Thursday, July 08, 2010

8 Juli 2010 : Menembus ramalan kertas

Demam piala dunia sepak bola kali ini sedikit banyak menjangkiti saya juga. Ada berbagai hal unik yang terjadi tahun ini. Hasil yang keluar sering kali di luar dugaan dan ramalan kita. Secara mengejutkan tim unggulan berjatuhan di babak awal. Argentina bahkan pulang memalukan 0 - 4 dari Jerman. Portugal yang mengusung pemain termahal di dunia Ronaldo sudah gulung tikar lebih awal lagi. Jadwal pertandingan dini hari membuat saya lebih mementingkan tidur, namun begitu membuka mata buru-buru mencari berita, siapa yang menang. Pagi ini, gacoan saya seperti yang banyak didukung banyak orang runtuh dan tersingkir dari babak final. Jerman kalah 1-0 dari Spanyol. Untuk pertama kalinya tim Spanyol maju ke babak pamungkas berhadapan dengan Belanda yang lebih dulu menang 3-2 dari Uruguay.

Kekalahan Jerman ini sudah diramalkan sehari sebelumnya oleh seekor gurita "peramal jitu" bernama Paul. Serta merta Paul naik daun dan ramalan berikutnya ditunggu pecinta bola seluruh dunia : apakah Belanda atau Spanyol yang akan menang kali ini.

Perhelatan bola akbar 2010 menyisakan pelajaran yang luar biasa bagi saya : jangan pernah meremehkan lawan. Jangan terlalu bersandar pada hitungan matematika dan logika. Tahun ini Tuhan menunjukkan dan memutarbalikkan logika dan hitungan di atas kertas. Bahwa menang di atas kertas tidak berarti menang dalam pertandingan yang sesungguhnya. Bahwa mereka yang dikudahitamkan bukan berarti harus keluar sebagai kuda hitam. Semua memiliki peluang, semua memiliki kesempatan dan semua berhak meraih kesempatan. Yang penting kita tak boleh takabur.

Saya yang saat ini sedang membuat sebuah proposal untuk sebuah pitching yang tahun-tahun sebelumnya dibuat oleh rekan kerja dan tidak pernah menang, seperti mendapat angin. Dengan arah pemikiran yang berbeda, saya jadi tidak gentar maju. Saya sering dihadapkan pada rasa takut dan minder. Dulu, ketika diminta Samuel Mulia untuk menulis dan memegang rubrik di Majalah a+, saya gentar. Sam lalu meyakinkan bahwa saya mampu. Tulisan saya akhirnya mendapat respon positif dari pembaca. Ketika dari seorang penulis naskah iklan harus loncat berjenjang-jenjang langsung mendampingi Presiden Direktur perusahaan iklan lokal terbesar, saya sempat panas dingin, tapi akhirnya maju pantang menyerah, hanya bermodalkan tekad dan selalu melakukan yang terbaik yang bisa saya kerjakan.

Keberhasilan itu bagaikan dua sisi yang berlawanan dan tajam. Di satu sisi bagi yang berjuang meraih keberhasilan, ia akan berusaha melakukan yang terbaik dan hanya yang terbaik. Di sisi lain bagi yang berjuang mempertahankan keberhasilan, ia harus berusaha untuk melakukan yang terbaik dan hanya yang terbaik juga. Bedanya yang berjuang meraih harus fokus tanpa memedulikan omongan apa pun yang ada di sekelilingnya yang dapat merontokkan iman dan kepercayaan dirinya, sedang yang berjuang mempertahankan harus fokus namun membuka diri serta memperlakukan setiap kompetitor sebagai insan yang lebih baik dari dirinya apa pun status kemampuan yang telah tercatat tentang sang saingan.

Piala dunia kali ini sekali lagi mengingatkan saya bahwa setiap orang punya kemampuan dan kesempatan yang sama, tak memandang kemampuan dan kekuatannya. Kejadian sebulan ini menunjukkan bahwa tim yang dianggap lemah tampil unggul, sedang tim yang dijagokan dan menjadi momok luluh lantak bahkan sebelum pertandingan yang sesungguhnya dimulai. Terima kasih Afrika. Saya jadi belajar untuk tidak pernah takut maju namun juga tidak pernah boleh sombong karena setiap orang berhak menang dan bisa kalah. Kalau meniru gaya Shakira, kira-kira begini bunyinya : Waka Waka e e This time is for fair chance ...

7 Juli 2010 : Jadi Tahanan

Petang ini saya menemani teman santap malam bersama dalam rangka ulang tahun temannya. Acaranya santai saja, dengan undangan terbatas dan sebagian besar sudah kenal, suasana menjadi santai dan menyenangkan. Makanannya pun cukup nikmat dengan gaya makan "tengah", jadilah kami disibukkan dengan tukar menukar makanan. Acara semakin meriah dengan pemotongan kue yang bikin heboh seluruh restoran, sehingga semua orang yang lalu lalang di depan resto menengok, seakan ingin ikut bergabung.

Pertemuan tersebut sebetulnya sudah mau berakhir bersamaan dengan usainya jam buka restoran, namun kemudian timbul ide cemerlang dari yang ulang tahun untuk memperpanjang pertemuan dengan karaoke bersama. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Saya yang tidak tahu kenapa tiba-tiba rasanya capai sekali, masih mau beli roti gandum dan menulis blog hari ini - malas ikut serta. Tapi sang empunya acara ngotot. Bahkan mengingatkan teman saya yang sekarang memang jarang ngumpul. Saya jadi diam saja, dan ketika teman saya berjanji bergabung setelah beli roti, saya cuma bilang saya capai dengan gaya yang sengaja mempertontonkan kemalasan saya. Teman saya bilang sebentar saja, tidak enak, jadi nanti balik ke tempat karaoke langsung pamit.

Saya tidak dapat roti karena toko roti langganan saya rupanya sudah tutup. Dengan tangan hampa, kami menghampiri teman-teman yang sedang karaoke. Melihat teman saya duduk, dan bergabung dalam hati saya bilang, wah, ini, alamat lama nih. Untung teman saya melihat saya sudah tak bersemangat dan dengan berbagai alasan, pamit. Berbagai kiat menahan dan memaksa dikerahkan, hingga teman-temannya "angkat tangan" dan merelakan kami pulang duluan. Di mobil, tanpa banyak bicara, saya langsung terlelap.

Maksa-maksa dan menahan-nahan seperti ini memang bukan barang baru buat kita. Kita sendiri kalau ada acara biasanya juga melakukan hal yang sama. Tapi, baru malam ini saya yang benar-benar sudah tidak mood merasa benar-benar terganggu dengan model rengekan begini. Saya sendiri bukan orang yang mau sembarangan pulang dari satu acara. Selalu mencari celah dan momen yang tepat untuk pulang. Kadang-kadang, saya juga suka kebingungan, ingin pulang, tapi tak tahu bagaimana caranya untuk minta diri, kapan waktu yang paling tepat. Akhirnya tak jarang jadi gelisah dan sudah tidak menikmati lagi acara yang sedang berlangsung. Kalau sudah begini terus pamit dan masih ditahan-tahan oleh sang empunya acara, wah lebih tersiksa lagi rasanya dan sulit untuk (kembali) menikmati suasana.

Saya mencoba mendaftar alasan mengapa kita menahan teman agar tidak pulang duluan? Ada beberapa alasan sih, ada yang memang benar-benar ingin teman tidak pulang dulu karena ingin ketemu dan ngobrol lebih lama, atau kadang-kadang basa-basi saja? Kadang saya juga menahan orang tidak pulang karena acara belum selesai, dan takut acara jadi sepi. Kadang juga menahan siapa tahu teman saya dapat doorprize nya. Macam-macam alasannya.

Lalu saya juga mendaftar mengapa kok saya mau pulang duluan. Bisa jadi karena memang masih ada hal lain yang mau dikerjakan, mau ke tempat lain, ada janji lain, acara lain, tapi bisa juga karena sekedar bosan, merasa tidak ada teman, tidak pada tempatnya alias out of place.. Kalau sekedar bosan ditahan, yaaa... saya masih mau lah mengundurkan waktu sedikit, tapi kalau memang harus melakukan yang lain, wah benar-benar sebal kalau ditahan dengan gigih...

Maka malam ini saya belajar untuk tidak sembarang menahan orang. Menahan teman sih sah-sah saja saja, tapi kalau sekali ditahan sudah bikin alasan macam-macam, mending direlakan saja dia pulang. Daripada dianya bete atau malah bikin rusak suasana, lebih baik dia pulang dengan hati senang. Siapa tahu dia memang ada yang harus dikerjakan, atau paling tidak yang tadinya tersiksa jadi sangat berterima kasih karena terbebas dari suasana yang membuatnya tidak nyaman. Yang penting kan tujuannya tercapai: everybody's happy!

Tuesday, July 06, 2010

6 Juli 2010 : Titik!

Pagi ini sambil duduk di lantai membaca koran dan makan roti gandum, saya mendengar berita infotainment yang mengabarkan bahwa Gugun "Gunawan" Gondrong digugat cerai oleh isterinya, Anna Marissa. Bagi yang mengikuti kisahnya, Gugun adalah mantan cover boy majalah Mode yang kemudian banyak berkecimpung di dunia keartisan. Ia kemudian menikah dengan Anna Marissa. Kalau tak salah dua tahun lalu, Gugun terkena kanker otak dan harus dirawat hingga di Singapura. Setelah melalui serangkaian operasi, ia kembali ke Indonesia. Selama perawatan sang isteri terlihat tabah dan setia menemani dan meladeni suaminya. Dalam masa penyembuhan, kita diberi kabar bahwa Anna hamil. Beberapa bulan lalu, mereka tampil lagi di infotainment dalam rangka ulang tahun Gugun ke 40. Mereka tampak mesra menggendong putera mereka. Kondisi Gugun belum pulih seperti sedia kala. Bicara dan geraknya sih pelan dan terbata.

Infotainment dengan gaya gosipnya menengarai adanya perselingkuhan di pihak sang isteri, yang kemudian dibantah berbagai pihak. Pengacaranya mengatakan bahwa mereka memang sudah sering cekcok sejak Gugun belum sakit. Yang lebih mendekati masuk akal adalah komentar keluarga Gugun yang memperkirakan sikap Gugun yang kadang tidak sabaran membuat Anna lelah dan tak sanggup lagi meladeni suaminya. Gosip lain yang beredar adalah masalah ekonomi dan tak terpenuhi nafkah lahir batin.

Saya yang asyik membaca koran menjadi mendongak dan terkejut. Reaksi spontan saya adalah bertanya : apa pun alasannya, kok ya tega dia meninggalkan pasangannnya yang lagi sakit ya? Tapi saya juga mengalaminya ketika satu bulan saya terpaksa istirahat karena terkena hepatitis yang kemudian sembuh total berikut timbul antibodinya enam bulan kemudian, artinya selama enam bulan lebih saya dalam tahap penyembuhan. Namun belum juga sebulan mantan saya sudah bosan menemani di rumah sakit, dan setelah itu di rumah. Padahal dia tak perlu meladeni seperti yang dilakukan Anna. Apa-apa saya lakukan sendiri, dan diurus pembantu. Dia cuma menemani saja. Itu pun ternyata membosankan, jadi saya ditinggal selingkuh. Jadi saya berkesimpulan, memang mengurus orang sakit itu bikin tidak betah, ya.

Saya kenal seorang ibu yang sudah sepuh yang memiliki anak-anak yang sangat sukses, dan tinggal tersebar di manca negara. Ibu sepuh ini sudah ditinggal mati oleh suaminya, dan sekarang tinggal di apartemen yang mewah bersama pembantunya. Di masa mudanya si Ibu adalah wanita yang anggun dan cantik, sampai saat ini kecantikan dan keanggunannya masih melekat. Sebuah serangan jantung membuatnya sempat mengalami keterhentian aliran oksigen ke otak, dan sejak saat itu pelahan-lahan Beliau mengalami kepikunan. Gejala ini kemudian dikonfirmasikan sebagai gejala Alsheimer, sebuah penyakit yang menggerogoti sistem ingatan seseorang. Saat ini kondisi pikunnya makin parah, ia berkali-kali bertanya soal hal yang sama, lupa ini dan itu. Keluarganya cemas dan sebisa mungkin secara berkala datang bergantian menemani sang ibu. Sayangnya jarak mereka jauh, sehingga kehadiran mereka tidak bisa sesering yang diperlukan. Jadilah si ibu kebanyakan waktunya seorang diri dengan pembantu di apartemen mewahnya. Sebagai orang yang tahu bahwa si Ibu terkena alzheimer, mestinya mereka maklum atas kepikunan Ibu. Namun ternyata, kondisinya membuat semua yang berurusan dengannya tak tahan berlama-lama di dekatnya. Saya pribadi memasukkan nama si ibu dalam daftar prioritas kasihan saya. Setiap ada kesempatan, saya mengajak untuk pergi makan bersama. Di saat cerah, Beliau bisa ingat cemerlang, di saat lain, ia benar-benar kosong. Tapi, itu tadi. Tak ada yang betah berlama-lama dengannya. Sebelum hari ini saya sempat bertanya : sebagai anak yang harus berbakti dan merawat orang tuanya, bagaimana yang seharusnya anak bersikap?

Melalui kejadian Gugun, si Ibu dan saya sendiri, saya lalu bertanya : sejauh mana kita harus bertahan? Kalau dari yang terjadi dengan Gugun, si ibu dan saya sendiri, kesimpulan saya, lama-lama orang yang menunggui capai, stress juga seharian berurusan dengan orang sakit sehingga mulai berpikir bagaimana dengan dirinya sendiri, bukankah dirinya sendiri juga punya hak dan kebutuhannya sendiri? Saya tiba-tiba jadi ingat kisah teman saya yang setia menunggui dan merawat kekasihnya hingga ajal menjemput. Ya, seperti itu lah semestinya sikap kita. Setia. Tapi setia itu tidak mudah. Setia itu melelahkan. Di titik inilah saya diingatkan perlunya belajar memahami unconditional love dimana semua egoisme pribadi sirna dan yang muncul adalah rasa cinta dan kasih yang murni.

Dalam berhubungan, jangankan dengan yang sakit, dengan yang sehat saja kita sering tak sabar. Kalau sudah kesal, kadang terpintas, aduh saya sudah capek, tidak tahan lagi. Maka, hari ini saya belajar pentingnya kembali ke fitrah. Kembali ke hakiki rasa cinta. Kalau saya ditanya apakah saya cinta dia, dan jawabnya adalah ya, maka seharusnya jawaban itu disertai dengan tanda titik. Bukan koma. Karena koma itu bisa menimbulkan kata tapi dan lain sebagainya. Cinta (titik) itu memberikan amanah bahwa tidak ada embel-embel lainnya, dan menerima semua konsekuensi yang datang bersama cinta itu. Jadi sekarang setiap terjadi apa-apa dengan orang-orang yang saya kasihi, saya tidak mau menimbang-nimbang dan mengeluh lagi. Saya cuma mau ingat : saya cinta dia titik!

intermezzo : Judge Not !!

I was shocked, confused, bewildered
As I entered Heaven's door,
Not by the beauty of it all,
Nor the lights or its decor.

But it was the folks in Heaven
Who made me splutter and gasp--
The thieves, the liars, the sinners,
The alcoholics and the trash.

There stood the kid from seventh grade
Who swiped my lunch money twice.
Next to him was my old neighbor
Who never said anything nice.

Herb, who I always thought
Was rotting away in hell,
Was sitting pretty on cloud nine,
Looking incredibly well.

I nudged God, 'What's the deal?
I would love to hear Your take.
How'd all these sinners get up here?
God, you must've made a mistake.

'And why is everyone so quiet,
So somber - give me a clue.'
'Hush, child,' He said, 'they're all in shock.
No one thought they'd be seeing you.'

JUDGE NOT!!
--------------------------------------------------

Remember...Just going to a place of worship doesn't make you
religious any more than standing in your garage makes you a car.

Every saint has a PAST...
Every sinner has a FUTURE!

Monday, July 05, 2010

5 Juli 2010 : double trouble!

Teman saya nasibnya seperti telur di ujung tanduk. Beberapa waktu ia mengeluh isterinya selingkuh, dia bilang sepertinya sang isteri dipelet orang. Ujung keributan itu adalah kata cerai. Karena suntuknya bukan main dan tidak bisa berpikir, ganti posisi karirnya di ujung tanduk. Ia diperingatkan perusahaan untuk membenahi diri dan karena sudah berkali-kali diperingatkan terus, maka kali ini ia diberi kesempatan terakhir. Kalau tidak perform juga, ia diancam harus angkat kaki.

Teman saya itu lalu ditugaskan untuk sebuah proyek di luar kota. Sialnya, di bandara ketika akan menuju ke kota tugasnya ia memergoki sang isteri sedang bermesraan dengan lelaki lain dan katanya mau ke Singapura. Tekad yang dibangun untuk memperbaiki kinerja seketika runtuh bersamaan dengan hancurnya hatinya. Maka bisa diramalkan, hari ini ia dipanggil atasan yang mulai memreteli pekerjaannya, dialihkan pada orang lain. Sebuah tanda-tanda sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi dalam waktu yang tak terlalu lama.

Saya pribadi, pernah mengalami dunia runtuh seperti ini juga. Ketika bercerai, ketika putus cinta, dan ketika difitnah orang. Tentu saja rasanya tidak karuan, dan yang paling jelas terlihat, bobot tubuh saya tiba-tiba menjadi ideal sekali, alias kehilangan berkilo-kilo lemak karena stress. Namun saya mencoba tidak membiarkan semua masalah pribadi berdampak pada pekerjaan saya, paling tidak meminimalisir dampaknya karena menurut saya, biar kehilangan cinta, jangan sampai kehilangan pekerjaan juga! Bisa runyam jadinya!

Apa yang saya jalani dalam memisahkan urusan kantor dan pribadi berasal dari teori dan asumsi pribadi. Tentu sulit menasihati teman dengan apa yang saya alami karena pasti dibilang setiap orang kan berbeda-beda dalam menghadapi masalah. Apa pun itu, hari ini saya ditunjukkan prakteknya - kenyataannya, bahwa bila kita tidak bisa memisahkannya akan merunyamkan seluruh hidup kita. Alhasil bukan cuma separuh jiwa melayang, tapi seluruh hidup ikutan melayang... Saya lalu menganalisa lebih lanjut. Sebenarnya, hal ini sebetulnya bertentangan kalau kasusnya "positif". Selama ini kita diminta melibatkan perasaan dalam melakukan pekerjaan untuk mendapatkan kinerja terbaik. Banyak pepatah yang mengatakan bahwa melakukan sesuatu yang kita cintai menjadikannya bukan sebuah pekerjaan, tapi mengapa kalau kita putus cinta jangan bawa-bawa soal kerjaan?

Lalu saya menguraikan, jadi : sesuatu yang positif (pekerjaan) kalau digandakan dengan hal yang positif (cinta) akan mendapatkan hasil yang dobel positif. Sedang kalau sudah negatif (masalah pribadi) kemudian menyeret hal yang tadinya positif menjadi negatif (hilangnya konsentrasi kerja) hasilnya adalah double-trouble! alias sudah kehilangan cinta, kehilangan pekerjaan pula! Maka yang harus dilakukan adalah meminimalisir unsur negatif pada sebuah hal yang negatif agar hasilnya paling tidak netral. Kalau dibuat rumus matematika nya :

(+) x (+) = ++
(-) x (-) = --
(-) x (0) = 0

Wow. Kalau selama ini masalah di atas terasa rumit, sekarang kok semudah kali-kalian ya? Kini, saya mendapat rumus jitu tentang keseimbangan hidup dari sebuah kali-kalian sederhana... Saya akan segera menutup blog ini, dan menelpon teman saya yang sedang kesulitan tadi. Siapa tahu rumus sederhana ini bisa membuka matanya sehingga masih punya waktu menyelamatkan pekerjaannya, dan hidupnya ...

Sunday, July 04, 2010

4 Juli 2010 : Senang

Hari ini merupakan hari membuat orang lain senang. Pagi-pagi saya sudah di jalan, menjemput kakak-kakak saya, dan mertua serta kakak ipar Herlin untuk pergi ke gereja bersama. Pulangnya, saya memberi surprise santap siang bersama di restoran Indonesia bergaya kolonial "Bungarampai." Suasana yang relatif sepi membuat kami semua nyaman bersantap dan mengobrol relaks. Belum lagi ditambah kedatangan Tante Sonya, pemilik 3 resto ternama di Jakarta : Meradelima, Kembang Goela dan Bungarampai sendiri - yang ikut nimbrung di meja kami dan terlibat pembicaraan seru, karena Beliau serta merta mengenali ibu mertua kakak saya yang dahulunya bintang pesta. Sampai saat ini keanggunan dan kecantikan Beliau masih terlihat jelas. Beliau terlihat sangat menikmati dan senang dengan suasana nostalgia siang ini. Bagi saya, santap siang ini sesuai dengan tujuannya : memberikan kesenangan dan kegembiraan sebelum kakak-kakak saya pulang ke Australia sore ini.

Malamnya, saya menghadiri kebaktian penghiburan sekaligus peringatan meninggalnya suami kakak sepupu saya 7 hari yang lalu. Tanpa persiapan apa pun, saya sekali lagi diminta mewakili keluarga untuk berpidato menyampaikan ucapan terima kasih untuk dukungan yang luar biasa besarnya dari warga gereja GPIB tempat sepupu saya bernaung dan segenap kerabat lain yang begitu setia menemani keluarga almarhum di masa perkabungan ini. Di akhir acara, kakak sepupu saya menyatakan terima kasih yang mendalam.

Meskipun capai sekali, namun hari ini saya puas dapat menyenangkan banyak orang, terutama orang-orang tua. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya selalu luluh pada orang tua ketimbang anak-anak. Bagi saya lebih kasihan mereka yang tinggal di panti wreda ketimbang panti asuhan karena biasanya anak-anak cepat menarik hati banyak orang yang kemudian tak segan meraih kocek atau memberi perhatian pada si kecil. Sedang orang-orang tua itu adalah orang-orang yang "terasing" dan "terbuang" yang jarang mendapat kunjungan kerabatnya, padahal mereka juga sama rindunya diperhatikan oleh sanak saudaranya sama seperti adik-adik kecil di panti.

Hari ini saya merasakan betapa kesenangan dan kebahagiaan orang lain yang kita buat bahagia ternyata memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang juga tak tergambarkan di hati saya.

Saturday, July 03, 2010

3 Juli 2010 : Gembala Salah Kaprah

Dalam perjalanan mencari makan siang yang asik, kakak saya Gita bercerita bahwa calon isteri kerabat kami yang semangat menjadi seorang Katolik patah arang gara-gara ia dinyatakan tidak lulus oleh seorang suster pembimbing dalam ujian akhir setelah selama setahun penuh ia ikut katekisasi. Katekisasi adalah pelajaran agama Katolik bagi seseorang yang ingin masuk agama Katolik sebelum ia dibabtis. Ia tidak lulus karena gagal menjawab satu soal : Ia tak ingat doa malaikat. Doa malaikat? Doa apa pula itu?

Saya yang mendengar saja sudah naik darah rasanya. Saya bilang siapa susternya? Akan saya labrak dia! Suster itu bukan pembimbing yang baik! Alih-alih ia membimbing dan membawa lebih banyak orang menjadi pemeluk agama yang baik, ia malah kehilangan salah seorang "domba"nya. Ia sungguh-sungguh gembala yang gagal dan jelek! Saya teringat pengalaman sendiri saat SMP waktu mau dibabtis. Saya juga tidak lulus. Tapi rupanya jiwa pembangkang sudah tumbuh dari dulu. Saya lalu protes dan meminta Ibu saya menghadap Suster Kepala Sekolah dan berkata, "Siapa Anda yang berhak menentukan saya siap atau tidak siap menjadi Katolik? Saya merasa siap menjadi seorang Katolik dan Anda tidak punya hak untuk menghambat panggilan Tuhan hanya karena saya tidak hapal kalimat syahadat dan doa tobat!" Memang, kalimat syahadat sangat lah panjang, dan doa tobat sungguh sulit masuk ke otak sehingga setiap kali ulangan dan diminta menulis kedua doa tersebut, saya tidak pernah benar. Saya baru hapal kalimat syahadat baru-baru ini, dan sejujurnya, sampai saat ini saya cuma bisa melafalkan doa tobat kalau ada teks di hadapan saya. Tapi mendengar ucapan keras saya, Suster Kepala Sekolah tak berkutik, dan memperbolehkan saya ikut jajaran yang dibabtis. Sampai saat ini saya masih taat sebagai seorang Katolik karena kesiapan dan pilihan saya sendiri.

Saya suka tidak mengerti mengenai patokan seseorang terhadap suatu hal. Dalam hal ini, si suster sudah mengambil patokan yang sangat keliru mengenai kesiapan seseorang memeluk sebuah agama. Apa artinya kemampuan menghapal doa yang sama sekali tidak masuk daftar doa penting itu bagi kesiapan seseorang menjadi Katolik? Doa itu datangnya dari hati. Ketika para murid minta saran, barulah Yesus memberi contoh sebuah doa versiNya yang kemudian kita tiru sampai sekarang. Yesus juga tidak pernah mengajarkan kita berdoa Salam Maria. Doa itu diciptakan gereja untuk menghormati Bunda Maria, tapi bukan berarti bahwa doa dari lubuk hati kita sendiri tidak kalah ampuhnya dengan doa karangan gereja.

Kita ini sering terperangkap dengan patokan-patokan dan aturan-aturan harafiah yang awalnya dipergunakan agar menjaga ketertiban, namun akhirnya kehilangan hal yang paling penting dan hakiki dari masalah itu sendiri. Saya sekali lagi pernah membangkang ketika gereja menetapkan harus mengikuti 4 kali pelajaran persiapan menerima sakramen Krisma dan tidak boleh sekali pun absen. Ketika itu saya akan ujian SMA dan Fisika adalah momok yang menyebalkan bagi saya. Maka saya minta izin kepada Pastor agar diperbolehkan sekali saja absen. Pastor tentu saja dengan kaku menolak. Saat itu juga saya berkata tegas dengan sedikit keras kepala, "Pastor, mana surat permandian saya! Saya tidak jadi ikut sakramen Krisma sekarang! Memangnya kalau saya tidak lulus SMA Pastor mau menanggung?" Saya baru mengambil pelajaran dan mendapat sakramen Krisma empat tahun kemudian di Salatiga saat saya akan menuntaskan gelar sarjana.

Siang ini, Gita lalu mencari si calon yang patah arang itu dan berpesan agar tidak kalah dengan suster ngawur itu. Memilih dan memeluk agama itu adalah hak setiap orang, dan tidak ada satu orang pun yang berhak menentukan kesiapan seseorang untuk menerima Tuhan. Bila Tuhan sudah memanggil, siapa kita yang berhak menghalanginya.

Sambil menyetir, saya hari ini belajar untuk tidak kehilangan fokus gara-gara terlalu banyak membuat dan mengikuti aturan. Aturan boleh saja dibuat untuk ketertiban, tapi aturan bukanlah tujuan utama. Bila sifat-sifat hakikinya sudah terpenuhi, aturan sudah tak diperlukan lagi, karena yang syarat utama yang dibutuhkan sudah ada di sana. Intinya, jangan biarkan kita (terlalu) terikat aturan! Semoga sang suster diampuni dosanya, dan tidak masuk neraka karena sudah mengusir seorang yang dipanggil Tuhan keluar dari pintu surga...

2 Juli 2010 : Mulus

Seperti janji saya kepada ibunda beberapa saat lalu, pagi ini saya meminta izin kepada partner kerja untuk diperbolehkan menerima keponakan saya magang selama tiga bulan. Ketika itu Ibu bilang untuk secepatnya, kalau bisa mulai Juli ini. Dengan IPK 3,71 dan kegiatan segudang di kampusnya, ia memang memenuhi syarat untuk diterima magang.

Ketika meminta untuk mengurusi keponakan, Ibu saya banyak berpesan untuk membantu satu-satunya cucu perempuannya dari kakak no 4. Saya berjanji untuk membantu tapi menolak intervensi lebih lanjut proses magangnya di kantor dengan dalih supaya ia belajar "hidup". Setelah pembicaraan ini, muncul lagi pertanyaan dari kakak, kali ini soal bisakah temannya ikutan magang. Saya bilang, wah kalau temannya, harus ikut proses yang berlaku. Saya tidak mau dijadikan aji mumpung orang lain. Soal memberi fasilitas "kemulusan jalan" adalah hal yang membuat saya sangat hati-hati dan alergi.
Pernah saya merekomendasikan teman baik ke sebuah perusahaan langsung ke Presiden Direkturnya, dan karena riwayat kerjanya memang impresif, ia langsung diterima. Sebulan kemudian, ia muncul dan mengatakan kalau ia berhenti dari perusahaan itu karena bersitegang dengan salah seorang teman kerjanya yang baru. Wah, saya benar-benar murka dan malu kepada Presiden Direktur kenalan saya : teman macam apa yang saya rekomendasikan ke Beliau? Saya heran dan sebal, tidakkah teman saya tahu bahwa yang namanya rekomendasi itu berarti reputasi saya juga ikut saya pertaruhkan di dalamnya?

Orang sering lupa bahwa yang namanya rekomendasi itu bukan hal yang mudah. Rekomendasi itu harus dipertanggungjawabkan. Jadi jangan berpikir bahwa selesai merekomendasikan, maka antara pemberi dan penerima sudah tidak ada urusannya sama sekali. Itu pendapat yang sangat salah! Tingkah laku si penerima rekomendasi berbanding lurus dengan jaminan pribadi yang diberikan pemberi. Sejak saat itu, saya sudah sangat alergi soal memberi rekomendasi!

Balik lagi ke keponakan saya tadi, sore ini saya mendapat sms bahwa ia sudah ditelepon oleh bagian SDM dan bisa mulai magang pertengahan bulan ini. Tapi beberapa menit kemudian ia balik sms dan mengatakan bahwa ia "tidak jadi PKL tanggal 12 Juli karena masih belum tahu apa nanti-nanti masih ada kegiatan kampus atau tidak." Wah, saya benar-benar terganggu dengan sms nya. Mungkin ia tidak seratus persen salah, karena ia tidak menyadari sudah berlaku semena-mena. Mungkin karena yang dipikir bahwa saya ini om nya, ia tidak lagi terpikir bahwa ia sudah minta magang di salah satu perusahaan konsultan komunikasi terbesar di negeri ini. Sebuah perusahaan yang yang menjadi dambaan banyak mahasiswa untuk magang, yang sangat hati-hati dan ekstra ketat menerima anak magang. Saat ia mengajukan surat untuk bisa magang secepatnya dan direspons sangat cepat, tanpa sadar ia malah "main jadi nyonya besar." Malu rasanya pada bagian SDM yang sudah saya minta tolongi. Saya tidak mau dianggap mentang-mentang keponakannya Pak Tjandra, bisa semena-mena, sedang orang lain termohon-mohon mau masuk di sini.

Meskipun terganggu, saya mencoba berhati-hati menanggapinya, terutama ini berurusan dengan keluarga sendiri. Maka ketika pengunduran ini secara hati-hati disampaikan lagi oleh kakak saya, saya cuma membalas singkat sms nya : Jangan kelamaan mundurnya, ini sudah nolak anak lain (dari universitas nomor satu di Indonesia!).

Akhirnya saya curhat pada kakak saya Gita dan minta tolong dia untuk berbicara dengan adiknya. Saya bilang padanya :" yang gini ini nih, hari ini saya terkonfirmasikan jangan kasih rekomendasi atau memberi kesempatan karena kenal atau keluarga, karena yang diberi kesempatan sering tidak mengerti "bahayanya" memberi rekomendasi dan kesempatan."

Saya benar-benar jengkel mendengar orang lain bilang, apa salahnya sih memberi kesempatan, rezeki pada keluarga sendiri, teman sendiri atau bahkan orang lain! Saya sering di cap sombong karena tidak mau memberi kesempatan, tapi saya tetap tak peduli. Ini bukan soal sombong atau tidak. Mengapa orang tidak mau berusaha sendiri dalam hidupnya? Mau enak jalan pintas melulu? Orang yang jalannya mau mulus mulus saja, tidak belajar dan mendapat apa-apa dari hidup. Mereka tidak bisa menghargai hidup lebih baik dari orang yang berjuang dalam hidupnya. Saya sungguh jauh lebih menghargai orang yang berjuang keras dalam hidupnya dari pada mereka yang keluar masuk mobil mewah tanpa usaha. Saya pernah mengalami berangkat dari nol sampai pada posisi sekarang, dan saya benar-benar bersyukur karena saya bisa mengatakan apa adanya, "Inilah hasil jerih payah saya." Saya juga bisa lebih luas pandangan hidupnya dan lebih bijaksana dalam memandang kehidupan karena berinteraksi dan merangkak bersama jutaan orang lainnya, melampaui mereka, dan mencapai apa yang saya raih selama ini dengan kemampuan sendiri.

Hari ini sekali lagi saya ditunjukkan bahwa yang mulus bukan selalu berarti bagus. Justru luka dan goresan, peluh dan kelelahan lah yang membuat hidup ini sempurna.

Friday, July 02, 2010

1 Juli 2010 : Nekad!

Sebuah penelitian mengingatkan agar kita tidak meremehkan orang dengan penghasilan rendah! Penelitian itu menunjukkan bahwa meskipun budget terbatas, kelompok ini cukup selektif dalam memilih barang yang dibeli karena tidak mau mengorbankan kualitas.

Produsen menangkap kebutuhan dan tuntutan konsumen dan karena jumlah kelompok ini cukup besar, terbuka luas pula peluang menjajakan dalam bentuk produk berkualitas dengan harga ekonomis. Nokia contohnya, kalau kita cermat memperhatikan, hanya menerbitkan beberapa model canggih untuk kepentingan citra. Sisanya, dalam jumlah banyak mereka menggelar ratusan model low-end namun tetap dijejali fitur-fitur mutakhir yang diinginkan konsumen dengan harga ekonomis sehingga terjangkau kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Cina juga menangkap peluang ini, bahkan sudah menanamkan citra bahwa produknya super canggih dengan harga super murah, sehingga kalau ada apa-apa dengan produknya tak ada satu pun konsumen yang komplen dan dengan penuh pengertian (maklum karena buatan Cina yang tak tahan lama) membeli unit yang baru. Berbagai consumer product juga berbondong-bondong membuat kemasan ekonomis, mulai dari sabun colek, shampoo, sampai ke susu. Bahkan sebuah produk susu menggambarkan dalam iklannya, memberi contoh seorang ibu yang pulang dari pasar menghitung uang recehnya, tak sanggup membeli produk susu yang diinginkan, melonjak girang mendapat berita bahwa susu yang didambakannya kini hadir dengan harga yang bisa dijangkaunya. Si ibu lalu buru-buru kembali membeli produknya. Sekarang, produk kecantikan dunia yang dulunya di awang-awang sudah juga bisa memolesi wajah-wajah rakyat kebanyakan.

Penelitian ini membuka mata saya. Kalau orang dengan kemampuan (sangat) terbatas tak mau berkompromi dengan kualitas, sudah selayaknya saya juga tak berkompromi dengan kualitas. Dan ini tidak hanya terbatas pada produk, namun juga kualitas dan prinsip hidup.

Bicara soal kualitas hidup dan makin maraknya produk atau jasa yang menawarkan produk atau jasanya dengan harga terjangkau namun dengan kualitas yang terjaga, petang ini saya mendengar cerita dari seorang teman yang terlambat datang makan malam. Teman saya yang pemimpin redaksi majalah ternama dunia, tergopoh-gopoh memasuki ruang makan privat yang disediakan pihak restoran sambil meminta maaf atas keterlambatannya. Begitu duduk, ia bercerita ihwal mengapa ia terlambat. Ketika siap-siap mau berangkat, tiba-tiba ada beberapa orang berpakaian rapi muncul di depan pintu ruang kerjanya. Ia segera mencheck pada resepsionis dan mengatakan bahwa para tamu diperbolehkan masuk karena mengaku dari perusahaan klien. Ternyata, ujung-ujungnya tamu bergaya bahasa Inggris namun orang lokal itu mau berjualan paket pusat kebugaran, berikut voucher diskon di berbagai tempat mewah. Ketika diteliti, vouchernya palsu. Maka teman saya melimpahkan orang tak diundang ini ke asistennya, dan sang asisten secara halus namun tegas mengusir mereka.

Saya jadi kaget mendengar ceritanya karena selama ini para penjaja produk itu beraninya sebatas telepon yang mengganggu dan tak tahu waktu yang selama ini saya atasi dengan kilat bernada ketus,"maaf tidak berminat dan tak usah telepon-telepon lagi!" Saya terkejut karena para penjaja ini sekarang sudah lebih nekad lagi dengan segala tipu dayanya berani mendatangi dan berhadapan langsung dengan targetnya. Di luar itu, telepon genggam saya sekarang penuh dengan pesan sampah menawarkan ini itu, sebuah tindakan yang sudah melanggar privasi orang dan sangat mengganggu!

Malam ini, saya jadi mendapat tambahan pelajaran yang melengkapi pengetahuan yang saya peroleh pagi hari tadi : Saya harus mempertahankan kualitas (dan prinsip) hidup tetapi harus selalu berjaga-jaga dan berhati-hati, karena ada saja orang atau keadaan yang dengan segala cara licik berusaha mempengaruhi kita untuk membobol pertahanan iman kita. Godaan itu muncul dari arah yang tak pernah terduga, tinggal sekuat apa iman kita menjaga agar kita tetap berdiri tegak. So, never compromise on quality, always stay alert!

Wednesday, June 30, 2010

30 Juni 2010 : Emas dalam Kubangan

Tiga hari ini saya banyak mendengarkan kotbah sehubungan dengan meninggalnya saudara sepupu saya. Salah satu kotbahnya adalah mengenai betapa Tuhan mengasihi kita. Sang pendeta memberikan ilustrasi yang menarik, diangkat dari kejadian nyata. Alkisah, seorang ibu dari Surabaya sangat kehilangan suaminya yang meninggal karena penyakit kronis. Sebagai tanda cintanya, si ibu mengenakan kedua cincin kawin di jarinya, menyatukan cincin kawinnya sendiri, dan cincin almarhum suami. Suatu ketika ketika sedang di kamar mandi, terjadilah sebuah insiden : cincin kawin suaminya yang agak longgar itu terjatuh ke lubang wc. Karena terkejut dan refleks, si ibu justru menekan tombol dan segeralah si cincin menggelincir hilang ke bak septitank. Keesokan harinya, dengan rasa kehilangan yang mendalam, sang ibu memanggil layanan pompa tinja. Ketika baknya sudah relatif kering, ia meminta tangga dan dengan dasternya ia turun mengobok-obok bak yang masih penuh tinja. Semua tetangga berdatangan dan mulai bergunjing, mengatakan ia gila. Ia memulai dari satu sudut ke bagian yang lain. Namun sudah beberapa area, cincin itu tak ditemukan juga. Ia tak putus asa. Ketika hari hampir berganti gelap, tiba-tiba terdengarlah teriakan riang : Akhirnya, ketemu! Ia menemukan cincin yang hilang dan mengusapnya dengan penuh kasih. Dengan linangan air mata, ia mengenakan kembali cincin yang masih kotor itu.

Sang pendeta membandingkan kejadian itu dengan kita manusia. Betapa kita ini hidup di kubangan dosa, dan betapa kasih Allah tak memedulikan kubangan kotor untuk mencari kita. Ketika Ia menemukan ummatnya yang hilang, Ia bersorak senang dan berpesta. Seketika itu juga, saya diingatkan bahwa saya ini tidak sedang dalam gelimang kenikmatan karena nikmat dunia itu bagaikan kubangan bagi kesucian. Sudah di kubangan, saya masih sok berkuasa, sok gaya, sok ini dan itu, padahal ibarat cerita tadi, saya ini bak cincin yang bergelimang lumpur tinja. Kalau Tuhan mau bersusah payah membongkar timbunan dosa untuk menemukan saya lalu menggosok hingga berkilau lagi, apakah usaha saya untuk membantu Tuhan menemukan saya? Adakah usaha saya untuk menjaga kualitas emas yang ada di dalam sehingga Tuhan tak usah susah-susah menggosoknya hingga berkilau, atau setidaknya mempermudah Tuhan menemukan kita karena kilau hidup kita?

Dalam suasana duka, saya diperdengarkan sebuah kisah yang mencerminkan Kasih Tuhan kepada saya. Dalam keadaan duka, Tuhan justru menunjukkan kasihNya kepada saya. Bahwa Ia tak peduli saya berkubang dosa, Ia tetap mencari dan ketika menemukan, Ia menggosok dan mengenakan saya di jari manisNya dengan penuh kasih, kebanggaan dan suka cita. Saya bersyukur sekaligus malu. Bersyukur atas semua karuniaNya, dan malu karena selama ini saya lebih banyak lupa dan berdiam diri saja menunggu Tuhan turun tangga mencari dikubangan demi menyelamatkan saya.

Namun pikiran saya tidak hanya berhenti pada rasa syukur saja. Saya tiba-tiba diberi teladan untuk tidak cepat-cepat menyerah dalam membuka pintu maaf dan dengan penuh kasih membawa orang-orang yang bersalah kepada saya mengembalikan kilau emasnya. Tiba-tiba saya teringat orang-orang yang membuat saya kesal, yang telah menzolimi saya, yang sudah membuat saya marah dan bahkan dendam karena kesalahan yang pernah dilakukannya kepada saya. Saya tiba-tiba ingat perumpamaan seorang ayah menyambut anaknya yang sesat dan hilang yang bertobat kembali ke rumahnya, dengan penuh suka cita dan pesta. Saya seharusnya tidak berhenti pada rasa syukur karena "ditemukan dan diselamatkan" Tuhan dari kubangan, tetapi saya sendiri juga harus turut bersama Tuhan berkubang mencari cincin-cincin emas lain yang hilang, dan ketika menemukannya menggosoknya dengan suka cita sehingga berkilau kembali dan mengenakannya dengan penuh kebanggaan.

Terima kasih Tuhan, melalui kehilangan seorang sepupu saya boleh melihat betapa besarnya kasihMu untuk anak-anakMu ini. Bantu aku untuk dapat menjaga diri dan meningkatkan kemilau cahayaku agar bersinar terang, walau terkubur di dalam kubangan serta kekuatan dan kearifan agar aku bisa ikut serta mencari cincin-cincin yang hilang supaya bisa sama berkilau kembali seperti yang kau lakukan saat menemukan kembali anak-anakMu yang hilang...

Tuesday, June 29, 2010

29 Juni 2010 : Sang Pemilih

Saya memperoleh pesan blackberry yang sudah hilang jejaknya, namun inti isinya masih teringat sampai sekarang. Pesan itu menceritakan seorang murid di suruh memetik sebuah bunga terindah di sebuah lorong kebun bunga dengan syarat tak boleh kembali. Di ujung lorong, terlihat sang murid tidak membawa apa-apa. Maka sang guru pun bertanya, "Apakah kamu tidak menemukan bunga yang menurut kamu indah?" Sang murid pun berkata, "Bukannya tidak menemukan, sebetulnya saya menemukan banyak "calon" bunga yang ingin saya petik, namun saya berpikir mungkin di depan nanti saya akan mendapatkan yang lebih baik. Ketika sampai di ujung lorong, saya akhirnya menyadari bahwa bunga yang terbaik sudah saya lalui, namun karena Guru melarang saya kembali, maka saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya. Hasilnya, saya tidak memperoleh apa-apa." Sang Guru berkata, "Begitulah pelajaran hidup, nak."

Saya tercenung membaca pesan yang sangat dalam ini. Berapa kali saya kehilangan kesempatan terbaik karena saya menjadi pemilih yang cerewet? Sering kali saya menilai bahwa yang baik tidaklah cukup baik buat saya, padahal kekurangannya tidak seberapa. Saya lupa, di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan seratus persen seperti yang saya mau. Selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Selama ini saya sering terlalu terfokus pada kekurangannya, padahal sering kali kesilauan kita terhadap sesuatu yang kita pikir baik, ternyata menyisakan kekurangan yang lebih banyak dari yang kita singkirkan sebelumnya.

Pesan di atas juga menyadarkan betapa seringnya saya kesal dan membuang untuk urusan yang sepele, lupa bahwa akan semua yang baik yang sebetulnya lebih besar dari kekesalan saya. Begitu terjegal sedikit masalah, saya langsung jengkel dan merasa, mungkin "dia" bukan yang terbaik bagiku, bukan yang cocok bagiku, mungkin sebaiknya saya cari yang lain, yang lebih baik, padahal sebenarnya tak ada yang lebih baik dari yang sudah ada.

Hari ini saya diajak untuk bisa menghargai dan mencintai apa yang sudah saya miliki, karena apa yang saya punya itu adalah yang terbaik. Kalau ada kekurangan, bisa jadi adanya di diri saya sendiri, kurang toleransi, kurang mau mengerti dan kurang menghargai.

Saat mau menutup blog hari ini, saya memperoleh lagi pesan yang lain, yang lagi-lagi mengingatkan kita untuk menghargai kehidupan dan apa yang sudah kita miliki. Begini bunyinya :

Hidup

•Di saat kamu ingin melepaskan seseorang..
ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya
•Di saat kamu mulai tidak mencintainya. ..
ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya
•Di saat kamu mulai bosan dengannya..
ingatlah selalu saat terindah bersamanya
•Di saat kamu ingin menduakannya. ..
bayangkan jika dia selalu setia
•Saat kamu ingin membohonginya. ..
ingatlah disaat dia jujur padamu
•Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu
Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu,
Kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu
•Yang indah hanya sementara
•Yang abadi adalah kenangan
•Yang ikhlas hanya dari hati
•Yang tulus hanya dari sanubari
•Tidak mudah mencari yang hilang
•Tidak mudah mengejar impian
•Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada
Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga
•Ingatlah pada pepatah,
"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai,
maka sukailah apa yang kamumiliki saat ini"
•Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif....
•Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun,
begitu bangun semuanya sirna tak berbekas
•Rumah mewah bagai istana,
harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan
jabatan yg luar biasa, namun...
Ketika nafas terakhir tiba,
sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi
sehelai benang pun tak bisa dimiliki
Apalagi yang mau diperebutkan
Apalagi yang mau disombongkan
•Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani
•Jangan terlalu perhitungan
•Jangan hanya mau menang sendiri
•Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka
yang berjasa bagi kita
•Belajarlah tiada hari tanpa kasih
•Selalu berlapang dada dan mengalah
•Hidup ceria, bebas leluasa...
•Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan... .
•Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan
•Tak ada dendam yang tak bisa terhapus....

Monday, June 28, 2010

28 Juni 2010 : kotak

Subuh-subuh saya sudah dibangunkan oleh dering telepon yang memberitahu bahwa sepupu saya sudah tiada. Karena kami semua Katolik, saudara saya lalu menghubungi yayasan pengurusan jenazah Katolik. Kami cukup tercengang permintaan kami ditolak karena sepupu saya ini berasal dari gereja non Katolik. Kami lalu menghubungi gereja almarhum, dan mendapatkan nomor telepon yayasan kristen, barulah pengurusan jenazah dapat dilakukan.

Sampai saat ini, kalau ingat kejadian di atas, saya jadi heran. Orang yang sedang bingung dan kesusahan ditolak ditolong karena beda gereja. Wow! Kemana rasa kemanusiaannya? Begitu ekslusifkah kelompok keagamaan ini sehingga menolak membantu ? Saya berpikir, jangan-jangan Yayasan Kristen ini akan melakukan yang sama kalau ada warga Katolik yang meninggal. Saya jadi ingin bertanya alasan penolakannya. Apakah karena tidak paham tata cara kematian gereja lain, dan kalau membantu malah disalahkan? Bisa jadi.

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika banjir besar menimpa Ibu Kota tercinta kita, susah benar mencari bantuan. Teman saya terjebak di lantai dua di rumahnya di Kelapa Gading, dan tak ada satu pun yang bisa memasuki area itu. Kami tak tahu harus minta bantuan siapa, sampai pada akhirnya kami minta bantuan TNI dan mendapat pinjaman pelampung. Saat itu saya mempertanyakan, kenapa ya kita ini tidak punya layanan emergensi seperti 911 di Amerika? Ketika menyampaikan gagasan itu, banyak yang mendukung, tapi tak ada yang mau bergerak.

Saya masih terobsesi mewujudkan layanan 911 di Indonesia. Tapi rasanya semua ini masih sebatas mimpi saja, karena dalam skala kecil, pagi ini saya dipaksa berhadapan dengan kenyataan pahit. Yayasan keagamaan yang harus menunjukkan teladan di bidang kemanusiaan justru sama sekali tidak memperlihatkan kepeduliannya pada orang lain. Kemana perginya kotbah yang setiap Minggu diteriakkan sang imam? Begitu pentingnya kah menjaga kepentingan kelompok sehingga kehilangan sentuhan uluran tangannya bagi orang lain yang membutuhkan?

Saya jadi ingat kejadian sumbang menyumbang. Suatu saat ada yang berkomentar pokoknya yayasan yang disumbang harus di bawah kelompok agama tertentu. Saya gatal berkomentar, tapi batal. Jadi ketulusan kita membantu itu ada syaratnya juga. Harus yang seagama, harus yang ini dan itu. Kalau begitu, benarkah kita tulus? Pantas saja John Lennon kesal dengan pengotak-kotakan ini sehingga lahirlah lagu Imagine.

Injil Lukas 10:38-42 menceritakan ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya, "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri denan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Akankah kita seperti Marta yang sibuk sendiri, melayani orang-orang yang dianggap penting dilayani, tetapi tidak memperoleh esensi berkah terbaik? Hari ini saya ditunjukkan betapa sikap kekelompokan sering kali membuat kita buta akan hakiki persaudaraan yang sesungguhnya. Dengan kata lain, jangan fanatik. Semua sama, semua satu. Tak ada yang lebih penting, dan tak ada yang kurang penting...

Sunday, June 27, 2010

27 Juni 2010 : Experiencing Life

Hari ini untuk pertama kalinya saya berdandan ala busana Jawa Solo, lengkap dengan keris asli dan blangkonnya, sebagai among tamu di resepsi pernikahan kerabat bersama kakak-kakak tercinta yang khusus datang dari Perth. Untuk pertama kalinya pula saya mengikuti prosesi pernikahan adat Jawa yang "full version" sungguh penuh upacara yang setiap langkahnya bermakna filosofis yang dalam. Selama ini, saya hanya datang sepotong-sepotong saja. Dalam hati saya menilai, oooo jadi yang saya saksikan di Jakarta selama ini yang versi pendeknya ya, yang sudah disesuaikan dengan kebiasaan orang Jakarta yang serba cepat dan tidak sabaran. Dari acara resepsi dibanjiri orang jam 10:30 hingga saya harus pulang jam 13:00, acaranya belum selesai juga. Semalam, kerabat saya membisiki, ya gini ini adat Jawa, banyak ini itunya. Bahkan ketika semalam sang pengantin kecapaian dan istirahat terlebih dahulu, upacaranya sama sekali tak terpengaruh karena di malam midodareni itu, yang berperan justru wakil-wakil keluarga yang sibuk serah terima seserahan. Setengah bercanda saya bilang dalam hati, pantesan di Jakarta banyak yang cerai, upacaranya aja disunat, jadinya sang pengantin tak mendapat keseluruhan wejangan sebagai bekal pernikahan...

Yang membuat saya kagum adalah kegotongroyongan dan rasa kekeluargaan penduduk setempat. Kerabat saya bukan seorang kaya raya. Tinggalnya di gang nya gang di desa Tawangmangu. Namun sifat ringan tangannya dikenal luas. Tak heran yang datang hingga isteri menteri dan pejabat teras ibu kota sampai ke kerabat keraton. Tetangga-tetangga mereka menyediakan rumahnya yang lebih luas untuk tempat siraman dan malam midodareni, sementara rumah depan merelakan tempatnya dijadikan tempat panggung hiburan. Tetangga sebelahnya lagi, rela dijajah menjadi tempat rias. Rumah Pak RW bahkan terbuka luas 24 jam menjadi tempat "sekretariat" Dengan turun tangannya semua pihak, pernikahanpun menjadi megah bak keluarga kerajaan, dengan upacara yang tampak mewah dan gemerlap keraton.

Karena kerabat, saya yang biasanya punya kebiasaan menghilang dari sebuah acara pun menjadi terpaku di tempat acara. Karena tidak bisa ke mana-mana dan sinyal telepon genggam yang kadang ada kadang tidak, saya mengikuti keseluruhan acara dengan seksama dan menyelami kekayaan adat jawa yang sarat maknanya. Saya memperhatikan detil acaranya, detil busananya, ekspresi orang-orang yang terlibat dalam upacara maupun mereka yang datang sebagai tamu, apa yang dikatakan dalam tuturan Jawa halus yang begitu panjang, detik-detik upacaranya, semua terasa indah dan puitis.Semuanya terorganisir dengan sangat rapi. Sebagai among tamu, saya mendapat kemudahan untuk menyaksikan semua upacara ini dari jarak yang sangat dekat.

Sebetulnya, hari ini saya tidak belajar sesuatu secara khusus. Namun pengalaman pertama berbusana lengkap Jawa dan hanyut dalam suasana upacara Jawa yang kaya membuat hari ini hari yang istimewa. Saya beberapa kali "menjadi orang Sunda" ketika menjadi bagian keluarga mantan, tapi sebagai orang yang dibesarkan di tanah Jawa, dan kuliah di Jawa Tengah, saya tidak pernah mengalami apa yang saya alami hari ini. Saya sungguh menikmati keindahan alam pegunungan yang berbaur kental dengan nuansa Jawa. Saya merasa menjadi seorang Jawa sejati, tak peduli mata saya yang sipit, dan tampang yang menurut teman saya lebih cocok dalam balutan T-Shirt ketat. Pada akhirnya saya memahami. Hidup ini bukan hanya soal belajar. Hidup ini juga soal experiencing life. Itu lah yang saya alami hari ini. Dan saya bersyukur karenanya.

26 juni 2010 : Maaf

Saya bangun jam 3 pagi untuk bisa berangkat dari rumah jam 4 subuh agar sampai di bandara jam 5 karena akan lepas landas jam 6 menuju ke Solo guna menghadiri pernikahan kerabat di Tawangmangu. Saya tiba di terminal F jam 5 kurang dan langsung menuju ke konter keberangkatan. Begitu melihat waktu yang kurang satu jam, petugas mengarahkan saya untuk ke konter cepat check in mandiri. Namun gagal,karena dibilang wrong entry terus-terusan. Jadi, saya diantar ke konter eksekutif. Begitu melihat tiket, sang petugas dengan santainya bilang, "Pesawatnya cancelled." Saya seperti mimpi bertanya, "maksudnya?" "Ya cancelled. Tidak terbang, jadi kalau Bapak mau, ikut penerbangan kedua jam 9:30." Ketika nada saya tinggi menanyakan kok tidak ada pemberitahuan, petugasnya bilang,"Maaf pak, ini baru saja diberitahu." Jadi, kami penumpang tak diberi pilihan. Ketika saya dan saudara saya mau duduk bersebelahan, saya mendengar kata maaf lagi, sudah penuh, duduknya pisah.

Jadilah saya terlantar. Untung saya punya fasilitas untuk singgah di executive lounge, jadi masih bisa molor di sana selama 3 jam. Sampai di pesawat dan sudah mengudara, saya mendengar orang di belakang saya ribut. Ternyata mereka kelewatan tidak diberi konsumsi. Sekali lagi kata maaf saya dengar. Hari ini, saya mendengar kata maaf seperti sedang diobral dan tidak punya makna karena cuma sekedar ngomong saja. Maaf, tapi tetap saja melakukan kesalahan tanpa merasa bersalah.

Saya benar-benar kesal dan berteriak di status bbm, facebook dan twitter. Saya bilang, mendingan namanya diganti dari burung perkasa menjadi emprit saja! Saya benar-benar kesal disuguhi oleh wajah wajah yang tidak merasa bersalah namun dengan entengnya mengatakan maaf. Betapa seringnya kita menemui kejadian ini. Begitu banyaknya orang yang mengatakan maaf tanpa rasa bersalah. Asal buka mulut tapi tetap saja lurus melakukan kesalahan, dan melindas orang lain, tanpa memikirkan bahwa orang lain itu juga punya keperluan. Gara-gara pesawat yang mau ngirit, menyatukan penerbangan pertama dan kedua, saya jadi kehilangan waktu sama sekali, dan terlambat datang ke acara siraman kerabat. Sampai di sana, tanpa ganti baju yang lebih sesuai, kami langsung diterima keluarga pengantin yang sudah menunggu lama untuk memulai acara ini. Dan pihak penerbangan tidak mau tahu. Angkuhnya bukan main, kan yang butuh sana, bukan saya, begitu kira-kira sikapnya. Tapi kalau mau jujur, meskipun sangat jarang, saya juga pernah begitu. Asal sesuai dengan kemauan, saya pura-pura tuli dan tidak tahu, main "tabrak" saja kepentingan orang lain, sambil ala kadarnya bilang, "Maaf"

Hari ini saya kena batunya dan diingatkan agar tidak asal bilang maaf. Maaf itu mengandung penyesalan, dan penyesalan itu juga mengandung arti kita berusaha melakukan perbaikan atas kesalahan itu. Kalau tahu bakal cancel, paling tidak mereka punya usaha untuk memberitahu pelanggannya agar bisa mempersiapkan diri dan jadwal lebih baik, apakah mau ikut di penerbangan berikutnya, atau mengejar pesawat lain agar tidak ketinggalan jadwal seperti saya ini. Jadi, lain kali, kalau saya bilang maaf, maka saya mengatakannya dengan setulus dan sepenuh hati, penuh penyesalan dan melakukan usaha sebaik-baiknya untuk memperbaiki keadaan.

Soal saya jadi terlambat datang di acara siraman? Ya, terpaksa saya juga bilang "Maaf", tapi kan paling tidak saya sudah berusaha ngebut dan datang langsung ke tempat acara secepat mungkin...

Friday, June 25, 2010

25 Juni 2010 : Suci

Kasus Ariel-Luna Maya- dan Cut Tari memasuki babak baru ketika Ariel ditetapkan sebagai tersangka dan masuk tahanan. Infotainment pagi ini meliput kehadiran beberapa artis untuk menengok Ariel siang kemarin. Rupanya, aksi simpati ini mendapat reaksi keras dari Farhat Abbas sebagai ketua LSM yang sebelumnya tak pernah saya dengar. Ia mengatakan kehadiran para pesohor itu adalah bentuk dukungan yang salah kaprah dan tidak akan mengubah keputusan hukum.

Saya jadi heran, ada urusan apa dia dengan Ariel? Ia menggembar-gemborkan kecaman soal perzinahan dan perselingkuhan, tapi masih teringat jelas di benak saya ketika ia sendiri digempur kasus nikah siri sampai beberapa kali dengan wanita yang lebih tua darinya. Memang dia tak terlihat mendokumentasikan aksi ranjangnya dengan para wanita itu, tapi buat saya aksinya kali ini sangat aneh. Begitu gigih ia menyalak. Ada apa? Saya jadi berandai-andai, kalau suatu saat nanti dia yang kepentok (lagi dan lebih parah), bagaimana ya nasibnya? Saya membayangkan akan seru sekali bila ada orang yang menyalak sama kerasnya (atau bahkan lebih keras) dengan dia sekarang!

Saya jadi ingat cerita Yesus yang menyelamatkan perempuan yang dituduh berzinah dan akan dihukum rajam oleh masyarakat. Ia membuat garis di atas debu dan mempersilahkan orang yang tidak berdosa untuk melemparkan batu pertama. Seketika gonggongan pedas para penuduh yang sok suci itu pun senyap, dan satu per satu meninggalkan tempat, menyisakan Yesus dan perempuan itu. Maka Ia berkata,"Aku pun tak menghukum dikau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi."

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari ke dua kejadian yang berbeda jarak lebih dari dua ribu tahun ini?

1. Tak ada manusia yang bersih dari dosa. Tak ada seorang pun yang berhak menghakimi apakah orang ini berdosa atau tidak. Hak itu semata-mata adanya di Tuhan.

2. Kalau seorang suci memberikan kesempatan bagi seorang berdosa untuk memperbaiki sikapnya, siapa kita manusia yang berhak merenggut kesempatan orang untuk memperbaiki kesalahannya.

Alkitab memberikan petunjuk di Matius 7:1-6

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balik di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Bagaimanakan engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari saudaramu."

Apa yang dilakukan Farhat sebenarnya sangat mengganjal hati, namun setelah mengingat kisah Yesus dan membaca ayat Matius di atas, saya jadi disadarkan : siapa saya untuk memiliki hak menghakimi Farhat. Saya sendiri bukan orang suci, dan dalam berbagai kesempatan saya juga bertindak sebagai Farhat. Sok tahu mana yang benar, sok tahu seharusnya bagaimana harus bertindak, padahal minus saya banyak sekali. Saya jadi ngeri kalau semua ukuran yang saya pakai untuk menghakimi orang dibalikkan kepada saya. Bisa-bisa saya lebih "tidak lulus" lagi!

Lewat kelakuan Farhat, saya disadarkan. Semoga ada orang atau jalan yang mengingatkan dia akan ayat-ayat di atas, sama seperti Tuhan telah memakainya untuk mengingatkan saya...

Thursday, June 24, 2010

24 Juni 2010 : Jejak

Selama dua setengah jam tadi saya menunggui kerabat dekat yang tak sadarkan diri sejak kemarin di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Dengan selang di sana sini, ia berjuang dengan napas satu-satu melawan berbagai penyakit yang menyerangnya sekaligus. Badannya yang tadinya tegap ganteng terkulai layu. Saya duduk di samping isterinya dan mengobrol selama dua setengah itu, sambil sesekali diganggu suster yang melakukan pemeriksaan ini itu dan tindakan ini itu yang membuat perut saya mual dan keringat dingin.

Pikiran saya melayang-layang. Melihat ketakberdayaan kerabat yang begitu tadinya begitu giat, saya mempertanyakan apa gunanya hidup ini. Orang memang berjuang dalam hidupnya, melalui masa kanak-kanak, remaja, dewasa, menikah, sibuk membesarkan anak, menjadi kakek dan meninggal. Sudah? Begitu saja? Lalu buat apa hidup ini? Terbayang lagi milyaran orang hidup di dunia ini, semua dengan pola yang sama. Lalu mengapa harus melalui kehidupan di dunia ini? Apa gunanya kita eksis, hadir di dunia ini? adakah perlunya juga kita ini ada?

Saya lalu berpikir, kalau cuma begitu-begitu saja, apa gunanya kita hidup? Di awal tahun melalui proses hypnotherapy untuk meneropong kehidupan masa lalu, saya mengetahui kehadiran saya di dunia sekarang ini adalah untuk belajar berdamai dengan diri sendiri dan belajar unconditional love. Tapi, sudah? Sampai di situ saja? Mungkin juga, tapi saya merasa kalau "cuma" belajar itu saja, kok ya mubazir? Semestinya selain belajar ke dua hal itu, saya juga bisa memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia yang saya tinggali ini. Kalau saya telaah lagi, ternyata dari milyaran orang yang memenuhi bumi ini, hanya segelintir yang memberi manfaat, meninggalkan jejak positif bagi kemajuan dan kehidupan semesta. Sebagian lagi ada yang memberi dampak, tapi bersifat negatif. Namun sebagian besar lainnya, ya... ada tidak ada sebagai individu, tak ada bekasnya. Saya lalu menanyai diri sendiri : saya termasuk yang mana ya? Jangan-jangan cuma masuk yang sebagian besar ini.

Kalau ditanya saya inginnya seperti apa, ya saya akan menjawab mantap ingin meninggalkan jejak positif, yang selalu dikenang atas sumbangsih saya kepada dunia tercinta - apa pun sumbangsih itu. Namun, kalau melihat dari jumlah (orang yang bisa memberikan dampak positif), sumbangsih yang berarti itu benar-benar langka dan tak mudah untuk diwujudkan. Siapalah seorang "saya", yang cuma begini-begini saja mau memberi pengaruh bagi masyarakat banyak. Tiba tiba saya teringat film Oceans dan Ocean World yang saya tonton baru-baru ini. Ikan sardin adalah ikan yang relatif kecil dan lemah. Itu kalau dilihat satu per satu. Namun ikan sardin selalu bergerak bersama ribuan sardin lainnya sehingga kalau dilihat secara keseluruhan, kumpulan sardin itu bagaikan raksasa yang bahkan mengalahkan besarnya seekor paus. Saya lalu membandingkan sumbangsih saya sebagai seorang individu. Saya mungkin bukan seekor ikan paus, namun upaya yang saya lakukan bila digalang dan digabungkan dengan upaya serupa yang dilakukan orang lain bisa memberi dampak luar biasa besarnya.


Dalam perjalanan pulang, saya iseng membuka facebook dan di status Kafi Kurnia tertera:

What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal - Albert Pine

Pas sekali dengan apa yang berkecamuk di kepala saya. Kalau di akhir hidup ini saya cuma sukses berdamai dengan diri sendiri dan memahami arti unconditional love, maka terlepas dari naiknya derajat kematangan roh, bagi dunia ini, upaya saya akan ikut mati bersama lenyapnya jasad ini. Tapi apa pun yang saya lakukan bagi sesama dan dunia, sekecil apa pun, akan tetap tinggal dan bermanfaat bagi kehidupan dunia. Saya jadi mengerti, bahwa hidup di dunia ini tidak hanya melulu soal "naik kelas" dalam hal ke-roh-an diri sendiri, tapi juga lulus dalam hal bagaimana saya mempergunakan kemampuan pribadi yang serba terbatas ini untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan dunia yang lebih baik. Tiba-tiba saya merasa, hidup ini tidak cuma "begini-begini" saja. Our ability to make a difference (in life) will separate us from the billion clutter ...

Wednesday, June 23, 2010

23 Juni 2010 : Kecipratan!

Dua hari ini saya berkumpul dengan para saintis muda, pelajar puteri SMA kelas satu se Indonesia yang lolos seleksi menuju babak final dan bertemu dalama acara science camp dua hari di daerah Ciawi. Mereka luar biasa kreatif, pintar, cekatan dan penuh percaya diri padahal dari segi usia masih 15 - 16 tahunan. Mereka harus berhadapan dengan para juri peneliti senior yang sudah belasan, bahkan puluhan tahun malang melintang di bidangnya di universitas-universitas paling ternama di negeri ini, dan mereka dapat menjawab pertanyaan yang tajam dan "kejam" dengan tangkas. Pemenangnya datang dari berbagai SMU di Indonesia, menandakan bahwa sekolah daerah apa lagi luar pulau tak kalah kualitasnya dengan rekan-rekannya di Jawa.

Ketika saya berkesempatan memperkenalkan juara pertama kepada teman-teman media, salah satu teman wartawan menanyai pemenang, "uangnya akan diapakan?" Jawaban mereka yang polos awalnya mengundang tawa,"akan dibagi rata." Namun kelanjutannya membuat semua yang berada di tempat itu tercekat, termasuk guru pembimbing mereka, "Selain kami bertiga, kami punya dua guru pendamping. Karena ketentuannya hanya boleh bawa satu pendamping, maka yang hadir di sini hanya satu guru. Karenanya, uang yang kami dapat akan dibagi rata berlima, sehingga semua yang terlibat dapat menikmati hasil jerih payah bersama."

Wow, saya jadi terpikir, berapa sering saya melupakan orang yang "berjasa" dalam pekerjaan dan hidup saya? Pura-pura lupa, dan menikmati hasilnya sendiri, apa pun itu? Entah hadiahnya berupa kue yang sangat lezat sehingga enggan berbagi, atau bentuk rezeki lainnya? Lebih jauh lagi, saya jadi usil ingin tahu, dari ke 5 orang yang terlibat di sana, apakah peran mereka sama rata sehingga pantas dibagi rata hasilnya? Bagaimana kalau yang satu punya peran yang lebih besar dari yang lainnya? Bagaimana kalau ada yang khawatir kalau perannya tak kelihatan sehingga berusaha menonjol sendiri? Bagaimana kalau dalam pembagian tugas ternyata si petugas lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya sendiri, pokoknya pekerjaan saya harus sukses! Sabodo teuing dengan yang lain?

Pagi tadi, begitu sampai tempat acara, saya sudah mendapat "siraman rohani" alias curhat dari kanan kiri mengenai "kelakuan seorang anggota tim." Merasa tahu orang lain bakal lapor dam mengeluh pada saya, orang yang bersangkutan lalu berusaha membela diri, padahal hingga selesai acara saya belum angkat bicara sedikitpun. Kelakuan yang dikeluhkan, adalah tindakan yang dilatarbelakangi tujuan agar tugas yang diembannya berjalan sukses. Tidak ada salah dengan hal ini, kalau saja ia tidak menginjak area tim yang lain sehingga merugikan yang lainnya. Pada akhirnya, toh apa yang dikerjakannya tidak akan berhasil secara keseluruhan kalau anggota tim yang lainnya tidak berhasil. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah tim bukan hanya ditentukan oleh keberhasilan sebagian anggotanya, tapi keseluruhan anggotanya. Jadi, mestinya ia melihat dari perspektif yang menyeluruh. Ada kalanya mengalah dan memberi jalan kepada anggota yang lain justru memuluskan kesuksesan bersama karena kalau salah satu tim tak sukses, kita semua yang kecipratan! Kita tidak bisa serta merta menuding kepada yang gagal : gara-gara dia kita gagal!

Maka pas sekali acara ini ditutup dengan statement si pemenang. Semua jerih payah dan hasil dibagi rata. Tak peduli bahwa yang kerja setengah mati adalah si murid, dan si guru cuma ongkang-ongkang kaki mengomentari hasil keringat si murid, semuanya punya peran yang besar. Kalau si murid mengabaikan komentar si guru, bisa jadi mereka tidak menang. Kalau si guru terlalu menyetir si murid, bisa-bisa ketidakorisinalitasan proposal terlihat jelas.

Hari ini saya diingatkan dua hal penting melalui statement "semua kecipratan" tadi :

1. Jangan pernah lupa pada semua yang telah berjasa dan terlibat dalam sebuah proyek, apa pun bentuk proyek itu.
2. Jangan pernah lupa bahwa bagian tugas saya memang penting, namun tugas orang lain juga sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting. Jadi bukan soal penting tidaknya peran saya, karena yang terpenting adalah keberhasilan bersama.

Terima kasih adik-adik muda, kalian telah memberikan jawaban atas apa yang harus saya katakan kepada tim saya besok ketika mereview "curhat" tadi pagi!

Tuesday, June 22, 2010

22 Juni 2010 : Cair alami

Setelah sekian lama mengenalnya di layar perak dan kaca, mulai dari "Ada Apa Dengan Cinta" yang fenomenal, akhirnya hari ini saya bertemu Nicholas Saputra. Tidak sekedar bertemu, namun menemaninya mengobrol, makan siang, menunggui presentasi, hingga mendampinginya bertemu wartawan di sebuah acara selama lebih dari empat jam karena ia adalah brand ambassador klien saya. Nico bukan tipe orang yang sombong sehingga dalam sekejap kami sudah seperti teman ngobrol yang cukup asyik. Meski demikian, boleh dibilang, kami cukup terselamatkan oleh blackberry dan telepon yang tak putus-putusnya "mengganggu" pembicaraan kami berdua. Terselamatkan? Ya, kalau dilihat, kami berbicara asyik-asyik saja, namun terus terang ada kalanya kami terdiam cukup lama, mungkin karena sama-sama berpikir, mau ngobrol apa lagi ya? Untungnya aksi diam kami terselamatkan blackberry, karena bisa melongok dan menjawab bbm yang masuk, sehingga kebisuan itu tak tampak sama sekali. Untungnya kami lalu menemukan sebuah pembahasan yang seru, sehingga menemukan "klik" nya dan sejak saat itu dan hingga mengantarnya pulang, kami merasa nyaman ngobrol apa saja.

Di luar dugaan banyak orang, saya ini orang yang sungguh introvert. Orang melihat saya sebagai seorang people's person, yang mudah dekat dan bergaul dengan siapa saja, namun sebenarnya saya ini no-body person. Karena tuntutan pekerjaan, saya sering terlihat seperti sedang terlibat pembicaraan seru dengan orang yang baru saya temui. Kenyataannya, kalau bertemu lagi di kesempatan lain, mungkin orang yang sama tak akan mendapatkan kehangatan pembicaraan yang sama ketika kami bertemu karena pekerjaan. Kalau diceburkan dalam sebuah pesta yang sebagian besar tamunya tak saya kenal, saya lebih senang sembunyi di pojok yang nyaman di mana saya bisa minum dan makan bebas. Alih-alih kenalan dengan orang baru, saya lebih banyak diam seribu bahasa dan baru buka mulut kalau ditanya. Itupun seperlunya. Jarang saya bisa langsung klik dan ngobrol seru. Buat saya, basa basi itu perlu upaya yang luar biasa besarnya, dan bukan pekerjaan yang mudah. Karenanya, di luar jam kerja, saya lebih memilih menikmati aktivitas sendiri, atau dengan orang-orang terdekat. Itu pun jarang dalam bentuk kelompok. Kebanyakan satu-satu karena saya menikmati kesantaian yang one-on-one, bisa saling bertukar kabar dan cerita secara pribadi, tanpa harus menjadi orang lain dengan segudang sopan santunnya.

Saya pernah membuat kesal kakak saat berlibur di Australia dan diajak piknik bersama teman-temannya. Saya menolak karena seakrab-akrabnya saya dengan teman-temannya, tujuan saya ke Australia adalah untuk "rehat" bersosialisasi (kalau dihitung, karena pekerjaan, dalam sehari saya bisa bertemu puluhan hingga ratusan orang. Jadi saya merasa perlu sekali-sekali "cuti" bertemu orang). Saat itu, saya lebih memilih piknik dengan kakak dan ibu saya, ketimbang ada orang lain di luar lingkup keluarga yang ikut. Kalau dengan saudara, saya bisa jadi saya apa adanya. Kalau ada orang lain, tentu sikap dan tingkah saya perlu diatur juga, dan untuk momen pribadi, saya enggan melakukannya.

Pekerjaan saya menuntut saya menjadi seorang yang people's person. Sampai saat ini, saya masih kesulitan untuk segera berakrab-akrab dengan orang yang baru saya jumpai. Kalau bukan soal pekerjaan, tentu saya akan lebih banyak diam dan meninggalkan orang yang baru saya kenal. Tahu akan kekurangan saya itu, saya diam-diam memperhatikan dan belajar dari memperhatikan orang-orang yang sehari-harinya berjumpa dengan orang, seperti Nicholas Saputra.

Tadi, di sebuah wawancara, ia ditanya bagaimana rasanya menjadi seorang selebriti. Ia menjawab, "Yang menentukan selebriti atau tidak itu masyarakat. Bagi saya, saya ini pekerja film." Ia nampak enggan dielu-elukan secara berlebihan. Ketika media ingin mewawancarainya, saya minta izin dulu apakah ia tidak keberatan diwawancara, sehingga ia punya waktu mempersiapkan diri. Dari pertemuan dengan beragam orang, saya belajar bahwa ada orang yang dari "sono" nya seorang yang people's person yang secara alami membuat nyaman orang yang baru pertama kali ditemuinya, dan pertemuan mengalir begitu saja penuh kehangatan. Namun tak sedikit orang yang seperti saya : butuh kesiapan mental untuk bersosialisasi. Saya pribadi merasa perlu siap mental untuk menghadapi audiens saat saya menjadi moderator atau narasumber atau pengajar tamu. Saya juga mempersiapkan mental ketika harus hadir di sebuah acara, apakah acara itu formal atau sekedar pesta kumpul-kumpul. Kesiapan yang saya lakukan adalah dengan mengetahui acara apa yang akan saya datangi, siapa audiensnya dan peran saya di sana apa : apakah sentral, atau hanya diperlukan sekejap saja, atau sekedar pelengkap alias undangan. Saya juga mempersiapkan diri apakah dalam acara tersebut saya bakal berjumpa dengan orang yang sebagian besar tidak saya kenal, atau sebagian besar saya kenal. Karena seringnya saya berjumpa orang, persiapan itu tentunya menjadi semakin singkat karena biasa. Namun, ada kalanya juga mood saya tidak "ngangkat" sehingga pertemuan yang sudah dijadwalkan terasa basi, setidaknya buat saya sendiri. Saya merasa tidak dapat chemistry nya dan menilai pertemuan itu "gagal". Apa yang terjadi pada saya ternyata dialami juga oleh para pesohor yang sudah selayaknya setiap saat dikelilingi oleh orang-orang yang tak dikenalnya. Karenanya saya tak heran bila membaca dan menonton berita, di saat tertentu dnara sumber terlihat begitu bersahabat dengan media, dan di kali lain terasa begitu jauh dan asing. Itu karena secara alami, dia bukan seorang people's person dan saat itu moodnya sedang tidak siap berhadapan dengan massa, baik dalam bentuk media atau penggemar. Buat saya sendiri, "social mode" adalah sebuah tombol yang tidak otomatis "on". Harus dinyalakan dulu, baru berfungsi.

Hari ini saya menyadari, memang sudah dari "sono" nya saya ini bukan "people's person" yang alami, and that's alright, karena bukan berarti saya tidak bisa menjadi seorang "people's person". Para pesohor sudah membuktikannya, bahwa mereka baik-baik saja, asal bisa menempatkan diri dan menyalakan "tombol social mode" nya pada saat yang tepat. Saya cuma perlu berlatih lebih banyak lagi agar bisa menyalakan tombol itu dengan super cepat sehingga tak ada yang melihat perbedaannya, antara yang alami dan yang bisa karena belajar dan latihan ...

Monday, June 21, 2010

21 Juni 2010 : Menguji Keberuntungan

Acara Super Deal 2 Milyar malam ini berujung dengan si pembawa acara mengawarkan kepada yang paling banyak menerima hadiah untuk maju ke babak final : kesempatan meraih 2 milyar! Tanpa ragu lagi si finalis menyatakan mau ikut main! Jsdi, ia mau menukarkan hadiah yang sudah ia kumpulkan sebanyak tujuh juta Rupiah demi mengejar 2 milyar. Iming-imingnya, kalau luput mendapat 2 milyar, ia masih berkesempatan memenangkan tirai 3 : liburan ke Universal Studio Singapura senilai 20 juta! Maka dengan penuh semangat ia memutar roda keberuntungan, dan ternyata berhentinya di 5 juta Rupiah. Seolah menjadi setan penggoda, sang pembawa acara pun menawarkan kesempatan sekali lagi, kali ini 2 milyar nya ditukar dengan 50 juta. Jadi selain punya kesempatan menukarkan hadiah 5 juta nya menjadi 50 juta, si finalis tadi masih mungkin juga dapat yang 20 juta. Roda diputar lagi, dan berakhir di 2 juta. Akhirnya, sang finalis membawa pulang 2 juta Rupiah, tekor 5 juta gara-gara mimpi 2 milyar nya.

Meskipun ini hanya permainan seru-seruan, tapi acara ini mengingatkan saya agar tidak serakah. Kalau saya jadi dia, saya akan berhenti di 7 juta. Kalau ternyata orang lain bersedia mengambil risiko dan memperoleh lebih dari yang saya dapatkan, itu rezekinya. Bukan rezeki saya. Memang, kita sering tertantang dan penasaran, kurang selangkah lagi, mencapai 2 milyar, tapi sebanyak apa probabilitasnya sampai ke dua milyar? Memang, kalau kita tak mencoba, kita tak pernah tahu hasilnya seperti apa. Kenyataannya, saya melihat dalam hidup ini betapa banyak orang yang serakah. Sudah mendapat jatah masih juga menyerobot jatah orang lain. Sudah mendapat rezeki, masih juga mengais rezeki tidak halal. Kurang-kurang-kurang. Tak pernah puas.

Saya sering dicemooh oleh teman karena sikap saya yang sangat konvensional dan sangat tradisional soal investasi. Saya pernah mendapat kuliah tentang wealth management dan sudah disediakan seorang konsultan untuk memutarkan uang di bursa saham. Tapi, waktu itu saya kok merasa tidak sreg karena merasa investasi seperti ini risikonya sama besarnya dengan imbalannya, jadi saya bilang saya mau pikir-pikir. Di saat saya pikir-pikir itulah bursa saham Amerika rontok berat. Sampai saat ini sang konsultan yang tadinya rajin menelpon lenyap tak berbekas. Saya ingat bagaimana ia mengiming-imingi uang saya akan bekerja sendiri menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

Keberuntungan sering kali membuat kita ini seperti main judi. Sekali beruntung, kita sering mendorong keberuntungan kita sampai pada limitnya. Siapa tahu bisa dapat lebih, coba lagi, coba lagi. Yang ada, kita suka tak mau terima kalau keberuntungan itu ada batasnya. Sekali rezekinya selesai, kita baru sadar kalau bukan kita tambah harta, malah kehilangan harta.

Malam ini saya ditunjuki wajah kecewa dan meringis si kontestan yang mestinya bisa bawa pulang 7 juta, tapi malah cuma kebagian 2 juta. Saya ditunjukkan kapan harus berhenti menguji keberuntungan : bahwa kalau sudah diberi kesempatan mendapat rezeki, sebaiknya berhenti dan mensyukurinya. Kalau kita akan mendapat rezeki lebih, tentu dengan jalan apa pun kita akan mendapatkannya, asal halal dan ikhlas. Bukan berarti kita tak berusaha, namun yang penting kita tahu gelagat dan batasnya. Saya diingatkan kembali untuk bersyukur atas rezeki yang sudah dianugerahkanNya kepada saya. Juga untuk selalu minta bimbingan dan jalanNya, supaya kalau memang jodoh, rezeki tak akan kemana, ujung-ujungnya sampai ke tangan saya juga ....

Sunday, June 20, 2010

20 Juni 2010 : Mendengar

Semua keinginan saya untuk waktu santai terpenuhi di hari Minggu biasa ini. Bangun siang, ke gereja, nonton film, spa, belanja roti, transfer uang ke kakak untuk urunan duka cita, bayar kartu kredit, makan pagi dengan nasi goreng bawang cabe yang isitimewa, makan siang dan malam yang menyenangkan, semua terlaksana. Kesantaian saya rasanya terlengkapi dengan sebuah film yang sangat memanjakan mata, dari segi pemandangan maupun pemainnya, termasuk jalan ceritanya yang sangat ringan dan entertaining : Letters to Juliet.

Meskipun ringan, film tersebut membuat saya bertanya pada diri sendiri juga. Diceritakan Sophie Hall (Amanda Seyfield yang terkenal lewat Mamamia!)pergi ke Verona untuk berbulan madu sebelum tunangannya Victor membuka restaurant barunya di New York. Victor adalah orang yang workaholic dan apa-apa yang dibicarakan hanyalah seputar pekerjaan dan kecintaannya pada masakan. Apa yang diceritakan Sophie seolah tidak penting lagi. Selalu terpotong dan pembahasan kemudian kembali didominasi seputar masakan. Kelanjutan ceritanya, sebaiknya Anda tonton sendiri karena film ini begitu ringan dan indah untuk didengar melalui ocehan saya.

Yang mau saya bahas sekarang adalah sikap seperti Victor dan Sophie. Saya mengalaminya sendiri ketika pasangan saya berasal dari latar belakang kerja yang berbeda. Tentu saat berjumpa kami ingin saling berbagi pengalaman seharian, dan hal itu pasti tak lepas dari apa yang masing-masing alami seharian di tempat kerja. Awalnya, sebagai orang yang baru kasmaran, semuanya terdengar begitu menarik. Namun, kalau pembahasan mengenai pekerjaan lama-lama menguasai bahasan pembicaraan, saya kok jadi kurang tertarik dan lama-lama bosan juga. Bicaranya seakan tak ada yang lain, ituuuuu saja yang dibahas. Karena bosan, kadang-kadang saya menyela dan mengalihkan pembicaraan yang buat saya lebih menarik. Tapi ternyata belakangan, sikap saya ini menuai protes karena pasangan merasa saya tidak tertarik dan tidak mau tahu terhadap bahan bahasannya padahal ia ingin sharing tentang pekerjaannya pada saya. Saya jadi merasa bersalah.

Saya jadi ingin tanya : kalau Anda punya pasangan yang berbeda latar pekerjaan, akankah Anda tetap setia mendengarkan celotehnya setiap saat, dan kalau sedang santai tiba-tiba ingat, ia kemudian tak segan membahas lagi bidang kerjanya akankah Anda antusias mendengarkannya? Saya sih terus terang senang dengar cerita pasangan saya, namun tidak terus-terusan. Ketika santai di Minggu seperti ini tiba-tiba ia nyeletuk dan membahas mengenai lingkup kerjanya, terus terang bete juga rasanya.

Tiba-tiba, saya merasakan pentingnya wawasan yang luas, sehingga perbendaharaan pembahasan saya dengan pasangan tidak itu-itu saja, dan ujung-ujungnya balik ke bidang yang paling saya kuasai : bidang pekerjaan saya. Sekali-sekali senang juga mendengar pasangan membahas mengenai bidang yang saya geluti, atau justru lebih senang lagi membahas hal-hal yang sama sekali di luar bidang kami berdua. Sesuka saya mendengar cerita mengenai apa yang dikerjakannya, kalau cerita seputar kerjanya berputar dalam waktu tujuh hari seminggu, lama-lama di hari libur saya merasa masuk kerja juga, hanya bedanya kali ini saya bekerja di bidang pasangan saya.

Melalui film Letters to Juliet saya seakan melihat refleksi ketika seorang pasangan terlalu berkobar semangat terhadap pekerjaannya sehingga "lupa" bahwa pasangannya belum tentu seantusias itu. Bukan berarti pasangan kita tidak tertarik akan apa yang kita kerjakan, namun ia tentu akan lebih menghargai lagi kalau kita sama tertariknya akan hal-hal yang ingin ia bagikan dengan kita. Memang butuh dua orang untuk bisa mewujudkan agar persoalan dengar mendengar ini dapat berhasil dengan baik. Saya lalu berpikir, bagaimana ya caranya agar bisa berimbang?

Kalau melihat film tadi, tampaknya tak akan berhasil. Sophie kemudian mendapatkan kenyamanan mendengar dan didengar justru dari orang lain : si ganteng Charlie (Chris Egan), cucu Claire (Vanessa Redgrave) yang dibantunya mendapatkan kembali cinta lamanya Lorenzo Bartolini (Franco Nero)yang telah terpisah 50 tahun lamanya. Dan kepada Charlie lah akhirnya cinta Sophie tertambat.

Saya lalu dapat pelajaran. Kalau dua orang yang katanya cinta tidak dapat merasa tertarik terhadap apa yang dilakukan oleh pasangannya, lama-lama cintanya akan kabur kepada orang lain yang mau mendengarkannya. Saya jadi mendapat resep bahwa sebuah hubungan yang harmonis terletak pada ketertarikan dan kemauan untuk terlibat dalam minat pasangannya. Tanpa ketertarikan, kemauan akhirnya hanyalah menjadi paksaan saja, karena ketertarikan itu mengandung unsur kemauan alami yang keluar dari dalam hati. Jadi, kalau mulai merasa bosan dengan tuturan pasangan yang itu-itu saja, berhati-hatilah ! Kalau tingkat bosannya tinggi, bisa-bisa kita tergoda melirik orang lain, atau justru dia nya yang melayang ke pelukan orang lain yang seminat. Karenanya, kalau tidak mau ada yang kabur, ya harus dijaga keseimbangannya. Kita harus pandai-pandai mencari topik yang bisa jadi minat bersama, terutama di kala santai. Di atas semua itu, kita harus latihan mau mendengar. Kita diciptakan dengan dua kuping, dua mata dan satu mulut. Artinya harus lebih banyak (mau) mendengar dan memperhatikan dari pada mengoceh ...