidak percaya diri. Maka ia pun mencoba memikat orang lain, hanya untuk mendapat konfirmasi bahwa ia masih menarik dan masih dapat menggait hati orang. Dan ketika orang itu sudah terpikat dan menanyakan arah hubungan mereka, ia pun mundur teratur, yang penting ia tahu, dia masih punya daya pikat!
Wait a minute, saya juga melakukannya saat saya kehilangan percaya diri ditinggal selingkuh! Saya memejamkan mata memikirkan hati yang terlukai hanya untuk membuktikan bahwa saya masih punya daya pesona. Saya jadi ingin tahu, apakah menurut pendapat teman saya, saya ini flirty. Jawabannya seolah meneguhkan penelaahan pribadi saya saat di Perth beberapa lalu. Dia bilang, saya tidak flirty, hanya too nice. Too nice sampai orang salah sangka, dan punya persepsi lain atas laku saya terhadap yang bersangkutan. Dikira saya ada hati, tapi yang sebetulnya terjadi adalah saya hanya being nice.
Masalah ini, sudah pernah saya bahas dengan kakak saya Gita berpuluh tahun lalu. Waktu itu, ada rekan kerja wanita saya yang usianya 12 tahun di atas saya, dan mempertanyakan arah hubungan kami. Saya benar benar terkesiap karena selama ini saya menganggapnya seperti kakak saja. Rekan kerja wanita yang lain, sampai pernah mengunci pintu ruang kerja saya, dan membuat saya keringat dingin karena menyangka akan diperkosa! Lalu ada seorang petinggi sebuah surat kabar nasional yang berkomentar, "I like you, because you are such a gentleman. Jarang sekarang saya melihat ada orang yang membukakan pintu mobil seperti ini." Saya merasa ada yang salah. Selalu telat sadar. Namun, mungkin karena saat itu masih terlalu muda, saya merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan bagaimana mengatasinya.
Saya memang dididik untuk sopan. Seorang pria harus berjalan di sisi luar jalanan bila sedang berdampingan dengan wanita. Dia harus membukakan pintu. Harus perhatian. Jadi saya merasa aneh ketika hal seperti ini dipermasalahkan. Dan diperhatikan.
Saya jadi ingat ketika sedang mengantri ke kamar kecil di lorong pesawat saat mengantar ibu saya ke Perth tanggal 20 Desember yang lalu. Rupanya gerak gerik saya mengurusi ibu saya, jadi perhatian seorang ibu yang mengantri di depan saya. Dia bilang, dia memperhatikan saya dan begitu perhatiannya saya pada ibu. Dia jadi ingat anaknya, dan dia "kepingin punya anak seperti kamu." Ketika kembali duduk, saya bercerita pada ibu saya, dan kami berdua terbahak lirih (saya rasa Ibu saya bangga, dan to tell the truth saya bangga juga dimaui orang untuk jadi anaknya. hahaha) Dalam hati, saya agak heran karena buat saya, bukannya sudah seharusnya seorang anak berbakti dan hormat pada orang tuanya (catatan: berbakti bukan berarti mengikuti kemauan orang tua secara membabi buta karena kita juga tahu apa yang terbaik untuk kita sendiri, bukan menurut orang lain, termasuk orang tua kita). Karena begitulah kami di keluarga dididik.
Maka, di tengah didikan untuk sopan, perhatian, menghargai orang lain, dan sebagainya, saya kemudian menjadi apa yang dikatakan teman saya, kurang peka. Bahwa hal hal seperti ini bisa memacu persepsi lain atas diri saya. Bahwa saya ada hati.
Saya tercenung. Jadi apa yang harus saya lakukan? jadi judes? cuek? teman saya bilang nothing. The only thing you have to change is to be more sensitive. Perhatikan reaksi orang yang menerima treatment yang kamu lakukan secara alami itu. Dia bilang saya harus lebih peka terhadap reaksi orang. Dan saya harus lebih berhati hati dalam bersikap baik. It's a must to be nice to people. Just don't be too nice...
Saya bersyukur punya momen seperti ini yang menjadi masukan berharga untuk memperbaiki diri. Saya jadi harus belajar untuk bisa mendefinisikan tindakan mana yang akhirnya melangkah melebihi batas kata "terlalu" tadi. Dan lebih peka. Lebih peka, dan lebih peka ...
Labels:
'lawrence tjandra',
flirting,
peka,
refleksi
Tuesday, January 12, 2010
12 Januari 2010 : Merelakan dengan tulus ikhlas
Hari ini saya memenuhi tugas yang saya lakukan dengan penuh protes, perjuangan dan tawar menawar. Sebagai orang yang ditakdir kemampuan melihat (namun tidak bisa memilih apa yang dilihat, jadi sekali lagi tak perlu coba coba meminta saya meramal karena tak akan ada hasilnya), suatu saat di awal tahun ini, saya diberi visi yang sangat mengerikan tentang sebuah kejadian di masa datang, dan saat itu terdengar suara bahwa keadaan itu bisa berubah bila yang bersangkutan bertobat dan memperbaiki hidupnya sekarang, dan saya diminta untuk menyampaikannya langsung kepada yang bersangkutan. Saya tidak mengenal orangnya, tapi saya tahu siapa dia. Lalu ada satu orang lagi yang bersangkutan dan yang menjadi penghubung antara saya dan orang tadi, yang harus diberitahu juga, namun tak ada visi apa pun tentang dia, hanya suara yang saya dengar.
Dengan suara ini lah saya tawar menawar, meminta agar saya diberi kesempatan untuk dapat berperan dalam membantu si perantara memperbaiki keadaan, soal yang satunya, secara egois, saya tidak ambil peduli karena tak kenal. Namun suara itu berkata, tugas saya hanya menyampaikan pesan, soal percaya atau tidak, dilaksanakan atau tidak, itu terserah yang menerima. Dan saya diingatkan untuk tidak ikut campur, karena bukan urusan saya. Suara itu mengulangi dengan tegas ketika saya merengek, TIDAK! Katanya, Lagi pula toh kecil kemungkinan suara kamu akan dipeduli dan didengar. Itu bukan porsi kamu (saya) untuk memaksanya. Itu sudah karma mereka. Yang ingin dilakukan sang suara adalah memberikan peringatan, agar pada akhirnya nanti bila tidak terlaksana, sudah tercatat bahwa sudah diberi kesempatan dan diingatkan. Saya lalu protes lagi karena saya diberi tugas berat dan aneh, namun tidak diberitahu caranya, bagaimana kalau saya salah menyampaikan karena emosi? Suara itu menjawab ringan, sampaikan saja apa adanya. Uhhh! Saya kesalnya setengah mati, sambil bergidik mengingat visi yang begitu jelas dan detil itu.
Dan saat yang dimaksud sang suara itu tibalah semalam dan pagi hari ini. Kesempatan menyampaikan mengalir, dan ketika semua berakhir dengan ketidakpercayaan, amarah dan sia sia, saya tahu waktu saya untuk berada dalam lingkaran setan itu pun berakhir pula. Dalam debat kusir yang panjang, saya akhirnya mengkorupsi sebagian pesan, saya tidak menyampaikan visi yang penuh, karena pesan saja sudah tidak dipercaya, apa lagi diberi gambaran visi yang mengerikan itu, tambah dikira saya gila dan mengarang bebas! Apa pun hasilnya, saya tahu bahwa oleh yang di atas, tugas saya dianggap sudah selesai, dan saya dipaksa menepi, keluar dari derasnya laju bola panas. Soal saya babak belur, Dia tidak peduli, Ia tahu saya akan selamat dan baik baik saja setelah proses penyembuhan yang entah kapan berakhir.
Yang harus saya lakukan sekarang adalah merelakan dan mengikhlaskannya walaupun seberdarah apa keadaan saya. Karena tugas saya memang seharusnya hanya sampai di situ. Dan salah saya sudah tahu dan diberi tahu, tapi tetap membandel, menawar lebih. Dan itu yang membuat saya babak belur.
Maka saya hanya ingin titip pesan, seperti yang disampaikan oleh Santo Paulus dalam Filemon 1 : 8 -17
Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,
tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus
-- dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.
Dia kusuruh kembali kepadamu -- dia, yaitu buah hatiku --
Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.
Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padam, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,
bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.
Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
Misteri kehidupan dan misteri iman sangat jauh dari jangkauan saya, di luar batas pengertian otak saya yang terbatas, apalagi semua ini di luar akal sehat manusia, namun saat ini saya belajar untuk menerima dengan penuh syukur apa yang diamanahkan bagi saya, dan saya bersyukur telah melaksanakannya semampu saya. Saya sekali lagi dberi pengertian mengenai peran kita masing masing dalam kehidupan. Dan bahwa tuntas menurut Tuhan belum tentu sama artinya dengan tuntas menurut pemahaman manusia, dan itu tetap tuntas. Pada akhirnya, saya bersyukur dapat menerima, memberi dan merelakan dengan tulus ikhlas. Semoga tugas yang saya laksanakan dengan penuh perjuangan dan berdarah darah ini, akan membawa hasil yang baik dikemudian hari untuk semua pihak. Karena untuk itulah saya hadir di sini. Untuk merasakan dan memahami makna kasih yang tak berbatas dan bersyarat...
Saya meminta maaf, kalau Anda tidak mengerti apa yang saya alami dan renungkan hari ini. Kali ini saya menulisnya untuk catatan saya sendiri. Tapi, syukurlah kalau Anda mengerti, karena dalam maknanya... Tuhan berkati.
Dengan suara ini lah saya tawar menawar, meminta agar saya diberi kesempatan untuk dapat berperan dalam membantu si perantara memperbaiki keadaan, soal yang satunya, secara egois, saya tidak ambil peduli karena tak kenal. Namun suara itu berkata, tugas saya hanya menyampaikan pesan, soal percaya atau tidak, dilaksanakan atau tidak, itu terserah yang menerima. Dan saya diingatkan untuk tidak ikut campur, karena bukan urusan saya. Suara itu mengulangi dengan tegas ketika saya merengek, TIDAK! Katanya, Lagi pula toh kecil kemungkinan suara kamu akan dipeduli dan didengar. Itu bukan porsi kamu (saya) untuk memaksanya. Itu sudah karma mereka. Yang ingin dilakukan sang suara adalah memberikan peringatan, agar pada akhirnya nanti bila tidak terlaksana, sudah tercatat bahwa sudah diberi kesempatan dan diingatkan. Saya lalu protes lagi karena saya diberi tugas berat dan aneh, namun tidak diberitahu caranya, bagaimana kalau saya salah menyampaikan karena emosi? Suara itu menjawab ringan, sampaikan saja apa adanya. Uhhh! Saya kesalnya setengah mati, sambil bergidik mengingat visi yang begitu jelas dan detil itu.
Dan saat yang dimaksud sang suara itu tibalah semalam dan pagi hari ini. Kesempatan menyampaikan mengalir, dan ketika semua berakhir dengan ketidakpercayaan, amarah dan sia sia, saya tahu waktu saya untuk berada dalam lingkaran setan itu pun berakhir pula. Dalam debat kusir yang panjang, saya akhirnya mengkorupsi sebagian pesan, saya tidak menyampaikan visi yang penuh, karena pesan saja sudah tidak dipercaya, apa lagi diberi gambaran visi yang mengerikan itu, tambah dikira saya gila dan mengarang bebas! Apa pun hasilnya, saya tahu bahwa oleh yang di atas, tugas saya dianggap sudah selesai, dan saya dipaksa menepi, keluar dari derasnya laju bola panas. Soal saya babak belur, Dia tidak peduli, Ia tahu saya akan selamat dan baik baik saja setelah proses penyembuhan yang entah kapan berakhir.
Yang harus saya lakukan sekarang adalah merelakan dan mengikhlaskannya walaupun seberdarah apa keadaan saya. Karena tugas saya memang seharusnya hanya sampai di situ. Dan salah saya sudah tahu dan diberi tahu, tapi tetap membandel, menawar lebih. Dan itu yang membuat saya babak belur.
Maka saya hanya ingin titip pesan, seperti yang disampaikan oleh Santo Paulus dalam Filemon 1 : 8 -17
Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,
tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus
-- dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.
Dia kusuruh kembali kepadamu -- dia, yaitu buah hatiku --
Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.
Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padam, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,
bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.
Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
Misteri kehidupan dan misteri iman sangat jauh dari jangkauan saya, di luar batas pengertian otak saya yang terbatas, apalagi semua ini di luar akal sehat manusia, namun saat ini saya belajar untuk menerima dengan penuh syukur apa yang diamanahkan bagi saya, dan saya bersyukur telah melaksanakannya semampu saya. Saya sekali lagi dberi pengertian mengenai peran kita masing masing dalam kehidupan. Dan bahwa tuntas menurut Tuhan belum tentu sama artinya dengan tuntas menurut pemahaman manusia, dan itu tetap tuntas. Pada akhirnya, saya bersyukur dapat menerima, memberi dan merelakan dengan tulus ikhlas. Semoga tugas yang saya laksanakan dengan penuh perjuangan dan berdarah darah ini, akan membawa hasil yang baik dikemudian hari untuk semua pihak. Karena untuk itulah saya hadir di sini. Untuk merasakan dan memahami makna kasih yang tak berbatas dan bersyarat...
Saya meminta maaf, kalau Anda tidak mengerti apa yang saya alami dan renungkan hari ini. Kali ini saya menulisnya untuk catatan saya sendiri. Tapi, syukurlah kalau Anda mengerti, karena dalam maknanya... Tuhan berkati.
Labels:
'lawrence tjandra',
refleksi
Monday, January 11, 2010
11 Januari 2010 : Cukup!
Saya baru saja selesai mengadakan obrolan yang cukup berat melalui chatting ym bersama teman saya. Awalnya, saya hanya bermaksud menyapanya dan memberi selamat tahun baru, dan ia membalas dengan memberikan selamat natal dan tahun baru. Saya juga bermaksud berbasa basi saat menanyakan kabarnya, namun jawabannya membuat sesi chatting menjadi berkelanjutan.
Ia mengatakan kabarnya tidak baik. Ia sedang patah hati. Saya terkejut, padahal sebelum libur natal kemarin, dia menggebu gebu mengatakan telah menemukan hidup dan cintanya kembali setelah sekian lama merana sendirian. Ternyata setelah sebulan berlalu, baru terungkap bahwa sang kekasih bukanlah orang yang dikira dikenalnya. Teman saya pada akhirnya bahkan tidak tahu mana yang benar, mana yang karangan belaka. Si kekasih bilang ia tak ada yang punya, kenyataannya ia punya kekasih yang telah berlangsung 9 tahun, yang menurutnya telah hambar dan menyia nyiakannya. Ia bilang ia tinggal bersama tantenya, ternyata ia tinggal di rumah yang dicarinya bersama dengan kekasihnya. Ia bilang ia tak suka dibohongi, ia malah berbohong habis habisan pada teman saya. Ia bilang cinta pada teman saya namun sadar tak bisa memiliki karena teman saya dikatakannya berada jauh dari jangkauannya. Padahal teman saya hanya sejauh pelukannya. Ketika ditanya mengapa ia tidak jujur, padahal mereka berdua sudah janji untuk terbuka, sang kekasih berkilah ia takut bila ia jujur di awalnya, maka teman saya tidak mau lagi padanya.
Yang jadi perkara besar adalah karena teman saya sudah terlanjur jatuh cinta. Pesona sang kekasih sudah terlalu erat menjeratnya. Ia sampai rela berkorban demi sang kekasih untuk berhadapan dengan si 9 tahun. Padahal tak ada yang kurang dari teman ini. Ia adalah manusia yang indah : hatinya, tubuhnya dan uangnya. Ia adalah orang baik baik yang selama ini jauh dari trik trik licin. Namun mungkin faktor faktor ini juga lah yang menjadi gula yang memabukkan bagi sang kekasih. Pesona teman saya terlalu lezat untuk ditolak. Teman saya sadar ia terperangkap dan harus keluar dari kegilaan ini. Namun ia tak berdaya dalam tarik menarik antara akal sehat dan rasa rindunya. Ia sadar juga kalau kini ia menjadi selingkuhan orang. Ia juga tahu bahwa hal ini salah. Ia dalam keadaan desperate. Tahu harus keluar, tapi tak tahu bagaimana.
Saya jadi tak tahu harus berkata apa. Mau menasihati, tapi saya sadar, nasihat saya akan terdengar - sekali lagi - sangat teoritis. Karena saya tahu persis rasanya apa yang dialami teman saya. Tadinya saya mau bilang, kamu harus berhenti sekarang dan keluar dari lingkaran setan ini karena pacar kamu itu tidak akan pernah memilih kamu, tapi kata kata itu sudah meluncur sendiri dalam ketikannya. Saya cuma menjawab, ya saya tahu, karena saya pernah berada di posisi orang yang diselingkuhi. Ketika mantan saya bilang I'm in love with somebody else, dan tiga bulan kemudian memohon kembali lagi pada saya, dan dengan bodohnya saya terima kembali dengan alasan masih cinta and every person deserves a second chance, sekarang saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi selingkuhannya. Hancur pasti, karena ternyata coba coba ini hanya bara sesaat, dan setelah merasa tidak mendapat rasa nyaman seperti dalam pelukan saya, ia diludahkan begitu saja. Tapi mau dibilang apa, sebagai selingkuhan, buaian asmara licin itu luar biasa menghipnotis. Kekasih teman saya itu sudah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa ia tahu ia tak berhak melarang, tapi ia terbakar cemburu hanya dengan membayangkan teman saya itu bersama orang lain. Dan teman saya lagi lagi hanya bisa meyakinkan bahwa ia tak akan semudah itu jatuh cinta dan beralih ke hati yang lain.
Butuh waktu untuk menguatkan diri, membiarkan otak sehat kita mengambil alih perasaan kita. Namun saya lega, karena teman saya yang berotak encer di bidang kerja itu, akhirnya cepat juga membiarkan otaknya yang cerdas bekerja di arena kehidupan pribadinya. Hari ini ia menyatakan pada saya CUKUP! Ia bilang memang butuh waktu untuk menata kembali perasaannya, namun keputusannya ini membuat ia kemudian mampu mulai bangkit dari keterpurukannya. Bangkit untuk tidak lagi peduli pada janji palsu. Bangkit dari ketakberdayaannya menunggu berjam jam sms dari sang kekasih yang tak kunjung datang. Bangkit untuk tidak lagi berharap saat si kekasih menjanjikan sesuatu. Ia berencana membiarkan dan memberi pelajaran bagi si kekasih. Dan saya tidak bisa berkomentar, karena nasihat apa pun, dalam keadaan seperti ini rasanya akan jadi angin lalu saja. Karena semua butuh proses. Saya percaya ia bisa mengatasinya, dan berhenti sebelum aksinya menjadi balas dendam, karena pada dasarnya ia adalah seorang yang baik. Saya hanya berharap ia cukup kuat untuk tetap bertahan menghadapi serangan licin yang akan menerpanya begitu sang kekasih menyadari akan kehilangan selingkuhannya. Karena saya yakin ia tidak akan menyerah begitu saja.
Saat akhirnya kami berpisah di dunia maya, ia meminta didukung doa dan berterima kasih pada saya, karena dengan curhatnya hari ini, dia dapat berpikir lebih jernih. Sebetulnya, saya tidak berbuat apa apa. Saya hanya menjawab singkat singkat dan menjadi pendengar yang baik. Diam diam dalam hati malah saya yang berterima kasih padanya karena saya ikut belajar bersama proses berpikirnya. Saya seolah diingatkan kembali pentingnya tahu kapan berkata cukup, dan ditunjukkan lagi bahwa semua itu butuh proses. Saya jadi ingat pembahasan saya dengan teman saya Anita, bahwa yang namanya cinta itu tidak bisa didikte tidak 100%, dan ya, saya lihat sendiri pada hari ini, bahwa kita tidak pernah tahu kita salah langkah sebelum terbakar. Karena kalau sedang hangat hangatnya kasmaran, angin peringatan dari teman dan saudara kita rasanya hanya jadi hembusan yang semakin membuat bara menghebat dan menguat, karena ingin membuktikan bahwa semua prakira mereka itu salah. Sampai kita akhir hangus dan kembali pada teman dan saudara untuk mengembalikan bentuk asli kita. Saya pribadi, sudah berkali kali hangus, sampai teman teman saya bosan rasanya menasihati dan menerima saya kembali dalam keadaan runyam. Semoga bila nanti cinta kembali mampir dalam hidup saya, saya sudah tahu bagaimana mengendalikan bara. Dan bila bara itu kelewat liar, sudah tahu kapan dan bagaimana harus memadamkannya sehingga saya tidak (perlu) jadi hangus lagi...
Ia mengatakan kabarnya tidak baik. Ia sedang patah hati. Saya terkejut, padahal sebelum libur natal kemarin, dia menggebu gebu mengatakan telah menemukan hidup dan cintanya kembali setelah sekian lama merana sendirian. Ternyata setelah sebulan berlalu, baru terungkap bahwa sang kekasih bukanlah orang yang dikira dikenalnya. Teman saya pada akhirnya bahkan tidak tahu mana yang benar, mana yang karangan belaka. Si kekasih bilang ia tak ada yang punya, kenyataannya ia punya kekasih yang telah berlangsung 9 tahun, yang menurutnya telah hambar dan menyia nyiakannya. Ia bilang ia tinggal bersama tantenya, ternyata ia tinggal di rumah yang dicarinya bersama dengan kekasihnya. Ia bilang ia tak suka dibohongi, ia malah berbohong habis habisan pada teman saya. Ia bilang cinta pada teman saya namun sadar tak bisa memiliki karena teman saya dikatakannya berada jauh dari jangkauannya. Padahal teman saya hanya sejauh pelukannya. Ketika ditanya mengapa ia tidak jujur, padahal mereka berdua sudah janji untuk terbuka, sang kekasih berkilah ia takut bila ia jujur di awalnya, maka teman saya tidak mau lagi padanya.
Yang jadi perkara besar adalah karena teman saya sudah terlanjur jatuh cinta. Pesona sang kekasih sudah terlalu erat menjeratnya. Ia sampai rela berkorban demi sang kekasih untuk berhadapan dengan si 9 tahun. Padahal tak ada yang kurang dari teman ini. Ia adalah manusia yang indah : hatinya, tubuhnya dan uangnya. Ia adalah orang baik baik yang selama ini jauh dari trik trik licin. Namun mungkin faktor faktor ini juga lah yang menjadi gula yang memabukkan bagi sang kekasih. Pesona teman saya terlalu lezat untuk ditolak. Teman saya sadar ia terperangkap dan harus keluar dari kegilaan ini. Namun ia tak berdaya dalam tarik menarik antara akal sehat dan rasa rindunya. Ia sadar juga kalau kini ia menjadi selingkuhan orang. Ia juga tahu bahwa hal ini salah. Ia dalam keadaan desperate. Tahu harus keluar, tapi tak tahu bagaimana.
Saya jadi tak tahu harus berkata apa. Mau menasihati, tapi saya sadar, nasihat saya akan terdengar - sekali lagi - sangat teoritis. Karena saya tahu persis rasanya apa yang dialami teman saya. Tadinya saya mau bilang, kamu harus berhenti sekarang dan keluar dari lingkaran setan ini karena pacar kamu itu tidak akan pernah memilih kamu, tapi kata kata itu sudah meluncur sendiri dalam ketikannya. Saya cuma menjawab, ya saya tahu, karena saya pernah berada di posisi orang yang diselingkuhi. Ketika mantan saya bilang I'm in love with somebody else, dan tiga bulan kemudian memohon kembali lagi pada saya, dan dengan bodohnya saya terima kembali dengan alasan masih cinta and every person deserves a second chance, sekarang saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi selingkuhannya. Hancur pasti, karena ternyata coba coba ini hanya bara sesaat, dan setelah merasa tidak mendapat rasa nyaman seperti dalam pelukan saya, ia diludahkan begitu saja. Tapi mau dibilang apa, sebagai selingkuhan, buaian asmara licin itu luar biasa menghipnotis. Kekasih teman saya itu sudah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa ia tahu ia tak berhak melarang, tapi ia terbakar cemburu hanya dengan membayangkan teman saya itu bersama orang lain. Dan teman saya lagi lagi hanya bisa meyakinkan bahwa ia tak akan semudah itu jatuh cinta dan beralih ke hati yang lain.
Butuh waktu untuk menguatkan diri, membiarkan otak sehat kita mengambil alih perasaan kita. Namun saya lega, karena teman saya yang berotak encer di bidang kerja itu, akhirnya cepat juga membiarkan otaknya yang cerdas bekerja di arena kehidupan pribadinya. Hari ini ia menyatakan pada saya CUKUP! Ia bilang memang butuh waktu untuk menata kembali perasaannya, namun keputusannya ini membuat ia kemudian mampu mulai bangkit dari keterpurukannya. Bangkit untuk tidak lagi peduli pada janji palsu. Bangkit dari ketakberdayaannya menunggu berjam jam sms dari sang kekasih yang tak kunjung datang. Bangkit untuk tidak lagi berharap saat si kekasih menjanjikan sesuatu. Ia berencana membiarkan dan memberi pelajaran bagi si kekasih. Dan saya tidak bisa berkomentar, karena nasihat apa pun, dalam keadaan seperti ini rasanya akan jadi angin lalu saja. Karena semua butuh proses. Saya percaya ia bisa mengatasinya, dan berhenti sebelum aksinya menjadi balas dendam, karena pada dasarnya ia adalah seorang yang baik. Saya hanya berharap ia cukup kuat untuk tetap bertahan menghadapi serangan licin yang akan menerpanya begitu sang kekasih menyadari akan kehilangan selingkuhannya. Karena saya yakin ia tidak akan menyerah begitu saja.
Saat akhirnya kami berpisah di dunia maya, ia meminta didukung doa dan berterima kasih pada saya, karena dengan curhatnya hari ini, dia dapat berpikir lebih jernih. Sebetulnya, saya tidak berbuat apa apa. Saya hanya menjawab singkat singkat dan menjadi pendengar yang baik. Diam diam dalam hati malah saya yang berterima kasih padanya karena saya ikut belajar bersama proses berpikirnya. Saya seolah diingatkan kembali pentingnya tahu kapan berkata cukup, dan ditunjukkan lagi bahwa semua itu butuh proses. Saya jadi ingat pembahasan saya dengan teman saya Anita, bahwa yang namanya cinta itu tidak bisa didikte tidak 100%, dan ya, saya lihat sendiri pada hari ini, bahwa kita tidak pernah tahu kita salah langkah sebelum terbakar. Karena kalau sedang hangat hangatnya kasmaran, angin peringatan dari teman dan saudara kita rasanya hanya jadi hembusan yang semakin membuat bara menghebat dan menguat, karena ingin membuktikan bahwa semua prakira mereka itu salah. Sampai kita akhir hangus dan kembali pada teman dan saudara untuk mengembalikan bentuk asli kita. Saya pribadi, sudah berkali kali hangus, sampai teman teman saya bosan rasanya menasihati dan menerima saya kembali dalam keadaan runyam. Semoga bila nanti cinta kembali mampir dalam hidup saya, saya sudah tahu bagaimana mengendalikan bara. Dan bila bara itu kelewat liar, sudah tahu kapan dan bagaimana harus memadamkannya sehingga saya tidak (perlu) jadi hangus lagi...
Labels:
'lawrence tjandra',
refleksi,
selingkuh
Sunday, January 10, 2010
10 Januari 2010 : Antara Teori dan Kenyataan
Ada sebuah film yang tidak habis habis saya tonton, judulnya Eternal Beloved. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tetapi karena saya menontonnya di tempat dan waktu yang berbeda beda karena sempitnya waktu luang saat bekerja. Mulai dari menonton di dalam mobil, kemudian pindah ke ruang keluarga, lalu tersimpan selama tiga minggu saat saya di Perth, dan hari Minggu ini, karena sudah mati gaya, jadi teringat akan film ini, kemudian saya tuntaskan. Lagi lagi, setelah menonton, saya jadi merasa, pasti ada tujuannya, saya disuruh menunggu bagian terakhir film ini selama berminggu minggu.
Film ini bercerita mengenai roh penasaran seorang biksu yang di akhir hidupnya diberi janji oleh wanita yang dicintainya - yang meninggal terlebih dahulu - untuk bertemu di kehidupan mendatang. Masalah si wanita pergi duluan, dan ketika si biksu mati terbunuh, dia takut kalau kalau arwah si wanita mencarinya. Ternyata ia keliru. Wanita idamannya sudah dilahirkan kembali, bahkan menikah bahagia dengan pria lain dan sedang mengandung bayi pertamanya, sedang si biksu masih tetap jadi setan gentayangan.
Ada yang menarik ketika akhirnya si arwah itu melihat kebahagiaan kekasihnya dan menyadari bahwa selama hidupnya ia ingin si wanita bahagia, dan kini ia bahagia, tak masalah apakah karena dia atau orang lain, yang penting dia bahagia. Maka si arwahpun kemudian merelakan kekasihnya menjalani hidup barunya yang bahagia, dan ia melanjutkan perjalanan rohnya menuju alam baka.
Saya jadi merenung. Betapa saya sering ngotot ingin membuat kekasih saya bahagia. Dan yang lebih keras kepala lagi, adalah pokoknya definisi bahagia ya harus saya yang membuat dia bahagia. Kalau dia bahagia dengan orang lain, itu salah dan bukan bahagia namanya! Maka saya yang selama ini sibuk berteori, kalau dihadapkan pada kenyataan dan realita, jadi gagap. Jadi frustrasi sendiri. Jadi merana sendiri. Padahal apa yang saya inginnya sudah tercapai, walaupun bukan karena saya.
Saya hari ini mendengar lagi kata kata kalau cinta itu tidak harus memiliki. Dan saya tidak habis mengerti. Saya mengutuk ungkapan itu sebagai kata kata orang yang terlalu banyak kecanduan film Korea. Tapi film yang baru saya selesaikan setelah sebulan menontonnya ini, menampar keras kebebalan saya.
Kemarin dan hari ini, saya ditampar lagi dengan kata kata oleh seorang yang umurnya lebih muda separuh dari usia saya, "Kamu ini hanya berpikir dari sisi kamu, tanpa mau tahu sisi orang lain. Kamu terlalu banyak teori." Ya, saya akhirnya menyadari, semua teori ini bagusnya di atas kertas. Kalau sudah dihadapkan realita, kita harus fleksibel menghadapi persoalan sesuai keadaan. Sama seperti saya menganggap bahwa saya bisa bersaing dengan lulusan S3 komunikasi kalau harus menangani sebuah kasus pekerjaan, karena saya ini pakar lapangan. Sayangnya, kepiawaian saya di bidang kerja, tidak diterapkan di kehidupan pribadi saya. Tapi, seperti kata teman saya Anita, kalau sudah perasaan yang main, mana bisa diatur?
Untuk menjawab pertanyaan itu, pikiran saya kembali mengulangi kata arwah si biksu. Selama ini, saya ingin dia berbahagia, dan kini saya melihat dia berbahagia, and this is all that matter! Tak peduli siapa yang memberi kebahagiaan, apakah saya atau dari orang lain, nyatanya dia berbahagia.
Hari ini saya diajari untuk mencintai dengan bijaksana oleh sebuah roh di dalam film mandarin. Semoga saya bisa menerapkannya dengan bijaksana di kehidupan nyata ...
Film ini bercerita mengenai roh penasaran seorang biksu yang di akhir hidupnya diberi janji oleh wanita yang dicintainya - yang meninggal terlebih dahulu - untuk bertemu di kehidupan mendatang. Masalah si wanita pergi duluan, dan ketika si biksu mati terbunuh, dia takut kalau kalau arwah si wanita mencarinya. Ternyata ia keliru. Wanita idamannya sudah dilahirkan kembali, bahkan menikah bahagia dengan pria lain dan sedang mengandung bayi pertamanya, sedang si biksu masih tetap jadi setan gentayangan.
Ada yang menarik ketika akhirnya si arwah itu melihat kebahagiaan kekasihnya dan menyadari bahwa selama hidupnya ia ingin si wanita bahagia, dan kini ia bahagia, tak masalah apakah karena dia atau orang lain, yang penting dia bahagia. Maka si arwahpun kemudian merelakan kekasihnya menjalani hidup barunya yang bahagia, dan ia melanjutkan perjalanan rohnya menuju alam baka.
Saya jadi merenung. Betapa saya sering ngotot ingin membuat kekasih saya bahagia. Dan yang lebih keras kepala lagi, adalah pokoknya definisi bahagia ya harus saya yang membuat dia bahagia. Kalau dia bahagia dengan orang lain, itu salah dan bukan bahagia namanya! Maka saya yang selama ini sibuk berteori, kalau dihadapkan pada kenyataan dan realita, jadi gagap. Jadi frustrasi sendiri. Jadi merana sendiri. Padahal apa yang saya inginnya sudah tercapai, walaupun bukan karena saya.
Saya hari ini mendengar lagi kata kata kalau cinta itu tidak harus memiliki. Dan saya tidak habis mengerti. Saya mengutuk ungkapan itu sebagai kata kata orang yang terlalu banyak kecanduan film Korea. Tapi film yang baru saya selesaikan setelah sebulan menontonnya ini, menampar keras kebebalan saya.
Kemarin dan hari ini, saya ditampar lagi dengan kata kata oleh seorang yang umurnya lebih muda separuh dari usia saya, "Kamu ini hanya berpikir dari sisi kamu, tanpa mau tahu sisi orang lain. Kamu terlalu banyak teori." Ya, saya akhirnya menyadari, semua teori ini bagusnya di atas kertas. Kalau sudah dihadapkan realita, kita harus fleksibel menghadapi persoalan sesuai keadaan. Sama seperti saya menganggap bahwa saya bisa bersaing dengan lulusan S3 komunikasi kalau harus menangani sebuah kasus pekerjaan, karena saya ini pakar lapangan. Sayangnya, kepiawaian saya di bidang kerja, tidak diterapkan di kehidupan pribadi saya. Tapi, seperti kata teman saya Anita, kalau sudah perasaan yang main, mana bisa diatur?
Untuk menjawab pertanyaan itu, pikiran saya kembali mengulangi kata arwah si biksu. Selama ini, saya ingin dia berbahagia, dan kini saya melihat dia berbahagia, and this is all that matter! Tak peduli siapa yang memberi kebahagiaan, apakah saya atau dari orang lain, nyatanya dia berbahagia.
Hari ini saya diajari untuk mencintai dengan bijaksana oleh sebuah roh di dalam film mandarin. Semoga saya bisa menerapkannya dengan bijaksana di kehidupan nyata ...
Saturday, January 09, 2010
9 Januari 2010 : Antara Keinginan dan Kebutuhan
Kalau saya renungkan kembali 9 hari pertama di tahun 2010 ini, maka saya berani menyimpulkan bahwa keisengan saya menonton fim animasi 2D Disney terbaru Princess and the Frog karena harus menunggu 2 jam untuk perbaikan handphone Nokia saya yang tiba tiba hang saat mau mentransfer gambar ke digital frame bukanlah suatu kebetulan.
Beberapa hari terakhir saya selalu dipenuhi dengan pesan self respect, antara wish dan usaha, dan unconditional love, maka film ini seakan menjadi penyimpul semuanya. Jadi ajaib rasanya, ketika saya pun batal pergi dengan keponakan saya Ika dan Ella, menyaksikan film yang menduduki peringkat pertama majalah Time sebagai 10 best movie of 2009, dan malah menyaksikannya di tengah kesendirian saya.
Film kartun klasik modern yang memelintir kisah seorang pangeran yang dikutuk menjadi kodok dan harus mencium seorang puteri raja untuk bisa kembali menjadi manusia ini, menjadi sarat pesan tanpa menggurui. Mulai dari pesan ayah Tatiana kepada putri semata wayangnya bahwa memohon kepada bintang terang tidaklah cukup, harus diiringi juga dengan usaha (ring a bell of the message I wrote several days ago?), juga tentang kata kata ibunya yang mengatakan bahwa sang ayah mungkin tak tercapai mimpinya, namun ia diberkahi oleh cinta, sampai pertanyaan sang penyihir tentang apa yang dinginkan si pangeran kodok dan si kodok jelita Tatiana.
Mungkin ada baiknya saya ulas sedikit isi cerita film ini. Adalah seorang pangeran dari negeri seberang yang sedang bangkrut, melawat ke New Orleans untuk menikah dengan seorang puteri dari pengusaha kaya, namun karena kesirikan pelayan pribadinya (yang namanya Lawrence! Oh My God! Adakah pesan yang ingin disampaikan ke saya dengan nama ini sebagai si culas? arrrgh!) dan seorang penyihir, dia diubah bentuk menjadi katak dan sang pelayan menjadi si pangeran. Orang Amerika yang termimpi mimpi soal kerajaan, kemudian membuat pesta topeng. Karena ketumpahan masakan, Tatiana yang tak lain adalah anak mantan pengasuh si puteri kaya dan kini menjadi pelayan restaurant ditolong oleh si puteri pengusaha, dan menggunakan kostum seorang puteri. Jadilah si pangeran katak salah sangka. Karena yang dicium puteri gadungan, malah Tatiana menjadi katak. Sejak saat itu dimulailah petualangan makhluk hijau itu untuk menjadi manusia. Dalam perjalanan, tumbuh cinta dari keduanya, dan ketika pada akhirnya mereka gagal menjadi manusia, mereka menemukan apa yang mereka butuhkan dalam hidupnya. Saat itulah semua menjadi indah dan sempurna, dan mereka pun menjelma kembali menjadi manusia, dan dapat memenuhi impian Tatiana mewujudkan cita cita mendiang ayahnya mendirikan restaurant nya sendiri. Kegigihan mereka berdua saling meregang nyawa demi menyelamatkan satu sama lain, mengingatkan saya pada ajaran si pendeta buddha tua di kuil putih di atas awan tentang unconditional love...
Tatiana dan si pangeran tidak sendiri. Mereka dibantu oleh Louis buaya yang bermimpi menjadi pemain band, dan Raymond si kunang kunang yang selalu bermimpi akan cintanya pada evangelina, si bintang terang. Kedua binatang ini lah yang membawa pasangan hijau pada seorang penyihir wanita yang kemudian menasihati mereka soal apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Nasihatnya pada sang pangeran yang doyan foya foya dan main wanita adalah ia butuh self respect, sedang kepada si gadis kulit hitam agar menemukan nilai hidup ketimbang hanya mengejar mimpi membuka restaurant.
Di tengah gelak tawa dan gambar cerah yang menyegarkan mata dan hati, saya secara diam diam dibantu untuk menyimpulkan pelajaran kemarin dan diingatkan kembali untuk menelaah antara apa yang saya inginkan? dan apa sebetulnya saya butuhkan agar hidup ini berakhir sempurna. Seperti saat ini, saya ingin dicintai dan mencintai seseorang, tapi sebetulnya yang saya butuhkan adalah memahami dan memberikan cinta sejati yang tidak melulu berpikir dari sudut kepentingan masing masing, sehingga menginjak rasa kesal dan terabaikan dari pihak yang lain. Saya masih jauh dari tingkatan itu, namun saya bertekad untuk belajar meraihnya. So, watch out! I'm getting there!
Beberapa hari terakhir saya selalu dipenuhi dengan pesan self respect, antara wish dan usaha, dan unconditional love, maka film ini seakan menjadi penyimpul semuanya. Jadi ajaib rasanya, ketika saya pun batal pergi dengan keponakan saya Ika dan Ella, menyaksikan film yang menduduki peringkat pertama majalah Time sebagai 10 best movie of 2009, dan malah menyaksikannya di tengah kesendirian saya.
Film kartun klasik modern yang memelintir kisah seorang pangeran yang dikutuk menjadi kodok dan harus mencium seorang puteri raja untuk bisa kembali menjadi manusia ini, menjadi sarat pesan tanpa menggurui. Mulai dari pesan ayah Tatiana kepada putri semata wayangnya bahwa memohon kepada bintang terang tidaklah cukup, harus diiringi juga dengan usaha (ring a bell of the message I wrote several days ago?), juga tentang kata kata ibunya yang mengatakan bahwa sang ayah mungkin tak tercapai mimpinya, namun ia diberkahi oleh cinta, sampai pertanyaan sang penyihir tentang apa yang dinginkan si pangeran kodok dan si kodok jelita Tatiana.
Mungkin ada baiknya saya ulas sedikit isi cerita film ini. Adalah seorang pangeran dari negeri seberang yang sedang bangkrut, melawat ke New Orleans untuk menikah dengan seorang puteri dari pengusaha kaya, namun karena kesirikan pelayan pribadinya (yang namanya Lawrence! Oh My God! Adakah pesan yang ingin disampaikan ke saya dengan nama ini sebagai si culas? arrrgh!) dan seorang penyihir, dia diubah bentuk menjadi katak dan sang pelayan menjadi si pangeran. Orang Amerika yang termimpi mimpi soal kerajaan, kemudian membuat pesta topeng. Karena ketumpahan masakan, Tatiana yang tak lain adalah anak mantan pengasuh si puteri kaya dan kini menjadi pelayan restaurant ditolong oleh si puteri pengusaha, dan menggunakan kostum seorang puteri. Jadilah si pangeran katak salah sangka. Karena yang dicium puteri gadungan, malah Tatiana menjadi katak. Sejak saat itu dimulailah petualangan makhluk hijau itu untuk menjadi manusia. Dalam perjalanan, tumbuh cinta dari keduanya, dan ketika pada akhirnya mereka gagal menjadi manusia, mereka menemukan apa yang mereka butuhkan dalam hidupnya. Saat itulah semua menjadi indah dan sempurna, dan mereka pun menjelma kembali menjadi manusia, dan dapat memenuhi impian Tatiana mewujudkan cita cita mendiang ayahnya mendirikan restaurant nya sendiri. Kegigihan mereka berdua saling meregang nyawa demi menyelamatkan satu sama lain, mengingatkan saya pada ajaran si pendeta buddha tua di kuil putih di atas awan tentang unconditional love...
Tatiana dan si pangeran tidak sendiri. Mereka dibantu oleh Louis buaya yang bermimpi menjadi pemain band, dan Raymond si kunang kunang yang selalu bermimpi akan cintanya pada evangelina, si bintang terang. Kedua binatang ini lah yang membawa pasangan hijau pada seorang penyihir wanita yang kemudian menasihati mereka soal apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Nasihatnya pada sang pangeran yang doyan foya foya dan main wanita adalah ia butuh self respect, sedang kepada si gadis kulit hitam agar menemukan nilai hidup ketimbang hanya mengejar mimpi membuka restaurant.
Di tengah gelak tawa dan gambar cerah yang menyegarkan mata dan hati, saya secara diam diam dibantu untuk menyimpulkan pelajaran kemarin dan diingatkan kembali untuk menelaah antara apa yang saya inginkan? dan apa sebetulnya saya butuhkan agar hidup ini berakhir sempurna. Seperti saat ini, saya ingin dicintai dan mencintai seseorang, tapi sebetulnya yang saya butuhkan adalah memahami dan memberikan cinta sejati yang tidak melulu berpikir dari sudut kepentingan masing masing, sehingga menginjak rasa kesal dan terabaikan dari pihak yang lain. Saya masih jauh dari tingkatan itu, namun saya bertekad untuk belajar meraihnya. So, watch out! I'm getting there!
Thursday, January 07, 2010
7 Januari 2010 : Mencintai 100%
Masih soal cinta. Ingat lagu When I fall in Love ? Mungkin saya terlalu terindoktrinasi olehnya ( when I fall in love, it would be completely, or I never fall in love ...) sehingga saya selalu memberikan 100% diri dan cinta saya ketika saya sedang jatuh cinta. Karenanya saya tidak pernah bisa mengerti kalau ada orang bilang jangan beri cinta Anda 100%. Bagaimana bisa? Buat saya, kalau tidak 100% berarti kita tidak benar benar mencintai orang itu. Dan buat saya itu oke saja, kalau kita memang maunya hubungan itu cuma main main, secelup dua celup. Tapi kalau mau serius dan bicara cinta sejati? ya harus 100%
Kenyataannya memang runyam, karena semua orang yang pernah saya cintai tidak menyediakan cinta 100% pada saya, sehingga saya menjadi marah dan kecewa, dan hubungan kami jadi berantakan total. Saya kemudian selalu jadi korban sakit hati. Bukan karena pasangan saya tidak serius, tapi ternyata saya yang salah mengaplikasikan konsep cinta 100% itu.
Maka dalam diskusi di antara makan siang kemarin bersama Gillian, dia memberi tips. Cinta 100% itu tidak salah. Hanya berikan sedikit demi sedikit, majulah selangkah demi selangkah. Give a test how your partner reacts when you say no. Lihat juga bagaimana dia bereaksi ketika pendapat dan pendirian kita tidak sama dengan pandangannya. Is it okay? or not? are you comfortable with the reaction? Kalau ya, baru maju setahap lagi. Yang namanya test, itu tidak memakan waktu seumur hidup. Dalam kenyataan sehari hari, yang namanya ujian (sekolah) itu paling berlangsung beberapa jam, namun hal itu sudah bisa mencerminkan penguasaan kita terhadap suatu bidang. Jadi hal yang sama berlaku di sini. Kalau kita menganggap dia sudah lulus tes kita, baru boleh maju memberikan porsi yang lebih besar, hingga pada akhirnya, kita menyerahkan 100% hati kita.
Saya mencerna apa yang dikatakan Gil semalaman, dan pagi pagi ini saya ingin segera berbagi pencerahan ini. Dalam proses pencernaan, saya pun tak luput dari protes. Kalau direview kembali, sulit rasanya menyicil cinta. Karena dari pengalaman saya, kalau sudah cinta, wah menggebu gebu rasanya... cinta saya harus total. Dia harus merasakan betapa cinta saya, dan harus melihat keseriusan saya. Dia harus tahu kalau dia adalah segalanya bagi saya dan I am at your service any time you need me. Saya akan angkat telpon begitu dia menelpon tak peduli saya sedang meeting dengan siapa, dan saya akan segera meninggalkan apa pun yang saya kerjakan kalau dia memerlukan saya. Lalu saya perhatikan lagi, dengan pola yang berulang ulang saya lakukan untuk beberapa hubungan saya di masa lalu itu, cinta yang tadinya indah dan santai, menjadi tegang karena terlalu serius, dan akhirnya menakutkan.
Saya harus berterima kasih atas kebijaksanaan pikiran Gil. Saya diberi pencerahan bagaimana mencintai 100% dengan benar. Maka, saya berjanji mengubah pola cinta saya mulai saat ini. Semoga segera terlihat hasilnya, dan semoga cinta sejati segera tiba.
Tolong bantu doa ya. Bismillah...
Kenyataannya memang runyam, karena semua orang yang pernah saya cintai tidak menyediakan cinta 100% pada saya, sehingga saya menjadi marah dan kecewa, dan hubungan kami jadi berantakan total. Saya kemudian selalu jadi korban sakit hati. Bukan karena pasangan saya tidak serius, tapi ternyata saya yang salah mengaplikasikan konsep cinta 100% itu.
Maka dalam diskusi di antara makan siang kemarin bersama Gillian, dia memberi tips. Cinta 100% itu tidak salah. Hanya berikan sedikit demi sedikit, majulah selangkah demi selangkah. Give a test how your partner reacts when you say no. Lihat juga bagaimana dia bereaksi ketika pendapat dan pendirian kita tidak sama dengan pandangannya. Is it okay? or not? are you comfortable with the reaction? Kalau ya, baru maju setahap lagi. Yang namanya test, itu tidak memakan waktu seumur hidup. Dalam kenyataan sehari hari, yang namanya ujian (sekolah) itu paling berlangsung beberapa jam, namun hal itu sudah bisa mencerminkan penguasaan kita terhadap suatu bidang. Jadi hal yang sama berlaku di sini. Kalau kita menganggap dia sudah lulus tes kita, baru boleh maju memberikan porsi yang lebih besar, hingga pada akhirnya, kita menyerahkan 100% hati kita.
Saya mencerna apa yang dikatakan Gil semalaman, dan pagi pagi ini saya ingin segera berbagi pencerahan ini. Dalam proses pencernaan, saya pun tak luput dari protes. Kalau direview kembali, sulit rasanya menyicil cinta. Karena dari pengalaman saya, kalau sudah cinta, wah menggebu gebu rasanya... cinta saya harus total. Dia harus merasakan betapa cinta saya, dan harus melihat keseriusan saya. Dia harus tahu kalau dia adalah segalanya bagi saya dan I am at your service any time you need me. Saya akan angkat telpon begitu dia menelpon tak peduli saya sedang meeting dengan siapa, dan saya akan segera meninggalkan apa pun yang saya kerjakan kalau dia memerlukan saya. Lalu saya perhatikan lagi, dengan pola yang berulang ulang saya lakukan untuk beberapa hubungan saya di masa lalu itu, cinta yang tadinya indah dan santai, menjadi tegang karena terlalu serius, dan akhirnya menakutkan.
Saya harus berterima kasih atas kebijaksanaan pikiran Gil. Saya diberi pencerahan bagaimana mencintai 100% dengan benar. Maka, saya berjanji mengubah pola cinta saya mulai saat ini. Semoga segera terlihat hasilnya, dan semoga cinta sejati segera tiba.
Tolong bantu doa ya. Bismillah...
Wednesday, January 06, 2010
6 Januari 2010: Mencintai Diri Sendiri tanpa Syarat
Perjalanan saya ke Australia kali ini, terbilang tidak biasa. Kalau boleh dibilang, perjalanan kali ini adalah tentang pencarian jati diri dan tujuan hidup saya.
Semua ini bermula ketika saya iseng ingin tahu apa yang dikatakan pembaca garis tangan di sebuah festival makanan di Clarke Quay Singapura Juli lalu. Membaca kredensial si peramal, tergelitik rasanya untuk mentest kemampuannya membaca karakter. Yang menarik adalah, apa yang dikatakannya. Saya ini selalu berpikir secara analitis. Namun, saya juga punya kemampuan (dan dia bilang gift) indra ke enam. Dan mulai saat itu saya disarankan untuk menggunakan kata hati daripada otak, karena kemampuan indra keenam saya dibilang cukup istimewa. Karena dibicarakan di sini, saya harus mengakui saya punya sixth sense. Namun, jangan buru buru datang ke saya untuk dilihat dan minta petunjuk, karena saya bukan cenayang. Saya diberi talenta untuk dapat merasakan, dan melihat visi, atau menjalankan sebuah "tugas" yang tidak bisa saya rencanakan sebelumnya, yang sebagian berurusan dengan mereka yang akan pindah alam, alias mau meninggal. Semua diatur oleh Yang di Atas. Saya juga bisa merasakan kalau ada "jiwa" lain yang hadir di sekitar saya, namun saya bersyukur tidak dibukakan mata batin, karena seringkali dari getarannya saja saya bisa merasakan betapa "menyeramkannya" jiwa yang hadir itu. Itu lah sebabnya teman saya Samuel Mulia sangat malas pergi dengan saya. Kadang saya bisa bilang, Sam lewat sini saja, ada yang nggak bener di sebelah sana. O, ya, dari si peramal, saya juga dibilang punya umur panjang (dan saya mengeluh karena saya tidak ingin panjang panjang usianya. Sedang sedang saja cukup. Die happy when I am still strong). Dan karena umur saya panjang, saya disarankan untuk melakukan perencanaan hidup yang lebih baik. Pembacaan yang lain, baiklah saya simpan dalam hati saja.
Sejak saat itu, saya menjadi tertantang untuk merencanakan hidup masa depan saya. Selama ini saya santai santai saja menghadapi hidup, karena prinsip simply happy tadi, namun ramalan tersebut membuat saya berpikir. Benar juga, ya, saya kan tidak bisa kerja kantoran seumur hidup? Masih ingin pensiun di usia produktif and do all the things I always want to do tanpa merisaukan soal keuangan. Tapi saya selalu terhenti. Mau ngapain ya saya ini? Di tengah pencarian itu, timbul ide menulis blog ini, supaya saya lebih terasah dalam pencapaian diri yang lebih baik. Saya juga berniat menjual kondominium di pinggir pantai tempat saya bersantai di akhir pekan dan menggunakan uang itu untuk membeli properti lain yang lebih menghasilkan uang. Tapi itu saja tidak cukup, karena saya juga ingin tahu, kalau saya meninggal nanti, tentu saya ingin lulus dari hidup ini. Apa sebenarnya yang harus saya pelajari dalam hidup ini agar bisa lulus?
Dari berbagai sesi pengenalan diri yang saya lakukan dengan berbagai pihak, termasuk sesi past life regression kemarin dan diskusi yang dalam dengan Gillian yang kebetulan seorang psikolog dari Curtin University, saya membuka peta hidup saya.
Kesimpulannya : dalam hidup ini, saya bukan harus belajar mengenai uang dan harta. Saya adalah orang yang memiliki prinsip simply happy. Tidak berlebihan, namun tidak kekurangan. Yang cukup cukup saja, yang pas pas saja, yang penting saya bahagia. Yang membuat saya tercekat adalah kemampuan mereka mendeskripsikan keadaan batin saya. Mereka bilang saya ini split personality. Bukan gila, tapi punya dua kepribadian. Pribadi yang satu adalah pribadi yang sukses dalam berkarya, namun pribadi yang lain memiliki kehidupan personal dan cinta yang sangat buruk. Semua ini diakibatkan dari rasa kurang dihargai dan rasa rendah diri dan bersalah karena tidak dapat memenuhi keinginan keluarga. Jadi seumur hidup saya isinya adalah perjuangan untuk mendapat pengakuan dan kasih sayang. Dan semua itu benar adanya. Orang tua saya taunya cuma dokter dan insinyur. Dan saya adalah seorang dokter....andus keguruan bahasa Inggris, pula. Image keluarga saya adalah keluarga yang harmonis dan bahagia dan beranak cucu, sedangkan saya adalah seorang.... yang duda cerai tak beranak pula...
Saat sekolah di SMA, saya inginnya masuk IPS, namun gagal. Karena Kepala Sekolah dan Orang Tua saya melarang. Kata mereka, di keluarga ini tidak ada yang masuk IPS. Titik. Maka saya merana selama tiga tahun di SMA. Lulus dan tak pernah tinggal kelas sih, tapi lulusnya penuh luka dan sengsara. Lukanya karena saya jadi traumatik. Setiap ulangan, kerjanya saya sakit perut yang melintir, karena nervous menghadapi soal. Dan sengsara karena saya benci fisika, benci matematika, benci kimia!
Maka selepas SMA, saat orang tua memaksakan saya mengambil kedokteran dan bahkan datang dengan ide gila jadi dokter hewan (saya rasa mereka senang kalau anaknya dipanggil dokter, apa pun dokternya) saya sengaja tidak mengerjakan soal dengan baik. Dan meskipun ketika itu ayah teman baik saya dapat memasukkan saya di Universitas Negeri ternama yang saya daftari untuk kedokteran itu, saya memohon mohon padanya untuk tidak keluar di koran pengumuman.
Saya lalu ke Salatiga, mengambil Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan bahasa Inggris. Karena di jurusan itu tidak ada fisika. kimia. atau matematika (meskipun ternyata ada juga statistik, tapi okelah... bisa ditolerir). Saat saya di terima, saya mendapat ejekan yang sangat menggores di hati. Mendiang paman saya yang dokter ahli Jantung dari Belanda menegur, "Mau jadi apa kamu? Mau jadi penyair?" Sakit hati saya, hingga saat Beliau meninggal, tak ada rasa sedih di hati. 4 tahun kuliah menjadi ajang pembuktian diri bahwa saya bisa berhasil. Nilai Indeks Prestasi Ujian Akhir sarjana saya adalah Perfect 4! Alias A semua. Dan Indeks Prestasi rata rata saya mencapai 3,8. Saya cuma punya nilai C di kewiraan (aduh, kurang nasionalis kah?) dan di Audio Visual Aids, gara gara waktu itu tukang cukur saya tergiur melihat rambut saya yang (dulu) sangat tebal untuk dijadikan model lomba kreasi rambut. Dan sialnya saya setuju saja, dan saya dikeriting lalu harus menunggu 2 minggu sampai tanggal lomba, dan saya melihat aduh betapa hancurnya keritingan itu sampai saya memutuskan untuk pakai topi saja, bahkan di dalam kelas. Ketika Dosen melihat dan meminta saya lepaskan topi karena dianggap tidak sopan bertopi di ruang kuliah, saya tetap bersikukuh tidak mau melepasnya, dan untuk sikap saya yang dianggap kurang manner itu, saya diganjar C. Saya dongkol, tapi pasrah saja, karena itulah harga yang harus saya bayar untuk rambut keriting sial itu...
Saat bekerja, bukannya tanpa tantangan. Setelah mencari kerja sendiri ke sana ke mari dan dengan modal menjadi lulusan terbaik yang summa cumlaude dari universitas bergengsi, saya diterima di beberapa tempat. Lalu saya memilih masuk ke Matari, sebuah biro iklan lokal terbesar di Indonesia saat itu. Saat saya memberitahu ibu mengenai hal ini, komentar pertamanya adalah, "Apa itu advertensi?" Untung kakak saya Gita membantu menjelaskan sehingga Beliau diam. Di Matari, saya merangkak dari Management trainee, kemudian menjadi copy writer, loncat jadi menangani komunikasi perusahaan, loncat lagi jadi asisten presiden direktur dan akhirnya menjadi asisten presiden komisaris, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhenti karena hidup saya isinya kerja saja. Di usia 25 tahun, saya menentukan, saya kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Maka keluarlah saya dari sinar cemerlang karir di Matari, kesebuah kursus bahasa Inggris yang masih harus berjuang memantapkan eksistensinya.
Ibu saya menegur lagi, namun kali ini saya bilang bahwa saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya cuma butuh didengar. Dan kejadian seperti ini bergulir lagi ketika saya memutuskan pindah kerjaan, isinya adalah pembuktian diri bahwa saya bisa dan mampu. Ya, saya ini pemimpi yang teguh mengejar mimpi dengan serangkaian pembuktian pembuktian agar kemampuan saya dihargai dan bisa disamakan "kedudukannya" dengan kakak kakak saya yang dokter dan insinyur.
Jangan salah sangka, orang tua saya adalah orang tua terbaik di dunia. Mereka mencintai dan membanggakan saya. Dan saya juga sangat respek dan mencintai mereka lebih dari yang lain. Saya sangat bersyukur punya orang tua seperti mereka, karena kalau tidak, saya tidak akan menjadi siapa saya sekarang. Saya nya saja yang selama ini salah, karena merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Padahal menurut Gil, "It's okay to be different. Kalau ada yang tidak bisa menerima kamu seperti apa adaya, itu masalah mereka, bukan masalahmu."
Hasil pembacaan karakter menunjukkan bahwa pada akhirnya saya selalu mencari untuk dicintai, saya selalu mengejar untuk dihargai. Saya selalu merasa "not good enough". Saya lal memberi cinta 100% dan mengharap 100% pula dari orang yang mencintai saya, padahal kontrol nya bukan pada saya, tapi pada orang yang bersangkutan. Dalam mengejar cinta sejati saya selalu menjadi keset pasangan saya karena ingin memberikan yang terbaik dalam cara yang keliru, sehingga pasangan saya malah meninggalkan saya. Dan pattern ini saya lakukan berulang ulang dengan hasil yang menyakitkan hati. Jadilah saya sakit hati pada 3 mantan saya. Padahal kalau saya jadi orang yang lebih percaya diri seperti saat saya bekerja, kemungkinan besar saya tidak punya 3 mantan, tapi seseorang yang sampai sekarang masih di sisi saya.
Maka saya harus berubah. Saya harus menjadi orang yang bisa menghargai dan menghormati diri sendiri. Saya harus bisa menjadi diri saya sendiri. Dan terlebih lagi saya harus mencintai diri saya sendiri tanpa syarat. Self love unconditionally. Agak terbalik dari kebiasaan orang yang justru dibilang jangan terlalu egoistis memang. Tapi itulah. Kalau saya berubah menjadi orang yang bisa mencintai dan menghargai diri sendiri, maka semua penghalang dalam menjalin hubungan pribadi akan terangkat, dan jalan menuju kebahagiaan terbuka lebar.
Saya lalu berdamai dan bermaafan secara virtual dengan mendiang ayah saya. Dan dengan ibu saya tercinta. Dan kakak saya. Dan kini saya sedang berdamai dengan diri saya sendiri. Mulai belajar mencintai dan menghargai dan menghormati dan menjadi diri saya sendiri. Agar saya bisa menemukan cinta sejati.
Dan hari ini saya belajar, bahwa ternyata, kehadiran saya di dunia ini adalah belajar mencintai (diri sendiri) tanpa syarat...
Semua ini bermula ketika saya iseng ingin tahu apa yang dikatakan pembaca garis tangan di sebuah festival makanan di Clarke Quay Singapura Juli lalu. Membaca kredensial si peramal, tergelitik rasanya untuk mentest kemampuannya membaca karakter. Yang menarik adalah, apa yang dikatakannya. Saya ini selalu berpikir secara analitis. Namun, saya juga punya kemampuan (dan dia bilang gift) indra ke enam. Dan mulai saat itu saya disarankan untuk menggunakan kata hati daripada otak, karena kemampuan indra keenam saya dibilang cukup istimewa. Karena dibicarakan di sini, saya harus mengakui saya punya sixth sense. Namun, jangan buru buru datang ke saya untuk dilihat dan minta petunjuk, karena saya bukan cenayang. Saya diberi talenta untuk dapat merasakan, dan melihat visi, atau menjalankan sebuah "tugas" yang tidak bisa saya rencanakan sebelumnya, yang sebagian berurusan dengan mereka yang akan pindah alam, alias mau meninggal. Semua diatur oleh Yang di Atas. Saya juga bisa merasakan kalau ada "jiwa" lain yang hadir di sekitar saya, namun saya bersyukur tidak dibukakan mata batin, karena seringkali dari getarannya saja saya bisa merasakan betapa "menyeramkannya" jiwa yang hadir itu. Itu lah sebabnya teman saya Samuel Mulia sangat malas pergi dengan saya. Kadang saya bisa bilang, Sam lewat sini saja, ada yang nggak bener di sebelah sana. O, ya, dari si peramal, saya juga dibilang punya umur panjang (dan saya mengeluh karena saya tidak ingin panjang panjang usianya. Sedang sedang saja cukup. Die happy when I am still strong). Dan karena umur saya panjang, saya disarankan untuk melakukan perencanaan hidup yang lebih baik. Pembacaan yang lain, baiklah saya simpan dalam hati saja.
Sejak saat itu, saya menjadi tertantang untuk merencanakan hidup masa depan saya. Selama ini saya santai santai saja menghadapi hidup, karena prinsip simply happy tadi, namun ramalan tersebut membuat saya berpikir. Benar juga, ya, saya kan tidak bisa kerja kantoran seumur hidup? Masih ingin pensiun di usia produktif and do all the things I always want to do tanpa merisaukan soal keuangan. Tapi saya selalu terhenti. Mau ngapain ya saya ini? Di tengah pencarian itu, timbul ide menulis blog ini, supaya saya lebih terasah dalam pencapaian diri yang lebih baik. Saya juga berniat menjual kondominium di pinggir pantai tempat saya bersantai di akhir pekan dan menggunakan uang itu untuk membeli properti lain yang lebih menghasilkan uang. Tapi itu saja tidak cukup, karena saya juga ingin tahu, kalau saya meninggal nanti, tentu saya ingin lulus dari hidup ini. Apa sebenarnya yang harus saya pelajari dalam hidup ini agar bisa lulus?
Dari berbagai sesi pengenalan diri yang saya lakukan dengan berbagai pihak, termasuk sesi past life regression kemarin dan diskusi yang dalam dengan Gillian yang kebetulan seorang psikolog dari Curtin University, saya membuka peta hidup saya.
Kesimpulannya : dalam hidup ini, saya bukan harus belajar mengenai uang dan harta. Saya adalah orang yang memiliki prinsip simply happy. Tidak berlebihan, namun tidak kekurangan. Yang cukup cukup saja, yang pas pas saja, yang penting saya bahagia. Yang membuat saya tercekat adalah kemampuan mereka mendeskripsikan keadaan batin saya. Mereka bilang saya ini split personality. Bukan gila, tapi punya dua kepribadian. Pribadi yang satu adalah pribadi yang sukses dalam berkarya, namun pribadi yang lain memiliki kehidupan personal dan cinta yang sangat buruk. Semua ini diakibatkan dari rasa kurang dihargai dan rasa rendah diri dan bersalah karena tidak dapat memenuhi keinginan keluarga. Jadi seumur hidup saya isinya adalah perjuangan untuk mendapat pengakuan dan kasih sayang. Dan semua itu benar adanya. Orang tua saya taunya cuma dokter dan insinyur. Dan saya adalah seorang dokter....andus keguruan bahasa Inggris, pula. Image keluarga saya adalah keluarga yang harmonis dan bahagia dan beranak cucu, sedangkan saya adalah seorang.... yang duda cerai tak beranak pula...
Saat sekolah di SMA, saya inginnya masuk IPS, namun gagal. Karena Kepala Sekolah dan Orang Tua saya melarang. Kata mereka, di keluarga ini tidak ada yang masuk IPS. Titik. Maka saya merana selama tiga tahun di SMA. Lulus dan tak pernah tinggal kelas sih, tapi lulusnya penuh luka dan sengsara. Lukanya karena saya jadi traumatik. Setiap ulangan, kerjanya saya sakit perut yang melintir, karena nervous menghadapi soal. Dan sengsara karena saya benci fisika, benci matematika, benci kimia!
Maka selepas SMA, saat orang tua memaksakan saya mengambil kedokteran dan bahkan datang dengan ide gila jadi dokter hewan (saya rasa mereka senang kalau anaknya dipanggil dokter, apa pun dokternya) saya sengaja tidak mengerjakan soal dengan baik. Dan meskipun ketika itu ayah teman baik saya dapat memasukkan saya di Universitas Negeri ternama yang saya daftari untuk kedokteran itu, saya memohon mohon padanya untuk tidak keluar di koran pengumuman.
Saya lalu ke Salatiga, mengambil Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan bahasa Inggris. Karena di jurusan itu tidak ada fisika. kimia. atau matematika (meskipun ternyata ada juga statistik, tapi okelah... bisa ditolerir). Saat saya di terima, saya mendapat ejekan yang sangat menggores di hati. Mendiang paman saya yang dokter ahli Jantung dari Belanda menegur, "Mau jadi apa kamu? Mau jadi penyair?" Sakit hati saya, hingga saat Beliau meninggal, tak ada rasa sedih di hati. 4 tahun kuliah menjadi ajang pembuktian diri bahwa saya bisa berhasil. Nilai Indeks Prestasi Ujian Akhir sarjana saya adalah Perfect 4! Alias A semua. Dan Indeks Prestasi rata rata saya mencapai 3,8. Saya cuma punya nilai C di kewiraan (aduh, kurang nasionalis kah?) dan di Audio Visual Aids, gara gara waktu itu tukang cukur saya tergiur melihat rambut saya yang (dulu) sangat tebal untuk dijadikan model lomba kreasi rambut. Dan sialnya saya setuju saja, dan saya dikeriting lalu harus menunggu 2 minggu sampai tanggal lomba, dan saya melihat aduh betapa hancurnya keritingan itu sampai saya memutuskan untuk pakai topi saja, bahkan di dalam kelas. Ketika Dosen melihat dan meminta saya lepaskan topi karena dianggap tidak sopan bertopi di ruang kuliah, saya tetap bersikukuh tidak mau melepasnya, dan untuk sikap saya yang dianggap kurang manner itu, saya diganjar C. Saya dongkol, tapi pasrah saja, karena itulah harga yang harus saya bayar untuk rambut keriting sial itu...
Saat bekerja, bukannya tanpa tantangan. Setelah mencari kerja sendiri ke sana ke mari dan dengan modal menjadi lulusan terbaik yang summa cumlaude dari universitas bergengsi, saya diterima di beberapa tempat. Lalu saya memilih masuk ke Matari, sebuah biro iklan lokal terbesar di Indonesia saat itu. Saat saya memberitahu ibu mengenai hal ini, komentar pertamanya adalah, "Apa itu advertensi?" Untung kakak saya Gita membantu menjelaskan sehingga Beliau diam. Di Matari, saya merangkak dari Management trainee, kemudian menjadi copy writer, loncat jadi menangani komunikasi perusahaan, loncat lagi jadi asisten presiden direktur dan akhirnya menjadi asisten presiden komisaris, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhenti karena hidup saya isinya kerja saja. Di usia 25 tahun, saya menentukan, saya kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Maka keluarlah saya dari sinar cemerlang karir di Matari, kesebuah kursus bahasa Inggris yang masih harus berjuang memantapkan eksistensinya.
Ibu saya menegur lagi, namun kali ini saya bilang bahwa saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya cuma butuh didengar. Dan kejadian seperti ini bergulir lagi ketika saya memutuskan pindah kerjaan, isinya adalah pembuktian diri bahwa saya bisa dan mampu. Ya, saya ini pemimpi yang teguh mengejar mimpi dengan serangkaian pembuktian pembuktian agar kemampuan saya dihargai dan bisa disamakan "kedudukannya" dengan kakak kakak saya yang dokter dan insinyur.
Jangan salah sangka, orang tua saya adalah orang tua terbaik di dunia. Mereka mencintai dan membanggakan saya. Dan saya juga sangat respek dan mencintai mereka lebih dari yang lain. Saya sangat bersyukur punya orang tua seperti mereka, karena kalau tidak, saya tidak akan menjadi siapa saya sekarang. Saya nya saja yang selama ini salah, karena merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Padahal menurut Gil, "It's okay to be different. Kalau ada yang tidak bisa menerima kamu seperti apa adaya, itu masalah mereka, bukan masalahmu."
Hasil pembacaan karakter menunjukkan bahwa pada akhirnya saya selalu mencari untuk dicintai, saya selalu mengejar untuk dihargai. Saya selalu merasa "not good enough". Saya lal memberi cinta 100% dan mengharap 100% pula dari orang yang mencintai saya, padahal kontrol nya bukan pada saya, tapi pada orang yang bersangkutan. Dalam mengejar cinta sejati saya selalu menjadi keset pasangan saya karena ingin memberikan yang terbaik dalam cara yang keliru, sehingga pasangan saya malah meninggalkan saya. Dan pattern ini saya lakukan berulang ulang dengan hasil yang menyakitkan hati. Jadilah saya sakit hati pada 3 mantan saya. Padahal kalau saya jadi orang yang lebih percaya diri seperti saat saya bekerja, kemungkinan besar saya tidak punya 3 mantan, tapi seseorang yang sampai sekarang masih di sisi saya.
Maka saya harus berubah. Saya harus menjadi orang yang bisa menghargai dan menghormati diri sendiri. Saya harus bisa menjadi diri saya sendiri. Dan terlebih lagi saya harus mencintai diri saya sendiri tanpa syarat. Self love unconditionally. Agak terbalik dari kebiasaan orang yang justru dibilang jangan terlalu egoistis memang. Tapi itulah. Kalau saya berubah menjadi orang yang bisa mencintai dan menghargai diri sendiri, maka semua penghalang dalam menjalin hubungan pribadi akan terangkat, dan jalan menuju kebahagiaan terbuka lebar.
Saya lalu berdamai dan bermaafan secara virtual dengan mendiang ayah saya. Dan dengan ibu saya tercinta. Dan kakak saya. Dan kini saya sedang berdamai dengan diri saya sendiri. Mulai belajar mencintai dan menghargai dan menghormati dan menjadi diri saya sendiri. Agar saya bisa menemukan cinta sejati.
Dan hari ini saya belajar, bahwa ternyata, kehadiran saya di dunia ini adalah belajar mencintai (diri sendiri) tanpa syarat...
Tuesday, January 05, 2010
5 Januari 2010: Menerima dan Menggandakan
Dalam hidup ini, saya sering sekali protes: kenapa saya dijadikan seperti ini? Kenapa tidak jadi seperti dia saja? Kenapa saya yang harus mengalami semua ini? Tuhan tidak adil! Memang enak ya jadi begini? Memang dikira senang mengalami seperti ini?
Jawaban Tuhan? Saya malah disodori cerita soal talenta. Kalau Anda Katolik atau Kristen, Anda tentu sudah kenal cerita ini. Namun kalau Anda bukan kutu buku kitab suci, atau bukan salah satu dari yang saya sebut di atas, saya akan ceritakan kisah yang mirip dengan kisah talenta itu.
Adalah seorang tuan yang memanggil tiga anak buahnya. Yang pertama diberi seratus ribu, yang kedua lima puluh ribu, dan yang ketiga sepuluh ribu saja. Ketiganya kemudian diutus untuk mengkaryakan uang yang didapat. Setelah sebulan, ketiganya dipanggil untuk melapor.
Yang seratus ribu datang dan mengatakan, "Tuan, Tuan mempercayakan seratus ribu kepada saya, dan sudah saya karyakan sehingga uang Tuan bertambah menjadi dua ratus ribu." Si Tuan mengangguk angguk dan berkata,"Baguuus, silakan lanjutkan!"
Yang lima puluh ribu datang dan mengatakan, "Tuan, Tuan sudah mempercayakan lima puluh ribu kepada saya, dan saya menggandakannya menjadi seratus ribu." Tuan mengangguk angguk dan berkata, "Baguuuuus, lanjutkan"
Giliran sepuluh ribu datang. Dengan sangat geram dan kasar ia menyodorkan selembar uang sepuluh ribu kembali pada tuannya sambil berkata,"Memang Tuan ini pelit dan pilih kasih! Tentu saja mereka berdua dapat berkarya karena uang yang diberikan lebih banyak! Jadi uang ini saya simpan saja, dan saya kembalikan kepada Anda!" Wah, si Tuan terhenyak dan marah besar! Katanya: "Dasar orang tidak tahu diri, sini, berikan uangnya kembali, dan pergilah kamu jangan kembali!"
Dan cerita pun usai.
Pelajaran yang dipetik dari sana? Dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih, menjadi seratus ribu, lima puluh ribu atau sepuluh ribu. It's given. Dan kita tidak perlu memusingkan kenapa kita cuma diberi sepuluh ribu. Karena sudah ditentukan. Kalau pun kita memaksa menjadi si seratus ribu, bisa jadi kita tidak kuat menanggung bebannya sehingga malah tidak bisa berkarya. Jadi, yang perlu kita lakukan dalam tahap ini penerimaan keadaan yang diberikan, dan mensyukurinya. Karena kondisi yang kita punyai sekarang adalah kondisi yang terbaik bagi kita untuk belajar mengenai nilai hidup yang harus kita temukan dalam kehidupan sekarang.
Kedua, setelah menerima, kita harus mempertanggungjawabkannya. Kalau kita diberi kebutaan, kita harus menerimanya dan mempertanggungjawabkan keadaan kita sehingga kita bisa :
ketiga: Menggandakannya. Mengkaryakan kondisi kita sehingga menghasilkan buah berganda.
Teoritis? Mungkin, tapi contoh nyatanya adalah Andrea Bocelli. Ia tidak lahir buta. Ia buta di usia anak anak. Kalau dia kerjanya mengutuki kondisinya, sampai sekarang dia cuma jadi orang setengah tua buta yang tidak bermakna. Namun ia bangkit. Ia menerima keberadaannya dan berkarya.
Hal itu lah yang saya pelajari hari ini. Diam diam saya melakukan past regression. Sebuah pengalaman yang tak dapat digambarkan dengan kata kata. Saya diajak balik kekehidupan masa lalu saya untuk dapat mengerti maksud tujuan hidup saya saat ini, dan apa apa saja yang harus saya capai sebelum saya menutup mata selamanya. Saya juga diajak mengerti hubungan dan peran apa yang dibawa oleh beberapa orang yang bersinggungan dengan hidup saya. Tadinya saya sangat pesimistis dapat melalui semua ini, tapi pada akhir sesi, saya terkagum kagum atas hasilnya.
Saya menjadi lebih terpesona lagi ketika apa yang saya lihat dengan mata batin saya ternyata sama persis dengan yang dilihat oleh mata batin seorang wanita bertahun tahun yang lalu, saat saya tanpa diatur terlebih dahulu diajak Samuel Mulia teman saya, untuk makan bersama di sebuah cafe kecil di apartemennya. Saat itu dia merasa tergelitik untuk menyapa saja, dan di tengah pembicaraan ngalor ngidul, ia berhenti dan bertanya,"Maaf, boleh saya bicara dengan kamu soal suatu hal?"
Dia bilang dia melihat aura saya sangat terang dan mendamaikan. Dia bilang saya ini old soul. Ketika ditanya soal old soul, dia menjelaskan bahwa saya ini jiwa yang tua, yang sudah berkali kali mengalami kehidupan. Dan kehidupan kali ini bisa jadi kehidupan saya yang terakhir, kalau saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Lalu dia bilang saya ini dulunya pendeta di Tibet. Dan ketika saya mendengarnya saya langsung tertawa, dan bilang pasti gara gara saya botak. Tapi dia menggeleng serius mengabaikan candaan garing saya. Ia mengatakan semakin dekat seseorang pada waktunya semakin dekat dia dengan image kehidupan sebelumnya.
Dan visi itulah yang saya lihat dengan mata batin saya. Saya melihat seorang pendeta tua yang bijak berbungkuskan jubah oranye, menapaki sebuah bangunan megah putih beraksen keemasan, dan ketika pintu kayu yang berukir emas itu dibuka, saya melihat sebuah ruangan putih besar yang sangat indah dan damai, dan di dalamnya terletak patung buddha emas yang melebihi ukuran manusia dengan lilin lilin yang menyala, dengan latar belakang langit biru yang sangat bersih dan cerah. Ruangan ini adalah bangunan satu satunya dan tertinggi, sehingga tak ada bangunan yang lain di sekitarnya yang mengalahkan ketinggiannya. Suasananya tenang dan begitu damai. Saya jadi duduk dan memandang berlama lama saking nyamannya. Lalu melalui mulut batin, sang pendeta kemudian menjabarkan mengapa ia memilih kehidupan sekarang ini bagi saya, dan apa tujuannya. Saya jadi memahami. Meski tahu jalan kehidupan yang ditetapkan tidak mudah. Tapi paling tidak saya menjadi lebih siap menghadapinya. Agar di akhir kehidupan ini, si Tuan bisa bilang, "Bagus. Lanjutkan..." Dan nantinya, saya untuk terakhir kalinya menengok ke dunia ini to say good bye and never return again...
Jawaban Tuhan? Saya malah disodori cerita soal talenta. Kalau Anda Katolik atau Kristen, Anda tentu sudah kenal cerita ini. Namun kalau Anda bukan kutu buku kitab suci, atau bukan salah satu dari yang saya sebut di atas, saya akan ceritakan kisah yang mirip dengan kisah talenta itu.
Adalah seorang tuan yang memanggil tiga anak buahnya. Yang pertama diberi seratus ribu, yang kedua lima puluh ribu, dan yang ketiga sepuluh ribu saja. Ketiganya kemudian diutus untuk mengkaryakan uang yang didapat. Setelah sebulan, ketiganya dipanggil untuk melapor.
Yang seratus ribu datang dan mengatakan, "Tuan, Tuan mempercayakan seratus ribu kepada saya, dan sudah saya karyakan sehingga uang Tuan bertambah menjadi dua ratus ribu." Si Tuan mengangguk angguk dan berkata,"Baguuus, silakan lanjutkan!"
Yang lima puluh ribu datang dan mengatakan, "Tuan, Tuan sudah mempercayakan lima puluh ribu kepada saya, dan saya menggandakannya menjadi seratus ribu." Tuan mengangguk angguk dan berkata, "Baguuuuus, lanjutkan"
Giliran sepuluh ribu datang. Dengan sangat geram dan kasar ia menyodorkan selembar uang sepuluh ribu kembali pada tuannya sambil berkata,"Memang Tuan ini pelit dan pilih kasih! Tentu saja mereka berdua dapat berkarya karena uang yang diberikan lebih banyak! Jadi uang ini saya simpan saja, dan saya kembalikan kepada Anda!" Wah, si Tuan terhenyak dan marah besar! Katanya: "Dasar orang tidak tahu diri, sini, berikan uangnya kembali, dan pergilah kamu jangan kembali!"
Dan cerita pun usai.
Pelajaran yang dipetik dari sana? Dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih, menjadi seratus ribu, lima puluh ribu atau sepuluh ribu. It's given. Dan kita tidak perlu memusingkan kenapa kita cuma diberi sepuluh ribu. Karena sudah ditentukan. Kalau pun kita memaksa menjadi si seratus ribu, bisa jadi kita tidak kuat menanggung bebannya sehingga malah tidak bisa berkarya. Jadi, yang perlu kita lakukan dalam tahap ini penerimaan keadaan yang diberikan, dan mensyukurinya. Karena kondisi yang kita punyai sekarang adalah kondisi yang terbaik bagi kita untuk belajar mengenai nilai hidup yang harus kita temukan dalam kehidupan sekarang.
Kedua, setelah menerima, kita harus mempertanggungjawabkannya. Kalau kita diberi kebutaan, kita harus menerimanya dan mempertanggungjawabkan keadaan kita sehingga kita bisa :
ketiga: Menggandakannya. Mengkaryakan kondisi kita sehingga menghasilkan buah berganda.
Teoritis? Mungkin, tapi contoh nyatanya adalah Andrea Bocelli. Ia tidak lahir buta. Ia buta di usia anak anak. Kalau dia kerjanya mengutuki kondisinya, sampai sekarang dia cuma jadi orang setengah tua buta yang tidak bermakna. Namun ia bangkit. Ia menerima keberadaannya dan berkarya.
Hal itu lah yang saya pelajari hari ini. Diam diam saya melakukan past regression. Sebuah pengalaman yang tak dapat digambarkan dengan kata kata. Saya diajak balik kekehidupan masa lalu saya untuk dapat mengerti maksud tujuan hidup saya saat ini, dan apa apa saja yang harus saya capai sebelum saya menutup mata selamanya. Saya juga diajak mengerti hubungan dan peran apa yang dibawa oleh beberapa orang yang bersinggungan dengan hidup saya. Tadinya saya sangat pesimistis dapat melalui semua ini, tapi pada akhir sesi, saya terkagum kagum atas hasilnya.
Saya menjadi lebih terpesona lagi ketika apa yang saya lihat dengan mata batin saya ternyata sama persis dengan yang dilihat oleh mata batin seorang wanita bertahun tahun yang lalu, saat saya tanpa diatur terlebih dahulu diajak Samuel Mulia teman saya, untuk makan bersama di sebuah cafe kecil di apartemennya. Saat itu dia merasa tergelitik untuk menyapa saja, dan di tengah pembicaraan ngalor ngidul, ia berhenti dan bertanya,"Maaf, boleh saya bicara dengan kamu soal suatu hal?"
Dia bilang dia melihat aura saya sangat terang dan mendamaikan. Dia bilang saya ini old soul. Ketika ditanya soal old soul, dia menjelaskan bahwa saya ini jiwa yang tua, yang sudah berkali kali mengalami kehidupan. Dan kehidupan kali ini bisa jadi kehidupan saya yang terakhir, kalau saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Lalu dia bilang saya ini dulunya pendeta di Tibet. Dan ketika saya mendengarnya saya langsung tertawa, dan bilang pasti gara gara saya botak. Tapi dia menggeleng serius mengabaikan candaan garing saya. Ia mengatakan semakin dekat seseorang pada waktunya semakin dekat dia dengan image kehidupan sebelumnya.
Dan visi itulah yang saya lihat dengan mata batin saya. Saya melihat seorang pendeta tua yang bijak berbungkuskan jubah oranye, menapaki sebuah bangunan megah putih beraksen keemasan, dan ketika pintu kayu yang berukir emas itu dibuka, saya melihat sebuah ruangan putih besar yang sangat indah dan damai, dan di dalamnya terletak patung buddha emas yang melebihi ukuran manusia dengan lilin lilin yang menyala, dengan latar belakang langit biru yang sangat bersih dan cerah. Ruangan ini adalah bangunan satu satunya dan tertinggi, sehingga tak ada bangunan yang lain di sekitarnya yang mengalahkan ketinggiannya. Suasananya tenang dan begitu damai. Saya jadi duduk dan memandang berlama lama saking nyamannya. Lalu melalui mulut batin, sang pendeta kemudian menjabarkan mengapa ia memilih kehidupan sekarang ini bagi saya, dan apa tujuannya. Saya jadi memahami. Meski tahu jalan kehidupan yang ditetapkan tidak mudah. Tapi paling tidak saya menjadi lebih siap menghadapinya. Agar di akhir kehidupan ini, si Tuan bisa bilang, "Bagus. Lanjutkan..." Dan nantinya, saya untuk terakhir kalinya menengok ke dunia ini to say good bye and never return again...
Labels:
'lawrence tjandra',
'past regression',
refleksi
Monday, January 04, 2010
4 Januari 2010 : Tulus Ikhlas
Saya bersyukur punya keluarga yang penuh cinta, saling mendukung dan menghormati eksistensi dan privasi masing masing anggotanya. Meski demikian, kalau kami berkumpul, mengalir sejuta cerita yang seakan tak pernah ada habisnya, dari yang lucu hingga yang haru. Dan di antaranya tentu saja ditambahi bumbu seru bergosip!
Maka ketika siang ini, saya berada di tengah tengah keluarga tercinta, sambil menikmati makan siang santai di sebuah historical cafe di Australia Barat, cerita cerita itu mengalir lagi. Sampailah kami membicarakan seorang teman keluarga yang sudah kami kenal dekat. Saya sendiri sudah mengenalnya sejak ia masih kecil. Kini ia sudah dewasa, menjadi pemuda yang gagah tampan, dan memiliki pekerjaan yang baik. Saya juga mengenal ibunya dengan sangat baik namun sangat dominan dalam keluarganya.
Gosip terakhir, mama si tampan minta dicarikan jodoh buat anaknya. Dan siang tadi kami sekeluarga dibuat seru memikirkan siapa gadis yang pantas dikenalkan padanya. Tapi kami juga harus hati hati, karena si gadis tentunya harus punya daya juang tinggi, karena akan harus berhadapan dengan calon monster in law, eh, maksud saya, mother in law :-P
Sampai lah saya pada kesimpulan, wah jangan jangan tak ada gadis yang bisa masuk kriteria. Padahal si tampan ini cukup mapan. Tapi di balik kemapanannya, sebagian besar gajinya tersedot untuk diberikan ke orang tuanya. Ketika disuruh pindah kerjaan, karena si ibu merasa bahwa kesempatan meraih uang yang lebih banyak di tempat yang baru lebih besar, si anak baik inipun menurutlah.
Saya jadi kasihan dan prihatin pada si tampan yang polos dan baik hati ini. Saya curiga, jangan jangan ibunya menganggap si anak adalah investasi dan tambang emas modal pensiunnya. Saya jadi merenung dan menemukan begitu banyak orang yang seperti si ibu. Memberi tapi tak rela. Memberi tapi tak tulus. Tak ikhlas. Buat saya seharusnya menyekolahkan anak itu sudah kewajiban sebagai orang tua, dan kalau anaknya sukses, sudah layaknya orang tua itu bersyukur. Sedang masa tua si orang tua, selayaknya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Toh mereka harus merencanakan hidupnya sampai menutup mata. Jadi, bukan beban si anak, meskipun kita sebagai anak wajib berbakti dan menghormati orang tua, dan itu wajib hukumnya.
Tapi di luar orang tua, lebih banyak lagi orang yang memberi dengan imbalan. Orang yang merasa kalau orang yang ditolongnya tidak lagi memenuhi harapannya, maka si orang yang ditolong itu menjadi pengkhianat. Begitu banyaknya sampai kenalan yang saya ceritakan di tanggal 2 lalu merasa heran ketika saya membantu seseorang, saya melakukannya dengan tulus untuk kebahagiaan orang itu, dan tidak mengharap apa apa. Dia tak percaya. Para dokter dan pasien tempat pembantu saya ditolong pun merasa heran heran ketika saya dengan susah payah mengurus pembantu saya yang sakit hingga ia sembuh total setelah dioperasi. Saya ingat betul dokter spesialis paru paru itu mengatakan, "Bapak baik sekali ya, mau mengurus pembantu seperti ini." Saya balik heran dan dengan polosnya bertanya,"Saya yang justru heran, dok. Kalau mereka tinggal di rumah kita, dan sehari harinya mengurus kita, bukankah mereka sudah menjadi anggota keluarga terdekat kita, dan kalau terjadi apa apa dengan mereka, bukankah kewajiban kita untuk menolong mereka dan bukannya menyingkirkan mereka?" Saya tidak bisa membayangkan orang macam apa saya ini kalau tega melakukannya. Saya bahkan diam diam menangis memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhannya. Saya sampai meminta tolong kepada kenalan saya yang berpengaruh untuk mendapatkan kamar di Rumah Sakit karena pembantu saya ditolak kartu miskinnya dan asuransi kesehatan yang saya tanggung sudah melebihi pagu nya. Saya juga berdoa novena untuk kesembuhannya. Dokter itu terdiam. Saya tidak tahu apa yang diceritakan oleh isteri pembantu saya kepada keluarga pasien yang lainnya di ruang kelas tiga RS Persahabatan saat itu, namun ketika saya menjenguk pembantu saya di sore harinya, saya disambut dan diajak berkenalan oleh semua keluarga pasien yang lain seperti seorang selebriti.
Saya menceritakan ini bukan karena ingin dianggap pahlawan, sama sekali bukan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi saya. Kalau sampai suatu saat pembantu saya keluar pun, tak akan ada tagihan sepeserpun atas biaya pengobatan mereka dan rasa dikhianati karena ditinggalkan. Itu adalah hak mereka, dan waktunya sudah tiba buat mereka meninggalkan saya. Saya sudah cukup diurus mereka dengan baik selama bertahun tahun. Dan saya bersyukur karenanya.
Dalam kurun waktu 45 tahun hidup saya, dan dengan berbagai kejadian yang menimpa saya, saya jadi menyadari, bahwa setiap pertemuan itu ada waktunya. Dan setiap perjumpaan ini ada makna dan maksudnya. Demikian juga orang yang kita jumpai, tak ada kebetulan kita berjumpa dengannya, karena setiap perjumpaan memiliki maksud dan tujuan tertentu. Ada orang orang yang seumur hidup akan bersama kita, ada juga yang tidak. Dan kalau Yang Kuasa sudah menentukan waktunya sudah habis, maka sudah habis pula waktu kebersamaan kita. Saya akhirnya menyadari bahwa peran saya bagi mantan isteri saya adalah sebagai perantara buat dia untuk menemukan kebahagiaannya yang sejati sekarang. Saya juga akhirnya menyadari bahwa peran mantan kekasih saya juga hanya untuk membantu saya melalui masa sulit perceraian saya. Masalahnya, ketika waktunya sudah usai, saya nya yang tak rela, sehingga hubungan itu menjadi bergulir begitu lama dan menjadi semakin memburuk. Hingga akhirnya perpisahan yang menyakitkan pun terjadi.
Hari ini saya bersyukur karena orang tua saya mengajar anak anaknya untuk tulus dan ikhlas. Dan hari ini saya sekali lagi belajar untuk merelakan. Letting go. Mengikhlaskan. Kalau mau memberi, lakukan dengan tulus, dan ikhlas. Kalau mau bertransaksi, bertransaksilah yang baik, jelas aturan mainnya. Namun kalau niatnya menolong, jangan pakai tanda kutip. Rela tapi tak rela, karena ada maksud tertentu dibaliknya. Dan kalaupun apa yang kita tidak terturuti padahal kita sudah berbuat begitu banyaknya terhadap seseorang, itu juga bukan salah orang yang kita bantu. Salah saya berharap terlalu banyak dan tidak tulus. Semoga saya hari ini bisa berdamai dengan keinginan saya atas ini dan itu, dan realitanya nanti kalau kemauan saya tersebut tidak terwujudkan...
ps. terima kasih untuk my dearest secret editor. Hari ini saya belajar dari kamu tentang pentingnya menjaga kepercayaan seseorang atas janji yang telah diucapkannya, dan menjadi orang yang lebih considerate and thoughtful.Love you always.
ps. 2 Tesalonika 3 : 8 "kami berusaha dan berjerih payah siang dan malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu"
2 Tesalonika 3 : 10 "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."
Maka ketika siang ini, saya berada di tengah tengah keluarga tercinta, sambil menikmati makan siang santai di sebuah historical cafe di Australia Barat, cerita cerita itu mengalir lagi. Sampailah kami membicarakan seorang teman keluarga yang sudah kami kenal dekat. Saya sendiri sudah mengenalnya sejak ia masih kecil. Kini ia sudah dewasa, menjadi pemuda yang gagah tampan, dan memiliki pekerjaan yang baik. Saya juga mengenal ibunya dengan sangat baik namun sangat dominan dalam keluarganya.
Gosip terakhir, mama si tampan minta dicarikan jodoh buat anaknya. Dan siang tadi kami sekeluarga dibuat seru memikirkan siapa gadis yang pantas dikenalkan padanya. Tapi kami juga harus hati hati, karena si gadis tentunya harus punya daya juang tinggi, karena akan harus berhadapan dengan calon monster in law, eh, maksud saya, mother in law :-P
Sampai lah saya pada kesimpulan, wah jangan jangan tak ada gadis yang bisa masuk kriteria. Padahal si tampan ini cukup mapan. Tapi di balik kemapanannya, sebagian besar gajinya tersedot untuk diberikan ke orang tuanya. Ketika disuruh pindah kerjaan, karena si ibu merasa bahwa kesempatan meraih uang yang lebih banyak di tempat yang baru lebih besar, si anak baik inipun menurutlah.
Saya jadi kasihan dan prihatin pada si tampan yang polos dan baik hati ini. Saya curiga, jangan jangan ibunya menganggap si anak adalah investasi dan tambang emas modal pensiunnya. Saya jadi merenung dan menemukan begitu banyak orang yang seperti si ibu. Memberi tapi tak rela. Memberi tapi tak tulus. Tak ikhlas. Buat saya seharusnya menyekolahkan anak itu sudah kewajiban sebagai orang tua, dan kalau anaknya sukses, sudah layaknya orang tua itu bersyukur. Sedang masa tua si orang tua, selayaknya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Toh mereka harus merencanakan hidupnya sampai menutup mata. Jadi, bukan beban si anak, meskipun kita sebagai anak wajib berbakti dan menghormati orang tua, dan itu wajib hukumnya.
Tapi di luar orang tua, lebih banyak lagi orang yang memberi dengan imbalan. Orang yang merasa kalau orang yang ditolongnya tidak lagi memenuhi harapannya, maka si orang yang ditolong itu menjadi pengkhianat. Begitu banyaknya sampai kenalan yang saya ceritakan di tanggal 2 lalu merasa heran ketika saya membantu seseorang, saya melakukannya dengan tulus untuk kebahagiaan orang itu, dan tidak mengharap apa apa. Dia tak percaya. Para dokter dan pasien tempat pembantu saya ditolong pun merasa heran heran ketika saya dengan susah payah mengurus pembantu saya yang sakit hingga ia sembuh total setelah dioperasi. Saya ingat betul dokter spesialis paru paru itu mengatakan, "Bapak baik sekali ya, mau mengurus pembantu seperti ini." Saya balik heran dan dengan polosnya bertanya,"Saya yang justru heran, dok. Kalau mereka tinggal di rumah kita, dan sehari harinya mengurus kita, bukankah mereka sudah menjadi anggota keluarga terdekat kita, dan kalau terjadi apa apa dengan mereka, bukankah kewajiban kita untuk menolong mereka dan bukannya menyingkirkan mereka?" Saya tidak bisa membayangkan orang macam apa saya ini kalau tega melakukannya. Saya bahkan diam diam menangis memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhannya. Saya sampai meminta tolong kepada kenalan saya yang berpengaruh untuk mendapatkan kamar di Rumah Sakit karena pembantu saya ditolak kartu miskinnya dan asuransi kesehatan yang saya tanggung sudah melebihi pagu nya. Saya juga berdoa novena untuk kesembuhannya. Dokter itu terdiam. Saya tidak tahu apa yang diceritakan oleh isteri pembantu saya kepada keluarga pasien yang lainnya di ruang kelas tiga RS Persahabatan saat itu, namun ketika saya menjenguk pembantu saya di sore harinya, saya disambut dan diajak berkenalan oleh semua keluarga pasien yang lain seperti seorang selebriti.
Saya menceritakan ini bukan karena ingin dianggap pahlawan, sama sekali bukan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi saya. Kalau sampai suatu saat pembantu saya keluar pun, tak akan ada tagihan sepeserpun atas biaya pengobatan mereka dan rasa dikhianati karena ditinggalkan. Itu adalah hak mereka, dan waktunya sudah tiba buat mereka meninggalkan saya. Saya sudah cukup diurus mereka dengan baik selama bertahun tahun. Dan saya bersyukur karenanya.
Dalam kurun waktu 45 tahun hidup saya, dan dengan berbagai kejadian yang menimpa saya, saya jadi menyadari, bahwa setiap pertemuan itu ada waktunya. Dan setiap perjumpaan ini ada makna dan maksudnya. Demikian juga orang yang kita jumpai, tak ada kebetulan kita berjumpa dengannya, karena setiap perjumpaan memiliki maksud dan tujuan tertentu. Ada orang orang yang seumur hidup akan bersama kita, ada juga yang tidak. Dan kalau Yang Kuasa sudah menentukan waktunya sudah habis, maka sudah habis pula waktu kebersamaan kita. Saya akhirnya menyadari bahwa peran saya bagi mantan isteri saya adalah sebagai perantara buat dia untuk menemukan kebahagiaannya yang sejati sekarang. Saya juga akhirnya menyadari bahwa peran mantan kekasih saya juga hanya untuk membantu saya melalui masa sulit perceraian saya. Masalahnya, ketika waktunya sudah usai, saya nya yang tak rela, sehingga hubungan itu menjadi bergulir begitu lama dan menjadi semakin memburuk. Hingga akhirnya perpisahan yang menyakitkan pun terjadi.
Hari ini saya bersyukur karena orang tua saya mengajar anak anaknya untuk tulus dan ikhlas. Dan hari ini saya sekali lagi belajar untuk merelakan. Letting go. Mengikhlaskan. Kalau mau memberi, lakukan dengan tulus, dan ikhlas. Kalau mau bertransaksi, bertransaksilah yang baik, jelas aturan mainnya. Namun kalau niatnya menolong, jangan pakai tanda kutip. Rela tapi tak rela, karena ada maksud tertentu dibaliknya. Dan kalaupun apa yang kita tidak terturuti padahal kita sudah berbuat begitu banyaknya terhadap seseorang, itu juga bukan salah orang yang kita bantu. Salah saya berharap terlalu banyak dan tidak tulus. Semoga saya hari ini bisa berdamai dengan keinginan saya atas ini dan itu, dan realitanya nanti kalau kemauan saya tersebut tidak terwujudkan...
ps. terima kasih untuk my dearest secret editor. Hari ini saya belajar dari kamu tentang pentingnya menjaga kepercayaan seseorang atas janji yang telah diucapkannya, dan menjadi orang yang lebih considerate and thoughtful.Love you always.
ps. 2 Tesalonika 3 : 8 "kami berusaha dan berjerih payah siang dan malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu"
2 Tesalonika 3 : 10 "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."
Sunday, January 03, 2010
3 Januari 2010 : Jalan Menuju Kebahagiaan
Seharian ini saya berjalan menyusuri daerah tua Fremantle yang sangat indah. Setelah makan fish and chips Cicerello yang sangat terkenal, berjalanlah saya membedah setiap sudut Freemantle market. Saya memang mengagendakan secara khusus ke tempat ini karena sabun buatan tangannya yang sangat harum dan lembut. Saya borong 15buah!
Dari sana, saya kemudian berjalan menikmati kegiatan window shopping sepanjang jalan menjauhi market, tanpa tujuan yang jelas dan hanya mengandalkan kata hati. Kata hati saya berkata belok kanan, beloklah saya. Tuntunan kata hati pula yang membawa mata saya tertuju pada selembar kain yang berisikan puisi yang sangat indah. Journey to Happiness. Saya belajar nilai hidup darinya. Karena panjang, saya beli saja kain yang tinggal satu satunya di toko itu. Dan sekarang saya ingin menerjemahkannya untuk Anda:
Journey To Happiness
I was given this live and I owe it to myself to make it
as rewarding and fulfilling as possible.
i owe it to myself to walk around with my eyes wide open
to new possibilities and new ideas, to new concepts and to peole's input.
I owe it to myself to learn from every experience,
every encounter, every tear and every difficulty.
I owe it to myself to change, to constantly seek
new information, to process it and to be affected by it.
I owe it to myself to slow down,
to rest, to absorb and to recuperate.
The time has come for a new boundaries, new horizons,
new ways of seing. I open myself willingly
to the universe and all its delights.
I am responsible for my own health, wellbeing and happiness
and I owe it to myself to be nurtured by me.
I celebrate today and embrace Joy.
SamdeMonsey
terjemahan bebasnya:
Jalan Menuju Kebahagiaan
Saya diberi anugerah kehidupan ini
Dan saya berhutang pada diri sendiri
untuk menjadikannya sebermakna dan sepenuh mungkin
Saya berhutang untuk berjalan dengan mata terbuka lebar
untuk kemungkinan dan inspirasi baru,
konsep baru dan masukan dari orang lain.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk belajar dari setiap kejadian,
setiap pertemuan, setiap tetes air mata dan setiap kesulitan.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk berubah,
untuk terus menerus mencari informasi baru, menyerap dan memanfaatkannya dengan bijaksana.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk melambatkan ritme hidup, istirahat, menyerap dan menyembuhkan diri sendiri
Waktunya telah tiba untuk batasan baru, wawasan baru, cara pandang baru.
Saya membuka diri dengan kemauan sendiri pada alam semesta dan semua keagungannya.
Saya bertanggung jawab atas kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan saya sendiri
dan saya berhutang pada diri sendiri untuk memelihara diri sendiri.
Saya merayakan hari ini dan merangkul(nya dalam) suka cita.
Sam deMonsey
Lalu sebelum pulang saya sempat mengutip sebuah kalimat dari sebuah toko suvenir barang barang Nepal. Isinya :The most beautiful things in life are not seen but felt only by heart. Hal hal yang terindah dalam kehidupan ini tidak terlihat namun hanya dapat dirasakan oleh hati. Pesan ini lalu saya kirimkan kepada seseorang yang memiliki arti penting bagi hidup saya. Semoga dia membaca dan memahami betapa dalam arti kalimat tersebut...
Dari sana, saya kemudian berjalan menikmati kegiatan window shopping sepanjang jalan menjauhi market, tanpa tujuan yang jelas dan hanya mengandalkan kata hati. Kata hati saya berkata belok kanan, beloklah saya. Tuntunan kata hati pula yang membawa mata saya tertuju pada selembar kain yang berisikan puisi yang sangat indah. Journey to Happiness. Saya belajar nilai hidup darinya. Karena panjang, saya beli saja kain yang tinggal satu satunya di toko itu. Dan sekarang saya ingin menerjemahkannya untuk Anda:
Journey To Happiness
I was given this live and I owe it to myself to make it
as rewarding and fulfilling as possible.
i owe it to myself to walk around with my eyes wide open
to new possibilities and new ideas, to new concepts and to peole's input.
I owe it to myself to learn from every experience,
every encounter, every tear and every difficulty.
I owe it to myself to change, to constantly seek
new information, to process it and to be affected by it.
I owe it to myself to slow down,
to rest, to absorb and to recuperate.
The time has come for a new boundaries, new horizons,
new ways of seing. I open myself willingly
to the universe and all its delights.
I am responsible for my own health, wellbeing and happiness
and I owe it to myself to be nurtured by me.
I celebrate today and embrace Joy.
SamdeMonsey
terjemahan bebasnya:
Jalan Menuju Kebahagiaan
Saya diberi anugerah kehidupan ini
Dan saya berhutang pada diri sendiri
untuk menjadikannya sebermakna dan sepenuh mungkin
Saya berhutang untuk berjalan dengan mata terbuka lebar
untuk kemungkinan dan inspirasi baru,
konsep baru dan masukan dari orang lain.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk belajar dari setiap kejadian,
setiap pertemuan, setiap tetes air mata dan setiap kesulitan.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk berubah,
untuk terus menerus mencari informasi baru, menyerap dan memanfaatkannya dengan bijaksana.
Saya berhutang pada diri sendiri untuk melambatkan ritme hidup, istirahat, menyerap dan menyembuhkan diri sendiri
Waktunya telah tiba untuk batasan baru, wawasan baru, cara pandang baru.
Saya membuka diri dengan kemauan sendiri pada alam semesta dan semua keagungannya.
Saya bertanggung jawab atas kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan saya sendiri
dan saya berhutang pada diri sendiri untuk memelihara diri sendiri.
Saya merayakan hari ini dan merangkul(nya dalam) suka cita.
Sam deMonsey
Lalu sebelum pulang saya sempat mengutip sebuah kalimat dari sebuah toko suvenir barang barang Nepal. Isinya :The most beautiful things in life are not seen but felt only by heart. Hal hal yang terindah dalam kehidupan ini tidak terlihat namun hanya dapat dirasakan oleh hati. Pesan ini lalu saya kirimkan kepada seseorang yang memiliki arti penting bagi hidup saya. Semoga dia membaca dan memahami betapa dalam arti kalimat tersebut...
Labels:
'lawrence tjandra',
happiness,
kebahagiaan,
quotes,
refleksi
2 Januari 2010 : Keset
Baru memasuki hari ke dua di tahun 2010, saya sudah harus minta maaf. Minta maaf karena terlambat menulis di blog ini tentang apa yang saya pelajari pada tangal 2 Januari 2010.
Tadi malam, saya, ibu dan kakak saya diundang secara khusus untuk dinner di rumah Gillian & Kurt, pasangan suami isteri yang sudah merupakan teman keluarga yang sangat dekat. Namun ini pertama kalinya saya mengunjungi rumahnya yang asri di alam perbukitan dan peternakan Shady Hill. Awalnya dari luar saya sempat kecewa, kok rumahnya begini begini saja, padahal saya tahu Gil adalah sosok yang sangat perfeksionis. Namun saya jadi mengerti saat masuk ke dalam rumahnya dengan pemandangan perbukitan yang spektakuler indahnya di ruang keluarganya. Dari luar tampak biasa, namun di dalam luar biasa. Saya jadi malu sendiri menyadari, bahwa saya sering kali ingin tampak indah di luar namun di dalamnya busuk.
Lalu pembicaraan mengalir lancar dan saya jadi bingung, mau menulis apa di blog ini karena begitu banyak pelajaran hidup yang saya terima dari perempuan elegan ini. Seakan menyambung perasaan saya di atas, Gil bercerita suatu saat ibunya menegurnya untuk dandan, dan tidak tampil acak acakan. Gil bilang saya tampil begini karena tidak ingin menjadi perhatian orang. Namun ibunya mengatakan bahwa kamu salah, kamu justru menghargai mereka dengan tampil baik. Dalam hati saya menyerap. Oke, dari dalam harus baik, tapi depan juga tidak boleh acak acakan...
Kami bicara ngalor ngidul, dan sampailah saya pada keputusan untuk memilih topik keset sebagai bahan pelajaran terpenting hari ini. Gil bicara soal keberadaannya sebagai satu satunya wanita di korps kerjanya, dan dia ingin menunjukkan bahwa dia memiliki eksistensi dan kontribusi tersendiri yang berarti bagi kelompoknya, bukan sekedar hiasan dan pelengkap. Perlu diingat, zaman dia bekerja adalah masa saat diskriminasi gender masih sangat tinggi. Dia bilang, dia tidak bisa hanya mengikuti arus dan iya iya saja. Ibaratnya, jika ia tidur telentang di muka rumahnya, ia tidak mau mukanya diinjak injak seolah keset.
saya jadi berpikir, berapa sering kita membiarkan diri sebagai keset dalam hidup ini? Saya jadi teringat seseorang yang saya kenal. Dia datang dari keluarga yang keadaan ekonominya sangat memprihatinkan. Saking parahnya dia sampai memutuskan merantau ke Jakarta, dan ketika saudaranya tahu dia tidak punya uang dan berniat menumpang sampai dapat pekerjaan, dia diusir. Dia kemudian tidur di jalan dan di mesjid, dan hanya bergantung dengan uang dua puluh ribu rupiah. Jadilah dia mengejar uang dengan tubuh dan harga diri sebagai gantinya. Kini ia memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan namun masih tidak dapat melepaskan diri dari jeratan orang yang katanya tulus membantu, namun mengharapkan tubuhnya sebagai imbalan. Ia dijerat dan diancam. Dia bilang dia ingin bahagia saat menemukan cinta sejatinya, namun dia tidak berdaya. ia di "penjara". Facebook dikuasai si bos, handphone di kontrol si bos... padahal si bos sudah punya keluarga.
Tidak berdaya? Hm... bagian ini yang tidak bisa saya mengerti. Karena buat saya, hidup itu kita sendiri yang menentukan, mau jadi apa. Kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan Allah dan bukan orang lain. Ketika ia mengatakan ia takut diteror karena si bos tahu tempat kerjanya. Saya juga merasa aneh karena dia merasa bersalah pada si bos, karena dia kini mencintai seseorang dengan tulus. Katanya, dia merasa mengkhianati si bos karena setelah kondisinya enak, dia malah jatuh cinta dengan yang lain. Ia juga takut "dicap lebih buruk dari seekor anjing..."
Saya jadi marah sendiri. Apa apaan ini? Saya bilang, kamu jangan takut. Orang yang tawakal berada di jalan Tuhan. Bukan orang lain yang mengatur hidup kita, tetapi Allah. Allah lah yang mengatur dan melindungi kita. Jadi kita sama sekali tidak perlu takut. Allah beserta kita. Saya lalu menanyakan mana iman kepercayaan nya pada Allahnya. Kenapa kita lebih takut pada manusia daripada dengan Allah? Maka saya meminta dia segera sholat tahajud, mohon ampunan atas keraguannya pada Allah.
Kita ini sering tidak jelas. Mimpi mimpi tak jelas. Kita sering bilang ingin bahagia, ingin ini ingin itu, tapi hanya berhenti di sana saja. Ingin saja tidak cukup. kita harus membuktikan dan memperjuangkan meraih mimpi kita. Dan sering kali kita takut! Takut untuk memperjuangkannya dengan teguh. Hidup tak butuh kata manis yang enak didengar saja. Hidup perlu action yang nyata. Perlu orang yang mau memperjuangkan mimpinya dengan berani.
Dalam hal kenalan saya, dia berani membayar mahal uang dan fasilitas yang dia dapat dengan harga diri dan tubuhnya, tetapi tidak berani memperjuangkan kebahagiaan dengan cintanya. Dia malah takut. Seharusnya dia bisa bangkit dan mulai menjadi orang yang bermartabat sehingga di akhir hidupnya dia bisa mempertanggungjawabkan kehidupannya dengan baik. Tidak ada kata terlambat.Sekarang waktunya. Dia merasa bersalah karena dia menemukan cinta yang tulus. Dia tidak menyadari kalau dia justru telah berdosa besar dan bersalah telah membuat si bos melanggar sumpah sucinya pada Allah dengan menceraiberaikan dia dari keluarganya.
ya, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, saya belajar untuk tetap teguh bertakwa pada Allah dan tetap di jalannya. Hidup kita kalau dikuliti hanya tinggal jiwa dan roh, dan harga diri. Kalau itu pun digadaikan, kta tidak punya apa apa lagi. Maka, saya berjanji mau jadi orang yang bermartabat. Dan tidak mau jadi keset orang. Semoga kenalan saya juga bisa memilih jalan yang sama.
Tadi malam, saya, ibu dan kakak saya diundang secara khusus untuk dinner di rumah Gillian & Kurt, pasangan suami isteri yang sudah merupakan teman keluarga yang sangat dekat. Namun ini pertama kalinya saya mengunjungi rumahnya yang asri di alam perbukitan dan peternakan Shady Hill. Awalnya dari luar saya sempat kecewa, kok rumahnya begini begini saja, padahal saya tahu Gil adalah sosok yang sangat perfeksionis. Namun saya jadi mengerti saat masuk ke dalam rumahnya dengan pemandangan perbukitan yang spektakuler indahnya di ruang keluarganya. Dari luar tampak biasa, namun di dalam luar biasa. Saya jadi malu sendiri menyadari, bahwa saya sering kali ingin tampak indah di luar namun di dalamnya busuk.
Lalu pembicaraan mengalir lancar dan saya jadi bingung, mau menulis apa di blog ini karena begitu banyak pelajaran hidup yang saya terima dari perempuan elegan ini. Seakan menyambung perasaan saya di atas, Gil bercerita suatu saat ibunya menegurnya untuk dandan, dan tidak tampil acak acakan. Gil bilang saya tampil begini karena tidak ingin menjadi perhatian orang. Namun ibunya mengatakan bahwa kamu salah, kamu justru menghargai mereka dengan tampil baik. Dalam hati saya menyerap. Oke, dari dalam harus baik, tapi depan juga tidak boleh acak acakan...
Kami bicara ngalor ngidul, dan sampailah saya pada keputusan untuk memilih topik keset sebagai bahan pelajaran terpenting hari ini. Gil bicara soal keberadaannya sebagai satu satunya wanita di korps kerjanya, dan dia ingin menunjukkan bahwa dia memiliki eksistensi dan kontribusi tersendiri yang berarti bagi kelompoknya, bukan sekedar hiasan dan pelengkap. Perlu diingat, zaman dia bekerja adalah masa saat diskriminasi gender masih sangat tinggi. Dia bilang, dia tidak bisa hanya mengikuti arus dan iya iya saja. Ibaratnya, jika ia tidur telentang di muka rumahnya, ia tidak mau mukanya diinjak injak seolah keset.
saya jadi berpikir, berapa sering kita membiarkan diri sebagai keset dalam hidup ini? Saya jadi teringat seseorang yang saya kenal. Dia datang dari keluarga yang keadaan ekonominya sangat memprihatinkan. Saking parahnya dia sampai memutuskan merantau ke Jakarta, dan ketika saudaranya tahu dia tidak punya uang dan berniat menumpang sampai dapat pekerjaan, dia diusir. Dia kemudian tidur di jalan dan di mesjid, dan hanya bergantung dengan uang dua puluh ribu rupiah. Jadilah dia mengejar uang dengan tubuh dan harga diri sebagai gantinya. Kini ia memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan namun masih tidak dapat melepaskan diri dari jeratan orang yang katanya tulus membantu, namun mengharapkan tubuhnya sebagai imbalan. Ia dijerat dan diancam. Dia bilang dia ingin bahagia saat menemukan cinta sejatinya, namun dia tidak berdaya. ia di "penjara". Facebook dikuasai si bos, handphone di kontrol si bos... padahal si bos sudah punya keluarga.
Tidak berdaya? Hm... bagian ini yang tidak bisa saya mengerti. Karena buat saya, hidup itu kita sendiri yang menentukan, mau jadi apa. Kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan Allah dan bukan orang lain. Ketika ia mengatakan ia takut diteror karena si bos tahu tempat kerjanya. Saya juga merasa aneh karena dia merasa bersalah pada si bos, karena dia kini mencintai seseorang dengan tulus. Katanya, dia merasa mengkhianati si bos karena setelah kondisinya enak, dia malah jatuh cinta dengan yang lain. Ia juga takut "dicap lebih buruk dari seekor anjing..."
Saya jadi marah sendiri. Apa apaan ini? Saya bilang, kamu jangan takut. Orang yang tawakal berada di jalan Tuhan. Bukan orang lain yang mengatur hidup kita, tetapi Allah. Allah lah yang mengatur dan melindungi kita. Jadi kita sama sekali tidak perlu takut. Allah beserta kita. Saya lalu menanyakan mana iman kepercayaan nya pada Allahnya. Kenapa kita lebih takut pada manusia daripada dengan Allah? Maka saya meminta dia segera sholat tahajud, mohon ampunan atas keraguannya pada Allah.
Kita ini sering tidak jelas. Mimpi mimpi tak jelas. Kita sering bilang ingin bahagia, ingin ini ingin itu, tapi hanya berhenti di sana saja. Ingin saja tidak cukup. kita harus membuktikan dan memperjuangkan meraih mimpi kita. Dan sering kali kita takut! Takut untuk memperjuangkannya dengan teguh. Hidup tak butuh kata manis yang enak didengar saja. Hidup perlu action yang nyata. Perlu orang yang mau memperjuangkan mimpinya dengan berani.
Dalam hal kenalan saya, dia berani membayar mahal uang dan fasilitas yang dia dapat dengan harga diri dan tubuhnya, tetapi tidak berani memperjuangkan kebahagiaan dengan cintanya. Dia malah takut. Seharusnya dia bisa bangkit dan mulai menjadi orang yang bermartabat sehingga di akhir hidupnya dia bisa mempertanggungjawabkan kehidupannya dengan baik. Tidak ada kata terlambat.Sekarang waktunya. Dia merasa bersalah karena dia menemukan cinta yang tulus. Dia tidak menyadari kalau dia justru telah berdosa besar dan bersalah telah membuat si bos melanggar sumpah sucinya pada Allah dengan menceraiberaikan dia dari keluarganya.
ya, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, saya belajar untuk tetap teguh bertakwa pada Allah dan tetap di jalannya. Hidup kita kalau dikuliti hanya tinggal jiwa dan roh, dan harga diri. Kalau itu pun digadaikan, kta tidak punya apa apa lagi. Maka, saya berjanji mau jadi orang yang bermartabat. Dan tidak mau jadi keset orang. Semoga kenalan saya juga bisa memilih jalan yang sama.
Labels:
'lawrence tjandra',
'shady hill',
refleksi,
renungan
Friday, January 01, 2010
1 Januari 2010 : Tahun Baru. Sabar.
Selamat Tahun baru. Hari ini saya memulai resolusi 2010 untuk menulis 1 hal yang saya pelajari setiap harinya dalam tahun ini.Dan hari ini saya belajar mengenai arti sabar.
Selama ini saya bukan orang yang sabar. Mungkin karena perputaran pikiran di otak saya sangat cepat, saya menjadi bukan orang penyabar. Saya sering tidak sabar dengan meeting yang berkepanjangan. Saya tidak sabar dengan kotbah pastor yang bertele tele dan membuat saya gregetan untuk memberi pelatihan gratis public speaking atau tips mengenal audience pada si pastor. Saya tidak sabar bila ada orang yang tidak cepat mengerti mengenai sebuah masalah. Saya sering berteriak AAARRRRRRGHHHH! di tengah kemacetan. Saya tidak sabar dengan antrian. Dan saya paling tidak sabar menunggu sesuatu yang saya harap harapkan.
Maka, ketika dalam situasi sekarang saya harus menunggu dan bersabar tanpa dapat melakukan apa pun karena situasinya di luar jangkauan dan kuasa saya, rasanya seperti mau mati. Menunggu kabar menjadi sebuah kegiatan yang membuat jantung mau copot setiap detiknya. Dada menjadi nyeri dan hati menjadi gelisah. Pikiran sama sekali tidak fokus. Well, sebenarnya sih fokus, tapi fokus pada masalah dan penantian tadi. Fokus berjuang untuk sabar. Padahal seharusnya hari ini adalah hari santai, hari Tahun Baru. Saya ingin melompat waktu, tapi tak bisa. Saya ingin melompat tempat, tapi tak berdaya...
Saya jadi ingat buku yang sedang saya baca, namun belakangan ini terbengkalai karena pikiran tak fokus tadi : Eat, Pray, Love, dari Elizabeth Gilbert. Dalam chapter India, dia mempermasalahkan pikirannya yang tidak tenang kemana mana, tidak bisa meditasi karena berbagai hal lewat bersliweran di otaknya bagai lalat dan nyamuk di musim panas. Saya jadi tertarik, karena saya mengalami masalah yang sama dengan Liz. Putaran pikiran yang begitu cepat sehingga tak dapat berhenti.
Secara kebetulan beberapa hari yang lalu, saya berbicara dengan seorang hipnoterapis yang ahli past regression. Past Regression adalah melakukan terapi hipnotis yang membawa si pasien ke alam ke hidupan masa lampaunya. Dia mengatakan ada dua sesi. Sesi yang pertama adalah sesi regresi ke kehidupan lampau, dan sesi ke dua adalah membawa ke kehidupan di antara kehidupan. Dari terapi tersebut diharapkan dapat ditemukan hubungan antara sebuah hutang masalah masa lampau dengan keadaan sekarang, dan bagaimana mengatasinya. Menurut dia, setiap sesi memakan waktu 2 jam, jadi total 4 jam. Saya lalu menceritakan, beberapa tahun lalu, saya sempat mencoba sampai 2 kali melakukan hipnoterapi karena ingin tahu mengenai asal usul saya di masa lampau, mengapa saya dilahirkan dengan kondisi begini begitu, dan apa hubungannya beberapa orang dengan kehidupan saya sekarang. Dua duanya gagal. Kedua hipnoterapis yang katanya pakar itu, menyerah, dan akhirnya menyarankan agar saya belajar meditasi dulu, agar bisa membawa pikiran dari gelombang alfa (sadar) ke gelombang delta (alam roh). By the way, kalau kita tidur, kita masuk ke gelombang beta. Oleh karena itu, sering kali, niatnya kita berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan (delta) malah mampir ke gelombang beta, alias ketiduran... Sang terapis mengatakan, memang ada orang yang susah masuk ke gelombang delta karena pikiran yang tidak pernah berhenti (orang orang seperti saya ini), tapi tidak mustahil untuk mempelajarinya dan ia berjanji memberi tips saat kami berjanji bertemu tanggal 5 pagi hari nanti.
Dan kembali lah saya pada hari ini. Harus sabar. Benar benar menyakitkan dan menegangkan, membuat cemas luar biasa, dan merasa berdaya karena tak punya kontrol terhadap masalah. Bicara soal kontrol, rasanya saya juga punya issue mengenai hal ini, mengingat saya terbiasa menjadi seseorang yang in control, baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Makanya, masalahnya menjadi lebih rumit, karena dalam kesabaran dan penantian, seharusnya ada kepasrahan dan keikhlasan, bukan pemaksaan kehendak. Jadi balik lagi ke refleksi tahun lalu, dimana saya harus belajar selalu bersyukur, jujur, tawakal, tulus dan ikhlas.
Saya jadi tercenung. Aduh, saya ini masih "jauh" ilmunya. Masih ecek ecek. Maka, hari ini saya diingatkan Allah untuk belajar sabar dan ikhlas. Karena banyak hal yang tidak bisa saya kontrol, dan karenanya saya harus kembali pada sang pencipta, berserah dan pasrah. Dan berserah dan pasrah itu artinya membiarkan Allah mengambil alih 100% kendalinya dan menerima apa adanya dan dengan penuh syukur apa pun hasil yang diberikanNya (biasanya saya bilang pasrah kepada Tuhan, namun masih membubuhkan kalimat "tapi...."). Saya tidak tahu mengapa di hari pertama tahun ini saya diajak untuk belajar bersabar, dan sekali lagi ikhlas. Namun saya percaya kedua hal ini akan menjadi bekal yang luar biasa penting buat saya dalam menghadapi 364 hari ke depan.
Sekali lagi, selamat tahun baru!
(keponakan saya Ika, membaca blog ini dan protes karena isinya kurang ilustrasi yang nyata: apa yang terjadi pada saya sehingga saya menulis artikel ini, namun saya berkilah, ada yang bisa diberi ilustrasi nyata, ada yang tidak. Hari ini pengalaman saya tidak ingin saya ceritakan pada siapa pun, kecuali pada satu orang. Dan saya ingin menyimpannya seperti apa adanya. Karenanya, biarlah hari ini, artikelnya seperti ini, besok, semoga bisa memberi ilustrasi yang lebih jelas seperti yang diharapkan Ika. Thanks so much for your input, my dearest Ika. Love you always.)
Selama ini saya bukan orang yang sabar. Mungkin karena perputaran pikiran di otak saya sangat cepat, saya menjadi bukan orang penyabar. Saya sering tidak sabar dengan meeting yang berkepanjangan. Saya tidak sabar dengan kotbah pastor yang bertele tele dan membuat saya gregetan untuk memberi pelatihan gratis public speaking atau tips mengenal audience pada si pastor. Saya tidak sabar bila ada orang yang tidak cepat mengerti mengenai sebuah masalah. Saya sering berteriak AAARRRRRRGHHHH! di tengah kemacetan. Saya tidak sabar dengan antrian. Dan saya paling tidak sabar menunggu sesuatu yang saya harap harapkan.
Maka, ketika dalam situasi sekarang saya harus menunggu dan bersabar tanpa dapat melakukan apa pun karena situasinya di luar jangkauan dan kuasa saya, rasanya seperti mau mati. Menunggu kabar menjadi sebuah kegiatan yang membuat jantung mau copot setiap detiknya. Dada menjadi nyeri dan hati menjadi gelisah. Pikiran sama sekali tidak fokus. Well, sebenarnya sih fokus, tapi fokus pada masalah dan penantian tadi. Fokus berjuang untuk sabar. Padahal seharusnya hari ini adalah hari santai, hari Tahun Baru. Saya ingin melompat waktu, tapi tak bisa. Saya ingin melompat tempat, tapi tak berdaya...
Saya jadi ingat buku yang sedang saya baca, namun belakangan ini terbengkalai karena pikiran tak fokus tadi : Eat, Pray, Love, dari Elizabeth Gilbert. Dalam chapter India, dia mempermasalahkan pikirannya yang tidak tenang kemana mana, tidak bisa meditasi karena berbagai hal lewat bersliweran di otaknya bagai lalat dan nyamuk di musim panas. Saya jadi tertarik, karena saya mengalami masalah yang sama dengan Liz. Putaran pikiran yang begitu cepat sehingga tak dapat berhenti.
Secara kebetulan beberapa hari yang lalu, saya berbicara dengan seorang hipnoterapis yang ahli past regression. Past Regression adalah melakukan terapi hipnotis yang membawa si pasien ke alam ke hidupan masa lampaunya. Dia mengatakan ada dua sesi. Sesi yang pertama adalah sesi regresi ke kehidupan lampau, dan sesi ke dua adalah membawa ke kehidupan di antara kehidupan. Dari terapi tersebut diharapkan dapat ditemukan hubungan antara sebuah hutang masalah masa lampau dengan keadaan sekarang, dan bagaimana mengatasinya. Menurut dia, setiap sesi memakan waktu 2 jam, jadi total 4 jam. Saya lalu menceritakan, beberapa tahun lalu, saya sempat mencoba sampai 2 kali melakukan hipnoterapi karena ingin tahu mengenai asal usul saya di masa lampau, mengapa saya dilahirkan dengan kondisi begini begitu, dan apa hubungannya beberapa orang dengan kehidupan saya sekarang. Dua duanya gagal. Kedua hipnoterapis yang katanya pakar itu, menyerah, dan akhirnya menyarankan agar saya belajar meditasi dulu, agar bisa membawa pikiran dari gelombang alfa (sadar) ke gelombang delta (alam roh). By the way, kalau kita tidur, kita masuk ke gelombang beta. Oleh karena itu, sering kali, niatnya kita berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan (delta) malah mampir ke gelombang beta, alias ketiduran... Sang terapis mengatakan, memang ada orang yang susah masuk ke gelombang delta karena pikiran yang tidak pernah berhenti (orang orang seperti saya ini), tapi tidak mustahil untuk mempelajarinya dan ia berjanji memberi tips saat kami berjanji bertemu tanggal 5 pagi hari nanti.
Dan kembali lah saya pada hari ini. Harus sabar. Benar benar menyakitkan dan menegangkan, membuat cemas luar biasa, dan merasa berdaya karena tak punya kontrol terhadap masalah. Bicara soal kontrol, rasanya saya juga punya issue mengenai hal ini, mengingat saya terbiasa menjadi seseorang yang in control, baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Makanya, masalahnya menjadi lebih rumit, karena dalam kesabaran dan penantian, seharusnya ada kepasrahan dan keikhlasan, bukan pemaksaan kehendak. Jadi balik lagi ke refleksi tahun lalu, dimana saya harus belajar selalu bersyukur, jujur, tawakal, tulus dan ikhlas.
Saya jadi tercenung. Aduh, saya ini masih "jauh" ilmunya. Masih ecek ecek. Maka, hari ini saya diingatkan Allah untuk belajar sabar dan ikhlas. Karena banyak hal yang tidak bisa saya kontrol, dan karenanya saya harus kembali pada sang pencipta, berserah dan pasrah. Dan berserah dan pasrah itu artinya membiarkan Allah mengambil alih 100% kendalinya dan menerima apa adanya dan dengan penuh syukur apa pun hasil yang diberikanNya (biasanya saya bilang pasrah kepada Tuhan, namun masih membubuhkan kalimat "tapi...."). Saya tidak tahu mengapa di hari pertama tahun ini saya diajak untuk belajar bersabar, dan sekali lagi ikhlas. Namun saya percaya kedua hal ini akan menjadi bekal yang luar biasa penting buat saya dalam menghadapi 364 hari ke depan.
Sekali lagi, selamat tahun baru!
(keponakan saya Ika, membaca blog ini dan protes karena isinya kurang ilustrasi yang nyata: apa yang terjadi pada saya sehingga saya menulis artikel ini, namun saya berkilah, ada yang bisa diberi ilustrasi nyata, ada yang tidak. Hari ini pengalaman saya tidak ingin saya ceritakan pada siapa pun, kecuali pada satu orang. Dan saya ingin menyimpannya seperti apa adanya. Karenanya, biarlah hari ini, artikelnya seperti ini, besok, semoga bisa memberi ilustrasi yang lebih jelas seperti yang diharapkan Ika. Thanks so much for your input, my dearest Ika. Love you always.)
Labels:
'eat pray love',
'lawrence tjandra',
elizabeth gilbert,
ikhlas,
refleksi,
renungan,
sabar
Tuesday, December 29, 2009
Refleksi 2009 : Syukur, Ikhlas dan Tawakal
Perth, 29 Desember 2009
Menghakhiri tahun 2009, saya melakukan refleksi tentang apa yang terjadi selama tahun ini, dan pelajaran apa yang bisa saya petik darinya.
Secara pekerjaan dan karir, tahun 2009 berjalan dengan cukup lancar meskipun karena dampak krisis global, para klien yang tadinya berani menetapkan target jangka panjang, kini lebih waspada dan bersifat jangka pendek.
Yang menarik adalah perjalanan kehidupan pribadi yang sangat bergejolak. Saya bukan orang yang terbuka soal ini, dan tak banyak yang tahu kecuali keluarga dekat saya bahwa hubungan pribadi saya yang terjalin sejak tahun 2000 tepat setelah saya bercerai hancur berantakan di tahun 2008. Penyebabnya? Secara official, saya tidak tahu, namun indera ke enam saya mengatakan karena orang ke tiga. Sejak saat itu, kehidupan pribadi saya sangat bergejolak dan tidak tenang. Ada rasa marah dan dendam yang luar biasa, dan tidak terima diperlakukan secara sepihak seperti itu. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 2009 ini. Dan kemudian lagi ditambah adanya seorang yang berusaha menzolimi saya dengan melakukan teror ke keluarga, teman, kantor, klien hingga ke pejabat negara. Semua keadaan ini memberikan tekanan yang sangat besar dalam diri saya, dan membuat saya cukup depresi. Saya jadi mudah marah dan naik darah, dan bobot saya (kalau yang ini sih blessing in disguise hehe) menjadi menyusut drastis.
Namun di luar semua itu saya melihat begitu banyak anugerah yang saya terima dari Allah. Saya memiliki keluarga, teman, rekan kerja, dan klien klien yang tak henti hentinya percaya dan mendukung saya. Semuanya ini saya syukuri dengan amat sangat. Saya kemudian lebih bisa menerima kenyataan, bahwa dalam hidup ini ada hal yang datang dan pergi, dan ada orang orang yang mampir dalam hidup ini untuk menuaikan tujuan tertentu dan setelah itu pergi lagi. Saya merasa hal itu yang terjadi dengan mantan saya. Dia dihadirkan untuk membantu saya mengatasi trauma perceraian. Masalahnya, karena dia begitu menawan, saya tidak rela melepaskannya. Sampai saya disakiti berkali kali dalam delapan tahun itu. Teman dekat saya tidak ada yang percaya. Mereka bilang paling dalam sebulan kami akan kembali lagi. Kenyataannya, saya sudah memutuskan dengan keras kepala tidak akan lagi berhubungan dengan dia. Dan saya memutuskan dengan penuh amarah dan dendam. Begitu marahnya saya, sampai saya menjadi takut sendiri dan berpikir: Ini harus dihentikan, tapi bagaimana?
Orang banyak mengatakan ikhlaskan saja. Ya, betul. Tapi semuanya teori besar! Kenyataannya tak mudah sama sekali. Saya mengingat dia di setiap kejadian hidup sehari hari. Di lagu, di jalanan, di mall, baju, film, restaurant, cafe, majalah, dan di mana saja, bahkan di bau parfum! Dan setiap mengingatnya, antara hati hancur dan amarah yang membara. Saya menjadi pemarah dan pendendam.
Namun kejadian teror, mengubah drastis kehidupan saya. Saya seolah diberi jawabannya.
Tak tahu mengapa, saya jadi mengerti bahwa saya harus menjalani semua tahap kehidupan ini agar saya belajar soal hakiki kehidupan. Dari kejadian tersebut, saya disadarkan, bahwa ketika terjadi masalah, ada dua pilihan yang bisa dilakukan seseorang : pergi mencari Tuhannya dan berserah padaNya, atau mencari jalan pintas dan tanpa disadari masuk ke jurang kegelapan. Saya untungnya masuk dalam kategori yang pertama. Saya tak berhenti berdoa. Dan doa yang saya lakukan pagi dan malam itu membuat saya lebih peka dengan apa yang terjadi sekitar saya. Saya menjadi kagum dan terharu atas dukungan begitu banyak pihak yang tak sedikitpun mempercayai fitnah yang ditebar. Saya bersyukur karena selama ini jalan saya lurus dan tulus kepada mereka. Dari sana saya juga belajar mengikhlaskan. Mengikhlaskan saya dizolimi, mengikhlaskan semua ini terjadi dan bahkan mensyukuri keagungan Tuhan bahwa saya boleh melalui semua ini, agar saya naik kelas.
Sekarang, meskipun sangat saya batasi, saya sudah bisa berkomunikasi dengan lebih baik dengan mantan saya, terlepas apakah dia ingin kembali atau tidak, saya tidak mau tahu dan tidak ambil peduli, karena saya sudah tetap! Tidak mau lagi masuk ke lubang kegilaan yang telah saya alami bertahun tahun. Namun saya juga tidak pernah berputus asa. Saya tetap memiliki mimpi dan teguh dalam menjalani tujuan hidup saya: to live simply happy until the day I die with the one who loves me as much as I love the person.
Maka, di penghujung tahun ini saya belajar mensyukuri semua yang diberikan Tuhan, baik yang terlihat baik dan buruk, mengikhlaskan semua yang terjadi, dan selalu tawakal kepada Yang Kuasa. Saya juga belajar untuk melakukan banyak hal tanpa pamrih dan penuh ketulusan. Meski kadang seringkali perbuatan tanpa pamrih dan ketulusan ini dicurigai dan bahkan dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggungjawab. Namun saya percaya, itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah ketulusan hati. Kalau itu dimanfaatkan dengan keliru, itu urusan dia dengan Sang Khalik. Saya belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Memang semuanya membutuhkan waktu. Waktu pulalah yang membantu kita menyembuhkan luka batin. Tapi waktu saja tidak cukup, perlu usaha kita juga untuk menyembuhkannya. Perlu syukur, ketulusan, keikhlasan dan ketawakalan. Selamat mengakhiri tahun 2009. Semoga tahun 2010 menjadi tahun yang penuh berkah dan cinta untuk kita semua.
Menghakhiri tahun 2009, saya melakukan refleksi tentang apa yang terjadi selama tahun ini, dan pelajaran apa yang bisa saya petik darinya.
Secara pekerjaan dan karir, tahun 2009 berjalan dengan cukup lancar meskipun karena dampak krisis global, para klien yang tadinya berani menetapkan target jangka panjang, kini lebih waspada dan bersifat jangka pendek.
Yang menarik adalah perjalanan kehidupan pribadi yang sangat bergejolak. Saya bukan orang yang terbuka soal ini, dan tak banyak yang tahu kecuali keluarga dekat saya bahwa hubungan pribadi saya yang terjalin sejak tahun 2000 tepat setelah saya bercerai hancur berantakan di tahun 2008. Penyebabnya? Secara official, saya tidak tahu, namun indera ke enam saya mengatakan karena orang ke tiga. Sejak saat itu, kehidupan pribadi saya sangat bergejolak dan tidak tenang. Ada rasa marah dan dendam yang luar biasa, dan tidak terima diperlakukan secara sepihak seperti itu. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 2009 ini. Dan kemudian lagi ditambah adanya seorang yang berusaha menzolimi saya dengan melakukan teror ke keluarga, teman, kantor, klien hingga ke pejabat negara. Semua keadaan ini memberikan tekanan yang sangat besar dalam diri saya, dan membuat saya cukup depresi. Saya jadi mudah marah dan naik darah, dan bobot saya (kalau yang ini sih blessing in disguise hehe) menjadi menyusut drastis.
Namun di luar semua itu saya melihat begitu banyak anugerah yang saya terima dari Allah. Saya memiliki keluarga, teman, rekan kerja, dan klien klien yang tak henti hentinya percaya dan mendukung saya. Semuanya ini saya syukuri dengan amat sangat. Saya kemudian lebih bisa menerima kenyataan, bahwa dalam hidup ini ada hal yang datang dan pergi, dan ada orang orang yang mampir dalam hidup ini untuk menuaikan tujuan tertentu dan setelah itu pergi lagi. Saya merasa hal itu yang terjadi dengan mantan saya. Dia dihadirkan untuk membantu saya mengatasi trauma perceraian. Masalahnya, karena dia begitu menawan, saya tidak rela melepaskannya. Sampai saya disakiti berkali kali dalam delapan tahun itu. Teman dekat saya tidak ada yang percaya. Mereka bilang paling dalam sebulan kami akan kembali lagi. Kenyataannya, saya sudah memutuskan dengan keras kepala tidak akan lagi berhubungan dengan dia. Dan saya memutuskan dengan penuh amarah dan dendam. Begitu marahnya saya, sampai saya menjadi takut sendiri dan berpikir: Ini harus dihentikan, tapi bagaimana?
Orang banyak mengatakan ikhlaskan saja. Ya, betul. Tapi semuanya teori besar! Kenyataannya tak mudah sama sekali. Saya mengingat dia di setiap kejadian hidup sehari hari. Di lagu, di jalanan, di mall, baju, film, restaurant, cafe, majalah, dan di mana saja, bahkan di bau parfum! Dan setiap mengingatnya, antara hati hancur dan amarah yang membara. Saya menjadi pemarah dan pendendam.
Namun kejadian teror, mengubah drastis kehidupan saya. Saya seolah diberi jawabannya.
Tak tahu mengapa, saya jadi mengerti bahwa saya harus menjalani semua tahap kehidupan ini agar saya belajar soal hakiki kehidupan. Dari kejadian tersebut, saya disadarkan, bahwa ketika terjadi masalah, ada dua pilihan yang bisa dilakukan seseorang : pergi mencari Tuhannya dan berserah padaNya, atau mencari jalan pintas dan tanpa disadari masuk ke jurang kegelapan. Saya untungnya masuk dalam kategori yang pertama. Saya tak berhenti berdoa. Dan doa yang saya lakukan pagi dan malam itu membuat saya lebih peka dengan apa yang terjadi sekitar saya. Saya menjadi kagum dan terharu atas dukungan begitu banyak pihak yang tak sedikitpun mempercayai fitnah yang ditebar. Saya bersyukur karena selama ini jalan saya lurus dan tulus kepada mereka. Dari sana saya juga belajar mengikhlaskan. Mengikhlaskan saya dizolimi, mengikhlaskan semua ini terjadi dan bahkan mensyukuri keagungan Tuhan bahwa saya boleh melalui semua ini, agar saya naik kelas.
Sekarang, meskipun sangat saya batasi, saya sudah bisa berkomunikasi dengan lebih baik dengan mantan saya, terlepas apakah dia ingin kembali atau tidak, saya tidak mau tahu dan tidak ambil peduli, karena saya sudah tetap! Tidak mau lagi masuk ke lubang kegilaan yang telah saya alami bertahun tahun. Namun saya juga tidak pernah berputus asa. Saya tetap memiliki mimpi dan teguh dalam menjalani tujuan hidup saya: to live simply happy until the day I die with the one who loves me as much as I love the person.
Maka, di penghujung tahun ini saya belajar mensyukuri semua yang diberikan Tuhan, baik yang terlihat baik dan buruk, mengikhlaskan semua yang terjadi, dan selalu tawakal kepada Yang Kuasa. Saya juga belajar untuk melakukan banyak hal tanpa pamrih dan penuh ketulusan. Meski kadang seringkali perbuatan tanpa pamrih dan ketulusan ini dicurigai dan bahkan dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggungjawab. Namun saya percaya, itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah ketulusan hati. Kalau itu dimanfaatkan dengan keliru, itu urusan dia dengan Sang Khalik. Saya belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Memang semuanya membutuhkan waktu. Waktu pulalah yang membantu kita menyembuhkan luka batin. Tapi waktu saja tidak cukup, perlu usaha kita juga untuk menyembuhkannya. Perlu syukur, ketulusan, keikhlasan dan ketawakalan. Selamat mengakhiri tahun 2009. Semoga tahun 2010 menjadi tahun yang penuh berkah dan cinta untuk kita semua.
Labels:
'lawrence tjandra',
ikhlas,
refleksi,
relationship,
syukur,
tawakal,
Tuhan,
tulus
Sunday, December 27, 2009
Resolusi Tahun 2010
Perth, Minggu, 27 Desember 2009
INSPIRASI I
Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Julie & Julia yang diantaranya diperankan dengan sangat baik oleh Meryl Streep. Bagi Anda yang belum pernah menontonnya, film itu berkisah tentang 2 kisah nyata dari zaman yang berbeda, namun bertaut begitu indahnya menjadi satu alur cerita film. Dalam film ini, Julie adalah seorang petugas call center asuransi yang hidupnya itu itu saja, sedangkan teman temannya hidup sukses. Ia kemudian membahasnya dengan sang suami, dan suaminya menyarankan agar Julie memulai menulis. Julie sempat tak percaya diri karena novelnya tak laku dijual ke penerbit. Namun suaminya membantu membuatkan blog, dan akhirnya Julie mendapat inspirasi untuk menulis pengalamannya memasak dari buku masakan idolanya, Julia Child. Ia kemudian bertekad untuk memasak 526 resep dalam 365hari dan menuliskan pengalaman setiap harinya ke dalam sebuah jurnal di blog nya. Ia kemudian menjadi penulis yang sukses dan kisahnya di film kan.
INSPIRASI II
Kehadiran Julia Roberts ke Bali untuk shooting film Eat Pray Love sedikit banyak mengusik rasa ingin tahu saya, apa sih sebenarnya isi buku tersebut. Saat berada di New Zealand, teman baik saya Petty Fatimah, pemred majalah Femina, pernah sekilas menceritakan inti isi bukunya. Dan saya juga sempat melihat sedikit (karena sudah terlambat) cuplikan obrolah Elizabeth Gilbert dengan Oprah di Oprah Show. Jadilah saya membelinya untuk bahan bacaan liburan saya bersama di Australia. Saya memang belum habis membaca, namun kisah hidupnya yang unik membuat pikiran saya berputar putar .... Anyway, dari seorang editor yang sukses kemudian hidupnya berantakan dan kemudian mulai membangun hidupnya kembali di tiga negara dalam setahun membawanya menjadi penulis terkenal dan kisahnya juga di film kan.
Jadilah saya terinspirasi. Bukan untuk jadi terkenal, atau kisah dan karya saya di filmkan, tapi untuk melakukan sesuatu , sebuah projek yang bisa membakar semangat saya untuk meraih dan melakukan sesuatu dalam hidup ini. Saya pikir, saya mau menulis juga di blog, dan setelah saya pikir pikir lagi, saya mau menulis PENGALAMAN APA YANG SAYA BELAJAR DALAM SATU HARI INI, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2010. One day at a time, one thing for one day. Saya pikir, why not?
Saya juga sempat biasa menulis di majalah, dan saya pikir hidup saya bukan yang biasa biasa juga. Saya bertemu dengan berbagai menteri dan orang penting di dunia ini, dengan presiden dan juga dengan selebriti. Pernah menjadi delegasi Indonesia untuk pertemuan KTT Non Blok. Perjalanan karir saya juga bisa dirangkum menjadi cerita menarik, apa lagi kisah hidup saya yang sangat berliku dan dramatik, bisa menjadi film yang legendaris juga. I guess nobody has gone through this path of life like I do.
Di luar itu semua, saya juga orang yang sangat biasa saja. Yang pernah ketiduran di bis kota, dan yang harus turun di Komdak, ternyata terbangun di Muara Karang. Yang pernah ditodong, tapi malah tawar menawar soal uang dengan si penodong. Yang pernah mencari kos, dan yang menjawab telepon adalah roh Ibu kos yang baru meninggal dunia. Yang doyannya pecel lele. Yang tidak ada yang percaya kalau saya merasa nikmat nongkrong di warung pinggir jalan. Yang cinta kehidupan. yang punya mimpi. yang kerja untuk hidup, dan bukannya hidup untuk kerja.
Jadi, mungkin kalau saya share pengalaman saya dengan Anda, mungkin... ada gunanya buat Anda. So, here we go! Starting 1 January 2010! Semoga saya cukup persistent untuk bisa menulis setiap hari. Tentang apa saja yang saya pelajari dalam sehari itu.
Satu hal lagi, saat mengobrol dengan keponakan saya yang cantik, Nathalie Hudyana, ternyata dia juga punya ide yang sama persis. Saya mengusulkan dia menulis di facebook dan memperhatikan komentar orang lain. Dan kami berjanji untuk saling compare notes :-) It's a niece and uncle bonding haha...
So, that's my resolution in 2010. The one thing that I learn in one day....
INSPIRASI I
Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Julie & Julia yang diantaranya diperankan dengan sangat baik oleh Meryl Streep. Bagi Anda yang belum pernah menontonnya, film itu berkisah tentang 2 kisah nyata dari zaman yang berbeda, namun bertaut begitu indahnya menjadi satu alur cerita film. Dalam film ini, Julie adalah seorang petugas call center asuransi yang hidupnya itu itu saja, sedangkan teman temannya hidup sukses. Ia kemudian membahasnya dengan sang suami, dan suaminya menyarankan agar Julie memulai menulis. Julie sempat tak percaya diri karena novelnya tak laku dijual ke penerbit. Namun suaminya membantu membuatkan blog, dan akhirnya Julie mendapat inspirasi untuk menulis pengalamannya memasak dari buku masakan idolanya, Julia Child. Ia kemudian bertekad untuk memasak 526 resep dalam 365hari dan menuliskan pengalaman setiap harinya ke dalam sebuah jurnal di blog nya. Ia kemudian menjadi penulis yang sukses dan kisahnya di film kan.
INSPIRASI II
Kehadiran Julia Roberts ke Bali untuk shooting film Eat Pray Love sedikit banyak mengusik rasa ingin tahu saya, apa sih sebenarnya isi buku tersebut. Saat berada di New Zealand, teman baik saya Petty Fatimah, pemred majalah Femina, pernah sekilas menceritakan inti isi bukunya. Dan saya juga sempat melihat sedikit (karena sudah terlambat) cuplikan obrolah Elizabeth Gilbert dengan Oprah di Oprah Show. Jadilah saya membelinya untuk bahan bacaan liburan saya bersama di Australia. Saya memang belum habis membaca, namun kisah hidupnya yang unik membuat pikiran saya berputar putar .... Anyway, dari seorang editor yang sukses kemudian hidupnya berantakan dan kemudian mulai membangun hidupnya kembali di tiga negara dalam setahun membawanya menjadi penulis terkenal dan kisahnya juga di film kan.
Jadilah saya terinspirasi. Bukan untuk jadi terkenal, atau kisah dan karya saya di filmkan, tapi untuk melakukan sesuatu , sebuah projek yang bisa membakar semangat saya untuk meraih dan melakukan sesuatu dalam hidup ini. Saya pikir, saya mau menulis juga di blog, dan setelah saya pikir pikir lagi, saya mau menulis PENGALAMAN APA YANG SAYA BELAJAR DALAM SATU HARI INI, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2010. One day at a time, one thing for one day. Saya pikir, why not?
Saya juga sempat biasa menulis di majalah, dan saya pikir hidup saya bukan yang biasa biasa juga. Saya bertemu dengan berbagai menteri dan orang penting di dunia ini, dengan presiden dan juga dengan selebriti. Pernah menjadi delegasi Indonesia untuk pertemuan KTT Non Blok. Perjalanan karir saya juga bisa dirangkum menjadi cerita menarik, apa lagi kisah hidup saya yang sangat berliku dan dramatik, bisa menjadi film yang legendaris juga. I guess nobody has gone through this path of life like I do.
Di luar itu semua, saya juga orang yang sangat biasa saja. Yang pernah ketiduran di bis kota, dan yang harus turun di Komdak, ternyata terbangun di Muara Karang. Yang pernah ditodong, tapi malah tawar menawar soal uang dengan si penodong. Yang pernah mencari kos, dan yang menjawab telepon adalah roh Ibu kos yang baru meninggal dunia. Yang doyannya pecel lele. Yang tidak ada yang percaya kalau saya merasa nikmat nongkrong di warung pinggir jalan. Yang cinta kehidupan. yang punya mimpi. yang kerja untuk hidup, dan bukannya hidup untuk kerja.
Jadi, mungkin kalau saya share pengalaman saya dengan Anda, mungkin... ada gunanya buat Anda. So, here we go! Starting 1 January 2010! Semoga saya cukup persistent untuk bisa menulis setiap hari. Tentang apa saja yang saya pelajari dalam sehari itu.
Satu hal lagi, saat mengobrol dengan keponakan saya yang cantik, Nathalie Hudyana, ternyata dia juga punya ide yang sama persis. Saya mengusulkan dia menulis di facebook dan memperhatikan komentar orang lain. Dan kami berjanji untuk saling compare notes :-) It's a niece and uncle bonding haha...
So, that's my resolution in 2010. The one thing that I learn in one day....
Monday, November 30, 2009
Travel Report: Lombok November 2009
BERCERMIN AIR DI PANTAI LOMBOK
Tahun 2009 bukanlah tahun yang baik buat saya. Bukannya kurang bersyukur. Pastinya selalu saja ada hal hal yang patut disyukuri dalam waktu 365 hari ini. Perjalanan yang fun di New Zealand, atau self exploring Singapore, juga berbagai hal kehidupan yang lain. Namun keadaan ekonomi global seperti sekarang yang membuat klien lebih pelit dan menahan diri, serta kehidupan asmara yang sangat memprihatinkan cukup membawa mendung dalam kehidupan tahun ini. Karenanya begitu gejolak mulai mereda, saya memutuskan menghadiahi diri saya sendiri sebuah liburan yang menjanjikan "Me Time" yang cukup banyak.
Karena libur akhir tahun sudah saya dedikasikan untuk mengantar ibu tercinta ke australia dan sekaligus kumpul keluarga natal dan akhir tahun di sana, saya memilih menghilang ke Lombok di long weekend akhir November ini.
Lombok selalu masuk dalam must go destination saya, karena saya belum pernah ke sana. Dulu, Padang Bukittinggi juga masuk dalam daftar, namun tahun lalu saya berhasil menginjakkan kaki di bumi andalas yang sangat indah itu. Dan, kini, untuk domestik, giliran Lombok. Meski sudah berkeliling ke manca negara, saya masih belum pernah ke Lombok! Saya selalu terngiang keindahan Lombok versi media dan teman-teman yang mengatakan bahwa Lombok tempatnya untuk menyepi!
Maka saya pun memanjangkan libur long weekend Jumat Sabtu Minggu, menjadi Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Di sela sela kesibukan kantor, dan jadwal tugas ke luar kota, saya mencari tahu tentang Lombok. Untuk urusan menyepi seperti ini, hotel menjadi unsur yang terpenting. Apa lagi di musim hujan, kalau hotelnya tidak nyaman, bisa rusak liburan kita. Melalui perjuangan susah payah, dan atas kegigihan sekretaris, saya bisa mendapatkan sebuah kamar di Qunci Villa, senggigi. Nama yang belum familiar, namun bila dilihat di website nya, it's definifely the only place I want to spend while in Lombok!
Kamis sore yang cerah, saya menginjakkan kaki pertama kali di bumi Nusa Tenggara Barat, dijemput teman saya dari Jakarta yang sedang bertugas di daerah Tanjung, Lombok Utara. Tujuan pertama, adalah check in di hotel.
Qunci Villa terletak di ujung senggigi utara, melewati semua keramaian senggigi, sheraton dan juga Alang Alang resort. Letaknya yang terlindung, membuat hotel resort milik orang Amerika ini semakin nyaman dan sangat private. Tidak anak kecil, tidak ada ribut ribut, penghuninya sebagian besar orang asing yang sudah mapan. Kamarnya minimalis Zen berpadu dengan sentuhan tradisional yang tidak berlebihan. Dengan teras yang menjorok ke pantai, dan kamar mandi alam terbuka yang eksotis. Exactly the kind of place I need for now!
Setelah mandi (dari kamar mandi bisa mengintip ladang samping hotel lengkap dengan kawanan sapi nya), saya memutuskan untuk berkeliling Mataram.
Mataram sedang gemar mati lampu. Setiap hari selalu saja ada jam mati lampu bergilir. Mataram mengingatkan saya pada Pangkalpinang, Bangka, minus rumah walet. Mataram Mall adalah yang pusat perbelanjaan, yang acak acakan dan seadanya saja. Meski begitu, karena satu satunya, masyarakat tetap saja memenuhi mall yang membanggakan gerai KFC dan McD itu.
Masyarakat Lombok ternyata raja jalanan. Tidak ada yang mau mengalah, apa lagi pengendara motornya. parkir juga sembarangan. Dan ketika di Lombok, kita tak perlu pusing pusing pakai helm atau seat belt. Yang menarik, banyak mobil dan motor yang masih menggunakan plat putih. Rupanya punya kendaraan baru menjadi kebanggaan tersendiri buat mereka. Kalau di Jakarta, pasti sudah ditilang dan jadi santapan empuk polisi.
Saya merasa ditipu oleh majalah dan teman teman yang mengatakan bahwa Lombok adalah tempat menyepi. Semua itu ternyata karena Lombok memang tidak ada apa apanya. Tidak ada transportasi umum yang memadai, dan tidak ada fasilitas wisata yang memadai juga. Jadi, kalau Anda ke Lombok tanpa fasilitas mobil, berani jamin, Anda akan hidup seputar hotel saja.
Jangan main main juga dengan makanan. Teman saya yang dokter di sana, baru sembuh dari berminggu minggu diare karena salah makan. Menurutnya, 2 hal yang tersering ditemuinya di puskesmas adalah tipus dan malaria, karena hidup masyarakat yang jorok. Jadi untuk urusan makanan, saya mencoba untuk lebih selektif dari biasanya. Malam pertama, saya mencoba makan di resto ayam taliwang yang katanya terbaik! Namanya Dua Em Bersaudara di Jl. Transmigrasi 99 Mataram. Lokasinya susah dicari, dan saya sempat putus asa mencarinya.Ayamnya enak, namun pelecing kangkung dan sambal beberoknya kurang cocok di lidah. Selain cenderung manis, terasi lokalnya sangat menyengat. Empat hari ke depan, rasanya dunia lidah saya didominasi dengan masakan taliwang. Sebuah warung tenda Maju Jaya yang bersih di Jl. Pejanggik, Mataram, terusan Mall, menjadi tempat berlabuh saya setiap malam. Ayamnya sangat enak, pelecing enak, sambal enak, ikan juga enak, semuaaaa enak!!! Jangan lewatkan juga sate sapi di dekat sana, yang buka dari jam tiga siang dan membuat puluhan orang rela antre. Sate berbumbu cabe itu dijual seribu per tusuk, dan rasanya empuk manis gurih pedas, membuat yang antre tidak rugi menunggu. Highly recommended!
Hari kedua setelah breakfast nikmat di hotel, saya mulai menyusuri pantai senggigi hingga di daerah Lembar, tempat penyeberangan ke 3 pulau kecil yang terkenal di Lombok. Saya memilih ke Gili Terawangan, pulau terbesar dan terbanyak fasilitasnya. Hati hati bila Anda diminta berhenti parkir di tempat yang jauh, karena sebenarnya kita dapat parkir sampai ke dalam, tepat di depan penyeberangan.
Kalau memilih penyeberangan umum, tidak ada jadwal penyeberangan yang jelas. Bila jumlah penyeberangnya mencapai kuota 21 orang, makan berangkatlah si kapal. Harganya 10 ribu per orang. Saya loncat ke kapal yang sudah menjelang berangkat, tanpa membeli tiket resmi. Butuh waktu 30 menit, untuk menikmati penyeberangan dari Lembar ke Gili Terawangan. Dibuai angin yang nyaman dan ombak yang tenang, saya sempat tertidur!
Gili Terawangan sebuah pulau yang indah dengan pantai putih bersih yang menggoda. Sayang karangnya banyak sehingga harus berhati hati bila ingin berenang di sana. Yang menarik adalah, pulau ini seolah ditujukan untuk wisatawan asing. Makanan dan penginapannya pun dibidik untuk mereka. Setelah kenyang makan pasta, dan dua kali makan gelato, serta puas berenang hingga kulit jadi gosong, saya kembali ke daratan utama. Perjalanan ke hotel saya tempuh melalui rute berbeda, menyusuri gunung dan hutan monyet.
Dari rekomendasi teman dan majalah, saya tergoda ke Tanjung Aan dan pantai Kuta, tempat Novotel Lombok bercokol. Mungkin karena cenayang yang hebat, Novotel Lombok berani berinvestasi di tempat terpencil itu. Bandara Ampenan pun seolah ikut tersedot ke sana, sehingga tahun depan rencananya Bandara Internasional akan hijrah ke Lombok Tengah. Saat melalui bangunan bandara, sulit percaya kalau bangunan setengah jadi ini harus buka bulan Februari 2010.
Adalah Business development manager saya yang begitu mempromosikan Novotel. Namun, buat saya, hotel megah itu terlalu artifisial. Serasa di dufan rasanya. Yang memang mengagumkan adalah alam pantai Nyale dan Kuta yang sangat indah. Berhadapan langsung dengan laut lepas dan pasir yang unik besar besar seperti biji merica, pantai ini tak dapat digambarkan indahnya. Sayang ketenangan terusik dengan hadirnya anak-anak penjaja kalung dan gelang. Saking mengganggunya, saya memutuskan untuk hengkang dari tempat indah itu sambil menggerutu.
Cuma dua tempat wisata itu yang saya datangi, selain menyusuri wilayah Senggigi yang sungguh, tidak ada apa apanya dibanding Bali. Untuk pertama kalinya saya tidak berbelanja. Sisa waktu yang lain, saya gunakan untuk bersantai di kolam renang hotel yang luas, tenang, nyaman dan berbelahan langsung dengan pantai Mangsit. Malam hari selalu saya habiskan duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang, di tepi pantai. Deburan ombak yang lirih, dan kesibukan ketam membangun rumah, serta tarian ngengat tergambar jelas dengan sorotan lampu hotel yang diarahkan ke pantai. Kebeningan air tercetak jelas hingga ke dasar dan sampai puluhan meter jauhnya. Romantisme laut berhiaskan gemerlap bintang dan bulan separuh itulah menjadi keramaian yang mengasyikkan dan menyegarkan jiwa dari kelelahan sepanjang tahun silam.
Liburan di Lombok, saya akhiri dengan sempurna dengan santap siang di cafe Alberto. Cantik dilirik di malam hari karena obor obornya, cantik juga di siang hari dengan pantainya. Sesuai namanya, cafe ini lebih mengutamakan masakan itali. Sama dengan cafe Square yang romantis karena setiap malam menampilkan alunan piano...
Lain kali, kalau lagi diserang rasa jenuh, bolehlah saya kembali lagi ke sana, untuk bercermin air di Pantai Mangsit di belakang hotel Qunci...
Tahun 2009 bukanlah tahun yang baik buat saya. Bukannya kurang bersyukur. Pastinya selalu saja ada hal hal yang patut disyukuri dalam waktu 365 hari ini. Perjalanan yang fun di New Zealand, atau self exploring Singapore, juga berbagai hal kehidupan yang lain. Namun keadaan ekonomi global seperti sekarang yang membuat klien lebih pelit dan menahan diri, serta kehidupan asmara yang sangat memprihatinkan cukup membawa mendung dalam kehidupan tahun ini. Karenanya begitu gejolak mulai mereda, saya memutuskan menghadiahi diri saya sendiri sebuah liburan yang menjanjikan "Me Time" yang cukup banyak.
Karena libur akhir tahun sudah saya dedikasikan untuk mengantar ibu tercinta ke australia dan sekaligus kumpul keluarga natal dan akhir tahun di sana, saya memilih menghilang ke Lombok di long weekend akhir November ini.
Lombok selalu masuk dalam must go destination saya, karena saya belum pernah ke sana. Dulu, Padang Bukittinggi juga masuk dalam daftar, namun tahun lalu saya berhasil menginjakkan kaki di bumi andalas yang sangat indah itu. Dan, kini, untuk domestik, giliran Lombok. Meski sudah berkeliling ke manca negara, saya masih belum pernah ke Lombok! Saya selalu terngiang keindahan Lombok versi media dan teman-teman yang mengatakan bahwa Lombok tempatnya untuk menyepi!
Maka saya pun memanjangkan libur long weekend Jumat Sabtu Minggu, menjadi Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Di sela sela kesibukan kantor, dan jadwal tugas ke luar kota, saya mencari tahu tentang Lombok. Untuk urusan menyepi seperti ini, hotel menjadi unsur yang terpenting. Apa lagi di musim hujan, kalau hotelnya tidak nyaman, bisa rusak liburan kita. Melalui perjuangan susah payah, dan atas kegigihan sekretaris, saya bisa mendapatkan sebuah kamar di Qunci Villa, senggigi. Nama yang belum familiar, namun bila dilihat di website nya, it's definifely the only place I want to spend while in Lombok!
Kamis sore yang cerah, saya menginjakkan kaki pertama kali di bumi Nusa Tenggara Barat, dijemput teman saya dari Jakarta yang sedang bertugas di daerah Tanjung, Lombok Utara. Tujuan pertama, adalah check in di hotel.
Qunci Villa terletak di ujung senggigi utara, melewati semua keramaian senggigi, sheraton dan juga Alang Alang resort. Letaknya yang terlindung, membuat hotel resort milik orang Amerika ini semakin nyaman dan sangat private. Tidak anak kecil, tidak ada ribut ribut, penghuninya sebagian besar orang asing yang sudah mapan. Kamarnya minimalis Zen berpadu dengan sentuhan tradisional yang tidak berlebihan. Dengan teras yang menjorok ke pantai, dan kamar mandi alam terbuka yang eksotis. Exactly the kind of place I need for now!
Setelah mandi (dari kamar mandi bisa mengintip ladang samping hotel lengkap dengan kawanan sapi nya), saya memutuskan untuk berkeliling Mataram.
Mataram sedang gemar mati lampu. Setiap hari selalu saja ada jam mati lampu bergilir. Mataram mengingatkan saya pada Pangkalpinang, Bangka, minus rumah walet. Mataram Mall adalah yang pusat perbelanjaan, yang acak acakan dan seadanya saja. Meski begitu, karena satu satunya, masyarakat tetap saja memenuhi mall yang membanggakan gerai KFC dan McD itu.
Masyarakat Lombok ternyata raja jalanan. Tidak ada yang mau mengalah, apa lagi pengendara motornya. parkir juga sembarangan. Dan ketika di Lombok, kita tak perlu pusing pusing pakai helm atau seat belt. Yang menarik, banyak mobil dan motor yang masih menggunakan plat putih. Rupanya punya kendaraan baru menjadi kebanggaan tersendiri buat mereka. Kalau di Jakarta, pasti sudah ditilang dan jadi santapan empuk polisi.
Saya merasa ditipu oleh majalah dan teman teman yang mengatakan bahwa Lombok adalah tempat menyepi. Semua itu ternyata karena Lombok memang tidak ada apa apanya. Tidak ada transportasi umum yang memadai, dan tidak ada fasilitas wisata yang memadai juga. Jadi, kalau Anda ke Lombok tanpa fasilitas mobil, berani jamin, Anda akan hidup seputar hotel saja.
Jangan main main juga dengan makanan. Teman saya yang dokter di sana, baru sembuh dari berminggu minggu diare karena salah makan. Menurutnya, 2 hal yang tersering ditemuinya di puskesmas adalah tipus dan malaria, karena hidup masyarakat yang jorok. Jadi untuk urusan makanan, saya mencoba untuk lebih selektif dari biasanya. Malam pertama, saya mencoba makan di resto ayam taliwang yang katanya terbaik! Namanya Dua Em Bersaudara di Jl. Transmigrasi 99 Mataram. Lokasinya susah dicari, dan saya sempat putus asa mencarinya.Ayamnya enak, namun pelecing kangkung dan sambal beberoknya kurang cocok di lidah. Selain cenderung manis, terasi lokalnya sangat menyengat. Empat hari ke depan, rasanya dunia lidah saya didominasi dengan masakan taliwang. Sebuah warung tenda Maju Jaya yang bersih di Jl. Pejanggik, Mataram, terusan Mall, menjadi tempat berlabuh saya setiap malam. Ayamnya sangat enak, pelecing enak, sambal enak, ikan juga enak, semuaaaa enak!!! Jangan lewatkan juga sate sapi di dekat sana, yang buka dari jam tiga siang dan membuat puluhan orang rela antre. Sate berbumbu cabe itu dijual seribu per tusuk, dan rasanya empuk manis gurih pedas, membuat yang antre tidak rugi menunggu. Highly recommended!
Hari kedua setelah breakfast nikmat di hotel, saya mulai menyusuri pantai senggigi hingga di daerah Lembar, tempat penyeberangan ke 3 pulau kecil yang terkenal di Lombok. Saya memilih ke Gili Terawangan, pulau terbesar dan terbanyak fasilitasnya. Hati hati bila Anda diminta berhenti parkir di tempat yang jauh, karena sebenarnya kita dapat parkir sampai ke dalam, tepat di depan penyeberangan.
Kalau memilih penyeberangan umum, tidak ada jadwal penyeberangan yang jelas. Bila jumlah penyeberangnya mencapai kuota 21 orang, makan berangkatlah si kapal. Harganya 10 ribu per orang. Saya loncat ke kapal yang sudah menjelang berangkat, tanpa membeli tiket resmi. Butuh waktu 30 menit, untuk menikmati penyeberangan dari Lembar ke Gili Terawangan. Dibuai angin yang nyaman dan ombak yang tenang, saya sempat tertidur!
Gili Terawangan sebuah pulau yang indah dengan pantai putih bersih yang menggoda. Sayang karangnya banyak sehingga harus berhati hati bila ingin berenang di sana. Yang menarik adalah, pulau ini seolah ditujukan untuk wisatawan asing. Makanan dan penginapannya pun dibidik untuk mereka. Setelah kenyang makan pasta, dan dua kali makan gelato, serta puas berenang hingga kulit jadi gosong, saya kembali ke daratan utama. Perjalanan ke hotel saya tempuh melalui rute berbeda, menyusuri gunung dan hutan monyet.
Dari rekomendasi teman dan majalah, saya tergoda ke Tanjung Aan dan pantai Kuta, tempat Novotel Lombok bercokol. Mungkin karena cenayang yang hebat, Novotel Lombok berani berinvestasi di tempat terpencil itu. Bandara Ampenan pun seolah ikut tersedot ke sana, sehingga tahun depan rencananya Bandara Internasional akan hijrah ke Lombok Tengah. Saat melalui bangunan bandara, sulit percaya kalau bangunan setengah jadi ini harus buka bulan Februari 2010.
Adalah Business development manager saya yang begitu mempromosikan Novotel. Namun, buat saya, hotel megah itu terlalu artifisial. Serasa di dufan rasanya. Yang memang mengagumkan adalah alam pantai Nyale dan Kuta yang sangat indah. Berhadapan langsung dengan laut lepas dan pasir yang unik besar besar seperti biji merica, pantai ini tak dapat digambarkan indahnya. Sayang ketenangan terusik dengan hadirnya anak-anak penjaja kalung dan gelang. Saking mengganggunya, saya memutuskan untuk hengkang dari tempat indah itu sambil menggerutu.
Cuma dua tempat wisata itu yang saya datangi, selain menyusuri wilayah Senggigi yang sungguh, tidak ada apa apanya dibanding Bali. Untuk pertama kalinya saya tidak berbelanja. Sisa waktu yang lain, saya gunakan untuk bersantai di kolam renang hotel yang luas, tenang, nyaman dan berbelahan langsung dengan pantai Mangsit. Malam hari selalu saya habiskan duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang, di tepi pantai. Deburan ombak yang lirih, dan kesibukan ketam membangun rumah, serta tarian ngengat tergambar jelas dengan sorotan lampu hotel yang diarahkan ke pantai. Kebeningan air tercetak jelas hingga ke dasar dan sampai puluhan meter jauhnya. Romantisme laut berhiaskan gemerlap bintang dan bulan separuh itulah menjadi keramaian yang mengasyikkan dan menyegarkan jiwa dari kelelahan sepanjang tahun silam.
Liburan di Lombok, saya akhiri dengan sempurna dengan santap siang di cafe Alberto. Cantik dilirik di malam hari karena obor obornya, cantik juga di siang hari dengan pantainya. Sesuai namanya, cafe ini lebih mengutamakan masakan itali. Sama dengan cafe Square yang romantis karena setiap malam menampilkan alunan piano...
Lain kali, kalau lagi diserang rasa jenuh, bolehlah saya kembali lagi ke sana, untuk bercermin air di Pantai Mangsit di belakang hotel Qunci...
Monday, May 01, 2006
Provocatively Professional (a+ June 2004)
PROVOCATIVELY PROFESSIONAL
Dalam sebuah meeting, saya duduk di seberang seorang eksekutif wanita cantik berpenampilan menarik. Gawatnya, dari awal meeting hingga akhirnya kami berdiri dan bersalaman, tak ada satupun pembahasan merasuk di otak saya. Untungnya, asisten saya rajin mencatat sehingga saya tinggal mencontek apa yang dicatatnya. Terus terang, hilangnya konsentrasi saya disebabkan dua hal. Kerah baju putihnya yang diangkat dengan kancing yang dibiarkan mempertontonkan sebagian garis belahan dadanya yang aduhai, dan rok pendeknya yang sebentar sebentar tersingkap, dan setelah beberapa saat, dengan sadar dan melirik singkat, dia membetulkan posisi roknya .
Saya sama sekali tak mau punya pikiran mesum, terutama di saat kerja, tapi tontonan gratis seperti itu lumayan mampu mengacaukan konsentrasi. Saya jadi berpikir, apakah dia sengaja berpakaian seperti itu untuk tujuan tertentu, atau memang that’s her style. Kalau dipikir lagi, segala yang dipakainya sopan. Blazer hitam dengan potongan yang sangat stylishly professional dengan setelan rok ramping yang senada. Tapi the way she wears it was sooo… provocative!
Saya lalu jadi sibuk menelaah. Mungkin dia berpikir kalau tujuan berpakaian provokatif seperti itu, urusan bisnisnya serba lancar. Atau malah, dia punya problem pribadi sehingga dia ingin “menjual” dirinya agar orang tertarik padanya. Saya tidak tahu. Yang jelas, kasus memabukkan seperti ini, tidak terjadi sekali dua kali. Dan dengan orang yang berbeda beda, dengan latar belakang usaha yang berbeda pula sehingga saya berpikir, jangan-jangan sayalah yang terlalu konservatif terhadap perubahan dress code kerja yang kata beberapa majalah wanita, harus bisa dipakai untuk ngantor, sekaligus cocktail di petang hari.
Pengalaman saya soal cara berpakaian di kantor jadi bertambah kaya, ketika sorenya saya mengadakan pertemuan dengan sebuah advertising agency dan saya dibawa ke dalam suasana funky. Apalagi dengan kru kreatifnya. Seolah ingin menegaskan bahwa semakin berteriak penampilannya, semakin kreatiflah dia.
Saya jadi ingat dengan gaya berpakaian sendiri. Dulu, saat mulai bekerja di biro iklan dan memperoleh kesempatan memilih bagian, saya memilih menjadi copy writer, simply because saya menikmati suasana casual yang tidak mengharuskan saya berdasi dan bercelana pantalon. Kini, berbelas tahun kemudian, beberapa kali saya diprotes oleh rekan kerja saya karena gaya berpakaian yang cenderung konservatif dengan kemeja putih dan dasi eksekutif. Bahkan, banyak yang terkecoh, dengan mudah menebak saya seorang banker. Kalau boleh memilih, saya sih lebih suka dengan pakaian casual. Masalahnya, cara berpakaian seperti itu, tak laku di hadapan klien klien saya yang kebanyakan direktur dan CEO perusahaan multinasional. Ada pepatah yang mengatakan, You throw peanuts, You get monkey. Kalau mau memperoleh account ratusan ribu dollar, tentu tidak bisa dengan cara yang seenaknya. Di saat bertemu dengan para gentlemen itu, saya sudah tidak bisa lagi memaksa mereka yang memasuki dunia saya yang casual. Sayalah yang kini memasuki circle mereka. Saya juga harus tahu tata krama mereka, dan saya harus tahu aturan main mereka.
Lalu, dimana letak “You Are What You Wear”? Buat saya, kalimat itu jadinya memiliki dua sisi tajam. Satu sisi menuju pada kita pribadi, dan satu sisi lagi menuju pada bagaimana orang menilai kita. Yang satu mengekspresikan jati diri kita, dan yang satu lagi mencerminkan citra diri kita di mata orang. Keduanya penting, karena selayaknya mata uang, mereka punya dua sisi berbeda, namun tetap satu senyawa. Tapi balik lagi ke wanita eksekutif tadi, menurut Anda, dia lebih berat ke sisi yang mana, ya?
FASHION FENGSHUI
Ternyata Fengshui bukan hanya untuk mengatur ruang kerja atau rumah Anda. Fengshui juga berlaku untuk cara berpakaian, ber make-up, bahkan dalam memilih asesoris! Misalnya:
- Inti dari fashion fengshui adalah harmoni. Hindari pemakaian satu elemen yang terlalu mendominasi elemen lainnya. Demikian pula hindari kombinasi elemen yang saling menghancurkan. Jadi, meskipun emas punya nilai tambah bagi penampilan Anda, menggunakan cincin emas di sepuluh jari tangan sangat tidak disarankan.
- Jika kerangka tubuh Anda terbilang pendek dan gemuk, gunakan pakaian yang mengandung warna putih karena kombinasi unsur tanah dan metal meningkatkan penampilan Anda.
- Gaya rambut membulat pada wajah kotak mencerminkan dominasi unsur metal dari kayu yang membawa dampak buruk bagi peruntungan. Segera ganty hair style Anda!
- Pattern garis merah dan marun sangat baik untuk keberuntungan. Dasi berpola ini sangat tepat digunakan saat presentasi penting.
Bila masih penasaran dengan tips lainnya, Anda bisa mengutip dari buku Lilian Too’s Easy-to-use Feng Shui 168 ways to success yang bisa didapat di toko buku internasional yang tersebar di ibu kota.
T/J
Saya seorang eksekutif perusahaan yang memiliki kedudukan yang sangat baik di kantor. Karena prestasi yang baik, banyak pihak menawarkan untuk membangun usaha bersama. Saya tertarik tapi tak mau kehilangan pekerjaan yang sekarang. Bagaimana mengatasinya?
Sebaiknya Anda pikirkan matang matang niat Anda untuk bekerja ganda. Sanggupkah Anda? Maukah Anda merelakan waktu yang tadinya luang untuk pekerjaan yang baru? Seberapa banyak pekerjaan baru menyita waktu pekerjaan yang sekarang? Adakah Conflict of interest dengan bidang kerja yang sekarang? Masih ada satu pertanyaan utama: Apakah Anda akan berterus terang dengan perusahaan yang sekarang tentang pekerjaan baru Anda? Kalau Anda memutuskan sembunyi-sembunyi, bagaimana kalau nantinya ketahuan? Siapkah Anda kehilangan pekerjaan Anda yang sekarang? Kalau Anda punya jawaban pasti atas semua pertanyaan di atas, dan terutama bila jawaban atas pertanyaan terakhir adalah: “Ya, saya siap”, silahkan teruskan rencana baru Anda. Tapi kalau jawabnya “Tidak”, lebih baik Anda simpan dulu ide kerja ganda, sampai Anda benar-benar siap.
Dalam sebuah meeting, saya duduk di seberang seorang eksekutif wanita cantik berpenampilan menarik. Gawatnya, dari awal meeting hingga akhirnya kami berdiri dan bersalaman, tak ada satupun pembahasan merasuk di otak saya. Untungnya, asisten saya rajin mencatat sehingga saya tinggal mencontek apa yang dicatatnya. Terus terang, hilangnya konsentrasi saya disebabkan dua hal. Kerah baju putihnya yang diangkat dengan kancing yang dibiarkan mempertontonkan sebagian garis belahan dadanya yang aduhai, dan rok pendeknya yang sebentar sebentar tersingkap, dan setelah beberapa saat, dengan sadar dan melirik singkat, dia membetulkan posisi roknya .
Saya sama sekali tak mau punya pikiran mesum, terutama di saat kerja, tapi tontonan gratis seperti itu lumayan mampu mengacaukan konsentrasi. Saya jadi berpikir, apakah dia sengaja berpakaian seperti itu untuk tujuan tertentu, atau memang that’s her style. Kalau dipikir lagi, segala yang dipakainya sopan. Blazer hitam dengan potongan yang sangat stylishly professional dengan setelan rok ramping yang senada. Tapi the way she wears it was sooo… provocative!
Saya lalu jadi sibuk menelaah. Mungkin dia berpikir kalau tujuan berpakaian provokatif seperti itu, urusan bisnisnya serba lancar. Atau malah, dia punya problem pribadi sehingga dia ingin “menjual” dirinya agar orang tertarik padanya. Saya tidak tahu. Yang jelas, kasus memabukkan seperti ini, tidak terjadi sekali dua kali. Dan dengan orang yang berbeda beda, dengan latar belakang usaha yang berbeda pula sehingga saya berpikir, jangan-jangan sayalah yang terlalu konservatif terhadap perubahan dress code kerja yang kata beberapa majalah wanita, harus bisa dipakai untuk ngantor, sekaligus cocktail di petang hari.
Pengalaman saya soal cara berpakaian di kantor jadi bertambah kaya, ketika sorenya saya mengadakan pertemuan dengan sebuah advertising agency dan saya dibawa ke dalam suasana funky. Apalagi dengan kru kreatifnya. Seolah ingin menegaskan bahwa semakin berteriak penampilannya, semakin kreatiflah dia.
Saya jadi ingat dengan gaya berpakaian sendiri. Dulu, saat mulai bekerja di biro iklan dan memperoleh kesempatan memilih bagian, saya memilih menjadi copy writer, simply because saya menikmati suasana casual yang tidak mengharuskan saya berdasi dan bercelana pantalon. Kini, berbelas tahun kemudian, beberapa kali saya diprotes oleh rekan kerja saya karena gaya berpakaian yang cenderung konservatif dengan kemeja putih dan dasi eksekutif. Bahkan, banyak yang terkecoh, dengan mudah menebak saya seorang banker. Kalau boleh memilih, saya sih lebih suka dengan pakaian casual. Masalahnya, cara berpakaian seperti itu, tak laku di hadapan klien klien saya yang kebanyakan direktur dan CEO perusahaan multinasional. Ada pepatah yang mengatakan, You throw peanuts, You get monkey. Kalau mau memperoleh account ratusan ribu dollar, tentu tidak bisa dengan cara yang seenaknya. Di saat bertemu dengan para gentlemen itu, saya sudah tidak bisa lagi memaksa mereka yang memasuki dunia saya yang casual. Sayalah yang kini memasuki circle mereka. Saya juga harus tahu tata krama mereka, dan saya harus tahu aturan main mereka.
Lalu, dimana letak “You Are What You Wear”? Buat saya, kalimat itu jadinya memiliki dua sisi tajam. Satu sisi menuju pada kita pribadi, dan satu sisi lagi menuju pada bagaimana orang menilai kita. Yang satu mengekspresikan jati diri kita, dan yang satu lagi mencerminkan citra diri kita di mata orang. Keduanya penting, karena selayaknya mata uang, mereka punya dua sisi berbeda, namun tetap satu senyawa. Tapi balik lagi ke wanita eksekutif tadi, menurut Anda, dia lebih berat ke sisi yang mana, ya?
FASHION FENGSHUI
Ternyata Fengshui bukan hanya untuk mengatur ruang kerja atau rumah Anda. Fengshui juga berlaku untuk cara berpakaian, ber make-up, bahkan dalam memilih asesoris! Misalnya:
- Inti dari fashion fengshui adalah harmoni. Hindari pemakaian satu elemen yang terlalu mendominasi elemen lainnya. Demikian pula hindari kombinasi elemen yang saling menghancurkan. Jadi, meskipun emas punya nilai tambah bagi penampilan Anda, menggunakan cincin emas di sepuluh jari tangan sangat tidak disarankan.
- Jika kerangka tubuh Anda terbilang pendek dan gemuk, gunakan pakaian yang mengandung warna putih karena kombinasi unsur tanah dan metal meningkatkan penampilan Anda.
- Gaya rambut membulat pada wajah kotak mencerminkan dominasi unsur metal dari kayu yang membawa dampak buruk bagi peruntungan. Segera ganty hair style Anda!
- Pattern garis merah dan marun sangat baik untuk keberuntungan. Dasi berpola ini sangat tepat digunakan saat presentasi penting.
Bila masih penasaran dengan tips lainnya, Anda bisa mengutip dari buku Lilian Too’s Easy-to-use Feng Shui 168 ways to success yang bisa didapat di toko buku internasional yang tersebar di ibu kota.
T/J
Saya seorang eksekutif perusahaan yang memiliki kedudukan yang sangat baik di kantor. Karena prestasi yang baik, banyak pihak menawarkan untuk membangun usaha bersama. Saya tertarik tapi tak mau kehilangan pekerjaan yang sekarang. Bagaimana mengatasinya?
Sebaiknya Anda pikirkan matang matang niat Anda untuk bekerja ganda. Sanggupkah Anda? Maukah Anda merelakan waktu yang tadinya luang untuk pekerjaan yang baru? Seberapa banyak pekerjaan baru menyita waktu pekerjaan yang sekarang? Adakah Conflict of interest dengan bidang kerja yang sekarang? Masih ada satu pertanyaan utama: Apakah Anda akan berterus terang dengan perusahaan yang sekarang tentang pekerjaan baru Anda? Kalau Anda memutuskan sembunyi-sembunyi, bagaimana kalau nantinya ketahuan? Siapkah Anda kehilangan pekerjaan Anda yang sekarang? Kalau Anda punya jawaban pasti atas semua pertanyaan di atas, dan terutama bila jawaban atas pertanyaan terakhir adalah: “Ya, saya siap”, silahkan teruskan rencana baru Anda. Tapi kalau jawabnya “Tidak”, lebih baik Anda simpan dulu ide kerja ganda, sampai Anda benar-benar siap.
Dine Well, Work Smart (a+ April 2004)
DINE WELL! WORK SMART!
Belakangan ini, dengan jadwal yang padat, lokasi meeting saya jadi mengalami pergeseran. Yang tadinya lebih sering dari kantor ke kantor, kini sedikit mulai beralih dari café ke café, dari mall ke mall. Pernah saya meeting di Plaza Senayan dari jam 2 siang, kemudian lanjut jam 4 dan dinner meeting di berbagai tempat di sana.
Ternyata hal ini tidak dialami oleh saya saja, tetapi oleh banyak teman. Is it a trend? Atau maunya menggabungkan business with pleasure? Well, kalau Anda perhatikan benar-benar, it is real business. Sometimes we did our presentations there. Serious talk in the middle of fun and relaxing environment. Ada yang bawa laptop, dan tak jarang teman dari advertising memamerkan layout materials nya di antara frapuccino dan cake.
Berkat kemajuan teknologi, kita sekarang tidak lagi terikat oleh norma norma kerja tradisional. Adanya mobile internet, laptop dan handphone yang semakin hari semakin pintar, membuat kita terbebas dari jeratan kabel. Ketika semua fasilitas mendukung keleluasaan, maka pola kerja pun berubah. Semakin banyak perusahaan yang memberlakukan sistem kerja fleksibel, yang tak terikat oleh waktu. Kerja di mana saja, draft proposal dan data bisa dikirim lewat internet dan multimedia messaging. Untuk meeting pun kini bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi, sehingga kehadiran kita bisa disaksikan melalui layar komputer meskipun dipisahkan jarak ribuan mil.
Kemajuan teknologi mobile secara perlahan juga mengubah pola hubungan antara perusahaan dan karyawannya, dan hubungan perusahaan dengan klien serta mitra kerjanya. Dengan adanya handphone dan email, hubungan interpersonal menjadi lebih direct karena tak perlu lagi lewat operator, sekretaris dan kurir. Pola ini juga mempengaruhi hubungan di luar jalur telepon dan internet. Hubungan yang tadinya tegas dan straightforward, kini lebih luwes karena frekuensi berhubungan antar individu menjadi lebih intens. Mungkin karena itulah pola hubungan pertemanan di café kemudian diadopsi untuk pertemuan bisnis.
Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, tradisi membuat deal bisnis di meja makan bukan barang baru. Budaya Cina yang ribuan tahun itu sudah sangat mengenal bagaimana soal perut bisa menghalau ketegangan dan perbedaan pendapat. Saya pernah menyaksikan bagaimana sebuah perselisihan bisnis yang sangat rumit, diselesaikan oleh ke dua taipan dengan sebuah santap siang. Keduanya ngobrol kemana mana, soal golf sampai hiburan seronok. Memasuki dessert, mereka membicarakan sejenak masalah yang oleh anak buahnya didebatkan berbulan bulan. Belum sampai dua suapan es krim ogura, mereka sudah sampai kata sepakat, ketawa ketiwi dan melanjutkan obrolan santainya. Mereka pulang berpelukan sambil berjanji untuk makan siang lagi di tempat lain, dan semuanya menjadi beres seketika!
Buat saya, mau model lama gaya restoran atau model baru gaya café, tidak terlalu penting. It’s just a matter of convenience on how I strategize and manage my time, dan juga bagaimana saya strategize on dealing with the ones I am meeting. Kalau lebih efektif ditemui dengan ngopi ya hayo, kalau lebih cocok ditemui di meja meeting formal, juga hayo. Kadang toh saya memilih ke café di sore hari karena setelahnya saya punya janji makan atau nonton bareng, kadang juga karena mal yang dipilih letaknya sudah separuh perjalanan pulang saya. Lagian, setelah seharian berkutat di kantor, enak juga rasanya bisa ngobrol santai di café soal kerjaan sambil menyeruput ice cappuccino dan sesekali melirik pemandangan segar sekeliling. Kalaupun masih terasa pusing seusai meeting, berjalan ringan menyusuri toko toko favorit sungguh bisa mengubah suasana hati, sebelum akhirnya menelepon supir untuk siap di depan pintu utama… Kalau Anda bagaimana? Lebih banyak leisure nya atau business nya? Hmm….
WORK YOUR DIET
Makanan yang masuk ke perut, mempengaruhi daya kerja Anda. Cobalah beberapa tips berikut ini untuk menambah energi :
Sebuah apel sehari menambah gairah kerja. Antioksidan dan kandungan vitamin C nya menstabilkan tingkat kolesterol tubuh.
Jus Advokat yang tinggi lemak tak jenuh memacu metabolisme tubuh sehingga kerja lebih bergairah (selain melembutkan kulit!)
Almond dan chestnut mempunyai kadar protein tinggi, baik untuk mengatasi kelelahan dan asam lemaknya lagi lagi menghaluskan kulit.
Bawang putih merangsang perbaikan sel. Bawang putih juga anti bakteri, jamur dan virus.
Lemon Juice yang segar mengencerkan darah dan membersihkan hati.
Wortel yang tinggi betakarotin selain baik untuk ketajaman pengelihatan, juga baik untuk fungsi hati.
Salmon yang tinggi asam lemaknya, sangat mujarab mengatasi letih lesu dan memacu kelancaran sirkulasi darah.
Buah kiwi yang segar tinggi kadar vitamin C, E dan potassium, sangat baik untuk pencernaan dan mood kerja.
(sumber: vitality, Jo Glanville-Blackburn)
T/J
T: Saya sedang menyiapkan asuransi kesehatan bagi perusahaan. Kriteria apa yang harus masuk dalam menyeleksi perusahaan asuransi?
J : Pertama tama tentu reputasi perusahaannya. Cari tahulah dengan bertanya ke rekan sejawat di perusahaan perusahaa lain, perusahaan asuransi apa yang mereka pakai. Perhatikan pula sistem reimbursement mereka- apakah harus ditalangi dahulu oleh karyawan, atau bisa langsung ditanggung asuransi, kecepatan mereka melakukannya, jenis dan jumlah pertanggungan. Cari tahu rekanan klinik dan rumah sakit apa saja yang menjadi rekanan mereka, dan apakah ada rekanan rumah sakit bonafid yang masuk di dalamnya. Juga perhatikan apakah rekanan rumah sakitnya menanggung rawat inap dan rawat jalan. Terakhir, kalau semuanya cocok, baru bandingkan nilai preminya dan sesuaikan dengan kocek perusahaan. Intinya, pilihlah asuransi yang membantu orang yang sedang tertimpa kesusahan, bukan malah membuat bertambah susah.
Belakangan ini, dengan jadwal yang padat, lokasi meeting saya jadi mengalami pergeseran. Yang tadinya lebih sering dari kantor ke kantor, kini sedikit mulai beralih dari café ke café, dari mall ke mall. Pernah saya meeting di Plaza Senayan dari jam 2 siang, kemudian lanjut jam 4 dan dinner meeting di berbagai tempat di sana.
Ternyata hal ini tidak dialami oleh saya saja, tetapi oleh banyak teman. Is it a trend? Atau maunya menggabungkan business with pleasure? Well, kalau Anda perhatikan benar-benar, it is real business. Sometimes we did our presentations there. Serious talk in the middle of fun and relaxing environment. Ada yang bawa laptop, dan tak jarang teman dari advertising memamerkan layout materials nya di antara frapuccino dan cake.
Berkat kemajuan teknologi, kita sekarang tidak lagi terikat oleh norma norma kerja tradisional. Adanya mobile internet, laptop dan handphone yang semakin hari semakin pintar, membuat kita terbebas dari jeratan kabel. Ketika semua fasilitas mendukung keleluasaan, maka pola kerja pun berubah. Semakin banyak perusahaan yang memberlakukan sistem kerja fleksibel, yang tak terikat oleh waktu. Kerja di mana saja, draft proposal dan data bisa dikirim lewat internet dan multimedia messaging. Untuk meeting pun kini bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi, sehingga kehadiran kita bisa disaksikan melalui layar komputer meskipun dipisahkan jarak ribuan mil.
Kemajuan teknologi mobile secara perlahan juga mengubah pola hubungan antara perusahaan dan karyawannya, dan hubungan perusahaan dengan klien serta mitra kerjanya. Dengan adanya handphone dan email, hubungan interpersonal menjadi lebih direct karena tak perlu lagi lewat operator, sekretaris dan kurir. Pola ini juga mempengaruhi hubungan di luar jalur telepon dan internet. Hubungan yang tadinya tegas dan straightforward, kini lebih luwes karena frekuensi berhubungan antar individu menjadi lebih intens. Mungkin karena itulah pola hubungan pertemanan di café kemudian diadopsi untuk pertemuan bisnis.
Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, tradisi membuat deal bisnis di meja makan bukan barang baru. Budaya Cina yang ribuan tahun itu sudah sangat mengenal bagaimana soal perut bisa menghalau ketegangan dan perbedaan pendapat. Saya pernah menyaksikan bagaimana sebuah perselisihan bisnis yang sangat rumit, diselesaikan oleh ke dua taipan dengan sebuah santap siang. Keduanya ngobrol kemana mana, soal golf sampai hiburan seronok. Memasuki dessert, mereka membicarakan sejenak masalah yang oleh anak buahnya didebatkan berbulan bulan. Belum sampai dua suapan es krim ogura, mereka sudah sampai kata sepakat, ketawa ketiwi dan melanjutkan obrolan santainya. Mereka pulang berpelukan sambil berjanji untuk makan siang lagi di tempat lain, dan semuanya menjadi beres seketika!
Buat saya, mau model lama gaya restoran atau model baru gaya café, tidak terlalu penting. It’s just a matter of convenience on how I strategize and manage my time, dan juga bagaimana saya strategize on dealing with the ones I am meeting. Kalau lebih efektif ditemui dengan ngopi ya hayo, kalau lebih cocok ditemui di meja meeting formal, juga hayo. Kadang toh saya memilih ke café di sore hari karena setelahnya saya punya janji makan atau nonton bareng, kadang juga karena mal yang dipilih letaknya sudah separuh perjalanan pulang saya. Lagian, setelah seharian berkutat di kantor, enak juga rasanya bisa ngobrol santai di café soal kerjaan sambil menyeruput ice cappuccino dan sesekali melirik pemandangan segar sekeliling. Kalaupun masih terasa pusing seusai meeting, berjalan ringan menyusuri toko toko favorit sungguh bisa mengubah suasana hati, sebelum akhirnya menelepon supir untuk siap di depan pintu utama… Kalau Anda bagaimana? Lebih banyak leisure nya atau business nya? Hmm….
WORK YOUR DIET
Makanan yang masuk ke perut, mempengaruhi daya kerja Anda. Cobalah beberapa tips berikut ini untuk menambah energi :
Sebuah apel sehari menambah gairah kerja. Antioksidan dan kandungan vitamin C nya menstabilkan tingkat kolesterol tubuh.
Jus Advokat yang tinggi lemak tak jenuh memacu metabolisme tubuh sehingga kerja lebih bergairah (selain melembutkan kulit!)
Almond dan chestnut mempunyai kadar protein tinggi, baik untuk mengatasi kelelahan dan asam lemaknya lagi lagi menghaluskan kulit.
Bawang putih merangsang perbaikan sel. Bawang putih juga anti bakteri, jamur dan virus.
Lemon Juice yang segar mengencerkan darah dan membersihkan hati.
Wortel yang tinggi betakarotin selain baik untuk ketajaman pengelihatan, juga baik untuk fungsi hati.
Salmon yang tinggi asam lemaknya, sangat mujarab mengatasi letih lesu dan memacu kelancaran sirkulasi darah.
Buah kiwi yang segar tinggi kadar vitamin C, E dan potassium, sangat baik untuk pencernaan dan mood kerja.
(sumber: vitality, Jo Glanville-Blackburn)
T/J
T: Saya sedang menyiapkan asuransi kesehatan bagi perusahaan. Kriteria apa yang harus masuk dalam menyeleksi perusahaan asuransi?
J : Pertama tama tentu reputasi perusahaannya. Cari tahulah dengan bertanya ke rekan sejawat di perusahaan perusahaa lain, perusahaan asuransi apa yang mereka pakai. Perhatikan pula sistem reimbursement mereka- apakah harus ditalangi dahulu oleh karyawan, atau bisa langsung ditanggung asuransi, kecepatan mereka melakukannya, jenis dan jumlah pertanggungan. Cari tahu rekanan klinik dan rumah sakit apa saja yang menjadi rekanan mereka, dan apakah ada rekanan rumah sakit bonafid yang masuk di dalamnya. Juga perhatikan apakah rekanan rumah sakitnya menanggung rawat inap dan rawat jalan. Terakhir, kalau semuanya cocok, baru bandingkan nilai preminya dan sesuaikan dengan kocek perusahaan. Intinya, pilihlah asuransi yang membantu orang yang sedang tertimpa kesusahan, bukan malah membuat bertambah susah.
Subscribe to:
Posts (Atom)