Pagi ini saya membuat seseorang berjanji untuk melakukan sesuatu dan saya mengatakan bahwa saya ingin memastikan bahwa ia tidak janji sekedar janji. Sebelum sore tiba, ia telah memenuhi janjinya.
Buat saya, memenuhi janji itu penting. Dalam hidup ini, saya sering mendapat janji-janji indah yang tak pernah terpenuhi dan itu rasanya pahit sekali. Saya pernah melakukan "balas dendam" juga dengan sengaja mengumbar janji dan tak menepatinya, namun masa itu segera berlalu karena saya belajar bahwa hal itu tak ada gunanya juga. Puasnya tidak seberapa, rasa bersalahnya membuat saya makin stress. Karena sering mendapat ingkar janji, kadar kepercayaan saya terhadap orang menjadi rendah sekali. Saya enggan dipinjami barang atau uang karena menurut saya, janji yang diungkapkan tidak dapat dipercaya. Saya pernah mengatakan di blog ini, bahwa bagi saya rupanya kalau orang meminjam barang, begitu benda itu di tangannya, benda itu dianggap hak miliknya. Karena itu, buat saya, kalau saya sudah merelakan suatu barang dipinjam, dalam hati saya sudah merelakan kalau yang terburuk terjadi.
Di luar itu semua, kadar kerpercayaan saya menjadi lebih rendah lagi bila itu menyangkut janji-janji cinta. Berkali-kali saya mendapat janji, malah sampai sumpah-sumpah yang berakhir dengan pengingkaran, bahkan perselingkuhan. Karena sering dimainkan janji, saya jadi mempermainkannya juga, meski dalam hati saya tahu itu tidak benar. Kemudian saya menghentikannya dan mulai mencari janji sejati.
Membuat janji itu mudah, tinggal diucapkan saja, dan seringkali tak ada konsekuensi hukumnya, karena tak ada dokumen legal atas janji yang diucapkan. Karena itu, dalam keadaan mendesak, gampang saja, tinggal janji, dapatkan yang kita mau, lalu tinggalkan tak usah menepati janji dan membiarkan orang yang kita sumpal mulutnya dengan janji-janji kita gigit jari. Lalu, dengan mudah kita mengumbar janji yang lain kepada korban berikutnya.
Saya sendiri sering heran, sesering saya ditipu oleh janji palsu, sesering itu pula saya mempercayai berbagai janji yang dilontarkan pada saya. Namun, begitu menyadari, sesering itu pula saya kecewa dan merasa dikecewakan.
Maka, buat saya, janji itu sesuatu yang penting dan merupakan pangkal saya percaya atau tidak pada seseorang. Karenanya saya merasa sangat lega, ketika janji yang diucapkan itu ditepati bahkan jauh sebelum tenggat waktu yang telah kami sepakati bersama. Buat saya itu sangat berarti dan memberi secercah harapan bahwa janji-janji berikutnya bisa jadi dapat saya andalkan.
Membangun kepercayaan buat saya tidak lah mudah. Kalau percaya itu sulitnya bukan main, maka jatuh curiga justru kebalikannya : mudah sekali. Begitu ada yang tidak beres, lenyap seketika rasa percaya ini. Namun saya toh tidak bisa curiga terus-terusan. Saya harus membangun pelahan-lahan rasa percaya itu, hingga saya bisa yakin bahwa kepercayaan saya tidak disalahgunakan atau dipermainkan, dan saya merasa aman terhadap janji yang dibuat seseorang.
Sebenarnya, ini adalah janji yang kesekian yang ditepatinya dalam beberapa waktu ini. Dan penepatan janji ini semakin meneguhkan rasa percaya saya padanya. Namun tentu sebuah kepercayaan tidak bisa dibangun dengan satu dua penepatan saja. Penepatan janji itu merupakan proses yang tak pernah ada akhirnya. Karenanya hari ini saya menyadari untuk menyudahi menguji soal janji dan meletakkan pondasi kepercayaan. Sebuah dasar yang dibangun oleh berbagai pemenuhan janji berikutnya.
Hari ini saya belajar untuk percaya dan memupuk rasa percaya kepada seseorang.
Welcome to the world of Lawrence Tjandra where you celebrate life to its fullest. Come to see places I've been, read the articles published in media and share thoughts and views on diverse issues of life!
Friday, April 23, 2010
Thursday, April 22, 2010
22 April 2010 : Smile!
American Idol Gives Back malam ini menampilkan seorang gadis berusia 7 tahun yang tinggal kulit dan tulang karena penumonia dan AIDS. Bobotnya hanya seberat bayi usia satu tahun. Dengan napas yang sulit dan penuh sakit, ia ditemani seorang selebriti yang meliput kehidupannya untuk mendapat simpati masyarakat dunia agar menyumbang. Sang selebriti yang melihat penderitaan si anak menangis meleleh-leleh, namun sang anak masih saja bisa tertawa dan tersenyum.
Senyum sang anak melekat di benak saya hingga saat ini. Gadis cilik yang seharusnya cantik itu terlihat tua keriput. Ada kesakitan di wajahnya, namun ia tetap tersenyum.
Saya jadi terpukul. Hidup saya ini kurang apa dibandingkan si gadis. Namun, sedikit saja dihempas angin, saya sudah ternangis-tangis. Mengeluh-keluh. Bahkan marah-marah pada Tuhan, serasa saya orang yang paling menderita di dunia ini. Teman saya tadi mengaku menangis karena tiba-tiba ia diputuskan pindah ke luar kota, padahal ia baru seumur jagung menjalin kasih setelah sekian lama sendiri.
Teman saya merasa disudutkan dan tidak diberi pilihan. Saya bilang salah. Ia berhak memilih jalan. Sering kali kita ini merasa bahwa kita tidak bisa memilih, padahal pilihan itu justru adanya di tangan kita. Saya menyarankan agar ia mengambil keputusan menurut prioritasnya. Karena mau tertekan atau tidak tertekan, begitu ia mengiyakan atas keputusan sepihak boss nya, itu akan tetap menjadi keputusannya. Kalau ia sudah mengambil keputusan yang sebenarnya bukan pilihannya, lalu hubungan dengan sang kekasih yang sudah susah payah didapatkannya bubar, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun, betapa pun dendamnya ia. Maka saya menganjurkan agar sekali lagi dipikirkan masak-masak. Kalau ia tidak merasa nyaman atas keputusan yang diambil orang lain atas hidupnya, suarakan dan pertahankan keputusannya. Lama setelah ia mengobrol dan curhat, ia baru bisa tenang dan tersenyum kembali. Begitu ia tersenyum, dunia seolah berubah menjadi cerah dan optimis kembali. Ia menemukan harapan dan kepercayaan dirinya.
Malam ini, saya kembali lagi di antara teman saya dan si bocah kecil di Afrika. Sebuah masalah. Yang satu menghadapinya dengan tangis. Yang satu menghadapinya dengan tersenyum. Dan yang menjadi pemenang adalaah ia yang tersenyum, apa pun hasilnya.
Saya sering menghadapi masalah dengan menangis dan marah-marah. Sekarang saya berpikir, bagaimana ya kalau saya menghadapinya dengan senyuman? Apakah bisa menjadi lebih baik? Senyuman memancarkan harapan dan optimisme sekaligus kesabaran dan rasa tetap bersyukur. Ketika kita tersenyum, dunia sekitar seolah memberi respons atas senyuman kita dan tiba-tiba melunakkan segala kemarahan dan hati yang keras. Dan semuanya berubah menjadi lebih baik.
Saya juga pernah membaca bahwa senyuman merupakan olah raga muka yang sangat efektif dan membuat kita lebih awet muda. Juga senyuman adalah obat yang mujarab menyirnakan stress yang mengakibatkan pemicu penyakit jantung dan memendeknya usia kita.
Saat saya mengatakan saya mau tersenyum sebanyak dan sesering mungkin, saya mendengar lagi lagu smile karangan Charlie Chaplin :
smile, though your heart is aching
smile, eventhough it's breaking
when there are clouds in the sky you'll get by
if you smile through your fear and sorrow
smile and maybe tomorrow
you'll see the sun will coming through
if you just smile....
dan saya teringat lagi kalimat indah :
"smile and the whole world smiles with you"...
Mulai sekarang, saya mau tersenyum untuk menggantikan cemberut dan marah-marah saya. Mungkin tidak selalu ingat, tapi paling tidak saya akan mulai berusaha. Smile!
Senyum sang anak melekat di benak saya hingga saat ini. Gadis cilik yang seharusnya cantik itu terlihat tua keriput. Ada kesakitan di wajahnya, namun ia tetap tersenyum.
Saya jadi terpukul. Hidup saya ini kurang apa dibandingkan si gadis. Namun, sedikit saja dihempas angin, saya sudah ternangis-tangis. Mengeluh-keluh. Bahkan marah-marah pada Tuhan, serasa saya orang yang paling menderita di dunia ini. Teman saya tadi mengaku menangis karena tiba-tiba ia diputuskan pindah ke luar kota, padahal ia baru seumur jagung menjalin kasih setelah sekian lama sendiri.
Teman saya merasa disudutkan dan tidak diberi pilihan. Saya bilang salah. Ia berhak memilih jalan. Sering kali kita ini merasa bahwa kita tidak bisa memilih, padahal pilihan itu justru adanya di tangan kita. Saya menyarankan agar ia mengambil keputusan menurut prioritasnya. Karena mau tertekan atau tidak tertekan, begitu ia mengiyakan atas keputusan sepihak boss nya, itu akan tetap menjadi keputusannya. Kalau ia sudah mengambil keputusan yang sebenarnya bukan pilihannya, lalu hubungan dengan sang kekasih yang sudah susah payah didapatkannya bubar, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun, betapa pun dendamnya ia. Maka saya menganjurkan agar sekali lagi dipikirkan masak-masak. Kalau ia tidak merasa nyaman atas keputusan yang diambil orang lain atas hidupnya, suarakan dan pertahankan keputusannya. Lama setelah ia mengobrol dan curhat, ia baru bisa tenang dan tersenyum kembali. Begitu ia tersenyum, dunia seolah berubah menjadi cerah dan optimis kembali. Ia menemukan harapan dan kepercayaan dirinya.
Malam ini, saya kembali lagi di antara teman saya dan si bocah kecil di Afrika. Sebuah masalah. Yang satu menghadapinya dengan tangis. Yang satu menghadapinya dengan tersenyum. Dan yang menjadi pemenang adalaah ia yang tersenyum, apa pun hasilnya.
Saya sering menghadapi masalah dengan menangis dan marah-marah. Sekarang saya berpikir, bagaimana ya kalau saya menghadapinya dengan senyuman? Apakah bisa menjadi lebih baik? Senyuman memancarkan harapan dan optimisme sekaligus kesabaran dan rasa tetap bersyukur. Ketika kita tersenyum, dunia sekitar seolah memberi respons atas senyuman kita dan tiba-tiba melunakkan segala kemarahan dan hati yang keras. Dan semuanya berubah menjadi lebih baik.
Saya juga pernah membaca bahwa senyuman merupakan olah raga muka yang sangat efektif dan membuat kita lebih awet muda. Juga senyuman adalah obat yang mujarab menyirnakan stress yang mengakibatkan pemicu penyakit jantung dan memendeknya usia kita.
Saat saya mengatakan saya mau tersenyum sebanyak dan sesering mungkin, saya mendengar lagi lagu smile karangan Charlie Chaplin :
smile, though your heart is aching
smile, eventhough it's breaking
when there are clouds in the sky you'll get by
if you smile through your fear and sorrow
smile and maybe tomorrow
you'll see the sun will coming through
if you just smile....
dan saya teringat lagi kalimat indah :
"smile and the whole world smiles with you"...
Mulai sekarang, saya mau tersenyum untuk menggantikan cemberut dan marah-marah saya. Mungkin tidak selalu ingat, tapi paling tidak saya akan mulai berusaha. Smile!
Labels:
'lawrence tjandra',
smile
21 April 2010 : Meraih Mimpi
Malam ini saya menjadi orang yang pertama yang mendapat kehormatan dari seorang kerabat muda akan sebuah rahasia yang tak pernah dibagikannya dengan orang lain. Ia mengeluarkan sebuah album bercover foto indah jejak dua kaki di pasir menuju pantai berkilau cahaya emas sang surya. Dia membuka perkenalan saya dengan album ini dengan mengatakan, "This is my dream book."
Album setebal 22 halaman itu berisi berbagai topik yang ingin dicapainya dalam hidup ini. Diawali dengan profil dirinya, ia kemudian membuka lembaran berikutnya dengan halaman kosong yang akan diisinya seputar kebesaran Tuhan dalam hidupnya, lalu mimpinya bagi keluarga, karir, cinta, pendidikan, persahabatan, rumah idaman, mobil, tempat-tempat dunia yang ingin dikunjunginya, pendidikan bagi anaknya kelak, kegiatan sosial yang ingin ditekuninya, mimpinya memiliki usaha keluarga. Sisa albumnya disisakan untuk diisi dengan kisah sukses hidupnya dan keluarganya, lalu ditutup dengan rencana pensiun dan bagaimana ia ingin meninggalkan jejak bagi dunia ini selepas kepergiannya di dunia ini. Di ujung bawah lembar terakhir, ia menuliskan : "Everybody should smile like me: hahaha" Album yang tadinya kosong itu, pelahan-lahan diisinya seiring dengan terpenuhinya satu per satu mimpi-mimpi yang direkam dalam buku mimpi itu.
Melihat album yang dikemas mengharukan, serius tapi juga lucu itu, saya sungguh terpesona atas keluarbiasaan visi seorang muda berusia 23 tahun yang lulus magna cumlaude dari sebuah universitas ternama yang diraihnya dari hasil beasiswa penuh dan kini meraih lulusan predikat terbaik program pelatihan paling bergengsi di negeri ini dari perusahaan tempat ia bekerja.
Untuk usia sebelia itu, ia sudah punya dreambook. Saya yang dua kali lipat usianya? Saya memang punya mimpi, tapi terus terang tidak sedetil dia. Saya cuma bilang dalam hidup ini saya mau hidup simply happy with the one that I love and who loves me as much as I love the person. Tapi sedetil apa bahagianya, tak pernah saya gambarkan dengan jelas. Saya juga punya mimpi ingin ke sini dan ke situ dan sedikit-sedikit sudah saya penuhi, namun tak ada yang tercatat seperti ini.
Mungkin, saya harus membuat my own dream book. Terutama karena saya sudah mulai memikirkan untuk pensiun 10 - 15 tahun lagi. Mau melakukan apa saya setelah itu? Berapa dana yang saya targetkan untuk saya raih sebelum saya menutup kebiasaan bekerja dari jam 9 sampai 17 itu? Punya usaha apa? Rumah yang bagaimana? Mobil seperti apa? Keluarga macam apa? Kegiatan sosial apa yang akan saya lakukan untuk berbagi berkah pada sesama? Apa yang akan saya sumbangkan pada bangsa dan negara ini? Juga pada keluarga dan orang-orang terkasih?
Malam ini saya belajar tentang visi. Sebuah visi yang jelas dan terarah. Saya benar-benar terinspirasi oleh konsep dreambook yang dibuat dengan sederhana namun menyimpan mimpi seorang muda yang luar biasa cemerlang. Saya akan membuat dreambook versi saya. Namun hari sudah larut, mungkin sebaiknya saya malam ini bermimpi dulu, sebelum membuat buku mimpi hidup saya ...
Album setebal 22 halaman itu berisi berbagai topik yang ingin dicapainya dalam hidup ini. Diawali dengan profil dirinya, ia kemudian membuka lembaran berikutnya dengan halaman kosong yang akan diisinya seputar kebesaran Tuhan dalam hidupnya, lalu mimpinya bagi keluarga, karir, cinta, pendidikan, persahabatan, rumah idaman, mobil, tempat-tempat dunia yang ingin dikunjunginya, pendidikan bagi anaknya kelak, kegiatan sosial yang ingin ditekuninya, mimpinya memiliki usaha keluarga. Sisa albumnya disisakan untuk diisi dengan kisah sukses hidupnya dan keluarganya, lalu ditutup dengan rencana pensiun dan bagaimana ia ingin meninggalkan jejak bagi dunia ini selepas kepergiannya di dunia ini. Di ujung bawah lembar terakhir, ia menuliskan : "Everybody should smile like me: hahaha" Album yang tadinya kosong itu, pelahan-lahan diisinya seiring dengan terpenuhinya satu per satu mimpi-mimpi yang direkam dalam buku mimpi itu.
Melihat album yang dikemas mengharukan, serius tapi juga lucu itu, saya sungguh terpesona atas keluarbiasaan visi seorang muda berusia 23 tahun yang lulus magna cumlaude dari sebuah universitas ternama yang diraihnya dari hasil beasiswa penuh dan kini meraih lulusan predikat terbaik program pelatihan paling bergengsi di negeri ini dari perusahaan tempat ia bekerja.
Untuk usia sebelia itu, ia sudah punya dreambook. Saya yang dua kali lipat usianya? Saya memang punya mimpi, tapi terus terang tidak sedetil dia. Saya cuma bilang dalam hidup ini saya mau hidup simply happy with the one that I love and who loves me as much as I love the person. Tapi sedetil apa bahagianya, tak pernah saya gambarkan dengan jelas. Saya juga punya mimpi ingin ke sini dan ke situ dan sedikit-sedikit sudah saya penuhi, namun tak ada yang tercatat seperti ini.
Mungkin, saya harus membuat my own dream book. Terutama karena saya sudah mulai memikirkan untuk pensiun 10 - 15 tahun lagi. Mau melakukan apa saya setelah itu? Berapa dana yang saya targetkan untuk saya raih sebelum saya menutup kebiasaan bekerja dari jam 9 sampai 17 itu? Punya usaha apa? Rumah yang bagaimana? Mobil seperti apa? Keluarga macam apa? Kegiatan sosial apa yang akan saya lakukan untuk berbagi berkah pada sesama? Apa yang akan saya sumbangkan pada bangsa dan negara ini? Juga pada keluarga dan orang-orang terkasih?
Malam ini saya belajar tentang visi. Sebuah visi yang jelas dan terarah. Saya benar-benar terinspirasi oleh konsep dreambook yang dibuat dengan sederhana namun menyimpan mimpi seorang muda yang luar biasa cemerlang. Saya akan membuat dreambook versi saya. Namun hari sudah larut, mungkin sebaiknya saya malam ini bermimpi dulu, sebelum membuat buku mimpi hidup saya ...
Labels:
'dream book',
'lawrence tjandra'
Tuesday, April 20, 2010
20 April 2010 : Tanpa
Hari ini waktu berjalan begitu cepatnya hari ini dengan jadwal yang saling berkejaran. Pagi-pagi saya sudah ada event di hotel Nikko, belum selesai acaranya saya sudah harus berada di sebuah resto high end di Grand Indonesia untuk santap siang bersama media. Karena fine dining, acara tersebut molor hingga saya harus terbirit-birit mengejar acara selanjutnya di FX. Pulang dari situ, saya sudah teler.
Mungkin saking sibuknya dan saking padatnya acara, saya sampai tak bisa lagi memilah apa yang saya pelajari hari ini. Seperti film kartun yang di fast forward atau seperti kereta api lewat. Kita tahu puluhan gerbong melintas cepat di depan mata, namun tak dapat melihat wujud detilnya.
Malam ini saya sudah merasa putus asa, rasanya saking cepatnya semua berlalu, saya jadi tidak belajar apa-apa. Namun ketika mau mematikan lampu kamar kerja, saya iseng menyobek kalender harian yang sudah berhari-hari saya diamkan. Dan muncullah kata-kata ini :
"Marry not the one you can live with, but the one you cannot live without."
Wow. Saya tertegun. Benar juga ya. Rasanya selama ini saya selalu membuat berbagai kriteria pasangan yang pada intinya akan membuat saya merasa nyaman dan aman sepanjang hayat bila bersamanya seumur hidup, namun malam ini saya ditunjukkan bahwa lebih penting mencari seseorang yang tanpanya saya tak bisa "hidup". Saya lalu membayangkan, iya juga ya, kalau mencari orang yang I can live with, tanpa cinta pun hal itu bisa terjadi, hanya karena saya suka uang dan statusnya, atau kalau pun cinta, hidup saya pasti adem ayem saja. Tapi apa ya itu yang saya cari? Kalau adem ayem terus, lama-lama bisa bosan dan jangan-jangan membuat saya tergoda mencari sensasi lain...
Lalu saya merenungkan yang cannot live without. Bisa jadi hidup dengan orang seperti ini membuat kita termehek-mehek. Saya ingat lagu Celine Dion dan Pavaroti "I hate you then I love you". Tapi yang jelas hidup dengan seseorang yang tanpa nya kita tak bisa hidup, membuat hidup kita jauh lebih menarik dan exciting, dan dijamin takkan pernah membosankan. Kita sudah sedemikian "sibuk" dan terfokusnya dengan orang ini, sehingga tidak punya waktu dan interest lagi untuk tergoda-goda. Hasilnya, kehidupan kita bersamanya dijamin akan penuh warna dan makna, karena kebersamaan bersamanya menjadi momen penting setiap saat.
Saya lalu kembali lagi pada kalimat singkat itu, dan mengamini makna yang tertera. Saya mau hidup dengan seseorang yang tanpanya saya tak bisa hidup, jadi perjalanan hidup saya bukan hanya sekedar hidup, tapi "hidup". Penuh cinta, warna dan makna.
Saya juga merenung, just when I thought my day will just past without learning something, I found a precious line to learn my life from. Saya menjadi semakin yakin bahwa there's always something to learn in a day. And today is about choosing to live with someone you cannot live without for the rest of your life ...
Mungkin saking sibuknya dan saking padatnya acara, saya sampai tak bisa lagi memilah apa yang saya pelajari hari ini. Seperti film kartun yang di fast forward atau seperti kereta api lewat. Kita tahu puluhan gerbong melintas cepat di depan mata, namun tak dapat melihat wujud detilnya.
Malam ini saya sudah merasa putus asa, rasanya saking cepatnya semua berlalu, saya jadi tidak belajar apa-apa. Namun ketika mau mematikan lampu kamar kerja, saya iseng menyobek kalender harian yang sudah berhari-hari saya diamkan. Dan muncullah kata-kata ini :
"Marry not the one you can live with, but the one you cannot live without."
Wow. Saya tertegun. Benar juga ya. Rasanya selama ini saya selalu membuat berbagai kriteria pasangan yang pada intinya akan membuat saya merasa nyaman dan aman sepanjang hayat bila bersamanya seumur hidup, namun malam ini saya ditunjukkan bahwa lebih penting mencari seseorang yang tanpanya saya tak bisa "hidup". Saya lalu membayangkan, iya juga ya, kalau mencari orang yang I can live with, tanpa cinta pun hal itu bisa terjadi, hanya karena saya suka uang dan statusnya, atau kalau pun cinta, hidup saya pasti adem ayem saja. Tapi apa ya itu yang saya cari? Kalau adem ayem terus, lama-lama bisa bosan dan jangan-jangan membuat saya tergoda mencari sensasi lain...
Lalu saya merenungkan yang cannot live without. Bisa jadi hidup dengan orang seperti ini membuat kita termehek-mehek. Saya ingat lagu Celine Dion dan Pavaroti "I hate you then I love you". Tapi yang jelas hidup dengan seseorang yang tanpa nya kita tak bisa hidup, membuat hidup kita jauh lebih menarik dan exciting, dan dijamin takkan pernah membosankan. Kita sudah sedemikian "sibuk" dan terfokusnya dengan orang ini, sehingga tidak punya waktu dan interest lagi untuk tergoda-goda. Hasilnya, kehidupan kita bersamanya dijamin akan penuh warna dan makna, karena kebersamaan bersamanya menjadi momen penting setiap saat.
Saya lalu kembali lagi pada kalimat singkat itu, dan mengamini makna yang tertera. Saya mau hidup dengan seseorang yang tanpanya saya tak bisa hidup, jadi perjalanan hidup saya bukan hanya sekedar hidup, tapi "hidup". Penuh cinta, warna dan makna.
Saya juga merenung, just when I thought my day will just past without learning something, I found a precious line to learn my life from. Saya menjadi semakin yakin bahwa there's always something to learn in a day. And today is about choosing to live with someone you cannot live without for the rest of your life ...
19 April 2010 : Detil atau Global?
Hari ini saya mengikuti meeting terlama, terpanjang dan paling menyiksa dalam sejarah tahun 2010. Lama karena pertemuannya mulai sekitar jam 14:30 sampai dengan jam 20:30, panjang karena satu topik dibahas dan dibolak balik sampai berjam-jam, dan menyiksa karena bahan yang dibahas sebagian besar dipersiapkan oleh orang lain, jadi sepanjang rapat itu, meskipun sudah dibrief oleh rekan yang membuat, tetap saja saya seperti orang bego, terutama karena pekerjaan yang dibuatnya dibongkar total, dan saya sama sekali tidak siap dengan segala data dan alur detil presentasi itu! Mau menambah daftar ke bete an saya? Saya tidak mengalokasikan waktu segini banyaknya buat meeting ini karena harus mempersiapkan diri untuk tiga event besar esok pagi!
Yang membuat saya semakin frustrasi adalah si klien sendiri. Begitu sampai di slide pertama, bagian pendahuluan, ia sudah mengubah hingga titik koma. Dua slide presentasi dihabiskannya dalam waktu dua jam. Mau mati rasanya. Saya makin mendongkol ketika waktu menunjukkan pukul 18:30, padahal saya ada janji bertemu jam 19:00. Untung yang diajak janjian sangat mengerti keadaan saya dan mau menanti makan malam bersama selewat pukul 10 malam. Saya jadi sedikit terhibur, dan mengikuti jalannya rapat dengan lebih baik, meskipun kurang dari setengah hati.
Saya sangat frustrasi akan kedetilan sang direktur wilayah asia pasifik. Selama ini sebagai seorang senior consultant dan direktur, saya hanya memberi arahan dan melihat garis besarnya saja, setelah itu, tanggung jawab manajer saya untuk memperhatikan detilnya. Namun hari ini saya menghadapi orang yang sangat detil. Saya bisa mengerti sih, ia harus melakukannya karena boss nya, sang presiden direktur Asia Pasifik orangnya lebih detil lagi. Jadi kalau ada salah ketik sedikit, sudah mencak-mencak. Namun dengan berjalannya waktu, dan karena kedetilan sang direktur, saya yang tadinya cuma punya gambaran samar-samar tentang sang klien, menjadi tahu mendetil mengenai berbagai fakta yang sebelumnya belum terungkap. Saya juga jadi tahu jalan pikiran sang presiden direktur melalui direktur yang satu ini. Ketika semua detil itu dirangkum menjadi satu, tiba-tiba terlihatlah sebuah komposisi strategi dan penjelasan yang indah. Perhatian saya tiba tiba juga tidak lagi separuh hati.
Saya lalu berpikir, mana yang lebih penting - detil atau global? Saat sang direktur menutup rapat dan meminta maaf serta berterima kasih atas "kesabaran" saya menemaninya berjam-jam, saya melihat urutannya sebagai berikut : global - detil - global. Artinya, sang direktur telah melihat sekilas proposal yang dibuat teman saya, dan melihat gambaran yang jauh lebih indah dari proposal itu. Lalu berdasarkan gambaran besar itu, ia membongkar semua isi proposal dan menata ulang semua unsur yang ada didalamnya agar membentuk gambaran itu. Di akhir sesi, ia melihat lagi segalanya dari jauh agar terlihat bentuk indahnya, dan menambahkan satu dua sentuhan akhir agar sempurna.
Saya jadi membayangkan karya pematung atau pelukis. Ia melihat bayangan indah di kepalanya, dan menuangkan dalam bentuk detil di kanvas atau di bahan pahatan sehingga keluarlah wujud nyata lukisan dan patung yang ada di benaknya. Di akhir karya, ia melihat dari jauh dan memberi sentuhan akhir sebelum ia menyatakan karya agung itu tuntas. Saya juga melihat gambar-gambar indah hasil cetakan, yang kalau kita perhatikan secara detil mengandung jutaan titik warna yang membentuk sebuah rupa. Global - detil - global.
Malam ini saya berterima kasih karena sudah diberi pelajaran luar biasa oleh sang klien. Bukan saja tentang bisnis yang ditekuninya, atau visi perusahaan serta presiden direkturnya, namun tentang bagaiman kita seharusnya bersikap terhadap sebuah hal : global - detil - global. Ups! Saya harus segera menyudahi tulisan ini karena masih harus mempersiapkan diri menghadapi tiga event sekaligus besok pagi!
Yang membuat saya semakin frustrasi adalah si klien sendiri. Begitu sampai di slide pertama, bagian pendahuluan, ia sudah mengubah hingga titik koma. Dua slide presentasi dihabiskannya dalam waktu dua jam. Mau mati rasanya. Saya makin mendongkol ketika waktu menunjukkan pukul 18:30, padahal saya ada janji bertemu jam 19:00. Untung yang diajak janjian sangat mengerti keadaan saya dan mau menanti makan malam bersama selewat pukul 10 malam. Saya jadi sedikit terhibur, dan mengikuti jalannya rapat dengan lebih baik, meskipun kurang dari setengah hati.
Saya sangat frustrasi akan kedetilan sang direktur wilayah asia pasifik. Selama ini sebagai seorang senior consultant dan direktur, saya hanya memberi arahan dan melihat garis besarnya saja, setelah itu, tanggung jawab manajer saya untuk memperhatikan detilnya. Namun hari ini saya menghadapi orang yang sangat detil. Saya bisa mengerti sih, ia harus melakukannya karena boss nya, sang presiden direktur Asia Pasifik orangnya lebih detil lagi. Jadi kalau ada salah ketik sedikit, sudah mencak-mencak. Namun dengan berjalannya waktu, dan karena kedetilan sang direktur, saya yang tadinya cuma punya gambaran samar-samar tentang sang klien, menjadi tahu mendetil mengenai berbagai fakta yang sebelumnya belum terungkap. Saya juga jadi tahu jalan pikiran sang presiden direktur melalui direktur yang satu ini. Ketika semua detil itu dirangkum menjadi satu, tiba-tiba terlihatlah sebuah komposisi strategi dan penjelasan yang indah. Perhatian saya tiba tiba juga tidak lagi separuh hati.
Saya lalu berpikir, mana yang lebih penting - detil atau global? Saat sang direktur menutup rapat dan meminta maaf serta berterima kasih atas "kesabaran" saya menemaninya berjam-jam, saya melihat urutannya sebagai berikut : global - detil - global. Artinya, sang direktur telah melihat sekilas proposal yang dibuat teman saya, dan melihat gambaran yang jauh lebih indah dari proposal itu. Lalu berdasarkan gambaran besar itu, ia membongkar semua isi proposal dan menata ulang semua unsur yang ada didalamnya agar membentuk gambaran itu. Di akhir sesi, ia melihat lagi segalanya dari jauh agar terlihat bentuk indahnya, dan menambahkan satu dua sentuhan akhir agar sempurna.
Saya jadi membayangkan karya pematung atau pelukis. Ia melihat bayangan indah di kepalanya, dan menuangkan dalam bentuk detil di kanvas atau di bahan pahatan sehingga keluarlah wujud nyata lukisan dan patung yang ada di benaknya. Di akhir karya, ia melihat dari jauh dan memberi sentuhan akhir sebelum ia menyatakan karya agung itu tuntas. Saya juga melihat gambar-gambar indah hasil cetakan, yang kalau kita perhatikan secara detil mengandung jutaan titik warna yang membentuk sebuah rupa. Global - detil - global.
Malam ini saya berterima kasih karena sudah diberi pelajaran luar biasa oleh sang klien. Bukan saja tentang bisnis yang ditekuninya, atau visi perusahaan serta presiden direkturnya, namun tentang bagaiman kita seharusnya bersikap terhadap sebuah hal : global - detil - global. Ups! Saya harus segera menyudahi tulisan ini karena masih harus mempersiapkan diri menghadapi tiga event sekaligus besok pagi!
Sunday, April 18, 2010
18 April 2010 : Menggenggam tangan
Kalau Anda datang ke rumah sekarang, Anda akan menemukan seprei bernuansa coklat lembut berornamen bunga dan bulatan geometris membentang di tempat tidur saya. Bunga-bunga itu terdiri dari kelopak-kelopak geometris yang tidak saling berhubungan namun membentuk sebuah lingkaran rapi.
Pagi ini, ketika membangunkan kerabat muda yang sedang menginap dan ingin ikut ke gereja, sambil duduk di tempat tidurnya dan setengah ngelindur, ia bertanya, "Coba tebak, berapa jumlah kelopak di bulatan bunga sarung duvet kamu." Saya yang juga setengah mengantuk, menjadi melek dan bertanya, "Ha? Pertanyaan macam apa itu? Jadi kamu menghitung jumlah kelopak? This is so weird!" Saya langsung loncat dan mencoba menghitung jumlah kelopak di duvet kamar. Tapi ia tak kalah sigap menghalangi. Dia bilang tak boleh dihitung! Saya bilang curang! Akhirnya dia memberi jawabannya : 19. Baik yang besar dan kecil, kelopaknya 19! Lalu ia mulai menganalisa kenapa kok 19? kenapa begini kenapa begitu? Sambil terbahak sakit perut saya bilang: gak penting deh! Dia lalu mempertanyakan mengapa bisa untuk ukuran bunga yang besar dan yang kecil menggunakan pola yang sama dan berjumlah 19? Adakah maknanya? Saya jawab lagi, "Aduuuuuh kamu itu, kalau saya sih mikirnya simpel saja : desainernya membuat pola dan mendesain dengan komputer, kenapa kamu mikirnya senjlimet itu?"
Pembicaraan konyol sambil antri kamar mandi itu kemudian seolah sirna dan saya menangkap nuansa bahasan lain dalam benak saya. Saya takjub atas kesadaran bahwa setiap orang itu unik. Kerabat saya yang satu ini luar biasa cemerlangnya dalam hal hitung menghitung dan detil. Dalam sekejap mata ia bisa menghitung berbagai jumlah benda, dari yang belasan sampai puluhan. Sebaliknya, saya ini orang visual dan hanya menangkap yang garis besar saja. Kalau bekerja, saya ini bagusnya di bagian konsep, sedang detil pelaksanaannya lebih baik dikerjakan orang lain yang lebih teliti. Saya lalu menyimpulkan, bahwa apa yang dilakukan kerabat saya itu bukan iseng, tapi otomatis: melihat sesuatu yang bisa dihitung, otak berhitungnya langsung bekerja. Mungkin sebagai pengantar sebelum ke gereja, Tuhan ingin saya melihat dan takjub atas kebesaranNya dalam menciptakan kekhususan di setiap orang yang berbeda.
Kemarin, saat mengobrol, saya di tanya oleh seorang teman. Mengapa saya tidak tanya ini dan itu saat berkenalan dengan orang baru? Saya lalu berpikir, iya, kenapa ya? Akhirnya saya menemukan : saya ini bukan tipe orang yang bertanya. Seakan dibimbing, saya kemudian menelusuri hubungan romantis dengan berbagai orang dalam hidup ini. Beberapa kali saya mendengar keluhan kesannya saya tidak punya minat untuk mengetahui seluk beluknya lebih lanjut, dan menanyakan keberminatan saya pada mereka. Saya kini bisa menjawab : saya berminat, saya hanya bukan tipe penanya. Jadi, saya harus memberitahu kepada pasangan, kalau ada apa-apa, jangan punya keinginan mentest apakah saya peduli dengan mengharap saya bertanya. Langsung saja nyatakan apa yang ada di benaknya.
Seorang teman mengaku ia pernah menyatakan kefrustrasiannya atas "kedinginan" saya. Ia bilang, ia sebenarnya ingin mengajak saya berlibur berdua ke Bali yang berakhir ia berangkat sendiri. Saya bilang, lho, kamu tak pernah mengajak kok? Dia bilang, memang sih, tapi dia sudah pernah mencoba memberi hint, sengaja nyeletuk bahwa besok itu long weekend, tapi saya malah bilang mau ada teman dari luar kota yang akan datang dan melewati long weekend bersama. Tapi saya bilang, apa pun yang jadi kesimpulan dia, dia tak pernah menyatakan ide liburan ke Balinya pada saya. Siapa tahu begitu mendengar, saya langsung mengatur ulang jadwal dan malah pergi dengannya? Saya lalu mengulang pesan yang sudah berulang-ulang saya katakan ke berbagai teman, "Makanya, jangan dipikir, dikerjakan..." Saya lalu menceritakan bahwa saya ini bukan seorang penanya, dan ia segera menangkap. Ia bilang sekarang ia bisa mengerti missing link yang kemarin-kemarin menjadi tanda tanya buatnya, namun sekarang everything starts to make sense. Ia bilang, ia kini tahu bagaimana harus menghadapi saya. Suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dengan orang lain di hidup saya.
Pagi-pagi ini saya dibuat takjub atas sebuah demonstrasi kecil oleh Tuhan yang membuktikan kekuatan keunikan setiap orang, dan bahwa kemampuan kita menyelami dan memahami keunikan itu adalah kenikmatan dan anugerah yang luar biasa yang jika bisa kita kuasai akan menjadikan kunci keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain, siapa pun dia.
Saat mau menutup blog ini, tiba-tiba saya mendapat kiriman cerita dari sepupu saya Yola:
Seorang gadis kecil dan ayahnya sedang meniti jembatan. Ayahnya cemas dan berkata pada anaknya, " Sayang, pegang tangan ayah , dong, jadi kamu tak terjatuh ke sungai." Anaknya berkata, "Tidak, yah. Ayahlah yang menggenggam tanganku." Apa bedanya?" tanya ayahnya bingung. "Besar," jawab si gadis. "Jika saya memegang tanganmu dan sesuatu terjadi padaku, bisa jadi aku melepaskan genggamanku. Tetapi jika ayah menggenggam tanganku, aku tahu pasti apa pun yang terjadi, ayah tak akan pernah melepaskan tanganku."
Sebuah pesan yang singkat namun membawa berjuta makna. Saya jadi diingatkan untuk menggenggam tangan orang yang saya cintai lebih dari hanya mengharapnya menggengam tangan saya. Meskipun saya bukan orang yang penanya, saya disemangati untuk tidak menyia-nyiakan waktu, saya mau menyelami dan memahami pasangan saya, sehingga saya tahu bagaimana harus berlaku agar ia tahu bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya...
Pagi ini, ketika membangunkan kerabat muda yang sedang menginap dan ingin ikut ke gereja, sambil duduk di tempat tidurnya dan setengah ngelindur, ia bertanya, "Coba tebak, berapa jumlah kelopak di bulatan bunga sarung duvet kamu." Saya yang juga setengah mengantuk, menjadi melek dan bertanya, "Ha? Pertanyaan macam apa itu? Jadi kamu menghitung jumlah kelopak? This is so weird!" Saya langsung loncat dan mencoba menghitung jumlah kelopak di duvet kamar. Tapi ia tak kalah sigap menghalangi. Dia bilang tak boleh dihitung! Saya bilang curang! Akhirnya dia memberi jawabannya : 19. Baik yang besar dan kecil, kelopaknya 19! Lalu ia mulai menganalisa kenapa kok 19? kenapa begini kenapa begitu? Sambil terbahak sakit perut saya bilang: gak penting deh! Dia lalu mempertanyakan mengapa bisa untuk ukuran bunga yang besar dan yang kecil menggunakan pola yang sama dan berjumlah 19? Adakah maknanya? Saya jawab lagi, "Aduuuuuh kamu itu, kalau saya sih mikirnya simpel saja : desainernya membuat pola dan mendesain dengan komputer, kenapa kamu mikirnya senjlimet itu?"
Pembicaraan konyol sambil antri kamar mandi itu kemudian seolah sirna dan saya menangkap nuansa bahasan lain dalam benak saya. Saya takjub atas kesadaran bahwa setiap orang itu unik. Kerabat saya yang satu ini luar biasa cemerlangnya dalam hal hitung menghitung dan detil. Dalam sekejap mata ia bisa menghitung berbagai jumlah benda, dari yang belasan sampai puluhan. Sebaliknya, saya ini orang visual dan hanya menangkap yang garis besar saja. Kalau bekerja, saya ini bagusnya di bagian konsep, sedang detil pelaksanaannya lebih baik dikerjakan orang lain yang lebih teliti. Saya lalu menyimpulkan, bahwa apa yang dilakukan kerabat saya itu bukan iseng, tapi otomatis: melihat sesuatu yang bisa dihitung, otak berhitungnya langsung bekerja. Mungkin sebagai pengantar sebelum ke gereja, Tuhan ingin saya melihat dan takjub atas kebesaranNya dalam menciptakan kekhususan di setiap orang yang berbeda.
Kemarin, saat mengobrol, saya di tanya oleh seorang teman. Mengapa saya tidak tanya ini dan itu saat berkenalan dengan orang baru? Saya lalu berpikir, iya, kenapa ya? Akhirnya saya menemukan : saya ini bukan tipe orang yang bertanya. Seakan dibimbing, saya kemudian menelusuri hubungan romantis dengan berbagai orang dalam hidup ini. Beberapa kali saya mendengar keluhan kesannya saya tidak punya minat untuk mengetahui seluk beluknya lebih lanjut, dan menanyakan keberminatan saya pada mereka. Saya kini bisa menjawab : saya berminat, saya hanya bukan tipe penanya. Jadi, saya harus memberitahu kepada pasangan, kalau ada apa-apa, jangan punya keinginan mentest apakah saya peduli dengan mengharap saya bertanya. Langsung saja nyatakan apa yang ada di benaknya.
Seorang teman mengaku ia pernah menyatakan kefrustrasiannya atas "kedinginan" saya. Ia bilang, ia sebenarnya ingin mengajak saya berlibur berdua ke Bali yang berakhir ia berangkat sendiri. Saya bilang, lho, kamu tak pernah mengajak kok? Dia bilang, memang sih, tapi dia sudah pernah mencoba memberi hint, sengaja nyeletuk bahwa besok itu long weekend, tapi saya malah bilang mau ada teman dari luar kota yang akan datang dan melewati long weekend bersama. Tapi saya bilang, apa pun yang jadi kesimpulan dia, dia tak pernah menyatakan ide liburan ke Balinya pada saya. Siapa tahu begitu mendengar, saya langsung mengatur ulang jadwal dan malah pergi dengannya? Saya lalu mengulang pesan yang sudah berulang-ulang saya katakan ke berbagai teman, "Makanya, jangan dipikir, dikerjakan..." Saya lalu menceritakan bahwa saya ini bukan seorang penanya, dan ia segera menangkap. Ia bilang sekarang ia bisa mengerti missing link yang kemarin-kemarin menjadi tanda tanya buatnya, namun sekarang everything starts to make sense. Ia bilang, ia kini tahu bagaimana harus menghadapi saya. Suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dengan orang lain di hidup saya.
Pagi-pagi ini saya dibuat takjub atas sebuah demonstrasi kecil oleh Tuhan yang membuktikan kekuatan keunikan setiap orang, dan bahwa kemampuan kita menyelami dan memahami keunikan itu adalah kenikmatan dan anugerah yang luar biasa yang jika bisa kita kuasai akan menjadikan kunci keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain, siapa pun dia.
Saat mau menutup blog ini, tiba-tiba saya mendapat kiriman cerita dari sepupu saya Yola:
Seorang gadis kecil dan ayahnya sedang meniti jembatan. Ayahnya cemas dan berkata pada anaknya, " Sayang, pegang tangan ayah , dong, jadi kamu tak terjatuh ke sungai." Anaknya berkata, "Tidak, yah. Ayahlah yang menggenggam tanganku." Apa bedanya?" tanya ayahnya bingung. "Besar," jawab si gadis. "Jika saya memegang tanganmu dan sesuatu terjadi padaku, bisa jadi aku melepaskan genggamanku. Tetapi jika ayah menggenggam tanganku, aku tahu pasti apa pun yang terjadi, ayah tak akan pernah melepaskan tanganku."
Sebuah pesan yang singkat namun membawa berjuta makna. Saya jadi diingatkan untuk menggenggam tangan orang yang saya cintai lebih dari hanya mengharapnya menggengam tangan saya. Meskipun saya bukan orang yang penanya, saya disemangati untuk tidak menyia-nyiakan waktu, saya mau menyelami dan memahami pasangan saya, sehingga saya tahu bagaimana harus berlaku agar ia tahu bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya...
17 April 2010 : Berantem Sama Orang Lain
Siang ini saya bersantap dengan seseorang yang bisa melihat karakter orang. Beliau mengatakan bahwa saat ini jiwa saya sedang mencari cara untuk berdamai dengan diri saya sendiri dan menekan emosi. Saya mengamini. Benar sekali. Menekan emosi adalah salah satu hal yang terpenting yang ingin saya taklukkan saat ini. Selama ini sulit rasanya mengontrol emosi. Kalau sudah meledak, susah diremnya. Meskipun ledakannya singkat, namun menurut teman dan karyawan saya, dampak yang dirasakan bertahan lama. Alias, saya nya sudah cengar cengir, orang yang kena dampratan masih sakit hati tidak hilang-hilang.
Saya ingin seperti seorang teman saya yang luar biasa sabarnya. Apa pun dihadapinya dengan senyumnya yang luar biasa menawan. Orang yang sudah mengepul otaknya bisa langsung leleh di hadapannya. Tak salah bila sebuah bank raksasa memilihnya duduk di risk management yang membuat dia berurusan dengan debitur macet. Dia bilang, sudah tidak zamannya lagi pakai debt collector berwajah sangar untuk klien-klien perusahaan yang pinjamannya macet miliaran Rupiah.
Kemarin, saat saya sedang menyetir dan mengumpat atas kelakuan pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab, ia mengingatkan. Sarannya, biarkan saja, toh teriakan kita tidak ada gunanya. Lagi pula, tak ada untungnya berurusan dengan orang seperti itu. Meminjam prinsip karma, dia bilang nanti toh dia akan berurusan dan berantem juga ... dengan orang lain. Saya pikir-pikir, iya benar juga ya. Orang sebrengsek dia, pasti banyak yang jengkel padanya. Jadi kalau bukan saya, pasti ada orang lain yang rela menggulung lengan bajunya untuk meninju orang itu. Jadi, buat apa saya membuang-buang energi yang tak penting?
Persoalannya selama ini menyalurkan energi itu penting dan enak. Ada kenikmatan tersendiri kalau bisa meleledakkan amarah. Bahayanya, ini bisa menjadi kecanduan dan kebiasaan yang pada akhirnya justru membuat kesal dan mendatangkan banyak musuh.
Malam ini, saya bertemu dan bersantap malam bersama sekelompok teman. Mereka membahas ada seorang gadis yang merasa kesal karena salah seorang teman di kelompok ini punya pacar baru dan tidak memilihnya. Ia lebih kesal lagi setelah tahu bahwa teman-temannya sedang makan malam dengan cowok yang ditaksirnya ini bersama sang kekasih, tanpa mengajak dia. Ia kemudian murka dan memaki-maki teman-temannya. Terjadi perang mulut lewat speaker telepon. Semua kata-kata mutiara dan kebun binatang keluar semua. Yang tak habis pikir, si gadis gemuk yang menurut saya seperti kuda nil ini kemudian berteriak memanggil ayah dan ibunya untuk membantu. Dan si orang tua tolol yang tidak tahu sebab musababnya langsung mendamprat siapa pun juga yang didapatkannya. Mula-mula si ibu mendamprat teman saya yang cantik sampai ia ternangis-nangis. Karena tidak puas, ia menelpon si cowok idaman anaknya.
Saya merasa ini sudah kelewatan, saya langsung punya ide iseng untuk mengerjai ibu gila itu. Saya langsung menjawab panggilan teleponnya dan menuruti alur makian ibu itu dengan makian-makian yang tak kalah anehnya - yang kalau didengar ulang pasti membuat Anda geleng-geleng dan tertawa terbahak - dengan nada marah tapi kalau lihat aslinya, sambil cengar cengir. Kesal karena jawaban saya sama gilanya, telepon itu disambar lagi oleh anaknya yang menangis histeris keras sambil teriak-teriak. Saya bilang, teriakannya kurang kencang dan terdengar sumbang. Bagaimana kalau teriakannya itu ditambahi nada dangdut supaya lebih ngetril? Saya yakin dia shock berat mendengar pujaan hatinya yang selama ini sangat santun, menjadi naga neraka bersembur api yang tak pernah dibayangkan sama sekali. Lalu, ibunya menyambar kembali dan melanjutkan teriakan-teriakan anaknya, mungkin karena pita suara anaknya sudah robek karena meraung-raung sejadi-jadinya. Bisa jadi akhirnya mabok karena marah-marahnya bertaut dengan marah-marah tak jelas, telepon dimatikan. Mungkin juga karena sadar, pulsa teleponnya sudah tersedot percuma atau memang pulsanya habis. Dalam hati saya geli, karena kalau ia sadar, bukan cuma pulsanya yang tersedot, tapi semua energinya terbuang percuma karena tak sadar bahwa yang dihadapinya bukan sasaran amarah tapi orang iseng.
Saya tidak punya urusan dengan gadis dan orang tua yang gila itu. Tapi saya pikir, orang-orang seperti itu perlu diberi terapi kejut dan sesekali dihajar juga. Lalu, sambil menyetir pulang, saya lalu mereview rentetan kejadian unik hari ini. Di awal hari, saya diingatkan untuk mengontrol emosi dan saya juga menangkap esensi membiarkan orang yang menyebalkan berantem dengan orang lain. Dan malam ini saya langsung diberikan test case nya. Kalau teori di atas diterapkan dengan kejadian malam, maka si kuda nil berhasil membangkitkan amarah ibunya lewat cerita-cerita mengarang bebas untuk mendamprat teman-teman yang dianggap mengkhianatinya. Dan saya jadi alat untuk teman-teman saya mendamprat mereka. Lama-lama, kok ya seperti wayang ya? Kenapa kita tidak bisa mendamprat langsung saja? Setelah saya pikir lagi, saya lalu menghapus kalimat yang baru saja dibuat. Ah, ini kan karena saya sedang muncul jahil dan super isengnya saja.
Pada intinya inspirasi yang saya dapat hari ini adalah, kendalikan emosi kita. Karena hal yang membuat kita kesal akan mendapat ganjarannya sendiri secara alami. Jadi tak perlu kita yang buang tenaga melakukannya. Lebih baik energi kita dibakar dalam bentuk lain yang bersifat positif dan membangun. Saya lalu ingat osteoblas dan osteoklas. Unsur tulang yang membangun dan menghancurkan tulang tubuh kita dalam pengetahuan osteoporosis. Kalau osteoblas kita melambat sedang osteoklasnya aktif, lama-lama tulang yang telah terbangun tergerogoti dan akhirnya rapuh, lalu patah menjadi osteoporis. Jadi penting untuk menjaga keaktifan osteoblas. Begitu juga dengan emosi kita. Ada emosi positif dan negatif. Saya harus memupuk dan mengaktifkan emosi positif saya, karena kalau tidak emosi negatif akan merajai dan membuat keropos jiwa kita. Tiba-tiba saya berhenti. Jangan-jangan si kuda nil dan orang tuanya itu bukan cuma keropos, tapi sudah tak punya jiwa karena semua sudah dilahap habis oleh emosi negatifnya. Hiiiii! Apakah tadi saya ngomong sama setan ya?
Saya ingin seperti seorang teman saya yang luar biasa sabarnya. Apa pun dihadapinya dengan senyumnya yang luar biasa menawan. Orang yang sudah mengepul otaknya bisa langsung leleh di hadapannya. Tak salah bila sebuah bank raksasa memilihnya duduk di risk management yang membuat dia berurusan dengan debitur macet. Dia bilang, sudah tidak zamannya lagi pakai debt collector berwajah sangar untuk klien-klien perusahaan yang pinjamannya macet miliaran Rupiah.
Kemarin, saat saya sedang menyetir dan mengumpat atas kelakuan pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab, ia mengingatkan. Sarannya, biarkan saja, toh teriakan kita tidak ada gunanya. Lagi pula, tak ada untungnya berurusan dengan orang seperti itu. Meminjam prinsip karma, dia bilang nanti toh dia akan berurusan dan berantem juga ... dengan orang lain. Saya pikir-pikir, iya benar juga ya. Orang sebrengsek dia, pasti banyak yang jengkel padanya. Jadi kalau bukan saya, pasti ada orang lain yang rela menggulung lengan bajunya untuk meninju orang itu. Jadi, buat apa saya membuang-buang energi yang tak penting?
Persoalannya selama ini menyalurkan energi itu penting dan enak. Ada kenikmatan tersendiri kalau bisa meleledakkan amarah. Bahayanya, ini bisa menjadi kecanduan dan kebiasaan yang pada akhirnya justru membuat kesal dan mendatangkan banyak musuh.
Malam ini, saya bertemu dan bersantap malam bersama sekelompok teman. Mereka membahas ada seorang gadis yang merasa kesal karena salah seorang teman di kelompok ini punya pacar baru dan tidak memilihnya. Ia lebih kesal lagi setelah tahu bahwa teman-temannya sedang makan malam dengan cowok yang ditaksirnya ini bersama sang kekasih, tanpa mengajak dia. Ia kemudian murka dan memaki-maki teman-temannya. Terjadi perang mulut lewat speaker telepon. Semua kata-kata mutiara dan kebun binatang keluar semua. Yang tak habis pikir, si gadis gemuk yang menurut saya seperti kuda nil ini kemudian berteriak memanggil ayah dan ibunya untuk membantu. Dan si orang tua tolol yang tidak tahu sebab musababnya langsung mendamprat siapa pun juga yang didapatkannya. Mula-mula si ibu mendamprat teman saya yang cantik sampai ia ternangis-nangis. Karena tidak puas, ia menelpon si cowok idaman anaknya.
Saya merasa ini sudah kelewatan, saya langsung punya ide iseng untuk mengerjai ibu gila itu. Saya langsung menjawab panggilan teleponnya dan menuruti alur makian ibu itu dengan makian-makian yang tak kalah anehnya - yang kalau didengar ulang pasti membuat Anda geleng-geleng dan tertawa terbahak - dengan nada marah tapi kalau lihat aslinya, sambil cengar cengir. Kesal karena jawaban saya sama gilanya, telepon itu disambar lagi oleh anaknya yang menangis histeris keras sambil teriak-teriak. Saya bilang, teriakannya kurang kencang dan terdengar sumbang. Bagaimana kalau teriakannya itu ditambahi nada dangdut supaya lebih ngetril? Saya yakin dia shock berat mendengar pujaan hatinya yang selama ini sangat santun, menjadi naga neraka bersembur api yang tak pernah dibayangkan sama sekali. Lalu, ibunya menyambar kembali dan melanjutkan teriakan-teriakan anaknya, mungkin karena pita suara anaknya sudah robek karena meraung-raung sejadi-jadinya. Bisa jadi akhirnya mabok karena marah-marahnya bertaut dengan marah-marah tak jelas, telepon dimatikan. Mungkin juga karena sadar, pulsa teleponnya sudah tersedot percuma atau memang pulsanya habis. Dalam hati saya geli, karena kalau ia sadar, bukan cuma pulsanya yang tersedot, tapi semua energinya terbuang percuma karena tak sadar bahwa yang dihadapinya bukan sasaran amarah tapi orang iseng.
Saya tidak punya urusan dengan gadis dan orang tua yang gila itu. Tapi saya pikir, orang-orang seperti itu perlu diberi terapi kejut dan sesekali dihajar juga. Lalu, sambil menyetir pulang, saya lalu mereview rentetan kejadian unik hari ini. Di awal hari, saya diingatkan untuk mengontrol emosi dan saya juga menangkap esensi membiarkan orang yang menyebalkan berantem dengan orang lain. Dan malam ini saya langsung diberikan test case nya. Kalau teori di atas diterapkan dengan kejadian malam, maka si kuda nil berhasil membangkitkan amarah ibunya lewat cerita-cerita mengarang bebas untuk mendamprat teman-teman yang dianggap mengkhianatinya. Dan saya jadi alat untuk teman-teman saya mendamprat mereka. Lama-lama, kok ya seperti wayang ya? Kenapa kita tidak bisa mendamprat langsung saja? Setelah saya pikir lagi, saya lalu menghapus kalimat yang baru saja dibuat. Ah, ini kan karena saya sedang muncul jahil dan super isengnya saja.
Pada intinya inspirasi yang saya dapat hari ini adalah, kendalikan emosi kita. Karena hal yang membuat kita kesal akan mendapat ganjarannya sendiri secara alami. Jadi tak perlu kita yang buang tenaga melakukannya. Lebih baik energi kita dibakar dalam bentuk lain yang bersifat positif dan membangun. Saya lalu ingat osteoblas dan osteoklas. Unsur tulang yang membangun dan menghancurkan tulang tubuh kita dalam pengetahuan osteoporosis. Kalau osteoblas kita melambat sedang osteoklasnya aktif, lama-lama tulang yang telah terbangun tergerogoti dan akhirnya rapuh, lalu patah menjadi osteoporis. Jadi penting untuk menjaga keaktifan osteoblas. Begitu juga dengan emosi kita. Ada emosi positif dan negatif. Saya harus memupuk dan mengaktifkan emosi positif saya, karena kalau tidak emosi negatif akan merajai dan membuat keropos jiwa kita. Tiba-tiba saya berhenti. Jangan-jangan si kuda nil dan orang tuanya itu bukan cuma keropos, tapi sudah tak punya jiwa karena semua sudah dilahap habis oleh emosi negatifnya. Hiiiii! Apakah tadi saya ngomong sama setan ya?
Friday, April 16, 2010
16 April 2010 : Selongsongan
Hampir setiap pagi saya mengobrol secara virtual dengan seorang teman sekolah saya. Topiknya macam-macam, terkadang membahas juga isi blog saya. Seperti pagi ini. Dari membahas topik kemarin, tiba-tiba ia menceritakan soal temannya yang selalu berkata bahwa hubungan dengan isterinya baik-baik saja, tidak ada masalah, tapi selingkuhannya banyak - bahkan isteri orang juga disatroninya. Lalu teman saya bertanya, kalau seperti itu bagaimana ya? Saya menjawabnya sambil bercanda : ya tentu saja baik, selama isterinya tidak tahu. Dia menimpali sambil tertawa : iya... atau pura pura tidak tahu hahaha... dan saya menukas : soalnya isterinya ternyata juga banyak selingkuhannya ya! Hahahaha
Lalu pembicaraan jadi lebih serius. Dia bilang kalau begitu berarti relationshipnya sudah nggak ada ya? Saya menjawab mungkin yang ada cuma selongsongannya saja. Teman saya lalu mengambil kesimpulan, jadi kalau seperti itu apa saatnya berpisah saja? Sudah tidak ada isinya tinggal selongsongan saja, buat apa?
Saya menjawab, justru di situ poin nya. Orang kan nyaman dengan kemapanan, kebiasaan, kenyamanan, status atas apa yang dimilikinya : rumah, anak, bisnis, segala selongsongan yang enggan dilepas. Karena nyaman, ya dia tak akan melepaskannya. Tapi dasar manusia serakah, masih ingin lebih. Jadilah ia nekad dan berpetualang. Ingin dapat nyaman dan nikmat. Mungkin tadinya yang nyaman itu nikmat, tapi seperti kata seorang rekan, "Biar doyan, kalau makan sup setiap hari ya bosan juga... sekali-sekali boleh lah makan sayur asem." Masalahnya kalau akhirnya lebih sering jajan di luar daripada makan di rumah. Rumah akhirnya ya jadi selongsongan dan status saja. Status untuk menjawab pertanyaan, tinggalnya di mana? ooo di... (alamat yang ada di ktp). Kalau mau mengenalkan pasangan? Bawa isteri resmi. Padahal secara kenyataannya ia gelandangan ber-rumah. Punya rumah tapi tidurnya menginap kanan kiri di hotel, motel atau tempat selingkuhannya. Dan ia malas membawa selingkuhannya karena tampangnya tidak secanggih isterinya, tapi goyangannya maut sekali. Jadi, selongsongan diperlukan, karena pada dasarnya manusia itu ogah rugi, mau memiliki semuanya...
Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri : Pertama : saya punya rumah dengan fasilitas lengkap mulai dari pembantu yang setia dan canggih memasak, ruang relaksasi lengkap dengan berbagai sarana pijat, home theater di setiap ruangan, kamar mandi dengan berbagai fasilitas mulai rain shower hingga bath tub yang membuat saya terlelap di sana, sampai kamar tidur yang membuat istirahat sempurna dan kebun belakang dengan kolam koi serta meja kursi untuk makan malam romantis ada semua. Juga lingkungan sekitar yang indah dan asri. Pertanyaannya adalah apakah rumah saya ini selongsongan atau rumah tempat tinggal saya ya? alias a House or a Home?
Saya berkesimpulan rumah saya is a home. Home yang sebenarnya kurang banyak dimanfaatkan, karena kenyataannya dalam 24 jam, saya lebih banyak di luar rumah. Selepas kerja dan di jalan, saya lebih sering makan di restaurant atau di mall, saya lebih sering memanfaatkan jasa spa ketimbang pijat di kursi yang nyaman di rumah. Kecuali soal tidur, nothing beats my bedroom! Membayangkan hal ini, saya jadi ingin terbang pulang sekarang, menikmati kenyamanan rumah!
Lalu soal pasangan : Biar tidak lagi melirik kanan kiri, lapar mata minta sup dan sayur lodeh, harus cari pasangan yang seperti apa ya? Yang pertama, buat saya pasangan itu yang harus bisa diperkenalkan dengan bangga dengan semua orang : "Perkenalkan, ini pasangan saya." Kalau saya malah ingin menyembunyikan dia, berarti saya bukan cinta, tapi cuma suka satu bagian saja dari dia. Lalu, pasangan saya harus seseorang yang bisa diajak serius, tapi juga bisa diajak fun. Yang selalu punya fresh idea about something, sesekali senang juga kalau dia bisa memberikan pleasant surprises. Pleasant, bukan kejutan gila!
Yang jelas hari ini saya jadi punya ide menyebut suatu hubungan yang cuma tinggal "kulit"nya sebagai "selongsongan". Membayangkan selongsongan saja sudah malas dan tidak menarik. Tidak punya jiwa. Karena itu, saya tidak mau punya "selongsongan". Saya mau punya "Rumah". "Home". Karena di dalam sebuah "home" bukan hanya ada kenyamanan dan kenikmatan, namun yang terpenting ada jiwa (soul), ada kehangatan, ada cinta, dan ada kedamaian ...
Lalu pembicaraan jadi lebih serius. Dia bilang kalau begitu berarti relationshipnya sudah nggak ada ya? Saya menjawab mungkin yang ada cuma selongsongannya saja. Teman saya lalu mengambil kesimpulan, jadi kalau seperti itu apa saatnya berpisah saja? Sudah tidak ada isinya tinggal selongsongan saja, buat apa?
Saya menjawab, justru di situ poin nya. Orang kan nyaman dengan kemapanan, kebiasaan, kenyamanan, status atas apa yang dimilikinya : rumah, anak, bisnis, segala selongsongan yang enggan dilepas. Karena nyaman, ya dia tak akan melepaskannya. Tapi dasar manusia serakah, masih ingin lebih. Jadilah ia nekad dan berpetualang. Ingin dapat nyaman dan nikmat. Mungkin tadinya yang nyaman itu nikmat, tapi seperti kata seorang rekan, "Biar doyan, kalau makan sup setiap hari ya bosan juga... sekali-sekali boleh lah makan sayur asem." Masalahnya kalau akhirnya lebih sering jajan di luar daripada makan di rumah. Rumah akhirnya ya jadi selongsongan dan status saja. Status untuk menjawab pertanyaan, tinggalnya di mana? ooo di... (alamat yang ada di ktp). Kalau mau mengenalkan pasangan? Bawa isteri resmi. Padahal secara kenyataannya ia gelandangan ber-rumah. Punya rumah tapi tidurnya menginap kanan kiri di hotel, motel atau tempat selingkuhannya. Dan ia malas membawa selingkuhannya karena tampangnya tidak secanggih isterinya, tapi goyangannya maut sekali. Jadi, selongsongan diperlukan, karena pada dasarnya manusia itu ogah rugi, mau memiliki semuanya...
Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri : Pertama : saya punya rumah dengan fasilitas lengkap mulai dari pembantu yang setia dan canggih memasak, ruang relaksasi lengkap dengan berbagai sarana pijat, home theater di setiap ruangan, kamar mandi dengan berbagai fasilitas mulai rain shower hingga bath tub yang membuat saya terlelap di sana, sampai kamar tidur yang membuat istirahat sempurna dan kebun belakang dengan kolam koi serta meja kursi untuk makan malam romantis ada semua. Juga lingkungan sekitar yang indah dan asri. Pertanyaannya adalah apakah rumah saya ini selongsongan atau rumah tempat tinggal saya ya? alias a House or a Home?
Saya berkesimpulan rumah saya is a home. Home yang sebenarnya kurang banyak dimanfaatkan, karena kenyataannya dalam 24 jam, saya lebih banyak di luar rumah. Selepas kerja dan di jalan, saya lebih sering makan di restaurant atau di mall, saya lebih sering memanfaatkan jasa spa ketimbang pijat di kursi yang nyaman di rumah. Kecuali soal tidur, nothing beats my bedroom! Membayangkan hal ini, saya jadi ingin terbang pulang sekarang, menikmati kenyamanan rumah!
Lalu soal pasangan : Biar tidak lagi melirik kanan kiri, lapar mata minta sup dan sayur lodeh, harus cari pasangan yang seperti apa ya? Yang pertama, buat saya pasangan itu yang harus bisa diperkenalkan dengan bangga dengan semua orang : "Perkenalkan, ini pasangan saya." Kalau saya malah ingin menyembunyikan dia, berarti saya bukan cinta, tapi cuma suka satu bagian saja dari dia. Lalu, pasangan saya harus seseorang yang bisa diajak serius, tapi juga bisa diajak fun. Yang selalu punya fresh idea about something, sesekali senang juga kalau dia bisa memberikan pleasant surprises. Pleasant, bukan kejutan gila!
Yang jelas hari ini saya jadi punya ide menyebut suatu hubungan yang cuma tinggal "kulit"nya sebagai "selongsongan". Membayangkan selongsongan saja sudah malas dan tidak menarik. Tidak punya jiwa. Karena itu, saya tidak mau punya "selongsongan". Saya mau punya "Rumah". "Home". Karena di dalam sebuah "home" bukan hanya ada kenyamanan dan kenikmatan, namun yang terpenting ada jiwa (soul), ada kehangatan, ada cinta, dan ada kedamaian ...
Labels:
'lawrence tjandra',
selongsongan
Thursday, April 15, 2010
15 April 2010 : Menghadapi Reaksi
Sama dengan Raul, pasangan selingkuh Krisdayanti, sejak beberapa hari yang lalu teman saya mulai membuat sebuah pengakuan kepada teman-temannya. Bedanya ia tidak berselingkuh dan tidak membuat konferensi pers. Ia hanya ingin membawa kabar bahagia bahwa setelah sekian lama sendiri, kini ia sudah bertemu dengan pujaan hatinya. Selama ini meskipun sendiri, ada saja yang datang dalam hidupnya dan ia pun mmm apa istilahnya ya ... : keep options open. Ia tidak mengiyakan namun tidak juga menolak. Bukan maksudnya menjadi playboy, namun ia hanya ingin benar-benar mengenal dan mentest perasaannya terhadap si calon, apakah ia sungguh-sungguh cinta atau tidak. Maka ketika kini ia bertemu dengan orang yang cocok di hati dan sudah mantap dengan pilihannya, ia merasa perlu memberi tahu yang lain agar tahu posisi yang sebenarnya dan dengan demikian ia pun menarik diri dari kancah perburuan untuk hidup damai dengan pasangan barunya.
Reaksi yang didapatnya, sungguh beragam. Yang paling indah adalah mendapat selamat dan restu, dan temannya ikut berbahagia. Namun ada yang langsung menghapus kontak di facebook dan di bbm. Hari ini ia mendapat reaksi singkat memberi selamat kemudian pamit, sign out. Teman saya lalu berpikir reaksi apa lagi yang akan didapatnya, padahal ia belum memberitahu banyak orang lagi, termasuk sahabat-sahabat dekatnya. Ia lalu menanyakan kepada saya, "Memang kalau orang yang dapat pacar itu terus kehilangan teman-temannya juga ya?"
Ditanya seperti ini, saya lalu menganalisa, bisa jadi, karena memang "teman-teman"nya yang kemudian memupus hilang itu sebenarnya bukan "teman" tapi lebih ke mereka yang masuk daftar "candidate" alias "calon". Kalau sudah begini, agak sulit untuk bisa mempertahankan silaturahmi karena sudah pasti yang tereliminasi akan merasa kecewa, kecuali mereka berjiwa besar dan bisa menerima esensi persaingan dan kenyataan hidup. Bisa jadi mereka justru sakit hati merasa dipermainkan, padahal sesungguhnya tidak begitu adanya. Sama-sama menjajagi kemungkinan. Maksudnya mungkin iya bisa terus atau mungkin tidak bisa terus juga.Selama belum ada komitmen apa pun, tak ada yang bisa disalahkan. Terkadang salah kita sendiri yang berkhayal terlalu jauh. Kita ini sering lupa : bukan berarti sebuah kencan dan mengobrol panjang membuat kita jadi pacaran kan? Itu merupakan sebuah proses perkenalan dan penjajagan. Setelah itu, masih ada tahapan membahas bersama dan saling berjanji untuk mengubah status dari sendiri menjadi berpasangan. Kita sering lupa bahwa tahap ini harus dilewati sehingga kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atau terlalu banyak berharap.
Jadi bagaimana harus menghadapi berbagai reaksi ini? Saya akhirnya berkesimpulan ya sudah, biasa-biasa saja. Kalau pun ada yang reaksinya negatif dan mengundurkan diri, ya sudah. Berarti mereka bukan your true friends. Bagi mereka yang ikut bahagia dan mendoakan, ya bersyukurlah, mereka lah your true friends.
Dari pengalaman saya sendiri, saya juga kehilangan beberapa teman ketika berpacaran atau bahkan menikah dulu, namun tak sedikit juga yang masih menjadi sahabat melalui berbagai badai kehidupan. Merekalah sahabat sejati saya. Kita tentu tak bisa menyenangkan semua pihak. Ada yang tidak menyukai pasangan saya karena perhatian saya menjadi jauh berkurang karena lebih "fokus" memperhatikan si dia. Wajar saja. Yang jelas kita tidak boleh dan tidak bisa terpaku hanya pada reaksi negatif saja. Kita masih punya saudara dan teman-teman dekat yang bisa dikabari berita bahagia ini dan ikut mendukung serta bahagia bersama kita.
Hari ini saya belajar bahwa tak semua orang bisa ikut merasakan dan mendukung apa yang kita rasakan. Tentu kita harus mengevaluasi mengapa hal itu terjadi. Kalau keengganan itu muncul dari semua orang, boleh lah curiga apa ada yang tidak beres. Namun kalau itu muncul dari segelintir orang saja, rasanya kita bisa memastikan bahwa apa yang kita rasakan itu tidak salah. Dalam hal teman saya yang telah menemukan cinta sejatinya ini, dan membuatnya lebih bercahaya dari masa-masa sebelumnya, saya kemudian menyarankan untuk lebih memfokuskan diri pada kerabat dan teman yang sudah begitu banyak memberikan tanggapan positif dan mendukung pertalian ini. Semoga awal yang baru seumur jagung ini menjadi permulaan dari masa bahagia yang abadi....
Reaksi yang didapatnya, sungguh beragam. Yang paling indah adalah mendapat selamat dan restu, dan temannya ikut berbahagia. Namun ada yang langsung menghapus kontak di facebook dan di bbm. Hari ini ia mendapat reaksi singkat memberi selamat kemudian pamit, sign out. Teman saya lalu berpikir reaksi apa lagi yang akan didapatnya, padahal ia belum memberitahu banyak orang lagi, termasuk sahabat-sahabat dekatnya. Ia lalu menanyakan kepada saya, "Memang kalau orang yang dapat pacar itu terus kehilangan teman-temannya juga ya?"
Ditanya seperti ini, saya lalu menganalisa, bisa jadi, karena memang "teman-teman"nya yang kemudian memupus hilang itu sebenarnya bukan "teman" tapi lebih ke mereka yang masuk daftar "candidate" alias "calon". Kalau sudah begini, agak sulit untuk bisa mempertahankan silaturahmi karena sudah pasti yang tereliminasi akan merasa kecewa, kecuali mereka berjiwa besar dan bisa menerima esensi persaingan dan kenyataan hidup. Bisa jadi mereka justru sakit hati merasa dipermainkan, padahal sesungguhnya tidak begitu adanya. Sama-sama menjajagi kemungkinan. Maksudnya mungkin iya bisa terus atau mungkin tidak bisa terus juga.Selama belum ada komitmen apa pun, tak ada yang bisa disalahkan. Terkadang salah kita sendiri yang berkhayal terlalu jauh. Kita ini sering lupa : bukan berarti sebuah kencan dan mengobrol panjang membuat kita jadi pacaran kan? Itu merupakan sebuah proses perkenalan dan penjajagan. Setelah itu, masih ada tahapan membahas bersama dan saling berjanji untuk mengubah status dari sendiri menjadi berpasangan. Kita sering lupa bahwa tahap ini harus dilewati sehingga kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atau terlalu banyak berharap.
Jadi bagaimana harus menghadapi berbagai reaksi ini? Saya akhirnya berkesimpulan ya sudah, biasa-biasa saja. Kalau pun ada yang reaksinya negatif dan mengundurkan diri, ya sudah. Berarti mereka bukan your true friends. Bagi mereka yang ikut bahagia dan mendoakan, ya bersyukurlah, mereka lah your true friends.
Dari pengalaman saya sendiri, saya juga kehilangan beberapa teman ketika berpacaran atau bahkan menikah dulu, namun tak sedikit juga yang masih menjadi sahabat melalui berbagai badai kehidupan. Merekalah sahabat sejati saya. Kita tentu tak bisa menyenangkan semua pihak. Ada yang tidak menyukai pasangan saya karena perhatian saya menjadi jauh berkurang karena lebih "fokus" memperhatikan si dia. Wajar saja. Yang jelas kita tidak boleh dan tidak bisa terpaku hanya pada reaksi negatif saja. Kita masih punya saudara dan teman-teman dekat yang bisa dikabari berita bahagia ini dan ikut mendukung serta bahagia bersama kita.
Hari ini saya belajar bahwa tak semua orang bisa ikut merasakan dan mendukung apa yang kita rasakan. Tentu kita harus mengevaluasi mengapa hal itu terjadi. Kalau keengganan itu muncul dari semua orang, boleh lah curiga apa ada yang tidak beres. Namun kalau itu muncul dari segelintir orang saja, rasanya kita bisa memastikan bahwa apa yang kita rasakan itu tidak salah. Dalam hal teman saya yang telah menemukan cinta sejatinya ini, dan membuatnya lebih bercahaya dari masa-masa sebelumnya, saya kemudian menyarankan untuk lebih memfokuskan diri pada kerabat dan teman yang sudah begitu banyak memberikan tanggapan positif dan mendukung pertalian ini. Semoga awal yang baru seumur jagung ini menjadi permulaan dari masa bahagia yang abadi....
Wednesday, April 14, 2010
14 April 2010 : Duda Intern
Kisruh asmara Krisdayanti dan Raul yang melibatkan isteri Raul, Tata dan kakak Krisdayanti, Yuni Shara bertambah ruwet saja. Kemarin Raul muncul di hadapan wartawan dan mengatakan secara intern dia adalah duda. Hari ini isterinya memberi komentar yang sangat masuk akal, "Mana ada istilah duda intern?" Ya, saya juga bingung dengan istilah baru itu. Saya belum pernah mendengar istilah duda intern.
Kalau dilihat dari bahasa komunikasi, secara implisit Raul berkata bahwa ia belum cerai secara hukum, alias masih terikat tali pernikahan dengan isterinya Tata. Terlepas apakah mereka sudah tidak ada kecocokan dan tidak lagi serumah, tapi ia masih suami Tata. Bagi pemirsa seperti saya, saya mendapat kesan bahwa Raul mencoba membenarkan apa yang dilakukannya dan bermain aman dengan kata-kata yang dipilih dan diulangnya berkali-kali. Sekilas terdengar nyata bahwa ia adalah duda, namun bila kita cermat kita tahu ia belum berstatus duda. Saya tidak yakin ia berhasil membohongi pemirsa dengan baik karena ketika kami membicarakannya di kantor, semua rekan saya setuju mengartikan istilah duda intern itu sebagai belum bercerai. Yang saya "heran" adalah mereka yang "percaya" bahwa dia ini sudah duda. Menurut saya, ini lagi-lagi pembenaran naif terhadap sebuah kenyataan yang sebaliknya. Membenarkan sebuah perilaku yang di mata masyarakat tidak dapat diterima dan bisa membuat reputasi seseorang menjadi jatuh berkeping.
Saya berpikir, manusia tentu tak lepas dari khilaf dan salah. Namun kalau saya diposis Raul, apa yang akan saya lakukan? Situasinya adalah teman selingkuh saya sudah mengatakan penyesalan dan rasa bersalahnya, dan kakak teman selingkuh saya dituntut karena mengutip pernyataan "bohong" saya di depan keluarganya. Saya kemudian menjadi kunci penentu. Yang dilakukan Raul adalah membela teman dan keluarga selingkuhannya, namun membela dengan cara yang salah dan tak mau disalahkan.
Mungkin niatnya adalah mengutarakan kejujuran dengan bermain di rana abu-abu sebuah kejujuran. Namun ia lupa, bahwa penghakiman orang itu tidak pernah di rana abu-abu. Orang akan menilai apakah ia bersalah, atau benar. Istilah intern justru menjebaknya ke arah bersalah. Meskipun dari aksi dan reaksi semua yang terlibat dalam perseteruan itu orang mengambil kesimpulan bahwa memang sudah tidak ada kecocokan antara mereka berdua, orang tetap mengambil kesimpulan bahwa Raul adalah seorang pengecut. Dia bukan seorang yang gentleman. Dan kesimpulan itu tergambar dari ungkapan yang dilontarkannya sendiri : duda intern. Dalam tatanan masyarakat, tidak ada istilah duda intern. Seseorang bisa dikatakan duda bila secara hukum ia sudah dinyatakan sah bercerai dari isterinya, atau ditinggal mati oleh isterinya. Dengan kata lain, ia terjerumus oleh permainan kata nya sendiri.
Balik lagi kepada pertanyaan tadi, kalau saya jadi Raul, saya mungkin akan mengakui bahwa kehidupan keluarga saya sudah berakhir, meskipun belum berstatus resmi bercerai. Bahwa di tengah ketidakcocokan itu takdir membawa saya bertemu dengan seseorang yang dapat mengisi hati dan menjadi pasangan yang sejati bagi saya. Dan bahwa orang yang baru ini sama sekali bukan penghancur rumah tangga saya karena ia datangnya setelah semuanya hancur. Dan saya akan melaksanakan proses perceraian sama seperti rencana sebelum bertemu belahan hati yang baru. Menurut saya, orang akan memperoleh kesan yang berbeda. Di sini saya belajar, bahwa yang namanya kejujuran itu tidak ada area abu-abu. Selama nuansanya masih abu-abu, aroma ketidakjujuran tercium kuat di sana.
Hari ini saya belajar untuk tidak bermain-main dengan kejujuran. Saya belajar untuk mengatakan kejujuran secara hitam putih, alias apa adanya. Karena dari kejujuran itu terpancar ketulusan hati kita, dan ketulusan melahirkan pengertian dan simpati... Bagaimana dengan Anda? Kalau Anda menjadi Raul, apa yang akan Anda lakukan dan katakan?
Kalau dilihat dari bahasa komunikasi, secara implisit Raul berkata bahwa ia belum cerai secara hukum, alias masih terikat tali pernikahan dengan isterinya Tata. Terlepas apakah mereka sudah tidak ada kecocokan dan tidak lagi serumah, tapi ia masih suami Tata. Bagi pemirsa seperti saya, saya mendapat kesan bahwa Raul mencoba membenarkan apa yang dilakukannya dan bermain aman dengan kata-kata yang dipilih dan diulangnya berkali-kali. Sekilas terdengar nyata bahwa ia adalah duda, namun bila kita cermat kita tahu ia belum berstatus duda. Saya tidak yakin ia berhasil membohongi pemirsa dengan baik karena ketika kami membicarakannya di kantor, semua rekan saya setuju mengartikan istilah duda intern itu sebagai belum bercerai. Yang saya "heran" adalah mereka yang "percaya" bahwa dia ini sudah duda. Menurut saya, ini lagi-lagi pembenaran naif terhadap sebuah kenyataan yang sebaliknya. Membenarkan sebuah perilaku yang di mata masyarakat tidak dapat diterima dan bisa membuat reputasi seseorang menjadi jatuh berkeping.
Saya berpikir, manusia tentu tak lepas dari khilaf dan salah. Namun kalau saya diposis Raul, apa yang akan saya lakukan? Situasinya adalah teman selingkuh saya sudah mengatakan penyesalan dan rasa bersalahnya, dan kakak teman selingkuh saya dituntut karena mengutip pernyataan "bohong" saya di depan keluarganya. Saya kemudian menjadi kunci penentu. Yang dilakukan Raul adalah membela teman dan keluarga selingkuhannya, namun membela dengan cara yang salah dan tak mau disalahkan.
Mungkin niatnya adalah mengutarakan kejujuran dengan bermain di rana abu-abu sebuah kejujuran. Namun ia lupa, bahwa penghakiman orang itu tidak pernah di rana abu-abu. Orang akan menilai apakah ia bersalah, atau benar. Istilah intern justru menjebaknya ke arah bersalah. Meskipun dari aksi dan reaksi semua yang terlibat dalam perseteruan itu orang mengambil kesimpulan bahwa memang sudah tidak ada kecocokan antara mereka berdua, orang tetap mengambil kesimpulan bahwa Raul adalah seorang pengecut. Dia bukan seorang yang gentleman. Dan kesimpulan itu tergambar dari ungkapan yang dilontarkannya sendiri : duda intern. Dalam tatanan masyarakat, tidak ada istilah duda intern. Seseorang bisa dikatakan duda bila secara hukum ia sudah dinyatakan sah bercerai dari isterinya, atau ditinggal mati oleh isterinya. Dengan kata lain, ia terjerumus oleh permainan kata nya sendiri.
Balik lagi kepada pertanyaan tadi, kalau saya jadi Raul, saya mungkin akan mengakui bahwa kehidupan keluarga saya sudah berakhir, meskipun belum berstatus resmi bercerai. Bahwa di tengah ketidakcocokan itu takdir membawa saya bertemu dengan seseorang yang dapat mengisi hati dan menjadi pasangan yang sejati bagi saya. Dan bahwa orang yang baru ini sama sekali bukan penghancur rumah tangga saya karena ia datangnya setelah semuanya hancur. Dan saya akan melaksanakan proses perceraian sama seperti rencana sebelum bertemu belahan hati yang baru. Menurut saya, orang akan memperoleh kesan yang berbeda. Di sini saya belajar, bahwa yang namanya kejujuran itu tidak ada area abu-abu. Selama nuansanya masih abu-abu, aroma ketidakjujuran tercium kuat di sana.
Hari ini saya belajar untuk tidak bermain-main dengan kejujuran. Saya belajar untuk mengatakan kejujuran secara hitam putih, alias apa adanya. Karena dari kejujuran itu terpancar ketulusan hati kita, dan ketulusan melahirkan pengertian dan simpati... Bagaimana dengan Anda? Kalau Anda menjadi Raul, apa yang akan Anda lakukan dan katakan?
Labels:
'lawrence tjandra',
kejujuran
Tuesday, April 13, 2010
13 April 2010 : Buah Sepele dan Gengsi
Saya baru pulang mengobrol dengan salah satu ahli jantung terbaik di negeri ini. Kami bercerita ngalor ngidul dengan santainya. Sang dokter bercerita malam tadi ada seorang dokter jantung yang masih berusia 44 tahun meninggal dunia karena serangan jantung dan terlambat penanganannya. Awalnya ia merasa tidak enak dan mengobati sendiri penyakitnya. Saat semakin nyeri dan tak tertangani, ia masih mencoba mengatasi sendiri. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading padahal rumahnya ada di Kota Wisata, padahal ada sebuah rumah sakit jantung yang sangat handal yang lebih dekat.
Konon ia perokok berat, sebuah pantangan yang selalu dianjurkan seorang dokter, apa lagi dokter jantung. Ia juga bermasalah dengan rekan-rekan sejawatnya sampai pernah di bawa ke dewan kedokteran untuk mendamaikan konfliknya. Mungkin juga karena itu, ia kemudian enggan memilih rumah sakit yang lebih dekat, padahal salah satu kunci keberhasilan penanganan penyakit jantung adalah kecepatan penanganan di rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai. Sesampainya di Kelapa Gading kondisinya sudah sedemikan buruknya sehingga tak tertolong. Ia memilih gengsi dari nyawanya.
Meskipun takdir, buat saya ini sebuah kematian yang konyol dan tak bertanggung jawab. Pertama, soal tanggung jawab : sebagai seorang dokter ia seharusnya tidak merokok. Bagaimana ia bisa mempertahankan harkat profesinya kalau ia tidak memberi contoh dari dirinya sendiri? Ke dua soal menyepelekan : Ia bermain-main dengan hidupnya saat ia mencoba mengecilkan penyakitnya dengan menjadi dokter bagi dirinya sendiri. Kita ini sering merasa begitu hebat dan pintarnya sehingga menyepelekan hal penting dan kritis. Ke tiga soal gengsi : ini adalah sebuah bukti, gengsi tidak membawa hasil apa-apa bahkan mengantarkannya pada kematian. Seandainya ia melepas gengsi, mungkin saat ini ia masih bernapas. Ke empat soal make friends not foe : Seorang petinggi negara ini pernah memberi wejangan kepada pejabat yang ditunjuknya untuk membuat zero enemy. Saat menonton drama Sie Jien Kui, ia merangkul musuh-musuhnya dan membangun kekuatan bersama yang tak terkalahkan. Kalau saja ia tidak membuat musuh kanan kiri, mungkin ia sudah terselamatkan. Sebetulnya ia bisa terselamatkan, namun karena kelakuannya sendiri ia mungkin segan dan takut untuk meminta bantuan orang yang sudah pernah diinjaknya.
Maka hari ini saya belajar tentang:
1. Tanggung Jawab. Saya harus bertanggung jawab atas apa pun yang saya lakukan dalam hidup ini. Apa yang terucap harus sama dengan apa yang terungkap dalam tindakan.
2. Jangan pernah menyepelekan hal apa pun. Menyepelekan adalah awal kesombongan dan kesombongan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kegagalan dan kehancuran.
3. Buang gengsi jauh-jauh. Gengsi juga tidak membawa hasil apa pun, malah berakhir pada kehancuran.
4. arti persahabatan. Bertemanlah sebanyak mungkin, bahkan dengan lawan dan musuh.
Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Konon ia perokok berat, sebuah pantangan yang selalu dianjurkan seorang dokter, apa lagi dokter jantung. Ia juga bermasalah dengan rekan-rekan sejawatnya sampai pernah di bawa ke dewan kedokteran untuk mendamaikan konfliknya. Mungkin juga karena itu, ia kemudian enggan memilih rumah sakit yang lebih dekat, padahal salah satu kunci keberhasilan penanganan penyakit jantung adalah kecepatan penanganan di rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai. Sesampainya di Kelapa Gading kondisinya sudah sedemikan buruknya sehingga tak tertolong. Ia memilih gengsi dari nyawanya.
Meskipun takdir, buat saya ini sebuah kematian yang konyol dan tak bertanggung jawab. Pertama, soal tanggung jawab : sebagai seorang dokter ia seharusnya tidak merokok. Bagaimana ia bisa mempertahankan harkat profesinya kalau ia tidak memberi contoh dari dirinya sendiri? Ke dua soal menyepelekan : Ia bermain-main dengan hidupnya saat ia mencoba mengecilkan penyakitnya dengan menjadi dokter bagi dirinya sendiri. Kita ini sering merasa begitu hebat dan pintarnya sehingga menyepelekan hal penting dan kritis. Ke tiga soal gengsi : ini adalah sebuah bukti, gengsi tidak membawa hasil apa-apa bahkan mengantarkannya pada kematian. Seandainya ia melepas gengsi, mungkin saat ini ia masih bernapas. Ke empat soal make friends not foe : Seorang petinggi negara ini pernah memberi wejangan kepada pejabat yang ditunjuknya untuk membuat zero enemy. Saat menonton drama Sie Jien Kui, ia merangkul musuh-musuhnya dan membangun kekuatan bersama yang tak terkalahkan. Kalau saja ia tidak membuat musuh kanan kiri, mungkin ia sudah terselamatkan. Sebetulnya ia bisa terselamatkan, namun karena kelakuannya sendiri ia mungkin segan dan takut untuk meminta bantuan orang yang sudah pernah diinjaknya.
Maka hari ini saya belajar tentang:
1. Tanggung Jawab. Saya harus bertanggung jawab atas apa pun yang saya lakukan dalam hidup ini. Apa yang terucap harus sama dengan apa yang terungkap dalam tindakan.
2. Jangan pernah menyepelekan hal apa pun. Menyepelekan adalah awal kesombongan dan kesombongan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kegagalan dan kehancuran.
3. Buang gengsi jauh-jauh. Gengsi juga tidak membawa hasil apa pun, malah berakhir pada kehancuran.
4. arti persahabatan. Bertemanlah sebanyak mungkin, bahkan dengan lawan dan musuh.
Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Monday, April 12, 2010
12 April 2010 : Asal Kesal
Hari ini di luar jadwal, saya menunggu teman selama dua jam dengan minim berita. Dari yang sabar, saya kemudian menjadi resah dan kesal karena tidak dapat update. Apa yang terjadi? Kalau dia tidak dapat bertemu sebaiknya dia mengabari saya. Tapi saya memegang teguh janji untuk menantinya. Dari janji makan bersama, akhirnya saya mengemil sendirian, dan saya sudah menjelajah seluruh mall lebih dari dua kali. Akhirnya ia berkabar sambil minta maaf dan mengatakan ia segera tiba. Tapi lebih dari satu jam, ia tak kunjung datang. Karena sudah kenyang, otak saya jadi lebih beres, dan berpikir lebih tenang. Saya jadi kasihan padanya yang belum makan, dan mengatakan don't rush, take your time.
Ketika bertemu, saya tertegun. Di matanya menembang air mata. Ia bercerita telah mengalami pelecehan seksual di luar batas dari atasannya. Ia sengaja ditahan tak boleh pulang dan dibebani kerja ekstra. Awalnya atasannya menyentuh pahanya, dan ia tepis. Ia mengingatkan bossnya bahwa ia sudah punya pacar, tapi bosnya malah bilang, alaaa... tidak ada yang tahu apa yang kita perbuat. Ketika sang atasan mencoba bertindak lebih lanjut melewati batas, ia secara refleks menggebuk sang pecundang dengan buku file di tangannya. Ia pun segera menyambar tas dan menuruni anak tangga kantor dari lantai atas. Sambil menangis, ia sempat keseleo dan terus berlari, menemui saya.
Saya kemudian meyakinkannya bahwa ia aman bersama saya, dan ia harus melakukan sesuatu atas tindakan yang keterlaluan itu. Saya berjanji membantunya. Sambil menenangkan dia, saya menarik napas. Untuk kejadian yang keterlaluan itu, dan untuk sikap saya yang juga keterlaluan. Memang benar, seyogyanya dalam etiket melakukan janji, bila kita terlambat kita selayaknya memberitahu orang yang berjanjian dengan kita. Namun kalau kejadiannya seperti di atas, dan kalau hal itu terjadi pada saya, pasti saya juga tidak akan sempat atau menyempatkan diri untuk mengabari orang lain.
Saya mengutuki diri sendiri yang terlalu mementingkan diri sendiri padahal teman saya sedang dalam bahaya. Maka, detik itu juga saya menyadari untuk segera berhenti berprasangka. Bila sebuah janji tak tertepati, saya tidak boleh buru-buru berkhayal terlalu jauh. Saya justru harus berempati padanya. Kalau pun tak terjadi apa-apa, dan ia hanya "terjebak" dalam pekerjaannya, paling tidak ia belum sempat makan. Saya yakin tak seorang pun suka terjebak dalam pekerjaan.
Malam ini, saya berjanji untuk tidak asal kesal dan berprasangka. Ketika janji meleset, saya justru akan memberikan simpati yang lebih kepada yang terlambat.
Semoga persoalan yang dialaminya cepat dapat diatasi. Saya akan mendukung, menjaga dan mendampinginya setiap saat. Dalam situasi seperti ini, tentu akan menenangkan dan nyaman bila tahu ada seseorang yang peduli dan ikut berjuang bersama...
Ketika bertemu, saya tertegun. Di matanya menembang air mata. Ia bercerita telah mengalami pelecehan seksual di luar batas dari atasannya. Ia sengaja ditahan tak boleh pulang dan dibebani kerja ekstra. Awalnya atasannya menyentuh pahanya, dan ia tepis. Ia mengingatkan bossnya bahwa ia sudah punya pacar, tapi bosnya malah bilang, alaaa... tidak ada yang tahu apa yang kita perbuat. Ketika sang atasan mencoba bertindak lebih lanjut melewati batas, ia secara refleks menggebuk sang pecundang dengan buku file di tangannya. Ia pun segera menyambar tas dan menuruni anak tangga kantor dari lantai atas. Sambil menangis, ia sempat keseleo dan terus berlari, menemui saya.
Saya kemudian meyakinkannya bahwa ia aman bersama saya, dan ia harus melakukan sesuatu atas tindakan yang keterlaluan itu. Saya berjanji membantunya. Sambil menenangkan dia, saya menarik napas. Untuk kejadian yang keterlaluan itu, dan untuk sikap saya yang juga keterlaluan. Memang benar, seyogyanya dalam etiket melakukan janji, bila kita terlambat kita selayaknya memberitahu orang yang berjanjian dengan kita. Namun kalau kejadiannya seperti di atas, dan kalau hal itu terjadi pada saya, pasti saya juga tidak akan sempat atau menyempatkan diri untuk mengabari orang lain.
Saya mengutuki diri sendiri yang terlalu mementingkan diri sendiri padahal teman saya sedang dalam bahaya. Maka, detik itu juga saya menyadari untuk segera berhenti berprasangka. Bila sebuah janji tak tertepati, saya tidak boleh buru-buru berkhayal terlalu jauh. Saya justru harus berempati padanya. Kalau pun tak terjadi apa-apa, dan ia hanya "terjebak" dalam pekerjaannya, paling tidak ia belum sempat makan. Saya yakin tak seorang pun suka terjebak dalam pekerjaan.
Malam ini, saya berjanji untuk tidak asal kesal dan berprasangka. Ketika janji meleset, saya justru akan memberikan simpati yang lebih kepada yang terlambat.
Semoga persoalan yang dialaminya cepat dapat diatasi. Saya akan mendukung, menjaga dan mendampinginya setiap saat. Dalam situasi seperti ini, tentu akan menenangkan dan nyaman bila tahu ada seseorang yang peduli dan ikut berjuang bersama...
Sunday, April 11, 2010
11 April 2010: Masih Banyak Waktu
Pagi ini ketika saya mengikuti acara Menteri Kesehatan dalam Puncak Acara Hari Kesehatan Sedunia ke 62, kami panitia mengundang beberapa selebriti untuk berbagi kisah dan pesan kesehatan. Saya yang ditugasi untuk mengumpulkan selebriti yang berpola hidup sehat dan peduli masalah kesehatan & lingkungan, dalam waktu singkat akhirnya dapat memperoleh dukungan dari Soraya Haque sebagai MC, Ade Rai, Adrian Maulana, Olga Lydia dan Elsa Nasution.
Dalam pesannya Adrian Maulana mengatakan kalau orang itu suka baru sadar dan mengejar kesehatannya setelah ia kena penyakit atau divonis hidupnya tinggal beberapa bulan. Baru ia sadar. Baru ia berusaha. Saat sekarang sedang sehat, kita sering takabur. Buat apa atur makanan, buat apa olah raga, masih ada esok. Tapi mengapa juga harus menunda? Mengapa kita tidak menjaga sekarang selagi sehat? Mengapa harus melakukannya setelah semuanya sudah telanjur?
Saya yang sedang menunggui tas Olga dan Elsa di bawah panggung, seperti disambar kata-kata Adrian. Selama ini sih saya setuju sekali dengan apa yang dikatakannya, hanya kali ini kok sambaran itu melantur ke hal lain dalam hidup saya? Saya jadi ingat ketika teman saya berkata tidak suka dengan kalimat "kita masih punya banyak waktu". Kekasihnya selalu bilang demikian, kenyataannya sekarang kekasihnya sudah berpulang dan banyak hal yang tak keturutan untuk dilakukan karena kalimat tersebut, sedang ia tak punya waktu lagi dengannya. Maka ketika tadi saya mengatakan kalimat "kan masih punya banyak waktu", saya ditegur. Dan saya kini bisa memahami bagaimana setiap detiknya waktu itu berharga.
Saya jadi ingat email lama yang bilang bahkan perbedaan sedetik bisa mengubah hidup. Saya kemudian menarik napas dalam dan menghitung berapa banyak waktu yang saya buang selama ini untuk berbagai hal yang kelihatan penting namun ternyata mengorbankan waktu yang seharusnya saya manfaatkan untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup saya. Saya lalu teringat kembali film Remember Me yang membuat Ayah Tyler sadar akan kekeliruannya lebih mementingkan rapat bisnis daripada menghadiri pameran karya lukis putri bungsunya. Ia baru tersadar saat sang puteri trauma akibat rambutnya dikerjai habis oleh teman-teman sekolahnya dan Tyler membela sang adik sampai murka pada sistem pendidikan di sekolah adiknya yang menyeretnya ke penjara. Maka sang ayah mulai menjemput puterinya untuk diantar ke sekolah bahkan bersabar menunggunya bersolek selama setengah jam lebih, meluangkan waktu bersama melihat pameran seni dan mengubah gadis kecil yang tak percaya diri menjadi remaja puteri yang penuh pancaran bahagia dan percaya diri.
Saya tidak lagi mau membuang waktu. Every second in this life counts. Malam ini saya sudah berjanji akan memberikan waktu terbaik saya pada orang yang saya cintai di atas segala kepentingan, selagi masih ada waktu - bahkan di atas segala hal lain yang saya anggap penting. Sudahkah Anda memberikan waktu untuk orang-orang yang Anda cintai? Saya sengaja tidak menambahkan kata "cukup", karena kini saya paham bahwa tidak pernah ada kata "cukup waktu" bagi orang-orang yang kita cintai...
Dalam pesannya Adrian Maulana mengatakan kalau orang itu suka baru sadar dan mengejar kesehatannya setelah ia kena penyakit atau divonis hidupnya tinggal beberapa bulan. Baru ia sadar. Baru ia berusaha. Saat sekarang sedang sehat, kita sering takabur. Buat apa atur makanan, buat apa olah raga, masih ada esok. Tapi mengapa juga harus menunda? Mengapa kita tidak menjaga sekarang selagi sehat? Mengapa harus melakukannya setelah semuanya sudah telanjur?
Saya yang sedang menunggui tas Olga dan Elsa di bawah panggung, seperti disambar kata-kata Adrian. Selama ini sih saya setuju sekali dengan apa yang dikatakannya, hanya kali ini kok sambaran itu melantur ke hal lain dalam hidup saya? Saya jadi ingat ketika teman saya berkata tidak suka dengan kalimat "kita masih punya banyak waktu". Kekasihnya selalu bilang demikian, kenyataannya sekarang kekasihnya sudah berpulang dan banyak hal yang tak keturutan untuk dilakukan karena kalimat tersebut, sedang ia tak punya waktu lagi dengannya. Maka ketika tadi saya mengatakan kalimat "kan masih punya banyak waktu", saya ditegur. Dan saya kini bisa memahami bagaimana setiap detiknya waktu itu berharga.
Saya jadi ingat email lama yang bilang bahkan perbedaan sedetik bisa mengubah hidup. Saya kemudian menarik napas dalam dan menghitung berapa banyak waktu yang saya buang selama ini untuk berbagai hal yang kelihatan penting namun ternyata mengorbankan waktu yang seharusnya saya manfaatkan untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup saya. Saya lalu teringat kembali film Remember Me yang membuat Ayah Tyler sadar akan kekeliruannya lebih mementingkan rapat bisnis daripada menghadiri pameran karya lukis putri bungsunya. Ia baru tersadar saat sang puteri trauma akibat rambutnya dikerjai habis oleh teman-teman sekolahnya dan Tyler membela sang adik sampai murka pada sistem pendidikan di sekolah adiknya yang menyeretnya ke penjara. Maka sang ayah mulai menjemput puterinya untuk diantar ke sekolah bahkan bersabar menunggunya bersolek selama setengah jam lebih, meluangkan waktu bersama melihat pameran seni dan mengubah gadis kecil yang tak percaya diri menjadi remaja puteri yang penuh pancaran bahagia dan percaya diri.
Saya tidak lagi mau membuang waktu. Every second in this life counts. Malam ini saya sudah berjanji akan memberikan waktu terbaik saya pada orang yang saya cintai di atas segala kepentingan, selagi masih ada waktu - bahkan di atas segala hal lain yang saya anggap penting. Sudahkah Anda memberikan waktu untuk orang-orang yang Anda cintai? Saya sengaja tidak menambahkan kata "cukup", karena kini saya paham bahwa tidak pernah ada kata "cukup waktu" bagi orang-orang yang kita cintai...
Labels:
'cukup waktu',
'lawrence tjandra'
10 April 2010 : Remember Me
Robert Pattison membintangi film Remember Me di tengah-tengah syuting film Twilight Saga yang melambungkan namanya. Film yang berujung di kejadian 11 September 2001 saat Gedung Kembar WTC runtuh diterjang pesawat teroris itu tak sedikitpun mengindikasikan bahwa film itu akan berakhir di sana. Sepanjang film diceritakan perjalanan hidup Tyler yang anak orang berada menjalani hidupnya sebagai pemberontak keluarga dan berjuang untuk menyadarkan dan membuka mata ayahnya yang selalu sibuk bekerja agar menghargai waktu kebersamaan dengan keluarganya, yang pada akhirnya membuahkan hasil manis ketika ia sendiri tak dapat merasakan kembali mesranya sebuah keluarga yang ia perjuangkan keutuhannya.
Judul film itu sendiri rasanya muncul ketika film itu berakhir dengan kematian Tyler dalam musibah 11 September. Sepanjang hari kemudian muncul di benak saya. Remember Me. Remember Me. Remember Me. Lalu angan saya mengembara : kalau saya mati nanti, saya mau dikenang sebagai apa ya? atau.... kalau saya mati nanti, orang akan mengenang saya sebagai apa ya...?
Terus terang hingga tulisan ini ditulis, saya masih bingung mau menjawab apa karena selama ini saya belum pernah benar-benar memikirkan dan memformulasikannya. Saya bahkan belum berani menulis di sini daftar calon jawaban saya karena setelah sempat saya ketik dan hapus lagi, saya merasa kok gambarannya muluk sekali sedang sampai saat ini saya belum berbuat apa-apa untuk menjadi orang yang ingin saya dikenang.
Saya lalu mengingat lagi jalan cerita film di atas. Tyler memang punya angan-angan agar ayahnya sadar arti kehadirannya bagi keluarga dan bukan sekedar melimpahinya dengan harta harta harta. Namun ia tak pernah sekali pun ingin dicatat dalam sejarah bahwa ia adalah pahlawan. Kalau Anda sempat menonton film ini, Anda mungkin punya mixed-feeling terhadap Tyler. Ia hidup di lingkungan jorok padahal keluarganya tinggal di lingkungan terhormat. Namun ia punya prinsip. Ketika lingkungannya penuh kebrengsekan, ia tetap teguh dengan prinsip-prinsipnya dan tetap menyadari untuk tidak melangkah melewati norma-norma yang dipegangnya.
Maka saya berpikir, mungkin memang penting punya visi bagaimana saya ingin dikenang dalam hidup ini karena hal itu akan menentukan arah dan prioritas hidup serta self-positioning dalam hidup kita, namun yang tak kalah pentingnya adalah apakah kita ini memiliki prinsip dan norma hidup untuk kita pegang teguh di tengah gelombang godaan yang luar biasa besarnya di sekitar kita. Saya lalu berpikir lagi, dari semua prinsip hidup yang kita punya, tentu ada yang menonjol yang akan dikenal orang. Apakah itu? Tukang komplen? Orang yang tahu arti persahabatan? Heart-breaker? Tukang Muarah-Muarah? Orang yang care?
Hari ini saya digoda untuk memikirkan saya mau dikenang sebagai apa ya kalau saya meninggal nanti? Nanti? Mungkin kejauhan. Lebih baik saya bertanya sekarang : apa yang di benak orang ketika nama saya disebut? Mungkin Anda bisa membantu untuk mengatakannya secara jujur pada saya, tanpa perlu takut saya sakit hati karena kejujuran Anda membuat saya mampu bercermin tentang siapa saya ini. Karena saat kita bercermin, kita jadi tahu kelebihan dan kelemahan wajah kita, lalu bisa kita koreksi sehingga menampilkan wajah terbaik kita. Kali ini tidak pakai deadline, karena cermin kan tidak ada kadaluwarsanya. Tapi, sambil membantu saya, Anda mungkin juga bisa mulai berpikir : "Apa yang ada di benak orang ketika nama saya (Anda) disebut?"
Judul film itu sendiri rasanya muncul ketika film itu berakhir dengan kematian Tyler dalam musibah 11 September. Sepanjang hari kemudian muncul di benak saya. Remember Me. Remember Me. Remember Me. Lalu angan saya mengembara : kalau saya mati nanti, saya mau dikenang sebagai apa ya? atau.... kalau saya mati nanti, orang akan mengenang saya sebagai apa ya...?
Terus terang hingga tulisan ini ditulis, saya masih bingung mau menjawab apa karena selama ini saya belum pernah benar-benar memikirkan dan memformulasikannya. Saya bahkan belum berani menulis di sini daftar calon jawaban saya karena setelah sempat saya ketik dan hapus lagi, saya merasa kok gambarannya muluk sekali sedang sampai saat ini saya belum berbuat apa-apa untuk menjadi orang yang ingin saya dikenang.
Saya lalu mengingat lagi jalan cerita film di atas. Tyler memang punya angan-angan agar ayahnya sadar arti kehadirannya bagi keluarga dan bukan sekedar melimpahinya dengan harta harta harta. Namun ia tak pernah sekali pun ingin dicatat dalam sejarah bahwa ia adalah pahlawan. Kalau Anda sempat menonton film ini, Anda mungkin punya mixed-feeling terhadap Tyler. Ia hidup di lingkungan jorok padahal keluarganya tinggal di lingkungan terhormat. Namun ia punya prinsip. Ketika lingkungannya penuh kebrengsekan, ia tetap teguh dengan prinsip-prinsipnya dan tetap menyadari untuk tidak melangkah melewati norma-norma yang dipegangnya.
Maka saya berpikir, mungkin memang penting punya visi bagaimana saya ingin dikenang dalam hidup ini karena hal itu akan menentukan arah dan prioritas hidup serta self-positioning dalam hidup kita, namun yang tak kalah pentingnya adalah apakah kita ini memiliki prinsip dan norma hidup untuk kita pegang teguh di tengah gelombang godaan yang luar biasa besarnya di sekitar kita. Saya lalu berpikir lagi, dari semua prinsip hidup yang kita punya, tentu ada yang menonjol yang akan dikenal orang. Apakah itu? Tukang komplen? Orang yang tahu arti persahabatan? Heart-breaker? Tukang Muarah-Muarah? Orang yang care?
Hari ini saya digoda untuk memikirkan saya mau dikenang sebagai apa ya kalau saya meninggal nanti? Nanti? Mungkin kejauhan. Lebih baik saya bertanya sekarang : apa yang di benak orang ketika nama saya disebut? Mungkin Anda bisa membantu untuk mengatakannya secara jujur pada saya, tanpa perlu takut saya sakit hati karena kejujuran Anda membuat saya mampu bercermin tentang siapa saya ini. Karena saat kita bercermin, kita jadi tahu kelebihan dan kelemahan wajah kita, lalu bisa kita koreksi sehingga menampilkan wajah terbaik kita. Kali ini tidak pakai deadline, karena cermin kan tidak ada kadaluwarsanya. Tapi, sambil membantu saya, Anda mungkin juga bisa mulai berpikir : "Apa yang ada di benak orang ketika nama saya (Anda) disebut?"
Saturday, April 10, 2010
9 April 2010 : Naik Kelas
Malam ini saya kembali duduk menjadi pendengar yang baik karena kehadiran saya dibutuhkan bukan untuk menjadi pembicara yang bawel. Teman saya bercerita tentang kisah hidupnya dan hubungan dengan keluarganya. Saya tidak bisa berkata-kata karena sesungguhnya saya tidak tahu juga harus berkata apa, karena tak ada kata nasihat yang tepat. Semuanya berjalan seperti mestinya, ia hanya butuh seseorang menumpahkan beban yang ditanggungnya selama ini.
Ia banyak bercerita tentang hubungannya dengan mendiang pasangannya dan dari sana saya berkesimpulan meskipun dalam ucapan dia sudah mengikhlaskan kepergiannya, jauh dilubuk hati ia masih bergantung pada kekasihnya. Saat ia bercerita, tiba-tiba saya merasa bahwa kami senasib. Kami sama-sama tidak tahu cara mengikhlaskan meskipun sangat paham secara teori akan pentingnya mengikhlaskan.
Saya merasa kami berdua terjebak oleh keinginan kami sendiri. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki tugas dan peran yang harus dijalaninya terhadap orang lain. Yang menjadi masalah adalah, saya telah membebani orang yang saya kasihi dengan tugas lain sesuai kehendak saya. Saya menjadikannya tempat nyaman untuk bersandar. Begitu nyamannya sehingga ketika tiba waktunya untuk pergi, saya tidak merelakannya. Saya bilang saya ikhlas dan merelakan. Itu karena kenyataannya dia sudah tidak ada lagi bersama saya, jadi mau tidak rela dan tidak ikhlas juga percuma. Namun lain di bibir, lain di hati. Sejujurnya saya tidak pernah benar-benar melepaskannya. Karena itu, dari waktu ke waktu saya masih berandai-andai sehingga saya lupa bahwa saya ini hidup di waktu yang sudah berbeda dengan keadaan saat saya mematok hati ini. Saya hidup di masa sekarang, namun hati saya tertinggal di masa lalu. Mungkin itulah sebabnya kehadiran berbagai orang yang semestinya dapat mengisi hidup menjadi terlewatkan begitu saja, karena semuanya menjadi tidak sesuai.
Tiba-tiba pula, saya melihat bahwa kehidupan ini seperti orang yang sedang belajar sekolah. Saya punya guru favorit di SD, dan guru tersebut telah membawa saya lulus SD. Tugasnya selesai sampai di sana, dan saya harus lanjut ke SMP. Meskipun dia tetap di hati, saya tentu tidak dapat membawanya untuk membimbing saya melewati jenjang SMP. Di sana sudah menanti guru lain yang akan membawa saya lulus SMP, dan begitu seterusnya. Tiba-tiba kami berdua paham dengan analogi itu, bahwa kekasih kami masing-masing telah menyelesaikan tugasnya, dan ketika kami sudah lulus, sekarang kami ditunggu oleh pendamping yang akan membawa kami ke jenjang yang lebih tinggi dalam kehidupan ini. Jadi misalnya, ia memiliki tugas untuk menjadikan saya orang yang mengerti tentang tanggung jawab dan kehidupan, kini tugas 'orang lain' yang akan membawa saya mengerti tentang kesetiaan dan hakikat cinta. Anda bisa bersyukur bila menemukan satu orang untuk semuanya, namun tak semua orang seberuntung Anda.
Saat saya berbagi pandangan ini kepada teman saya, kami berdua akhirnya memiliki pengertian yang berbeda tentang "letting go" dan jadi tahu bagaimana melakukannya. Selama ini kami hanya mengerti namun tidak tahu bagaimana caranya. Semua saran dan tulisan di buku serasa hanya sebagai teori saja, namun kenyataannya tidak tahu cara melepas masa lalu.
Malam ini kami berdua melepas masa lalu kami masing-masing dan siap menghadapi masa depan dengan pengertian yang baru. Kami berdamai dengan diri kami sendiri tentang masa lalu. Jika Anda memiliki masalah yang sama, semoga sharing ini dapat membantu Anda juga dalam melepas dengan ikhlas. Kita ini sudah naik kelas, dan kita tak menyadarinya. Kita terlalu menyesali mengapa kita tidak diajar oleh guru yang sama, padahal guru yang baru sudah menanti kita, untuk bersama-sama menapaki jenjang hidup yang lebih tinggi...
*Teman saya bertanya lalu bagaimana nasib hubungan dengan mantan, saya menjawab,"lho, kamu kan masih respek sama guru SD mu tapi sekarang yang diikuti guru SMP. Gitu...."
Ia banyak bercerita tentang hubungannya dengan mendiang pasangannya dan dari sana saya berkesimpulan meskipun dalam ucapan dia sudah mengikhlaskan kepergiannya, jauh dilubuk hati ia masih bergantung pada kekasihnya. Saat ia bercerita, tiba-tiba saya merasa bahwa kami senasib. Kami sama-sama tidak tahu cara mengikhlaskan meskipun sangat paham secara teori akan pentingnya mengikhlaskan.
Saya merasa kami berdua terjebak oleh keinginan kami sendiri. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki tugas dan peran yang harus dijalaninya terhadap orang lain. Yang menjadi masalah adalah, saya telah membebani orang yang saya kasihi dengan tugas lain sesuai kehendak saya. Saya menjadikannya tempat nyaman untuk bersandar. Begitu nyamannya sehingga ketika tiba waktunya untuk pergi, saya tidak merelakannya. Saya bilang saya ikhlas dan merelakan. Itu karena kenyataannya dia sudah tidak ada lagi bersama saya, jadi mau tidak rela dan tidak ikhlas juga percuma. Namun lain di bibir, lain di hati. Sejujurnya saya tidak pernah benar-benar melepaskannya. Karena itu, dari waktu ke waktu saya masih berandai-andai sehingga saya lupa bahwa saya ini hidup di waktu yang sudah berbeda dengan keadaan saat saya mematok hati ini. Saya hidup di masa sekarang, namun hati saya tertinggal di masa lalu. Mungkin itulah sebabnya kehadiran berbagai orang yang semestinya dapat mengisi hidup menjadi terlewatkan begitu saja, karena semuanya menjadi tidak sesuai.
Tiba-tiba pula, saya melihat bahwa kehidupan ini seperti orang yang sedang belajar sekolah. Saya punya guru favorit di SD, dan guru tersebut telah membawa saya lulus SD. Tugasnya selesai sampai di sana, dan saya harus lanjut ke SMP. Meskipun dia tetap di hati, saya tentu tidak dapat membawanya untuk membimbing saya melewati jenjang SMP. Di sana sudah menanti guru lain yang akan membawa saya lulus SMP, dan begitu seterusnya. Tiba-tiba kami berdua paham dengan analogi itu, bahwa kekasih kami masing-masing telah menyelesaikan tugasnya, dan ketika kami sudah lulus, sekarang kami ditunggu oleh pendamping yang akan membawa kami ke jenjang yang lebih tinggi dalam kehidupan ini. Jadi misalnya, ia memiliki tugas untuk menjadikan saya orang yang mengerti tentang tanggung jawab dan kehidupan, kini tugas 'orang lain' yang akan membawa saya mengerti tentang kesetiaan dan hakikat cinta. Anda bisa bersyukur bila menemukan satu orang untuk semuanya, namun tak semua orang seberuntung Anda.
Saat saya berbagi pandangan ini kepada teman saya, kami berdua akhirnya memiliki pengertian yang berbeda tentang "letting go" dan jadi tahu bagaimana melakukannya. Selama ini kami hanya mengerti namun tidak tahu bagaimana caranya. Semua saran dan tulisan di buku serasa hanya sebagai teori saja, namun kenyataannya tidak tahu cara melepas masa lalu.
Malam ini kami berdua melepas masa lalu kami masing-masing dan siap menghadapi masa depan dengan pengertian yang baru. Kami berdamai dengan diri kami sendiri tentang masa lalu. Jika Anda memiliki masalah yang sama, semoga sharing ini dapat membantu Anda juga dalam melepas dengan ikhlas. Kita ini sudah naik kelas, dan kita tak menyadarinya. Kita terlalu menyesali mengapa kita tidak diajar oleh guru yang sama, padahal guru yang baru sudah menanti kita, untuk bersama-sama menapaki jenjang hidup yang lebih tinggi...
*Teman saya bertanya lalu bagaimana nasib hubungan dengan mantan, saya menjawab,"lho, kamu kan masih respek sama guru SD mu tapi sekarang yang diikuti guru SMP. Gitu...."
Labels:
'lawrence tjandra',
'letting go'
Friday, April 09, 2010
8 April 2010 : Dari hal kecil
Hari ini saya mendapat banyak pesan singkat yang memberikan banyak inspirasi. Pagi hari saya mendapatkan pesan berikut :
From Disney we learned :
- Why was Snow White given a red delicious looking apple with poison?
To show that not all people are as kind as what they pretend to be.
- Why did Cinderella have to run away when the clock stroke midnight?
To remind us that everything has limitations even dreams.
Why did Ariel (little mermaid) decide to exchange her fins with feet?
To show that anyone is willing to give up anything just to be happy.
- Why did Belle (Beauty) get in love with the Beast?
- To show us that beauty is NOT everyhting. We have to look at the personality first.
Saya tak pernah berpikir akan belajar dari detil sekecil ini dari film-film kartun favorit saya. Saya tak pernah membayangkan makna apel, dan mengapa apel cantik yang menjadi kiasan. Saya tak pernah memikirkan mengapa harus jam dua belas menjadi patokan. Namun kiriman pagi ini menyadarkan saya bahwa selama ini saya terlalu terpatok pada alur cerita utama sampai tak memperhatikan bahwa di setiap detil ada maknanya. Saya lalu juga menyadari bahwa dalam hidup ini saya terlalu terpaku pada garis besar jalan hidup, sehingga tidak peka bahwa setiap detil yang mewarnai hidup saya punya makna yang sama berartinya, bahkan kadang memberikan pelajaran dan anugerah yang lebih besar dari jalur utama hidup ini. Sering saya menemui orang yang mengaku hidupnya biasa-biasa saja. Dengan kiriman pagi ini, saya ingin mengatakan mereka salah. Mereka terlalu terfokus pada kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga lupa akan detil yang mewarnai keseharian mereka, yang tanpa disadari telah memberikan nikmat dan makna hidup yang jauh dari biasa. Saya juga kemudian berpikir, jangan-jangan, apa yang selama ini kita pikir pelajaran utama, malah kalah utama dari hal kecil-kecil yang luput dari perhatian kita karena kita salah mengukur. Bisa jadi ukuran besar kecil kita berbeda dengan ukuran besar kecilnya Tuhan.
Menyinggung soal pelajaran dari Beauty and the Beast yang mengajari kita melihat kepribadian di atas kecantikan, malam ini saya duduk mendengarkan cerita panjang seorang kawan. Ia menceritakan bahwa pasangannya bukan tipe orang yang ia sukai, namun dengan berjalannya waktu ia menemukan bahwa pasangannya adalah pasangan hidup yang luar biasa dan tak tergantikan. Mendengar ceritanya pun, saya merasa saya bukan tandingan pasangan hidupnya yang tahu arti mencintai dan berjuang bagi pasangannya. Saya merasa kecil, dan belum apa-apa dibandingkan apa yang diceritakannya. Saya tiba-tiba merasa kerdil dan tiba-tiba melihat kata "pasangan hidup" sebagai raksasa yang begitu tinggi untuk dijangkau. Setelah pengalaman hidup yang begitu berliku, bisa kah saya mengatakan diri siap menjadi pasangan yang baik? Saya betul-betul merasa belum ada apa-apanya. Seperti kalah sebelum maju perang.
Namun, saat saya sedang memukuli kepala saya secara virtual, saya juga dikirimi Tuhan kata bijak dari seorang penulis puisi humanis terkenal Maya Angelou :
"You may encounter many defeats, but you must not be defeated.
In fact, the encountering may be the very experience
which creates the vitality and the power to endure"
"Kita mungkin sering mengalami kekalahan, namun kita tidak boleh terkalahkan.
Justru, dengan menghadapinya dapat menjadi pengalaman berharga
yang memberikan vitalitas dan kekuatan untuk bertahan."
Membaca kata-kata itu, saya lalu bangkit. Saya mungkin tidak sempurna, namun saya punya semangat untuk menjadi yang terbaik.
Tuhan, terima kasih atas semua hal kecil yang Engkau berikan padaku hari ini, karena melalui berbagai hal kecil inilah, hidupku diteguhkan dan semangatku dibangunkan. Semoga dengan hal kecil ini aku dibukakan mata dan hati agar menjadi peka atas berbagai hal kecil yang memberikan makna lebih bagi hidup ini.
From Disney we learned :
- Why was Snow White given a red delicious looking apple with poison?
To show that not all people are as kind as what they pretend to be.
- Why did Cinderella have to run away when the clock stroke midnight?
To remind us that everything has limitations even dreams.
Why did Ariel (little mermaid) decide to exchange her fins with feet?
To show that anyone is willing to give up anything just to be happy.
- Why did Belle (Beauty) get in love with the Beast?
- To show us that beauty is NOT everyhting. We have to look at the personality first.
Saya tak pernah berpikir akan belajar dari detil sekecil ini dari film-film kartun favorit saya. Saya tak pernah membayangkan makna apel, dan mengapa apel cantik yang menjadi kiasan. Saya tak pernah memikirkan mengapa harus jam dua belas menjadi patokan. Namun kiriman pagi ini menyadarkan saya bahwa selama ini saya terlalu terpatok pada alur cerita utama sampai tak memperhatikan bahwa di setiap detil ada maknanya. Saya lalu juga menyadari bahwa dalam hidup ini saya terlalu terpaku pada garis besar jalan hidup, sehingga tidak peka bahwa setiap detil yang mewarnai hidup saya punya makna yang sama berartinya, bahkan kadang memberikan pelajaran dan anugerah yang lebih besar dari jalur utama hidup ini. Sering saya menemui orang yang mengaku hidupnya biasa-biasa saja. Dengan kiriman pagi ini, saya ingin mengatakan mereka salah. Mereka terlalu terfokus pada kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga lupa akan detil yang mewarnai keseharian mereka, yang tanpa disadari telah memberikan nikmat dan makna hidup yang jauh dari biasa. Saya juga kemudian berpikir, jangan-jangan, apa yang selama ini kita pikir pelajaran utama, malah kalah utama dari hal kecil-kecil yang luput dari perhatian kita karena kita salah mengukur. Bisa jadi ukuran besar kecil kita berbeda dengan ukuran besar kecilnya Tuhan.
Menyinggung soal pelajaran dari Beauty and the Beast yang mengajari kita melihat kepribadian di atas kecantikan, malam ini saya duduk mendengarkan cerita panjang seorang kawan. Ia menceritakan bahwa pasangannya bukan tipe orang yang ia sukai, namun dengan berjalannya waktu ia menemukan bahwa pasangannya adalah pasangan hidup yang luar biasa dan tak tergantikan. Mendengar ceritanya pun, saya merasa saya bukan tandingan pasangan hidupnya yang tahu arti mencintai dan berjuang bagi pasangannya. Saya merasa kecil, dan belum apa-apa dibandingkan apa yang diceritakannya. Saya tiba-tiba merasa kerdil dan tiba-tiba melihat kata "pasangan hidup" sebagai raksasa yang begitu tinggi untuk dijangkau. Setelah pengalaman hidup yang begitu berliku, bisa kah saya mengatakan diri siap menjadi pasangan yang baik? Saya betul-betul merasa belum ada apa-apanya. Seperti kalah sebelum maju perang.
Namun, saat saya sedang memukuli kepala saya secara virtual, saya juga dikirimi Tuhan kata bijak dari seorang penulis puisi humanis terkenal Maya Angelou :
"You may encounter many defeats, but you must not be defeated.
In fact, the encountering may be the very experience
which creates the vitality and the power to endure"
"Kita mungkin sering mengalami kekalahan, namun kita tidak boleh terkalahkan.
Justru, dengan menghadapinya dapat menjadi pengalaman berharga
yang memberikan vitalitas dan kekuatan untuk bertahan."
Membaca kata-kata itu, saya lalu bangkit. Saya mungkin tidak sempurna, namun saya punya semangat untuk menjadi yang terbaik.
Tuhan, terima kasih atas semua hal kecil yang Engkau berikan padaku hari ini, karena melalui berbagai hal kecil inilah, hidupku diteguhkan dan semangatku dibangunkan. Semoga dengan hal kecil ini aku dibukakan mata dan hati agar menjadi peka atas berbagai hal kecil yang memberikan makna lebih bagi hidup ini.
Labels:
'lawrence tjandra',
ukuran
Wednesday, April 07, 2010
7 April 2010 : Sok Tau
Salah satu klien saya ketambahan warga baru. Sama sekali tak ada latar belakang bisnis yang ditangani karena dulunya bidang kerjanya tak ada hubungan sama sekali dengan bidang yang sekarang ditanganinya. Sebagai konsultan, saya memperhatikan gaya lagunya. Impresi pertama, saya anggap, biasa... orang baru, masih semangat empat lima, merasa dirinya punya banyak ide, ini dan itu, dan karenanya saya sambut antusiasme nya dengan mengajak membuat program terintegrasi. Sambil berjalan waktu, ia kemudian membatalkan semua program yang sudah kami rancang dengan alasan pihak internal belum siap. Saya anggap, wajar saja. Lebih baik ditunda dari pada tidak siap.
Lama-lama, saya tunggu-tunggu kok tak ada kabar ya? Beberapa hari yang lalu, seorang tim lama klien mengabari agar saya berhati-hati karena si anak baru yang merasa punya kuasa ini sedang cari akal untuk menggeser saya dengan konsultan yang biasa ia pakai.Teman saya bilang kalau si anak ini sedang mempersiapkan surat concern terhadap wanprestasi kami. Kalau mau, saya disarankan untuk mengadakan pendekatan dari hati ke hati padanya. Saya bilang terima kasih, saya tunggu saja tantangannya.
Hari ini, surat yang ditunggu datang juga lewat fax, tanpa tanggal dan alamat tujuan yang jelas. Ada empat hal yang dikomplain. Tiga hal adalah kesalahan tim nya sendiri, dan satu hal lagi dia menuntut hal yang biasa saya berikan secara cuma-cuma dan atas inisiatif kami sendiri, namun tidak tertera sebagai kewajiban di dalam kontrak. Istilahnya : bonus. Dia menuntut saya memberikan jawaban secara tertulis dengan cc kepada Vice Presidentnya. Saya dengan mudah membeberkan dalam surat tentang semua tuduhan yang salah alamatnya itu, dengan cc tidak hanya kepada Vice President nya tapi juga ke pemiliknya!
Surat bernada fakta namun menohok itu saya edarkan kepada rekan-rekan kerja sambil minta pendapat mereka. Satu per satu saran bermunculan dan setelah dirangkum dan direnungkan kembali, saya mengasah lagi surat tersebut sampai bernada halus namun tegas dan ... tetap terasa menohok. Kalau yang membaca pintar, surat itu menamparnya keras-keras tanpa terasa. Dia juga lupa, kalau dia pikir bisa berlindung di balik atasannya, saya punya sejarah panjang bahkan dengan pemiliknya. Bagi saya tidak masalah kalau saya tidak terpakai lagi. Just tell me so, tapi jangan cari gara-gara dengan hal yang dibuat-buat karena hal ini akan membangkitkan Naga dalam diri saya! Saya pasti akan menyembur hingga yang tertinggal hanya puing-puing hangus!
Sorenya, saya melakukan wawancara terhadap calon karyawan. Rekan saya yang sudah terdahulu melakukan wawancara memujinya sebagai smart, namun ia menilai bahwa si anak ini cuma mau belajar. Karena teman saya ini seorang dosen S2 dan sangat detil dalam bertanya, saya merasa sudah tak perlu lagi mengulangi pertanyaan teknisnya. Saya memperhatikan riwayat kerjanya. Sebentar-sebentar. Alasannya bahwa ia merasa pekerjaannya yang dahulu terlalu banyak memberikan batasan dan selalu berubah-ubah dalam keputusan. Saya tanya, perusahaan yang baik menurut kamu itu yang seperti apa? Dia bilang tidak tahu, just doesn't feel right. Mestinya seperti sebuah perusahaan multinasional. Ketika ditanya bagaimana perusahaan raksasa itu beroperasi, tidak tahu juga. Dia merasa selama ini dia masih tidak sreg dengan bidang kerjanya dan mencari-cari. Dia bilang dia merasa komunikasi adalah bidangnya. Saya tanya lagi, bagaimana kamu bisa tahu komunikasi adalah bidang kamu sedangkan kamu belum pernah bekerja di bidang komunikasi. Dia bilang, tidak tahu, I just know this is my field. Bagaimana kalau setelah dua bulan kamu merasa, wah ini bukan bidang saya? Dia tak bisa jawab.
Kesimpulan saya, no matter how smart this kid is, she's not qualified! She doesn't know what she wants and yet she talks like she knows a thousand things! Ia mengkritisi sebuah institusi nasional sebagai sebuah institusi yang tidak profesional namun kenyataannya institusi ini berkibar begitu besarnya di nusantara ini selama puluhan tahun bahkan ke manca negara. Saya menukas, I am wondering whether there is something wrong in you rather than in the companies you've been through...
Hari ini saya ditunjukkan ada dua orang baru dalam dua dimensi yang berbeda namun kalau ditarik garis merahnya, saya bisa menyimpulkan, jadi orang itu jangan sok, jadi orang baru itu jangan sok tahu. Ketika kita berusaha untuk terlihat baik, kita malah kelihatan sisi tidak baiknya. Dari kedua orang itu, saya belajar untuk tidak berusaha to look good karena kesan baik dengan sendirinya akan muncul kalau I am good.
Hal lain yang saya pelajari adalah kalau selama ini saya sering mendapatkan tips untuk mengendapkan amarah, hari ini saya mendapat tambahan : share it with your friends and get their inputs. Hasilnya menjadi luar biasa karena saya kemudian mendapat perspektif dari berbagai sudut yang kadang tak pernah terpikirkan sebelumnya, sehingga ketika amarah reda, bukan saja saya menjadi semakin bijak, namun juga semakin kaya karena mendapat masukan dari orang lain.
Lalu saya bayangkan kedua hal ini saya terapkan dalam kehidupan pribadi:
1. Saya tidak boleh sok dan sok tau lagi dalam hal apa pun karena hasilnya justru membuat malu saya sendiri.
2. Kalau sedang marah, endapkan dan mintalah masukan teman-teman. Hasilnya akan mengubah sesuatu yang negatif, menjadi sesuatu yang double-positive asal mau mendengarkan dengan hati terbuka.
So, terima kasih orang tengil, hari ini saya belajar bagaimana mengatasi Anda dan yang paling utama untuk tidak menjadi Anda!
Lama-lama, saya tunggu-tunggu kok tak ada kabar ya? Beberapa hari yang lalu, seorang tim lama klien mengabari agar saya berhati-hati karena si anak baru yang merasa punya kuasa ini sedang cari akal untuk menggeser saya dengan konsultan yang biasa ia pakai.Teman saya bilang kalau si anak ini sedang mempersiapkan surat concern terhadap wanprestasi kami. Kalau mau, saya disarankan untuk mengadakan pendekatan dari hati ke hati padanya. Saya bilang terima kasih, saya tunggu saja tantangannya.
Hari ini, surat yang ditunggu datang juga lewat fax, tanpa tanggal dan alamat tujuan yang jelas. Ada empat hal yang dikomplain. Tiga hal adalah kesalahan tim nya sendiri, dan satu hal lagi dia menuntut hal yang biasa saya berikan secara cuma-cuma dan atas inisiatif kami sendiri, namun tidak tertera sebagai kewajiban di dalam kontrak. Istilahnya : bonus. Dia menuntut saya memberikan jawaban secara tertulis dengan cc kepada Vice Presidentnya. Saya dengan mudah membeberkan dalam surat tentang semua tuduhan yang salah alamatnya itu, dengan cc tidak hanya kepada Vice President nya tapi juga ke pemiliknya!
Surat bernada fakta namun menohok itu saya edarkan kepada rekan-rekan kerja sambil minta pendapat mereka. Satu per satu saran bermunculan dan setelah dirangkum dan direnungkan kembali, saya mengasah lagi surat tersebut sampai bernada halus namun tegas dan ... tetap terasa menohok. Kalau yang membaca pintar, surat itu menamparnya keras-keras tanpa terasa. Dia juga lupa, kalau dia pikir bisa berlindung di balik atasannya, saya punya sejarah panjang bahkan dengan pemiliknya. Bagi saya tidak masalah kalau saya tidak terpakai lagi. Just tell me so, tapi jangan cari gara-gara dengan hal yang dibuat-buat karena hal ini akan membangkitkan Naga dalam diri saya! Saya pasti akan menyembur hingga yang tertinggal hanya puing-puing hangus!
Sorenya, saya melakukan wawancara terhadap calon karyawan. Rekan saya yang sudah terdahulu melakukan wawancara memujinya sebagai smart, namun ia menilai bahwa si anak ini cuma mau belajar. Karena teman saya ini seorang dosen S2 dan sangat detil dalam bertanya, saya merasa sudah tak perlu lagi mengulangi pertanyaan teknisnya. Saya memperhatikan riwayat kerjanya. Sebentar-sebentar. Alasannya bahwa ia merasa pekerjaannya yang dahulu terlalu banyak memberikan batasan dan selalu berubah-ubah dalam keputusan. Saya tanya, perusahaan yang baik menurut kamu itu yang seperti apa? Dia bilang tidak tahu, just doesn't feel right. Mestinya seperti sebuah perusahaan multinasional. Ketika ditanya bagaimana perusahaan raksasa itu beroperasi, tidak tahu juga. Dia merasa selama ini dia masih tidak sreg dengan bidang kerjanya dan mencari-cari. Dia bilang dia merasa komunikasi adalah bidangnya. Saya tanya lagi, bagaimana kamu bisa tahu komunikasi adalah bidang kamu sedangkan kamu belum pernah bekerja di bidang komunikasi. Dia bilang, tidak tahu, I just know this is my field. Bagaimana kalau setelah dua bulan kamu merasa, wah ini bukan bidang saya? Dia tak bisa jawab.
Kesimpulan saya, no matter how smart this kid is, she's not qualified! She doesn't know what she wants and yet she talks like she knows a thousand things! Ia mengkritisi sebuah institusi nasional sebagai sebuah institusi yang tidak profesional namun kenyataannya institusi ini berkibar begitu besarnya di nusantara ini selama puluhan tahun bahkan ke manca negara. Saya menukas, I am wondering whether there is something wrong in you rather than in the companies you've been through...
Hari ini saya ditunjukkan ada dua orang baru dalam dua dimensi yang berbeda namun kalau ditarik garis merahnya, saya bisa menyimpulkan, jadi orang itu jangan sok, jadi orang baru itu jangan sok tahu. Ketika kita berusaha untuk terlihat baik, kita malah kelihatan sisi tidak baiknya. Dari kedua orang itu, saya belajar untuk tidak berusaha to look good karena kesan baik dengan sendirinya akan muncul kalau I am good.
Hal lain yang saya pelajari adalah kalau selama ini saya sering mendapatkan tips untuk mengendapkan amarah, hari ini saya mendapat tambahan : share it with your friends and get their inputs. Hasilnya menjadi luar biasa karena saya kemudian mendapat perspektif dari berbagai sudut yang kadang tak pernah terpikirkan sebelumnya, sehingga ketika amarah reda, bukan saja saya menjadi semakin bijak, namun juga semakin kaya karena mendapat masukan dari orang lain.
Lalu saya bayangkan kedua hal ini saya terapkan dalam kehidupan pribadi:
1. Saya tidak boleh sok dan sok tau lagi dalam hal apa pun karena hasilnya justru membuat malu saya sendiri.
2. Kalau sedang marah, endapkan dan mintalah masukan teman-teman. Hasilnya akan mengubah sesuatu yang negatif, menjadi sesuatu yang double-positive asal mau mendengarkan dengan hati terbuka.
So, terima kasih orang tengil, hari ini saya belajar bagaimana mengatasi Anda dan yang paling utama untuk tidak menjadi Anda!
Labels:
'lawrencet tjandra'. 'sok tahu',
tengil
Tuesday, April 06, 2010
6 April 2010 : waktu ke waktu ke waktu
Malam ini saya baru sampai di rumah jam 21:00 lewat. Sambil menunggu makan malam disiapkan, saya browsing acara televisi dan terhenti di serial film Lipstick Jungle yang dibintangi Brooke Shields. Brooke Shields adalah bintang favorit saya karena kecantikannya. Saking kesengsem dengannya sampai saya memasang posternya yang setinggi badan di balik pintu kamar kos di Salatiga. Saya juga rela berkorban terkaget-kaget berkali-kali dikejutkan Brooke Shields di tengah malam ketika masuk kamar dari kamar kecil dalam keadaan mengantuk!
Saya baru sekali ini menonton Lipstick Jungle jadi tak tahu ujung pangkal ceritanya, tak tahu siapa-siapa karakter di cerita itu, yang saya tahu hanya Brooke Shields yang tetap cantik di usia matangnya. Episode kali ini adalah adegan dimana Brooke Shields bermasalah dengan suaminya, terutama soal jadwal kebersamaan. Saya tidak tahu apa pekerjaan sang suami sehingga membutuhkan manajer, mungkin dia penyanyi, namun di adegan itu terjadi juga bersitegang antara Brooke Shields dan manajernya soal prioritas kerja dan jadwal kebersamaan sebagai keluarga. Yang satu merasa bertanggung jawab untuk mengisi waktu sang atasan dengan berbagai kegiatan yang menghasilkan uang, yang satu merasa berhak mendapatkan prioritas waktu kumpul keluarga.
Maka suasana pun menjadi hambar. Komunikasi jadi tak lancar, mau bicara pun malas dan sebal. Air mata bercucuran. Ketika ditanya pulang makan malam, suaminya cuma menjawab datar tanpa kecupan di kening dengan, "Saya usahakan." Akhirnya Brooke Shields mengusulkan mereka menemui konselor perkawinan. Karena telat menonton, film itu habis begitu saja saat sang suami mengiyakan dan pergi meninggalkan rumah dengan acuh tak acuh ...
Saya jadi ingat pernikahan saya sendiri yang sekarang tinggal sejarah. Dan juga hubungan saya yang bubar setelah delapan tahun. Awalnya, semua berjalan lancar dan penuh gairah. Kami saling memprioritaskan pasangan. Maunya kangen, kangen, kangen. Kami mengatur waktu secerdik-cerdiknya supaya punya waktu banyak untuk bersama. Namun dengan berjalannya waktu, mungkin justru ketika kami merasa semua aman, dan pasangan menjadi bagian yang melekat dengan diri, prioritas pun bergeser untuk yang lain. Maka pekerjaan mengambil alih. Kalau pun ada waktu ingin juga berkumpul dengan teman dan kerabat. Pasangan? Ah kan ketemu setiap hari ...
Sedang asik merenung seperti itu, tiba-tiba masuk pesan lewat blackberry. Saya melongo. Lho, kok seperti kebetulan mendapat jawaban? Sebuah kutipan indah dari presiden Amerika Abraham Lincoln soal komitmen. Katanya :
Commitment is what transforms a promise into a reality. it is the words that speak boldly of your intentions. And the actions which speak louder than the words. It is making the time when there is none. Coming through time after time after time, year after year after year.
Commitment is the stuff character is made of; the power to change the face of things. It is the daily triumph of integrity over skepticism.
Komitmen adalah transformasi sebuah janji menjadi kenyataan. Komitmen adalah kata-kata yang berbicara tegas akan niat Anda. Dan perbuatan-perbuatan yang berbicara lebih lantang dari kata-kata. Komitmen menyediakan waktu saat tak ada waktu. Melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun.
Komitmen adalah bahan yang menciptakan sifat; kekuatan untuk mengubah berbagai hal. Komitmen adalah keberhasilan cemerlang sehari-hari akan ketulusan di atas keraguan.
Maka saya menganalisa. Awalnya ya, saya melakukan janji-janji dan mengubahnya menjadi kenyataan. Melakukan hal-hal yang bisa mencerminkan dan menerjemahkan rasa berbunga di hati saya. Menyediakan waktu meskipun sebetulnya tak ada waktu, dan mencurinya dari waktu yang sebetulnya dan seharusnya saya dedikasikan untuk keperluan dan orang lain. Yang menjadi masalah adalah melewati waktu ke waktu ke waktu dan melalui tahun ke tahun ke tahun. Di sinilah biang lunturnya komitmen dan kendornya semangat. Yang membuat komitmen urung menjadi sifat, dan kehilangan kekuatan mengubah berbagai hal sehingga gagal membuahkan ketulusan dan berbuah keraguan yang akhirnya membawa kami ke gerbang kehancuran...
Malam ini saya disadarkan bahwa komitmen bukan melulu soal mewujudkan janji, namun juga berteguh mewujudkannya melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun. Itu yang hilang dari hubungan saya yang lalu. Saya membiarkan banyak hal lain mengambil prioritas hubungan saya dengan mantan isteri dan kekasih saya, dan saya membiarkan pasangan saya diambil alih oleh prioritas lain yang menjauhkan kami berdua.
Malam ini, saya belajar tentang komitmen. I have wasted my two precious relations in the past. Dan berharap bila diberikan, di kesempatan ke tiga dapat mewujudkannya melewati waktu ke waktu ke waktu. Bagaimana dengan Anda? Di mana posisi Anda? Ingat! Melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun ... Semoga belum terlambat!
Saya baru sekali ini menonton Lipstick Jungle jadi tak tahu ujung pangkal ceritanya, tak tahu siapa-siapa karakter di cerita itu, yang saya tahu hanya Brooke Shields yang tetap cantik di usia matangnya. Episode kali ini adalah adegan dimana Brooke Shields bermasalah dengan suaminya, terutama soal jadwal kebersamaan. Saya tidak tahu apa pekerjaan sang suami sehingga membutuhkan manajer, mungkin dia penyanyi, namun di adegan itu terjadi juga bersitegang antara Brooke Shields dan manajernya soal prioritas kerja dan jadwal kebersamaan sebagai keluarga. Yang satu merasa bertanggung jawab untuk mengisi waktu sang atasan dengan berbagai kegiatan yang menghasilkan uang, yang satu merasa berhak mendapatkan prioritas waktu kumpul keluarga.
Maka suasana pun menjadi hambar. Komunikasi jadi tak lancar, mau bicara pun malas dan sebal. Air mata bercucuran. Ketika ditanya pulang makan malam, suaminya cuma menjawab datar tanpa kecupan di kening dengan, "Saya usahakan." Akhirnya Brooke Shields mengusulkan mereka menemui konselor perkawinan. Karena telat menonton, film itu habis begitu saja saat sang suami mengiyakan dan pergi meninggalkan rumah dengan acuh tak acuh ...
Saya jadi ingat pernikahan saya sendiri yang sekarang tinggal sejarah. Dan juga hubungan saya yang bubar setelah delapan tahun. Awalnya, semua berjalan lancar dan penuh gairah. Kami saling memprioritaskan pasangan. Maunya kangen, kangen, kangen. Kami mengatur waktu secerdik-cerdiknya supaya punya waktu banyak untuk bersama. Namun dengan berjalannya waktu, mungkin justru ketika kami merasa semua aman, dan pasangan menjadi bagian yang melekat dengan diri, prioritas pun bergeser untuk yang lain. Maka pekerjaan mengambil alih. Kalau pun ada waktu ingin juga berkumpul dengan teman dan kerabat. Pasangan? Ah kan ketemu setiap hari ...
Sedang asik merenung seperti itu, tiba-tiba masuk pesan lewat blackberry. Saya melongo. Lho, kok seperti kebetulan mendapat jawaban? Sebuah kutipan indah dari presiden Amerika Abraham Lincoln soal komitmen. Katanya :
Commitment is what transforms a promise into a reality. it is the words that speak boldly of your intentions. And the actions which speak louder than the words. It is making the time when there is none. Coming through time after time after time, year after year after year.
Commitment is the stuff character is made of; the power to change the face of things. It is the daily triumph of integrity over skepticism.
Komitmen adalah transformasi sebuah janji menjadi kenyataan. Komitmen adalah kata-kata yang berbicara tegas akan niat Anda. Dan perbuatan-perbuatan yang berbicara lebih lantang dari kata-kata. Komitmen menyediakan waktu saat tak ada waktu. Melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun.
Komitmen adalah bahan yang menciptakan sifat; kekuatan untuk mengubah berbagai hal. Komitmen adalah keberhasilan cemerlang sehari-hari akan ketulusan di atas keraguan.
Maka saya menganalisa. Awalnya ya, saya melakukan janji-janji dan mengubahnya menjadi kenyataan. Melakukan hal-hal yang bisa mencerminkan dan menerjemahkan rasa berbunga di hati saya. Menyediakan waktu meskipun sebetulnya tak ada waktu, dan mencurinya dari waktu yang sebetulnya dan seharusnya saya dedikasikan untuk keperluan dan orang lain. Yang menjadi masalah adalah melewati waktu ke waktu ke waktu dan melalui tahun ke tahun ke tahun. Di sinilah biang lunturnya komitmen dan kendornya semangat. Yang membuat komitmen urung menjadi sifat, dan kehilangan kekuatan mengubah berbagai hal sehingga gagal membuahkan ketulusan dan berbuah keraguan yang akhirnya membawa kami ke gerbang kehancuran...
Malam ini saya disadarkan bahwa komitmen bukan melulu soal mewujudkan janji, namun juga berteguh mewujudkannya melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun. Itu yang hilang dari hubungan saya yang lalu. Saya membiarkan banyak hal lain mengambil prioritas hubungan saya dengan mantan isteri dan kekasih saya, dan saya membiarkan pasangan saya diambil alih oleh prioritas lain yang menjauhkan kami berdua.
Malam ini, saya belajar tentang komitmen. I have wasted my two precious relations in the past. Dan berharap bila diberikan, di kesempatan ke tiga dapat mewujudkannya melewati waktu ke waktu ke waktu. Bagaimana dengan Anda? Di mana posisi Anda? Ingat! Melewati waktu ke waktu ke waktu, tahun ke tahun ke tahun ... Semoga belum terlambat!
Labels:
'abraham lincoln',
'lawrence tjandra',
komitmen
Monday, April 05, 2010
Intermesso : Rendra
Saat saya sedang rapat di Kementerian Kesehatan, teman saya Anita mengirim sebuah sajak indah yang merupakan puisi terakhir Rendra. Rendra menulisnya di atas tempat tidur Rumah Sakit. Puisi ini indah sekali sampai-sampai saya tidak berani membalas bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih pada Anita karena takut pesan lewat bbm ini terhapus oleh obrolan kami. Saya ingin mengabadikannya di blog ini dan berbagi keindahannya dengan Anda:
RENUNGAN INDAH - W.S. RENDRA
Seringkali aku berkata,
ketika semua orang memuji milikku
bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas
sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu sebagai panggilan
apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta
titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah
hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya
harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka
selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan
sama saja" ...
***
RENUNGAN INDAH - W.S. RENDRA
Seringkali aku berkata,
ketika semua orang memuji milikku
bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas
sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu sebagai panggilan
apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta
titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah
hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya
harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka
selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan
sama saja" ...
***
Labels:
'lawrence tjandra',
'W.S. Rendra'
5 April 2010 : Autis Ponsel
The Oprah Winfrey Show malam ini di Hallmark channel mengetengahkan kisah seorang anak yang meratapi kepergian ibunda tercinta karena tertabrak orang yang sedang bertelepon sambil menyetir. Setelah diperiksa ternyata pengemudi muda itu menerima telepon selama 1, 5 menit ketika ia kehilangan konsentrasinya dan dampaknya merenggut nyawa orang lain!
Riset menunjukkan bahwa 71% orang diantara 18 - 49 tahun mengaku pernah bertelepon atau mengirim sms di Amerika. Saya yakin kalau penelitian ini dilakukan di Indonesia angkanya lebih tinggi lagi. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang bertelepon memiliki risiko kecelakaan 4 x lebih besar dari orang yang mengemudi dengan konsentrasi penuh. Risiko kecelakaan menjadi 8 x lebih besar pada orang yang mengetik sms ketika mengemudi. Dikatakan kebiasaan mengetik sms sambil menyetir juga dua kali lebih tinggi risiko kecelakaannya daripada orang mabuk menyetir, karena risiko kecelakaan orang mabuk menyetir rata-rata 4 X orang yang berkesadaran penuh menyetir.
Saya rasa, data itu belum lengkap. Dengan berkembangnya zaman dan semakin canggihnya telepon genggam, mengetik sms menjadi jauh lebih sulit dari sebelumnya. Touch screen membuat kita lebih sulit mengetik sambil menyetir karena membutuhkan konsentrasi mengetik lebih tinggi dari jenis ponsel biasa. Kesulitan itu meningkat berlipat kali ketika mengetik dengan ponsel bergaya qwerty seperti pada produk-produk blackberry. Dibutuhkan dua tangan untuk bisa mengetik dengan cepat dan nyaman. Karenanya kalau Anda punya ponsel layar sentuh atau qwerty, maka menurut saya, risiko kecelakaannya bisa jadi 16 x lebih besar!
Kita sering mengira bahwa kita ini multi-tasking, bisa bekerja beberapa hal dalam saat yang bersamaan. Kenyataannya penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak smart-smart amat. Ketika kita melakukan lebih dari satu kegiatan, konsentrasi kita pada pekerjaan utama menurun. Penelitian membuktikan ketika kita mengemudi dan bertelepon, sudut pandang kita menyempit sampai 30 persen, dan kita kehilangan sampai 50% objek pandang!
Sebuah penelitian bersama yang dilakukan dengan majalah otomotif Amerika juga membuktikan bahwa orang yang mengetik sms kehilangan daya reaksi mengeremnya hingga sepertiga jarak rem orang dengan konsentrasi penuh, menyebabkan risiko menabrak jauh lebih besar!
Kelalaian mengendara sambil telepon dan sms ini mengakibatkan berbagai kecelakaan fatal, hingga kecelakaan kereta api ke dua terburuk dalam sejarah Amerika! serta hilangnya jiwa orang-orang tercinta karena kelalaian orang lain. Di Indonesia, belum ada penelitian seperti ini namun rancangan undang-undang melarang berponsel di mobil sudah mulai didengungkan.
Saya sendiri harus mengaku, merasa ahli dalam berponsel saat berkendara, namun saya merasa mulai kesulitan bertelepon saat saya mengganti ponsel saya dengan ponsel layar sentuh dan blackberry. Kesulitan itu semakin meningkat ketika saya mengetik. Tak jarang saya jadi pindah jalur dalam sekejap saat mengetik, dan dengan sigap kembali lagi ke jalur yang benar. Tapi ini benar-benar tidak termaafkan dan karenanya saya semakin mengurangi mengetik sms sambil menyetir. Setelah menonton tayangan malam ini, saya akan berhenti menelpon dan mengetik sms sama sekali saat menyetir!
Melihat tayangan tadi, saya jadi teringat beberapa teman saya yang sangat autis terhadap ponsel. Kalau ada telepon atau bunyi sms, mereka langsung menyambar ponselnya dan merasa berkewajiban menjawabnya, seolah tanggapan mereka lebih penting dari nyawa! Jangan tertawa, mereka ini sungguh nyata! Saya sampai sebal sendiri melihat mereka lebih sibuk dengan ponselnya daripada menyetir. Ketika saya tegur, saya malah ditegur balik. Katanya, relaks saja, saya sudah biasa dan mahir kok. Tes dalam tayangan malam ini membuktikan mereka salah besar! Hanya dalam hitungan detik, ketika kita lengah dan berkonsentrasi pada ponsel, sebuah kecelakaan fatal bisa terjadi. Kita tidak hanya membahayakan jiwa kita, tapi yang terpenting telah membahayakan nyawa orang lain, dan merenggut orang-orang tersebut dari kerabat yang mencintai mereka, padahal kita yang menabraknya belum tentu ikut mati!
Kemarin, ketika saya menumpang mobil kawan dari layat Om Willem, teman saya menelepon di tikungan Bunderan HI. Saya mengingatkan,"Eh ada polisi lho, bukannya sekarang sudah tidak boleh telepon sambil mengemudi?" tapi teman saya cuek saja. Sekarang saya sadar betapa naifnya saya: mengingatkan hanya karena takut ditangkap polisi yang matanya berbinar melihat kesalahan terkecil dari pengemudi! Seharusnya saya sadar dan mengingatkan bahwa tindakannya membahayakan keselamatan kami berdua, dan orang lain di sekitar kami! Teman saya ini, termasuk yang berkali-kali saya tegur karena kebiasaannya sibuk telepon dan sms tidak hanya saat mengemudi, namun juga di mana saja, kapan saja. Sampai-sampai rasanya malas pergi dengannya karena toh percuma saja, jiwanya melekat di ponsel. Saya sampai pernah bilang, dulu waktu tidak ada ponsel dan BB hidup kita baik-baik saja tuh, kok sekarang jadi begitu terikat pada gadget ya?
Saya jadi teringat beberapa teman yang anti blackberry, seperti saya dulu. Mereka bilang tidak mau diperbudak blackberry dan messengernya. Saya juga berargumen yang sama. Alasan saya menolak blackberry adalah "saya tidak bisa berkelit belum baca email saat weekend!" Kenyataannya alasan saya ini tak mempan karena kantor toh membelikan blackberry karena saya ngotot tidak mau. Kini, saat saya sudah punya blackberry, saya tidak kehilangan akal. Meskipun saya akui, semakin lama saya semakin merasakan manfaat Blackberry yang sungguh memanjakan, I control the gadget, not the otherway round! Maka saat weekend, sering kali saya menyimpan blackberry saya di rumah atau di laci mobil supaya tidak terganggu. Meskipun kadang saya lakukan juga, tapi saya akui menyebalkan rasanya kalau sedang makan bersama, teman kencan kita sebentar-sebentar melihat blackberrynya! Kita toh tidak mati kalau tidak terima telepon sebentar, klien atau teman kita juga tidak mati kalau tidak segera dijawab telepon atau smsnya. Maka tepat kata Oprah di akhir shownya : Don't Tempt Fate, The Text Can Wait! Jangan Menggoda Takdir, SMS Bisa Menunggu! Saya cuma ingin menambahkan : Stop Jadi Autis Ponsel, Hiduplah di alam nyata! Maksud saya, lha wong ada orang di depan kita yang bisa diajak bicara langsung, kok malah ngobrol sama mesin...
Riset menunjukkan bahwa 71% orang diantara 18 - 49 tahun mengaku pernah bertelepon atau mengirim sms di Amerika. Saya yakin kalau penelitian ini dilakukan di Indonesia angkanya lebih tinggi lagi. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang bertelepon memiliki risiko kecelakaan 4 x lebih besar dari orang yang mengemudi dengan konsentrasi penuh. Risiko kecelakaan menjadi 8 x lebih besar pada orang yang mengetik sms ketika mengemudi. Dikatakan kebiasaan mengetik sms sambil menyetir juga dua kali lebih tinggi risiko kecelakaannya daripada orang mabuk menyetir, karena risiko kecelakaan orang mabuk menyetir rata-rata 4 X orang yang berkesadaran penuh menyetir.
Saya rasa, data itu belum lengkap. Dengan berkembangnya zaman dan semakin canggihnya telepon genggam, mengetik sms menjadi jauh lebih sulit dari sebelumnya. Touch screen membuat kita lebih sulit mengetik sambil menyetir karena membutuhkan konsentrasi mengetik lebih tinggi dari jenis ponsel biasa. Kesulitan itu meningkat berlipat kali ketika mengetik dengan ponsel bergaya qwerty seperti pada produk-produk blackberry. Dibutuhkan dua tangan untuk bisa mengetik dengan cepat dan nyaman. Karenanya kalau Anda punya ponsel layar sentuh atau qwerty, maka menurut saya, risiko kecelakaannya bisa jadi 16 x lebih besar!
Kita sering mengira bahwa kita ini multi-tasking, bisa bekerja beberapa hal dalam saat yang bersamaan. Kenyataannya penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak smart-smart amat. Ketika kita melakukan lebih dari satu kegiatan, konsentrasi kita pada pekerjaan utama menurun. Penelitian membuktikan ketika kita mengemudi dan bertelepon, sudut pandang kita menyempit sampai 30 persen, dan kita kehilangan sampai 50% objek pandang!
Sebuah penelitian bersama yang dilakukan dengan majalah otomotif Amerika juga membuktikan bahwa orang yang mengetik sms kehilangan daya reaksi mengeremnya hingga sepertiga jarak rem orang dengan konsentrasi penuh, menyebabkan risiko menabrak jauh lebih besar!
Kelalaian mengendara sambil telepon dan sms ini mengakibatkan berbagai kecelakaan fatal, hingga kecelakaan kereta api ke dua terburuk dalam sejarah Amerika! serta hilangnya jiwa orang-orang tercinta karena kelalaian orang lain. Di Indonesia, belum ada penelitian seperti ini namun rancangan undang-undang melarang berponsel di mobil sudah mulai didengungkan.
Saya sendiri harus mengaku, merasa ahli dalam berponsel saat berkendara, namun saya merasa mulai kesulitan bertelepon saat saya mengganti ponsel saya dengan ponsel layar sentuh dan blackberry. Kesulitan itu semakin meningkat ketika saya mengetik. Tak jarang saya jadi pindah jalur dalam sekejap saat mengetik, dan dengan sigap kembali lagi ke jalur yang benar. Tapi ini benar-benar tidak termaafkan dan karenanya saya semakin mengurangi mengetik sms sambil menyetir. Setelah menonton tayangan malam ini, saya akan berhenti menelpon dan mengetik sms sama sekali saat menyetir!
Melihat tayangan tadi, saya jadi teringat beberapa teman saya yang sangat autis terhadap ponsel. Kalau ada telepon atau bunyi sms, mereka langsung menyambar ponselnya dan merasa berkewajiban menjawabnya, seolah tanggapan mereka lebih penting dari nyawa! Jangan tertawa, mereka ini sungguh nyata! Saya sampai sebal sendiri melihat mereka lebih sibuk dengan ponselnya daripada menyetir. Ketika saya tegur, saya malah ditegur balik. Katanya, relaks saja, saya sudah biasa dan mahir kok. Tes dalam tayangan malam ini membuktikan mereka salah besar! Hanya dalam hitungan detik, ketika kita lengah dan berkonsentrasi pada ponsel, sebuah kecelakaan fatal bisa terjadi. Kita tidak hanya membahayakan jiwa kita, tapi yang terpenting telah membahayakan nyawa orang lain, dan merenggut orang-orang tersebut dari kerabat yang mencintai mereka, padahal kita yang menabraknya belum tentu ikut mati!
Kemarin, ketika saya menumpang mobil kawan dari layat Om Willem, teman saya menelepon di tikungan Bunderan HI. Saya mengingatkan,"Eh ada polisi lho, bukannya sekarang sudah tidak boleh telepon sambil mengemudi?" tapi teman saya cuek saja. Sekarang saya sadar betapa naifnya saya: mengingatkan hanya karena takut ditangkap polisi yang matanya berbinar melihat kesalahan terkecil dari pengemudi! Seharusnya saya sadar dan mengingatkan bahwa tindakannya membahayakan keselamatan kami berdua, dan orang lain di sekitar kami! Teman saya ini, termasuk yang berkali-kali saya tegur karena kebiasaannya sibuk telepon dan sms tidak hanya saat mengemudi, namun juga di mana saja, kapan saja. Sampai-sampai rasanya malas pergi dengannya karena toh percuma saja, jiwanya melekat di ponsel. Saya sampai pernah bilang, dulu waktu tidak ada ponsel dan BB hidup kita baik-baik saja tuh, kok sekarang jadi begitu terikat pada gadget ya?
Saya jadi teringat beberapa teman yang anti blackberry, seperti saya dulu. Mereka bilang tidak mau diperbudak blackberry dan messengernya. Saya juga berargumen yang sama. Alasan saya menolak blackberry adalah "saya tidak bisa berkelit belum baca email saat weekend!" Kenyataannya alasan saya ini tak mempan karena kantor toh membelikan blackberry karena saya ngotot tidak mau. Kini, saat saya sudah punya blackberry, saya tidak kehilangan akal. Meskipun saya akui, semakin lama saya semakin merasakan manfaat Blackberry yang sungguh memanjakan, I control the gadget, not the otherway round! Maka saat weekend, sering kali saya menyimpan blackberry saya di rumah atau di laci mobil supaya tidak terganggu. Meskipun kadang saya lakukan juga, tapi saya akui menyebalkan rasanya kalau sedang makan bersama, teman kencan kita sebentar-sebentar melihat blackberrynya! Kita toh tidak mati kalau tidak terima telepon sebentar, klien atau teman kita juga tidak mati kalau tidak segera dijawab telepon atau smsnya. Maka tepat kata Oprah di akhir shownya : Don't Tempt Fate, The Text Can Wait! Jangan Menggoda Takdir, SMS Bisa Menunggu! Saya cuma ingin menambahkan : Stop Jadi Autis Ponsel, Hiduplah di alam nyata! Maksud saya, lha wong ada orang di depan kita yang bisa diajak bicara langsung, kok malah ngobrol sama mesin...
Sunday, April 04, 2010
4 April 2010 : Minggu Paskah : Saya Plus Saya Minus
Hari ini saya pergi melayat Om William Soeryadjaya. Saya memang tidak mengenal Beliau sebaik orang lain. Saya cuma (benar-benar)bertemu Beliau sekali, waktu acara natalan yang diadakan secara kekeluargaan di perusahaan yang melibatkan anaknya, Edwin Soeryadjaya. Dengan Edwin pun saya tak akrab. Meski pernah dinner di rumahnya, dan beberapa kali bersama-samanya, itu cuma karena Edwin adalah teman baik dan partner kerja kakak ipar saya Gatot. Waktu di acara natal itulah saya sempat didatangi Om Willem untuk mengobrol santai dan ngumpet dari perhatian orang banyak.
Tadinya saya sudah tidak mau pergi melayat. Tapi karena diajak teman, saya jadi berpikir lagi. Ya, kenapa tidak? Toh saya pernah bekerja di perusahaan patungan Edwin dan kakak ipar saya, meskipun itu sudah lebih sepuluh tahun silam. Lagian, kakak saya itu sekarang ada di Australia, jadi sewajarnyalah ada yang mewakili juga. Jadi kehadiran saya ya mewakili diri saya sendiri, sekaligus Gatot.
Rumah duka RSPAD dari jauh sudah penuh antrian mobil dan sudah berdiri tenda-tenda putih. Deretan tembok sudah tak tampak lagi karena terlapisi bunga krans. Kami beruntung karena mobil kami dapat tempat parkir yang tinggal satu, seolah disediakan bagi kami di tengah ratusan mobil yang lalu lalang sibuk mencari parkir.
Suasana di rumah duka sangat santai dan tidak formal, siapa pun bisa keluar masuk dengan bebas dan lega. Mungkin inilah yang mencerminkan semangat Om Willem yang tidak membeda-bedakan orang. Tapi saking semrawutnya orang di dalam, suasana hening yang sakral juga menjadi hilang, dan suasana seperti sedang dalam resepsi saja. Dengan rangkaian bunga putih di mana-mana dan indah, dan hidangan makan dan minum di setiap sudut. Di tengah tampak peti jenazah dan di sebelah kirinya duduk anggota keluarga. Barisan yang antri mau menyalami cukup panjang dan terdiri dari berbagai rupa orang yang sering kita lihat di media massa.
Melihat suasana seperti itu, teman saya memilih duduk dan minum saja. Dia bilang, "Kamu saja yang salaman sana, aku cukup sudah absen tanda tangan." Ha? Rayuan saya untuk menemani tidak mempan, dan karena saya melihat Edwin ada di antara keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk ikut antri. Di depan saya Rahadi Ramelan, dan di belakang saya Mari Pangestu. Orang-orang itu bercampur dengan keluarga dan teman yang ingin berbela sungkawa sehingga saya merasa anggota keluarga itu sudah tak bisa lagi mengenali dengan baik orang-per-orang, dan seperti robot bersalaman. Saya sendiri bersalaman dengan Edwin tanpa kontak mata karena Edwin sudah sedemikian sibuknya menyuruh Ibu nya duduk supaya tidak capek.
Saya kembali ke ruang depan dan menemui teman saya sedang menikmati semangkuk bakso. Saya menyesal juga salaman di dalam. Sudah nggak dipedulikan - dan itu juga bukan salah mereka, saya rasa Edwin juga sudah lupa dengan saya karena sudah tak bertemu lebih dari sepuluh tahun, kecuali bila saya datang dengan Gatot. Di layar televisi, saya juga melihat bahwa Mari Pangestu pun juga disambut seadanya saja. Tapi ya, tentu lain ceritanya karena dia sekarang Menteri Perdagangan. Saya dulu pernah sering duduk meeting dan membantu CSIS dan Yayasan Panglaykim saat bekerja di Matari, namun itu dulu. Sebelum dia menikah. Saya sama sekali tidak menyalahkan keluarga Soeryadjaya : sudah berhari-hari bersalaman dengan ribuan orang, waduh, ya sudah tidak ada yang masuk otak. Saya juga mengalami ketika ayah saya meninggal. Itu pun belum ribuan, dan saya sudah sering bilang, "Yang manaaa ya? Kapan yaaa?"
Diam-diam saya jadi bertanya, kalau kenalnya gitu-gitu saja atau kalau kenalnya sudah duluuuuu sekali dan sekarang kemungkinan besar sudah dilupakan, perlu nggak ya mementingkan melayat? Toh kehadiran kita tidak penting-penting amat. Atau seperti teman saya saja? Dia dulu pernah jadi tim konsultan hukum Om Willem, dan dia merasa sudah dilupakan, jadi dia hanya merasa perlu absen. Tanpa perlu bertemu dengan siapa-siapa, toh tak ada yang kenal lagi dengannya. Dari pada sok antri ikut salam salam tapi tidak diperhatikan? Bukan salah mereka juga sih, salah saya yang sok merasa ada emotional attachment.
Tapi, saya jadi berpikir lagi, ya sudah, kalau tidak untuk Edwin, ya untuk saya sendiri saja. Pasti ada sesuatu yang menarik hingga saya diberi kemudahan untuk melayat. Saya merasa berhutang budi pada Om Willem yang sudah memberi saya pelajaran batin yang luar biasa soal keikhlasan dan rasa syukur. Jadi, tadi saya sudah pay respect and tribute dan berterima kasih dalam hati pada Beliau. Dan Beliau pasti tahu dan memperhatikan.
Selama ini kalau melayat, buat saya yang penting adalah absen, dan setor muka. Tadi saya sudah absen. Soal setor muka, walaupun sudah berhadapan, menurut saya gagal, karena tidak diperhatikan saking sibuk dan capeknya.
Jadi sebenarnya saya ini kalau melayat mau mendoakan yang meninggal, atau mau unjuk ikut duka cita pada keluarga yang saya kenal?
Kini saya punya jawab sekaligus rumusan :
-Kalau yang meninggal saya kenal, ya saya datang untuk yang meninggal.
-Kalau yang meninggal sanak keluarga dari kenalan saya, ya saya datang untuk kenalan saya.
-Kalau kenalnya sudah lamaaaaaa sekali dan sudah lamaaaaaa sekali juga tidak berhubungan, ya mendingan tidak usah datang saja... Kecuali kalau mau sok selebriti, karena yang meninggal orang yang terkenal sekali...
Dalam hal tadi, awalnya saya pikir Edwin bakal masih mengenali saya, ternyata dilihat pun tidak karena sibuk dengan ibunya. Jadi lain kali, saya akan pikir-pikir lagi, jangan-jangan kejadiannya ya seperti tadi : saya - Gatot = lupa, saya + Gatot = ingat. Sama seperti keluarga ibu di Makassar : saya - ibu = lupa...
Selamat jalan Om Willem, apa pun yang terjadi tadi, saya tidak menyesal melayat. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang pernah Om bagikan dalam sebuah pertemuan singkat yang tidak terlupakan. Tidak semua orang punya kesempatan berbincang santai dan dalam satu pertemuan mendapat ilmu hidup langsung dari seorang Willian Soeryadjaya...
Tadinya saya sudah tidak mau pergi melayat. Tapi karena diajak teman, saya jadi berpikir lagi. Ya, kenapa tidak? Toh saya pernah bekerja di perusahaan patungan Edwin dan kakak ipar saya, meskipun itu sudah lebih sepuluh tahun silam. Lagian, kakak saya itu sekarang ada di Australia, jadi sewajarnyalah ada yang mewakili juga. Jadi kehadiran saya ya mewakili diri saya sendiri, sekaligus Gatot.
Rumah duka RSPAD dari jauh sudah penuh antrian mobil dan sudah berdiri tenda-tenda putih. Deretan tembok sudah tak tampak lagi karena terlapisi bunga krans. Kami beruntung karena mobil kami dapat tempat parkir yang tinggal satu, seolah disediakan bagi kami di tengah ratusan mobil yang lalu lalang sibuk mencari parkir.
Suasana di rumah duka sangat santai dan tidak formal, siapa pun bisa keluar masuk dengan bebas dan lega. Mungkin inilah yang mencerminkan semangat Om Willem yang tidak membeda-bedakan orang. Tapi saking semrawutnya orang di dalam, suasana hening yang sakral juga menjadi hilang, dan suasana seperti sedang dalam resepsi saja. Dengan rangkaian bunga putih di mana-mana dan indah, dan hidangan makan dan minum di setiap sudut. Di tengah tampak peti jenazah dan di sebelah kirinya duduk anggota keluarga. Barisan yang antri mau menyalami cukup panjang dan terdiri dari berbagai rupa orang yang sering kita lihat di media massa.
Melihat suasana seperti itu, teman saya memilih duduk dan minum saja. Dia bilang, "Kamu saja yang salaman sana, aku cukup sudah absen tanda tangan." Ha? Rayuan saya untuk menemani tidak mempan, dan karena saya melihat Edwin ada di antara keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk ikut antri. Di depan saya Rahadi Ramelan, dan di belakang saya Mari Pangestu. Orang-orang itu bercampur dengan keluarga dan teman yang ingin berbela sungkawa sehingga saya merasa anggota keluarga itu sudah tak bisa lagi mengenali dengan baik orang-per-orang, dan seperti robot bersalaman. Saya sendiri bersalaman dengan Edwin tanpa kontak mata karena Edwin sudah sedemikian sibuknya menyuruh Ibu nya duduk supaya tidak capek.
Saya kembali ke ruang depan dan menemui teman saya sedang menikmati semangkuk bakso. Saya menyesal juga salaman di dalam. Sudah nggak dipedulikan - dan itu juga bukan salah mereka, saya rasa Edwin juga sudah lupa dengan saya karena sudah tak bertemu lebih dari sepuluh tahun, kecuali bila saya datang dengan Gatot. Di layar televisi, saya juga melihat bahwa Mari Pangestu pun juga disambut seadanya saja. Tapi ya, tentu lain ceritanya karena dia sekarang Menteri Perdagangan. Saya dulu pernah sering duduk meeting dan membantu CSIS dan Yayasan Panglaykim saat bekerja di Matari, namun itu dulu. Sebelum dia menikah. Saya sama sekali tidak menyalahkan keluarga Soeryadjaya : sudah berhari-hari bersalaman dengan ribuan orang, waduh, ya sudah tidak ada yang masuk otak. Saya juga mengalami ketika ayah saya meninggal. Itu pun belum ribuan, dan saya sudah sering bilang, "Yang manaaa ya? Kapan yaaa?"
Diam-diam saya jadi bertanya, kalau kenalnya gitu-gitu saja atau kalau kenalnya sudah duluuuuu sekali dan sekarang kemungkinan besar sudah dilupakan, perlu nggak ya mementingkan melayat? Toh kehadiran kita tidak penting-penting amat. Atau seperti teman saya saja? Dia dulu pernah jadi tim konsultan hukum Om Willem, dan dia merasa sudah dilupakan, jadi dia hanya merasa perlu absen. Tanpa perlu bertemu dengan siapa-siapa, toh tak ada yang kenal lagi dengannya. Dari pada sok antri ikut salam salam tapi tidak diperhatikan? Bukan salah mereka juga sih, salah saya yang sok merasa ada emotional attachment.
Tapi, saya jadi berpikir lagi, ya sudah, kalau tidak untuk Edwin, ya untuk saya sendiri saja. Pasti ada sesuatu yang menarik hingga saya diberi kemudahan untuk melayat. Saya merasa berhutang budi pada Om Willem yang sudah memberi saya pelajaran batin yang luar biasa soal keikhlasan dan rasa syukur. Jadi, tadi saya sudah pay respect and tribute dan berterima kasih dalam hati pada Beliau. Dan Beliau pasti tahu dan memperhatikan.
Selama ini kalau melayat, buat saya yang penting adalah absen, dan setor muka. Tadi saya sudah absen. Soal setor muka, walaupun sudah berhadapan, menurut saya gagal, karena tidak diperhatikan saking sibuk dan capeknya.
Jadi sebenarnya saya ini kalau melayat mau mendoakan yang meninggal, atau mau unjuk ikut duka cita pada keluarga yang saya kenal?
Kini saya punya jawab sekaligus rumusan :
-Kalau yang meninggal saya kenal, ya saya datang untuk yang meninggal.
-Kalau yang meninggal sanak keluarga dari kenalan saya, ya saya datang untuk kenalan saya.
-Kalau kenalnya sudah lamaaaaaa sekali dan sudah lamaaaaaa sekali juga tidak berhubungan, ya mendingan tidak usah datang saja... Kecuali kalau mau sok selebriti, karena yang meninggal orang yang terkenal sekali...
Dalam hal tadi, awalnya saya pikir Edwin bakal masih mengenali saya, ternyata dilihat pun tidak karena sibuk dengan ibunya. Jadi lain kali, saya akan pikir-pikir lagi, jangan-jangan kejadiannya ya seperti tadi : saya - Gatot = lupa, saya + Gatot = ingat. Sama seperti keluarga ibu di Makassar : saya - ibu = lupa...
Selamat jalan Om Willem, apa pun yang terjadi tadi, saya tidak menyesal melayat. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang pernah Om bagikan dalam sebuah pertemuan singkat yang tidak terlupakan. Tidak semua orang punya kesempatan berbincang santai dan dalam satu pertemuan mendapat ilmu hidup langsung dari seorang Willian Soeryadjaya...
3 April 2010 : everything is nothing, nothing is everything
Saya baru saja kembali dari bersantai menghitung bintang yang bertabur dan berkerlip seperti di planetarium, namun yang ini di alam nyata pantai anyer. Awan tipis silih berganti datang menutupi bebintangan, namun kemudian muncul lagi di langit yang cerah. Tepat di bawah deck tempat saya menikmati ice lemon tea dingin dan buah segar, ombak bergulung-gulung, dan laut di depan berkilau karena sorotan lampu. Tenang dan indah. Hanya ada saya dan teman saya, yang mengobrol tak tentu arah. Memandang ke langit hitam bertabur berlian alam, kemudian saling menunjuk rangkaian bintang dan membahasnya. Di tengah kesantaian, sempat pula kami bertukar kabar ringan.
Sayang, sekembali ke kamar, teman saya baru mengaku bahwa dia cuma bawa netbook dan tidak ada mobile modem. Saya terdiam. Teman saya setengah merasa bersalah mengusulkan mengerjakan blog di business center, namun saya menolak. Ya sudah, tidur aja deh, kan mau istirahat...
Ya, hari ini saya benar-benar istirahat, pagi setelah bangun, bersama teman dari luar kota kami sarapan santai di sebuah restaurant di tepi jalan dekat rumah. Suasana yang mendung membuat kami tidak terburu-buru. Karena salah pilih menu - bubur, maka saya jadi cepat lapar. Sebelum tiba di Marbella, Anyer, kami makan lagi, kali ini sup ikan yang luar biasa segar, enak dan sehat! Lalu berenang di pantai, dilanjutkan di kolam renang bergaya laguna. Sayang tak bisa lama di kolam karena airnya sangat pekat dengan kaporit, sehingga memerihkan mata. Malamnya, setelah makan ikan bakar yang luar biasa lezatnya, kami duduk bersantai di sebuah cafe apung, menghitung bintang.
Life is good. Malam ini, di tengah buaian alam yang sedemikian indah dan sempurnanya, saya diingatkan bahwa hidup ini indah. Kadang saya merasa terlalu sibuk, tidak hanya dengan pekerjaan, namun juga urusan rumah,pertemanan, bahkan sibuk dengan diri sendiri sehingga lupa bahwa hidup itu harus dinikmati. Meskipun saya menikmati ritme kerja yang sibuk, pertemanan yang penuh janji dan canda, dan hubungan keluarga yang kadang diwarnai drama, namun tetap saja penting dari waktu ke waktu saya diingatkan akan keindahan hidup yang diberikan Allah. Keindahan yang gratis namun tak ternilai harganya. Saat memejamkan mata dihembus sepoi angin laut dan tidak melakukan apa pun, saya meresapi arti kalimat bijak : everything is nothing, nothing is everything. Pikiran saya melayang sejenak ke almarhum Oom Willem. Ketika di sebuah acara dia mengatakan bahwa ketika semua miliknya hilang, ia malah merasakan kasih Tuhan yang luar biasa sehingga terjadi malah ia mensyukuri kemalangan yang menimpanya. Sebuah pelajaran hidup luar biasa dari seorang bijak seperti Beliau.
Dalam hati saya mengulang-ulang kata-kata itu. Everything is nothing, nothing is everything. Saat ini saya mengalami nothing is everything. Saya tidak melakukan apa-apa selain mengagumi karya Ilahi yang terpapar di langit hitam bertabur bintang, namun saat ini saya merasa menjadi orang paling beruntung dan terkaya di dunia karena diberi kesempatan merasakan nikmat Tuhan, yang belum tentu bisa disadari, dinikmati dan disyukuri oleh setiap orang padahal semuanya ini cuma-cuma. Saya ingat kata-kata saya sendiri yang pernah tertulis di artikel terakhir saya di majalah a+ : Kita ini sering lupa dan tidak menyadari, bahwa hal yang paling berharga di dunia ini kita dapatkan secara cuma-cuma. Everything is nothing, nothing is everything. Life is all good. Terima kasih Tuhan...
Sayang, sekembali ke kamar, teman saya baru mengaku bahwa dia cuma bawa netbook dan tidak ada mobile modem. Saya terdiam. Teman saya setengah merasa bersalah mengusulkan mengerjakan blog di business center, namun saya menolak. Ya sudah, tidur aja deh, kan mau istirahat...
Ya, hari ini saya benar-benar istirahat, pagi setelah bangun, bersama teman dari luar kota kami sarapan santai di sebuah restaurant di tepi jalan dekat rumah. Suasana yang mendung membuat kami tidak terburu-buru. Karena salah pilih menu - bubur, maka saya jadi cepat lapar. Sebelum tiba di Marbella, Anyer, kami makan lagi, kali ini sup ikan yang luar biasa segar, enak dan sehat! Lalu berenang di pantai, dilanjutkan di kolam renang bergaya laguna. Sayang tak bisa lama di kolam karena airnya sangat pekat dengan kaporit, sehingga memerihkan mata. Malamnya, setelah makan ikan bakar yang luar biasa lezatnya, kami duduk bersantai di sebuah cafe apung, menghitung bintang.
Life is good. Malam ini, di tengah buaian alam yang sedemikian indah dan sempurnanya, saya diingatkan bahwa hidup ini indah. Kadang saya merasa terlalu sibuk, tidak hanya dengan pekerjaan, namun juga urusan rumah,pertemanan, bahkan sibuk dengan diri sendiri sehingga lupa bahwa hidup itu harus dinikmati. Meskipun saya menikmati ritme kerja yang sibuk, pertemanan yang penuh janji dan canda, dan hubungan keluarga yang kadang diwarnai drama, namun tetap saja penting dari waktu ke waktu saya diingatkan akan keindahan hidup yang diberikan Allah. Keindahan yang gratis namun tak ternilai harganya. Saat memejamkan mata dihembus sepoi angin laut dan tidak melakukan apa pun, saya meresapi arti kalimat bijak : everything is nothing, nothing is everything. Pikiran saya melayang sejenak ke almarhum Oom Willem. Ketika di sebuah acara dia mengatakan bahwa ketika semua miliknya hilang, ia malah merasakan kasih Tuhan yang luar biasa sehingga terjadi malah ia mensyukuri kemalangan yang menimpanya. Sebuah pelajaran hidup luar biasa dari seorang bijak seperti Beliau.
Dalam hati saya mengulang-ulang kata-kata itu. Everything is nothing, nothing is everything. Saat ini saya mengalami nothing is everything. Saya tidak melakukan apa-apa selain mengagumi karya Ilahi yang terpapar di langit hitam bertabur bintang, namun saat ini saya merasa menjadi orang paling beruntung dan terkaya di dunia karena diberi kesempatan merasakan nikmat Tuhan, yang belum tentu bisa disadari, dinikmati dan disyukuri oleh setiap orang padahal semuanya ini cuma-cuma. Saya ingat kata-kata saya sendiri yang pernah tertulis di artikel terakhir saya di majalah a+ : Kita ini sering lupa dan tidak menyadari, bahwa hal yang paling berharga di dunia ini kita dapatkan secara cuma-cuma. Everything is nothing, nothing is everything. Life is all good. Terima kasih Tuhan...
Friday, April 02, 2010
2 April 2010 : Jumat Agung : Seperti yang Terakhir Kalinya
Ketika saya menyaksikan tayangan ulang result show American Idol sebelum berganti hari semalam, ada sebuah ucapan yang sangat menarik ketika Ryan Seacrest menanyai Lee, seorang dari 10 besar ajang mencari bakat menyanyi yang sangat terkenal itu. Lee di malam sebelumnya tampil sangat cemerlang dan mendapat pujian dari keempat juri. Ketika ditanya bagaimana Lee menjaga momentum agar tidak tereliminasi, Lee menjawab, "saya melakukannya seperti akan tampil yang terakhir kalinya." Artinya, ia mempersiapkan sebaik mungkin penampilannya, seperti ia tidak akan tampil lagi di minggu berikutnya. Wow! Saya jadi membayangkan, kalau kita tahu kapan terakhir akan tampil, tentu saya akan mempersiapkan sebaik mungkin sehingga penampilan saya ini menjadi yang paling berkesan dan diingat sepanjang masa.
Itu pula lah yang dilakukan Yesus Kristus. Saat saya merenungkan kisah sengasaraNya hari ini, yang membawaNya mati di kayu salib, saya menyadari bahwa sepanjang hidupNya Ia mempersiapkan karya terbesarNya di akhir hayatNya : Mengorbankan diriNya sendiri bagi penebusan dosa umat manusia dan pada hari ketiga bangkit dalam kemuliaan mengalahkan maut. Sepanjang hayatNya, Yesus dikenal melakukan berbagai macam mukjizat, mulai dari mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan Kana, menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan yang mati. Dalam semua kebesaran itu, Ia mempersiapkan detik-detik terakhirnya sebagai manusia dengan sangat spektakuler dan sempurna, dan dikenang sepanjang masa.
Ia mengawali kisah sengsaraNya dengan perjamuan bersama yang didahului dengan pembasuhan kaki para rasul. Sebuah pesan agar kita saling melayani bukan untuk dilayani. Ia kemudian makan dan minum bersama dan menunjukkan pentingnya kebersamaan. Ia kemudian mengibaratkan diriNya sebagai roti dan anggur, makanan dan minuman, agar teladanNya mengalir dalam diri dan hidup kita. Waktu Ia ditangkap dan Simon Petrus menebas kuping orang yang menangkapNya, Ia malah berbelas kasihan dan menyembuhkan lawanNya. Saat diseret ke sana sini untuk diadili, Ia tidak mengadili dan tidak sepatah kata pun mencela orang yang menzolimiNya. Ketika Ia memanggul salib derita, Ia bahkan masih memberi penghiburan kepada orang lain. Saat tergantung di salib antara hidup dan mati, ia masih mengampuni pendosa yang di sebelahNya. Ia juga memberi contoh kepada kita tentang luhurnya nilai persaudaraan dan menjunjung tinggi cinta kasih anak terhadap ibunya. Di akhir meregang maut, Ia mengajarkan kita tentang penyerahan total dengan memasrahkan hidupNya pada Allah Sang Pencipta. Dan di hari ketiga ketika bangkit, Ia memberi bukti bahwa kesucian mengalahkan segala maut. Terlepas apakah Ia di cap sebagai Tuhan kelompok tertentu, kisah dan kesaksian hidupNya memberikan inspirasi luar biasa kepada siapa pun yang terbuka menerimanya.
Hari ini ketika mengenang sengsara Yesus, saya terinspirasi atas ucapan Lee dan renungan akhir kehidupan Yesus di dunia ini dua ribu tahun yang lalu. Saya sendiri tak tahu kapan hidup ini berakhir, namun tentu sama seperti jika saya tahu kapan waktunya, saya disadarkan untuk berbuat yang terbaik setiap saat. Lee tidak tahu apakah minggu ini tereliminasi atau tidak. Karena di musim-musim sebelumnya, selalu terjadi kejutan bahwa yang difavoritkan justru tersingkir di awal musim. Tapi begitulah hidup. Karenanya Yesus selalu berpesan agar kita bersiap-siap setiap saat karena seperti pencuri, kita tidak tahu kapan saatnya tiba.
Jumat Agung kali ini membawa makna yang baru bagi saya. Kalau selama ini Jumat Agung lebih berarti harus mengikuti seremoni terlama sepanjang tahun, maka hari ini saya ditunjukkan sisi lain dari peringatan akhir perjalanan Yesus sebagai manusia. Sama seperti tauladanNya, saya diingatkan untuk selalu melakukan yang terbaik dalam bekerja, bersahabat, berinteraksi dengan keluarga, dan siapa pun juga, atau ringkasnya, melakukan yang terbaik dalam tutur kata, agar bila harus berakhir kapan pun juga, kita tahu bahwa kita sudah meninggalkan ucap dan laku yang berkesan dan dikenang sepanjang masa. Have a blessed Good Friday, everyone! God Bless You always...
Itu pula lah yang dilakukan Yesus Kristus. Saat saya merenungkan kisah sengasaraNya hari ini, yang membawaNya mati di kayu salib, saya menyadari bahwa sepanjang hidupNya Ia mempersiapkan karya terbesarNya di akhir hayatNya : Mengorbankan diriNya sendiri bagi penebusan dosa umat manusia dan pada hari ketiga bangkit dalam kemuliaan mengalahkan maut. Sepanjang hayatNya, Yesus dikenal melakukan berbagai macam mukjizat, mulai dari mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan Kana, menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan yang mati. Dalam semua kebesaran itu, Ia mempersiapkan detik-detik terakhirnya sebagai manusia dengan sangat spektakuler dan sempurna, dan dikenang sepanjang masa.
Ia mengawali kisah sengsaraNya dengan perjamuan bersama yang didahului dengan pembasuhan kaki para rasul. Sebuah pesan agar kita saling melayani bukan untuk dilayani. Ia kemudian makan dan minum bersama dan menunjukkan pentingnya kebersamaan. Ia kemudian mengibaratkan diriNya sebagai roti dan anggur, makanan dan minuman, agar teladanNya mengalir dalam diri dan hidup kita. Waktu Ia ditangkap dan Simon Petrus menebas kuping orang yang menangkapNya, Ia malah berbelas kasihan dan menyembuhkan lawanNya. Saat diseret ke sana sini untuk diadili, Ia tidak mengadili dan tidak sepatah kata pun mencela orang yang menzolimiNya. Ketika Ia memanggul salib derita, Ia bahkan masih memberi penghiburan kepada orang lain. Saat tergantung di salib antara hidup dan mati, ia masih mengampuni pendosa yang di sebelahNya. Ia juga memberi contoh kepada kita tentang luhurnya nilai persaudaraan dan menjunjung tinggi cinta kasih anak terhadap ibunya. Di akhir meregang maut, Ia mengajarkan kita tentang penyerahan total dengan memasrahkan hidupNya pada Allah Sang Pencipta. Dan di hari ketiga ketika bangkit, Ia memberi bukti bahwa kesucian mengalahkan segala maut. Terlepas apakah Ia di cap sebagai Tuhan kelompok tertentu, kisah dan kesaksian hidupNya memberikan inspirasi luar biasa kepada siapa pun yang terbuka menerimanya.
Hari ini ketika mengenang sengsara Yesus, saya terinspirasi atas ucapan Lee dan renungan akhir kehidupan Yesus di dunia ini dua ribu tahun yang lalu. Saya sendiri tak tahu kapan hidup ini berakhir, namun tentu sama seperti jika saya tahu kapan waktunya, saya disadarkan untuk berbuat yang terbaik setiap saat. Lee tidak tahu apakah minggu ini tereliminasi atau tidak. Karena di musim-musim sebelumnya, selalu terjadi kejutan bahwa yang difavoritkan justru tersingkir di awal musim. Tapi begitulah hidup. Karenanya Yesus selalu berpesan agar kita bersiap-siap setiap saat karena seperti pencuri, kita tidak tahu kapan saatnya tiba.
Jumat Agung kali ini membawa makna yang baru bagi saya. Kalau selama ini Jumat Agung lebih berarti harus mengikuti seremoni terlama sepanjang tahun, maka hari ini saya ditunjukkan sisi lain dari peringatan akhir perjalanan Yesus sebagai manusia. Sama seperti tauladanNya, saya diingatkan untuk selalu melakukan yang terbaik dalam bekerja, bersahabat, berinteraksi dengan keluarga, dan siapa pun juga, atau ringkasnya, melakukan yang terbaik dalam tutur kata, agar bila harus berakhir kapan pun juga, kita tahu bahwa kita sudah meninggalkan ucap dan laku yang berkesan dan dikenang sepanjang masa. Have a blessed Good Friday, everyone! God Bless You always...
Labels:
'Jumat Agung',
'lawrence tjandra',
'Yesus Kristus'
Thursday, April 01, 2010
1 April 2010 : Robek!
Siang tadi, teman SD saya mengirimkan foto-foto jadul - jaman dulu - salah satunya ketika kami masih SD kelas 4. Saya sih cuma kelihatan mata dan poni tebalnya saja. Yang menyolok adalah tampang guru yang tak pernah saya lupakan. Bukan karena saking favoritnya, tapi saking bencinya.
Namanya Ibu Ririn. Kejadiannya adalah di suatu siang, saya yang mencoba menyimak pelajaran diajak mengobrol oleh teman saya Paulus. Meski meladeni dengan hati-hati namun sialnya tertangkap juga. Saya dipanggil maju dan disuruh membawa buku pelajaran yang sedang dibahas. Di depan kelas dan semua mata memandang, buku catatan saya untuk pelajaran yang akan ulangan besok pagi disobek-sobek berkeping-keping. Siangnya saya mengangis lapor pada mendiang tante yang menjaga saya, karena saat itu ibu sedang di luar kota. Sambil terisak saya terpaksa menyalin semua catatan dari tetangga saya Ria. Setengah empat sore, bukunya sudah ditagih karena Ria juga harus belajar. Saya naik kelas, bahkan akhirnya lulus sarjana dengan summa cumlaude, namun saya tidak pernah melupakan kejadian itu ... dan kebencian saya yang sangat amat pada guru brengsek itu. Meskipun teman saya tadi memberi komplimen dia sebagai guru cantik, sejak saat saya naik kelas dan tidak berurusan dengannya, saya tidak pernah lagi mau bicara dan menyapanya, sampai sekarang!
Saya sendiri lulus sarjana pendidikan untuk menjadi seorang pengajar, dan dalam semua pelajaran yang saya terima saat kuliah soal belajar mengajar, tak satu pun ada pelajaran tentang punishment seperti yang dilakukannya. Bagi saya ia tipe guru yang buruk dan gagal menjalankan fungsinya sebagai pembimbing. Mungkin karena itu pula, sejak saat itu saya jadi tidak suka sekolah yang menurut saya terlalu otoriter: menilai kemampuan orang dari norma-norma standar yang belum tentu berlaku benar dalam kehidupan nyata. Karenanya orang tua saya sempat dipanggil oleh psikolog saat SMA karena hasilnya sangat aneh. Sang penyuluh membeberkan bahwa, "Anak ibu ini IQ nya 136, tapi kok aneh ya, minat sekolahnya rendah sekali."
Saya makin tidak suka sekolah ketika di SMA. Ketika semua bilang bahwa SMA itu masa terindah, buat saya SMA itu masa paling sengsara! Kepala sekolah dan orang tua saya memaksa saya masuk IPA, mungkin karena mereka melihat riwayat kakak-kakak saya yang berprestasi di IPA, dan hasil psikotes saya yang menyatakan otak saya cukup encer. Mereka bilang, IPA mendidik saya untuk berpikir analitis dan punya kesempatan untuk memilih masa depan. Buat saya itu salah besar. Hasilnya, tiga tahun didikan mereka menjadi tiga tahun yang paling sengsara dalam sejarah kehidupan saya bersekolah. Setiap kali mau ulangan, saya menjadi mules-mules tak karuan saking tak sukanya, dan tidak punya pilihan selain menjalani siksaan sekolah. Saya jadi benci fisika, saya jadi benci kimia, saya jadi benci matematika dengan segala goneometri, aritmatika, stereometri,aljabar, dan lain-lainnya! Saya jadi semakin benci sekolah! Kalau pun saya lulus summa cumlaude dengan indeks prestasi ujian akhir 4 yang berarti straight A, alias semua dosen penguji memberi saya nilai sangat memuaskan, itu karena saya hanya mau membuktikan kepada orang tua saya, bahwa saya mampu dan menyelesaikan tugas sekolah dengan baik, meskipun jurusan yang saya ambil sama sekali bukan yang mereka harapkan. Mereka ingin saya jadi dokter, saya - sekali lagi - jadinya dokter...andus.
Ibu saya adalah orang yang sangat disiplin dan mau semua yang terbaik buat anak-anaknya, termasuk dalam soal hal gizi. Kami diharuskan minum susu pagi sore. Yang jadi masalah adalah kata "harus", alias "tidak bisa tidak". Kalau kami lupa minum susu, waduh, itu jadi bencana dan petaka terbesar karena pasti akan diantar ke sekolah, dan di tengah-tengah pelajaran sekolah, pintu kelas akan diketuk oleh pembantu saya dan dengan suara lugunya yang lantang minta permisi kepada guru untuk memberikan susu yang lupa diminum. Di hadapan mata semua teman saya harus menghabiskan segelas susu yang terlupakan itu. Kejadian ini menjadi begitu traumatik, sehingga kalau di kelas teringat belum minum susu, tak akan ada satu pun pelajaran yang masuk di otak, bahkan ulangan tak bisa mengerjakan soal apapun karena terpikir bencana malu besar yang akan datang! Kini, ketika program komunikasi dan edukasi osteoporosis dan susu berkalsium tinggi yang saya rancang menjadi case study legendaris dalam ilmu komunikasi nasional dan kampanye minum susu yang saya pimpin berhasil meningkatkan konsumsi susu nasional, saya tidak pernah secara suka rela mau minum susu karena malas teringat trauma masa lalu. Dan itu tidak hanya terjadi pada saya. Trauma ini juga terjadi pada kakak-kakak saya. Ketika baru-baru ini kami tanyakan pada Beliau, Ibu dengan tertawa mengatakan, "Ya biar kapok, dan ingat terus minum susu!" Meski jadi bahan tertawaan saat kami kumpul keluarga, tapi yang namanya trauma ya tetap saja trauma. Untungnya trauma yang satu ini tidak begitu nyata terlihat dampaknya.
Maka, saat ingatan kembali ke masa SD bersama foto hitam putih yang dikirim teman saya Ninik, saya jadi memperhatikan bahwa kita sebagai orang dewasa harus ekstra hati-hati memberikan pendidikan kepada anak-anak. Kita tidak pernah tahu kelakuan kita yang bahkan sudah kita lupakan itu menancap dan menghasilkan goresan luka yang membekas hingga di masa dewasanya. Kadang-kadang, saking jengkelnya pada ulah si kecil, kita tak sadar menggunakan kata-kata kasar, atau bahkan memukulnya, atau menghukum dengan cara yang menurut kita membuat mereka kapok, namun tak sadar kapoknya itu membuahkan trauma besar dalam hidupnya.
Dengan kejadian yang saya alami secara pribadi, saya malam ini terhenyak menyadari bahwa pengalaman traumatik itu begitu dekatnya dengan kita, bahkan bisa berasal dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kejadian buku disobek itu juga membuat saya teringat akan berbagai kisah di media tentang kejadian pahit yang menimpa murid karena ulah guru yang lebih parah dari apa yang saya alami dan menjadi lampu merah bahwa selain harus berhati-hati akan sikap kita kepada anak-anak, kita juga harus selalu waspada dan selalu awas akan institusi tempat kita menitipkan pendidikan anak-anak kita karena tak jarang anak mendapat perlakuan traumatik justru dari guru dan sekolahnya.
Saya sendiri tidak punya anak, namun masih punya satu keponakan yang masih berusia 6 tahun, dan akan berurusan lagi dengan anak-anak yang lebih kecil dari keponakan-keponakan saya yang sudah menikah. Selama ini, secara umum saya sih cukup dekat dengannya. I'm the only person at least in the family that he's willing to show his perfect English. And he waited for me for blowing his birthday cake candle last year. But it's getting tougher as he's getting older, so I'd better watch my mouth and my moves. Karena kalau tidak hati-hati, saya - Anda - kita bisa menjadi sumber traumatik itu...
Namanya Ibu Ririn. Kejadiannya adalah di suatu siang, saya yang mencoba menyimak pelajaran diajak mengobrol oleh teman saya Paulus. Meski meladeni dengan hati-hati namun sialnya tertangkap juga. Saya dipanggil maju dan disuruh membawa buku pelajaran yang sedang dibahas. Di depan kelas dan semua mata memandang, buku catatan saya untuk pelajaran yang akan ulangan besok pagi disobek-sobek berkeping-keping. Siangnya saya mengangis lapor pada mendiang tante yang menjaga saya, karena saat itu ibu sedang di luar kota. Sambil terisak saya terpaksa menyalin semua catatan dari tetangga saya Ria. Setengah empat sore, bukunya sudah ditagih karena Ria juga harus belajar. Saya naik kelas, bahkan akhirnya lulus sarjana dengan summa cumlaude, namun saya tidak pernah melupakan kejadian itu ... dan kebencian saya yang sangat amat pada guru brengsek itu. Meskipun teman saya tadi memberi komplimen dia sebagai guru cantik, sejak saat saya naik kelas dan tidak berurusan dengannya, saya tidak pernah lagi mau bicara dan menyapanya, sampai sekarang!
Saya sendiri lulus sarjana pendidikan untuk menjadi seorang pengajar, dan dalam semua pelajaran yang saya terima saat kuliah soal belajar mengajar, tak satu pun ada pelajaran tentang punishment seperti yang dilakukannya. Bagi saya ia tipe guru yang buruk dan gagal menjalankan fungsinya sebagai pembimbing. Mungkin karena itu pula, sejak saat itu saya jadi tidak suka sekolah yang menurut saya terlalu otoriter: menilai kemampuan orang dari norma-norma standar yang belum tentu berlaku benar dalam kehidupan nyata. Karenanya orang tua saya sempat dipanggil oleh psikolog saat SMA karena hasilnya sangat aneh. Sang penyuluh membeberkan bahwa, "Anak ibu ini IQ nya 136, tapi kok aneh ya, minat sekolahnya rendah sekali."
Saya makin tidak suka sekolah ketika di SMA. Ketika semua bilang bahwa SMA itu masa terindah, buat saya SMA itu masa paling sengsara! Kepala sekolah dan orang tua saya memaksa saya masuk IPA, mungkin karena mereka melihat riwayat kakak-kakak saya yang berprestasi di IPA, dan hasil psikotes saya yang menyatakan otak saya cukup encer. Mereka bilang, IPA mendidik saya untuk berpikir analitis dan punya kesempatan untuk memilih masa depan. Buat saya itu salah besar. Hasilnya, tiga tahun didikan mereka menjadi tiga tahun yang paling sengsara dalam sejarah kehidupan saya bersekolah. Setiap kali mau ulangan, saya menjadi mules-mules tak karuan saking tak sukanya, dan tidak punya pilihan selain menjalani siksaan sekolah. Saya jadi benci fisika, saya jadi benci kimia, saya jadi benci matematika dengan segala goneometri, aritmatika, stereometri,aljabar, dan lain-lainnya! Saya jadi semakin benci sekolah! Kalau pun saya lulus summa cumlaude dengan indeks prestasi ujian akhir 4 yang berarti straight A, alias semua dosen penguji memberi saya nilai sangat memuaskan, itu karena saya hanya mau membuktikan kepada orang tua saya, bahwa saya mampu dan menyelesaikan tugas sekolah dengan baik, meskipun jurusan yang saya ambil sama sekali bukan yang mereka harapkan. Mereka ingin saya jadi dokter, saya - sekali lagi - jadinya dokter...andus.
Ibu saya adalah orang yang sangat disiplin dan mau semua yang terbaik buat anak-anaknya, termasuk dalam soal hal gizi. Kami diharuskan minum susu pagi sore. Yang jadi masalah adalah kata "harus", alias "tidak bisa tidak". Kalau kami lupa minum susu, waduh, itu jadi bencana dan petaka terbesar karena pasti akan diantar ke sekolah, dan di tengah-tengah pelajaran sekolah, pintu kelas akan diketuk oleh pembantu saya dan dengan suara lugunya yang lantang minta permisi kepada guru untuk memberikan susu yang lupa diminum. Di hadapan mata semua teman saya harus menghabiskan segelas susu yang terlupakan itu. Kejadian ini menjadi begitu traumatik, sehingga kalau di kelas teringat belum minum susu, tak akan ada satu pun pelajaran yang masuk di otak, bahkan ulangan tak bisa mengerjakan soal apapun karena terpikir bencana malu besar yang akan datang! Kini, ketika program komunikasi dan edukasi osteoporosis dan susu berkalsium tinggi yang saya rancang menjadi case study legendaris dalam ilmu komunikasi nasional dan kampanye minum susu yang saya pimpin berhasil meningkatkan konsumsi susu nasional, saya tidak pernah secara suka rela mau minum susu karena malas teringat trauma masa lalu. Dan itu tidak hanya terjadi pada saya. Trauma ini juga terjadi pada kakak-kakak saya. Ketika baru-baru ini kami tanyakan pada Beliau, Ibu dengan tertawa mengatakan, "Ya biar kapok, dan ingat terus minum susu!" Meski jadi bahan tertawaan saat kami kumpul keluarga, tapi yang namanya trauma ya tetap saja trauma. Untungnya trauma yang satu ini tidak begitu nyata terlihat dampaknya.
Maka, saat ingatan kembali ke masa SD bersama foto hitam putih yang dikirim teman saya Ninik, saya jadi memperhatikan bahwa kita sebagai orang dewasa harus ekstra hati-hati memberikan pendidikan kepada anak-anak. Kita tidak pernah tahu kelakuan kita yang bahkan sudah kita lupakan itu menancap dan menghasilkan goresan luka yang membekas hingga di masa dewasanya. Kadang-kadang, saking jengkelnya pada ulah si kecil, kita tak sadar menggunakan kata-kata kasar, atau bahkan memukulnya, atau menghukum dengan cara yang menurut kita membuat mereka kapok, namun tak sadar kapoknya itu membuahkan trauma besar dalam hidupnya.
Dengan kejadian yang saya alami secara pribadi, saya malam ini terhenyak menyadari bahwa pengalaman traumatik itu begitu dekatnya dengan kita, bahkan bisa berasal dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kejadian buku disobek itu juga membuat saya teringat akan berbagai kisah di media tentang kejadian pahit yang menimpa murid karena ulah guru yang lebih parah dari apa yang saya alami dan menjadi lampu merah bahwa selain harus berhati-hati akan sikap kita kepada anak-anak, kita juga harus selalu waspada dan selalu awas akan institusi tempat kita menitipkan pendidikan anak-anak kita karena tak jarang anak mendapat perlakuan traumatik justru dari guru dan sekolahnya.
Saya sendiri tidak punya anak, namun masih punya satu keponakan yang masih berusia 6 tahun, dan akan berurusan lagi dengan anak-anak yang lebih kecil dari keponakan-keponakan saya yang sudah menikah. Selama ini, secara umum saya sih cukup dekat dengannya. I'm the only person at least in the family that he's willing to show his perfect English. And he waited for me for blowing his birthday cake candle last year. But it's getting tougher as he's getting older, so I'd better watch my mouth and my moves. Karena kalau tidak hati-hati, saya - Anda - kita bisa menjadi sumber traumatik itu...
Subscribe to:
Posts (Atom)