Saturday, December 04, 2010

3 November 2010 : Monarki di Hati

Hari ini jadwal saya penuh menghadiri berbagai undangan yang kalau dipikir-pikir tidak masuk akal juga. Pagi jam 09:30 saya sudah berada di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menghadiri Puncak Peringatan Hari Kesehatan Nasional 46 dan Hari Aids Sedunia yang diadakan secara gabungan oleh Menteri Kesehatan dan Menteri Pendidikan Nasional. Acara yang dihadiri 300 undangan itu juga dihadiri beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Siang setelah makan siang bersama klien, saya menghadiri peresmian gedung baru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan oleh sang Menteri. Petangnya setelah rapat maraton dengan klien lain dan diskusi singkat dengan Account Manager, saya menghadiri undangan Duta Besar Kerajaan Thailand dalam rangka memperingati hari ulang tahun Raja nya.

Dari ketiga undangan kenegaraan tersebut, ada yang menjadi perhatian saya : bagaimana protokol yang diberlakukan dalam ketiga acara tersebut. Buat saya ini menjadi menarik ketika masyarakat diributkan isu Monarki yang digulirkan Presiden. Maka inilah hasil pengamatan saya :

Baik di istana wakil presiden dan di kementerian, kedua pejabat negara ini dibuat "jauh" dari tamunya. Meski pun kami mendapat kesempatan beramah tamah dengan Wakil Presiden secara personal, satu per satu tapi toh "jarak" dan "protokoler" memisahkan kita. Kehadiran undangan di Istana maupun di Kementerian disambut oleh para pejabat menengah dan tebaran protokol dan keamanan yang berseragam batik. Pejabatnya dijaga ketat baik oleh orang-orang sekelilingnya maupun pengaman dan protokol.

Saat menghadiri acara Kerajaan Thailand, saya mendapatkan nuansa yang berbeda. Duta Besar adalah orang yang pertama menyambut saya berikut isteri dan jajarannya, di depan pintu. Beliau menunggu sampai tamu terakhir tiba, baru bergabung lagi bersama kami dan memulai acara, sementara kami para undangan sudah kenyang makan hidangan Thai yang super lezat yang disajikan khusus oleh berbagai restoran Thai paling ternama di Jakarta ini dan sajian khusus dari Kedutaan Besar Kerajaan Thai.

Saya lalu berpikir, ini mana ya yang lebih monarkis? Pemerintah kita atau Kerajaan Thai? Saya bisa mengerti sih, sebagai orang kebanyakan, kita ini sering mimpi ingin jadi raja dan ratu. Ketika Pangeran William mengumumkan pertunangannya, segera saja gaun dan cincin tunangan Kate Middleton diserbu habis di seluruh dunia. Saya juga ingat bertingkahnya para asisten dan manajer artis yang siap menggelar karpet merah bagi artis yang dipegangnya supaya si artis jadi "bukan sembarang orang". Minta disediakan kamar rias sendiri, padahal ada ruang rias bagi artis-artis lain yang tak kalah tersohornya. Banyak juga pengusaha yang gaya ajudannya tak kalah selangit, menjadikan boss nya jauh lebih pejabat dari pejabat aslinya. Di lain sisi, saya ingat kejadian kecil di kantor saya yang dulu yang bersangkutan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X saat Beliau menjelang jumenengan alias pengangkatan raja. Kantor kami diminta untuk membuat foto resmi Raja dan Ratu yang baru. Sri Sultan yang sudah terekspos kesantunan modern secara otomatis meminta isterinya duduk di kursi sedangkan Beliau sendiri berdiri di sisinya. Kejadian menjadi heboh ketika foto yang indah tersebut ditunjukkan ke pihak keraton dan dinyatakan harus diulang karena salah posisi. Sebagai raja, Beliau lah yang seharusnya duduk dan sang permaisuri berdiri di sampingnya. Maka, beberapa hari menjelang penobatan raja, kami pun membuat sebuah studio mini di keraton yogya untuk mengulang foto sesi yang sangat bersejarah itu. Foto itu kemudian dikenang sebagai foto resmi jumenengan Sri Sultan yang ke sepuluh. Kejadian itu memberi kesan yang sangat kuat akan kesahajaan Sang Sultan yang hingga saat ini dicintai rakyat karena kearifannya. Ketika rakyatnya terkena musibah Sang Raja serta merta memberikan tanah kerajaan untuk dipakai rakyat yang menderita. Sang Sultan yang menerima bantuan dari pihak luar, termasuk dari pemerintah pusat akhirnya juga melarang semua bantuan untuk ditempeli lambang partai, perusahaan dan lembaga donor, dan meminta diganti dengan bendera merah putih saja. Sebuah tindakan yang melambangkan kepemimpinan dan kenasionalismean yang sejati dari seorang pimpinan yang dijuluki "Monarki".

Seharusnya kita "manusia biasa" ini sadar kalau kita ini manusia biasa dan bahwa kalau kita diberi kepercayaan untuk memimpin itu ada kontrak dan batasnya. Sebagai orang yang mendapat mandat, kita sering lupa terhadap mandat itu sendiri dan sering keblinger dengan kekuasaan semu yang sementara dijabatnya. Mau seperti apa pun kita menyiksa sang pangeran, bahkan mencopot semua kekuasaan dan kekayaannya, ia toh tetap pangeran sejati. Sedang kita, kalau semua asesorisnya dicopot, yang tertinggal adalah nobody.

Hari ini saya belajar agar tetap eling dan tidak takabur.

Thursday, December 02, 2010

2 Desember 2010 : Keberanian yang Bertanggung Jawab

Di sela-sela waktu kerja yang sangat padat hari ini, saya sempat mencuri waktu untuk mengintip sebuah majalah yang menampilkan 50 orang paling berpengaruh di negeri ini. Selain itu juga sebuah majalah internasional edisi lokal juga menampilkan orang-orang terkaya di nusantara. Di sekeliling saya, setiap harinya saya juga melihat orang-orang muda berprestasi baik di bidang akademis maupun di profesinya masing-masing. Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan prestasi luar biasa dari perempuan peneliti Indonesia yang berani menentukan sikap untuk berkarya di bidang ilmu pengetahuan. Kegigihannya dalam melakukan penelitian di rana yang tidak biasanya ditekuni kaum hawa ini justru menjadikan mereka mutiara-mutiara yang bersinar.

Pikiran saya perlahan pindah dari mereka yang berprestasi ini kepada kenyataan yang banyak dijumpai baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan keseharian. Begitu banyaknya orang yang tidak memiliki pekerjaan, bahkan tak sedikit yang meminta tolong bila ada lowongan kerja padahal mereka-mereka ini dulunya memiliki pekerjaan tetap. Saya pun sempat mengamati dari dekat sebuah keluarga besar yang tinggal di kepadatan Jakarta Barat. Dari keseluruhan keluarga besar yang berjumlah ratusan, hanya satu yang lulus sarjana. Bisa dimengerti si sarjana ini kemudian menjadi kebanggaan dan primadona keluarga bahkan dijadikan bahan iri dikalangan sanak keluarga. Sebuah keirian yang menurut saya aneh, karena apa yang diperoleh si sarjana ini adalah hasil kerja keras yang luar biasa. Anehnya, orang cuma mau tahu sekarang posisinya terpandang di sebuah perusahaan besar di Ibu Kota. Sisanya adalah keluarga yang malas bekerja dan malas berusaha. Sebagian keluarga memperoleh penghasilan gila-gilaan dari berjudi taruhan bola. Kalau menang bisa puluhan bahkan ratusan juta, tapi kalau kalah bisa juga ludes dalam sekejap, lalu pelahan membangun lagi kerajaannya. Sehari-hari kerjanya ya begitu saja, tidak ada pekerjaan tetap, tapi hidup leha-leha. Kalau sebagian menggantungkan diri pada taruhan bola, sebagian lagi cuma menerima nasib tapi tak melakukan apa pun untuk memperbaikinya. Dan jumlah yang seperti ini ternyata luar biasa banyaknya.

Lalu saya membandingkan ke dua kelompok ekstrim ini, dan balik bertanya pada kelompok ke dua, "Apa yang sudah Anda lakukan dalam hidup ini dan pencapaian apa (yang signifikan) yang telah Anda hasilkan dalam hidup ini?" Seorang yang secara sempurna mewakili kriteria kelompok kedua tidak bisa menjawab karena bingung apa yang sudah dilakukan, apa lagi pencapaian. Seorang lainnya mengaku dia tidak punya pendidikan tinggi dan tidak tahu bagaimana mendapat mata pencaharian yang lebih baik karena yang diketahuinya hanyalah membuka toko kelontong dan ya cuma itu saja yang bisa dilakukannya. Ketika tokonya terlibas oleh ekspansi besar-besaran jaringan gerai 24 jam, ia cuma bisa kebingungan tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka bahkan balik tanya pada saya, bagaimana mengubah nasib. Saya sendiri tidak paham karena secara jujur saya ini hanya "terseret" arus kehidupan. Kebetulan terseretnya dalam arus yang berbeda.

Tapi kemudian saya menemukan jawabnya : orang yang berkesempatan untuk melakukan perubahan yang signifikan adalah orang yang mau belajar dan mengasah kepekaannya dalam menyerap semua informasi yang ada lalu merumuskannya menjadi sebuah visi. Sebuah visi yang matang adalah sebuah visi yang kemudian ditimbang untung rugi, baik buruk lalu dibandingkan dengan kesempatan yang ada. Lalu segala yang ada itu dibulatkan dalam sebuah tekad untuk melakukan aksi, berikut dengan kemauan menanggung semua risiko yang ada. Tanpa keberanian melangkah dan berubah, tak akan terjadi lonjakan pergantian nasib yang diharapkan. Mungkin inilah kunci dari semua pertanyaan saya tadi. Kita ini terlalu nyaman di zona aman sehingga takut untuk bertindak, mendobrak segala keseharian dan kebiasaan kita untuk melakukan sesuatu yang baru dan asing, dengan risiko menang atau gagal. Tanpa keberanian itu kita tak pernah mencapai kemenangan. Tanpa keberanian untuk gagal kita juga tak pernah berani melangkah untuk meraih lonjakan keberhasilan yang signifikan.

Hari ini saya belajar, sikap kunci yang menentukan keberhasilan seseorang adalah : A RESPONSIBLE COURAGE TO MAKE A MOVE. Keberanian yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah. Saya menekankan kata tanggung jawab, karena berani saja tidak cukup. Kalau beraninya ngawur, tak akan ada maknanya juga bahkan bisa dengan mudah tergelincir pada hal-hal yang negatif. Zaman sekarang ini tak sukar untuk menemukan jenis orang seperti ini, para koruptor bisa menjadi contoh bagaimana seseorang berani melangkah, namun beraninya adalah berani yang tidak bertanggung jawab. Jadi beraninya harus berani yang bertanggung jawab...

Wednesday, December 01, 2010

1 Desember 2010 : Ilmu Walau dan Tapi

Baru saja saya terkaget-kaget ketika ditelepon teman yang menanyakan apakah saya punya kenalan lawyer. Saya tanya untuk apa? Dia bilang dia mau melegalisirkan putus hubungan dengan ibunya. Ha? Jantung saya mau copot rasanya? Mana ada pemutusan hubungan antara ibu dan anak? Secara biologis, sampai kapan pun ayah, ibu dan anak itu tak pernah putus hubungan. Saya sampai menggigil karena tak tahu mesti ngomong apa. Yang bisa saya katakan berkali-kali cuma, "Ya udah, nanti kita bahas ya. Nanti kita bahas." Maksud saya, paling tidak ini sebuah penguluran waktu, siapa tahu nantinya teman saya bisa berubah pikiran.

Tapi kemudian saya pelahan-lahan memahami apa yang dia maksudkan. Kekesalannya pada sang orang tua sudah mencapai puncaknya. Semua berawal dari uang dan berujung di uang pula. Kali ini bukan teman saya yang serakah mengeruk uang orang tuanya, tapi justru orang tuanyalah yang merongrong anaknya yang satu ini, padahal dalam keluarga itu ada tiga anak lainnya. Teman saya sudah berupaya memberi dukungan dana setiap bulannya untuk membiayai kehidupan orang tuanya padahal orang tuanya belum juga masuk masa pensiun, namun sudah bertahun-tahun tidak kerja apa lagi memiliki penghasilan tetap. Terus terang dalam hati saya juga herannya setengah mati dengan orang seperti ini, yang menurut saya adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab karena membebankan apa yang seharusnya ada di pundak mereka kepada anaknya. Teman saya pun ditipu kakaknya hampir ratusan juta tapi toh tetap dipersalahkan oleh orang tuanya karena tidak merelakan uangnya dan tidak memaafkan kakaknya. Terakhir, malam ini ia mendapat sumpah serapah dari orang tuanya. Yang bilang kalau ibunya meninggal tak usah melayat, atau malah sang ibu menyumpahi agar anaknya melarat seumur hidup karena sang anak tidak mau minta maaf kepada sang kakak yang sudah mengadalinya sampai-sampai uang tabungannya ludes. Maka yang diinginkannya adalah kalau ada apa-apa dengan dirinya, ia tak ingin asuransi dan berbagai kekayaannya jatuh ke tangan orang yang tak diinginkan : keluarganya sendiri. Ia lebih rela memberikan uangnya kepada yayasan sosial. Ia mencari notaris untuk bisa menghapus namanya dari daftar keluarga sehingga secara hak dan kuasa menjadi independen dan tidak bisa diganggu gugat oleh keluarganya ketika ia memutuskan menghibahkan warisannya kepada pihak lain. Sampai di situ, saya jadi bisa memahami meskipun bukan berarti saya bisa membenarkan.

Akhirnya, saya memberikan nama teman saya yang notaris untuk memroses lebih lanjut, namun tentu saja dengan syarat : boleh saja ia membuat pengaturan seperti itu, tapi tidak berarti saya setuju ia memutuskan hubungan dengan orang tuanya. Tidak ada yang namanya hubungan darah diputus seperti itu. Pengaturan itu saya pahami untuk memproteksi kepentingan keuangan teman saya karena dengan itu berarti keluarganya tidak dapat menggugat warisannya, namun bukan berarti nantinya teman saya tidak bisa menghibahkan kekayaannya kepada keluarganya. Syarat yang berikutnya adalah meskipun ia membuat pengaturan seperti ini, ia tetap harus tetap menghormati orang tuanya. Seperti yang saya katakan di atas, saya tetap memegang prinsip teguh bahwa kita tidak pernah bisa cerai dengan orang tua yang sudah melahirkan kita. Hormat kepada orang tua merupakan salah satu hukum yang terdapat di 10 perintah Allah yang diturunkan kepada Musa saat menggembalakan umatnya keluar dari Mesir. Selain itu, pemikiran saya ini juga terkonfirmasi atas bbm yang dikirim teman saya Anita sore ini :

10 kebiasaan yang pantas dibanggakan.

1,没病也要定期体验
Walau tidak sakit (tapi) harus cek kondisi secara teratur

2,不渴也得多喝温水
Walau tidak haus (tapi) harus banyak minum air

3,遇事难解也得想通
Walau ketemu masalah sulit (tapi)tetap harus dipecahkan

4,没有喜事也要快乐
Walau tidak ada hal menyenangkan (tapi) harus tetap bahagia

5,有理也要让人三分
Walau kita berada di pihak yang benar (tapi) tetap kita perlu mengalah

6,有权也要低调做人
Walau memiliki kekuasaan (tapi) tetap harus memiliki kepribadian luhur

7,不觉疲劳也得休息
Walau tidak merasa lelah (tapi) harus tetap beristirahat

8,生活富裕也要知足
Walau sudah kaya (tapi) harus tetap dapat membatasi diri

9,再忙也要重视锻炼
Walau sibuk sekali (tapi) harus tetap mementingkan olah raga

10,没事也要互相关爱!
Walau tidak terjadi apa-apa (tapi) harus tetap saling menyayangi..

Hari ini juga saya langsung mendapat contoh bagaimana menerapkan sebagian dari ke 10 petuah yang diberikan, terutama nomor 3,4,5 dan 10 ... Saya malah ingin menambahkan, kalau di nomor 10 dikatakan "walau tidak terjadi apa-apa (tapi) harus tetap saling menyayangi", maka tambahan saya adalah justru "Jika terjadi apa-apa harus tetap saling menyayangi" ...

Tuesday, November 30, 2010

30 November 2010 : Magnet

Saya tengah keliling memilih restaurant untuk santap malam. Ketika tiba di sebuah resto unik yang menawarkan berbagai menu sup sebagai makanan utamanya, saya berhenti melihat-lihat menu. Si petugasnya mengatakan, "Pak, silakan masuk saja ke dalam, Bapak bisa mencicipi menu kami secara langsung kok." Saya setengah tertarik setengah malas dijerat halus seperti itu. Kalau sudah coba kanan kiri, masa iya tega mau bilang tidak jadi! Saya pun menyingkir sambil mengataka terima kasih atas tawarannya. Si Mbak lalu berkata penuh senyum ramah dan tulus, "Terima kasih Pak, ditunggu kedatangannya lain kali ya Pak." Waduh, kalimat itu seperti magnet, terngiang terus di telinga saya. Bukan saja karena saya sangat terkesan atas kesopanan si petugas, tapi juga keramahan yang tampak tak dibuat-buat. Maka, acara keliling dari satu resto ke resto lainnya menjadi terasa kering dan maunya balik lagi ke resto tadi. Akhirnya, pilihan saya berlabuh di resto sup itu. Sebuah keputusan yang tak kalah tepatnya, karena rasa sup nya luar biasa enaknya.

Apa yang membuat kata-kata si Mbak tadi terasa begitu memikat? Terus terang saya merasa jarang mendengar kata-kata yang sangan simpatik dan bersahabat ketika seseorang memutuskan tidak jadi membeli. Ini malah disertai harapan kita kembali lagi di suatu saat untuk mencicipi hidangan yang ada. Saya lalu berpikir, kalau itu kejadiannya di saya bagaimana ya? Selama ini ada calon klien yang cerewetnya setengah mati, di awal sok mau ini dan itu, pada akhirnya mundur teratur karena kekurangan uang. Kalau sudah begini dan sudah dituruti maunya, ubah ini ubah itu dan berakhir tidak jadi, rasanya ya dongkol juga. Saya juga pernah bertemu dengan calon klien yang luar biasa tengilnya, pake mencemoohkan segala, pulang-pulang saya bilang ke manager saya, tidak mau menerima dalam bentuk apa pun si calon klien ini. Dan itu terjadi, sehari kemudian manager Indonesia nya memohon-mohon agar kami mau mempertimbangkan menghandle account nya, tapi tetap saya bergeming, tak sudi meladeni. Dari sekian banyak calon klien yang tidak jadi dan mengingat kembali apa yang dilakukan si mbak tadi, saya akhirnya menyimpulkan apa pun alasan sang calon klien tidak menggunakan jasa saya, sepantasnyalah saya menanggapinya dengan sikap yang positif, penuh sopan santun dari hati yang terdalam, sambil membuang semua unsur sebal. Dari pengalaman malam ini, saya belajar kita tidak pernah tahu ketulusan kita meluluhkan hati sang klien dan berbelok balik kepada kita karena merasa nyaman atas sikap santun kita yang tulus.

Dalam beberapa hari ke depan saya akan bertemu dengan cukup banyak calon klien, sebagian dari luar negeri. Saya merasa hari ini dibekali dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang baru dalam menghadapi klien. Ada kemungkinan waktu yang saya berikan kepada mereka di tengah jadwal yang padat adalah a waste of time, tapi setelah kejadian malam ini, saya belajar bahwa there is never a waste of time when you meet somebody. There is always a golden opportunity in every encounter. Kini saya melihat di setiap perkenalan dan pertemuan selalu saja ada kesempatan terpendam sehingga tidak bisa dilihat sebagai a waste of time. Every encounter is an investment of time. Kalau dilihat dari segi ini, maka pertemuan saya dengan calon-calon klien saya besok adalah sebuah investasi yang berharga, tinggal apakah saya mau mempersiapkannya dengan baik sehingga investasi ini tidak menjadi sia-sia. Kalau misalnya kali ini masih belum berjodoh, siapa tahu, lain kali kami bisa berjodoh. Karena seperti pepatah, kalau jodoh tidak kemana. Selama kita menyambut mereka dengan baik dan tulus dan bersahabat.

Hari ini saya belajar, magnet terbesar dari seseorang adalah bukan hanya dari kebrilianan otaknya atau kekuatan jasanya, tetapi pada kecemerlangan hati, ketulusan sikap dan kesantunan seseorang...

Monday, November 29, 2010

29 November 2010 : Tokek!

Sifat asli Libra saya sedang kumat : sulit menentukan pilihan. Kalau sudah begini, cukup menyebalkan rasanya. Sebenarnya pilihannya sepele, mau liburan ke Bali atau ke Singapura. Saya sendiri sebenarnya sudah dapat tiket pp ke Singapura, tapi entah kenapa saya kok jadi ingin sekali ke Bali. Dalam saat yang mepet seperti ini, tentu sulit mendapatkan penerbangan dan hotel di Pulau Dewata. Saya sudah melibatkan teman-teman saya yang tobat-tobat mencari hotel buat saya, dan akhirnya saya mendapatkannya. Masih saja hari ini saya diombang-ambingkan pertanyaan : Bali? Spore? Bali? Spore? Sayang tidak ada tokek sehingga saya tidak bisa minta bantuan binatang bersuara berat itu untuk membantu mengambil keputusan!

Akhirnya saya memperoleh kesempatan lengkap untuk ke dua destinasi : tiket pp Bali dan hotel di daerah Kuta yang ramai dan bisa dijelajah kaki dalam hitungan menit namun harganya amazingly murah, serta tiket pp Spore dengan hotel mewah super murah di jantung Orchard! Jam sudah berdetak menuju akhir jam kerja, saya masih terbimbang-bimbang. Dua-dua nya menarik. Saya belum pernah ke Universal Singapura meskipun dua cabang lainnya di Amerika dan Jepang sudah saya sambangi. Tapi saya rindu kesantaian Bali yang sangat memikat. Lagian, kalau dihitung dari biayanya saat high season seperti ini, hampir sama saja, bahkan Bali cenderung lebih mahal! Jadilah saya bingung menentukan pilihan. Sampai akhirnya Tuhan turun tangan menentukan pilihan di ujung tenggat waktu. Saya baru sadar kalau hotel di Singapura tak dapat dibatalkan karena special promo. Ya sudah, berarti liburan kali ini sudah pasti ditentukan ke Singapura!

Hari ini saya belajar sesuatu yang konyol : kalau bingung, siapkan kedua alternatif dengan sebaik-baiknya, dan biarkan Tuhan yang menentukan. Pasti Ia dengan senang hati membantu. Mungkin, kalau saya malas dan membiarkan Tuhan bekerja keras menentukan pilihan, bisa-bisa Ia mutung, alias libur akhir tahun saya berakhir di rumah saja. Tapi karena saya sudah menyiapkan pilihan secara matang, senang-senang saja Ia membantu kita. Jadi, biar bingung, tetap mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan dengan baik, sehingga kalau pilihan Tuhan jatuh pada salah satunya, kita akan sama-sama happy nya. So, Universal Singapore, here I come!

Sunday, November 28, 2010

28 November 2010 : Gila vs Goblok

Seorang teman saya mengirimkan joke seperti ini:

Seorang sopir kendaraan Bis anter jemput orang gila menghentikan kendaraannya karena ban nya kempes,Waktu sedang menukar ban, si supir nggak sengaja nendang 4 baut ke selokan dan hilang

Dengan paniknya si supir ngomong : Gilaaa.....gimana gue musti masang ini ban kalo nggak ada bautnya....

Salah satu pasien nyaut dari dalem Bis : Bang...copotin aja tuh satu baut dari masing2 tiga roda yang ada.....ntar kalo ada toko baut, tinggal beli deh tuh 4 baut....

Si Supir langsung nyaut : Bener juga loh...tapi kok lo bisa masuk ke rumah sakit Gila sihhh.....

Si Pasien langsung nyaut : HEELLLOWWW,....kita ini GILA tauuk, bukannya GOBLOG kaya LOE...:D :D:)

Sebenarnya saya menerima email ini sejak hari Jumat, tapi karena lucu, saya kemudian memforwardnya kanan kiri bahkan hari ini di mobil saya dan teman-teman membahasnya sambil ketawa ketiwi. Tapi di tengah ketawa ketiwi itu saya kemudian melihat kenyataan pahit atas kebenaran banyolan itu. Iya juga ya, yang tidak beres jiwanya bukan berarti bodoh. Sebuah film berjudul A Beautiful Mind yang diperankan luar biasa baik oleh Russel Crowe menggambarkan seorang jenius yang menderita Schizophren alias berkepribadian ganda. Ia kemudian bisa mengatasi penyimpangan kepribadiannya dan menjadi seorang penerima hadiah Nobel di bidang fisika. Jadi, lelucon tadi memang benar, yang gila belum tentu goblok.

Lelucon itu kemudian membukakan mata saya bahwa sebuah kondisi tertentu tidak lantas berarti kita bisa menyimpulkan seseorang itu kemudian menanggung renteng berbagai artibut lainnya. Saya jadi ingat lagi, seorang paman ibu kos saya saat kuliah dulu tergolong tidak waras, tapi ia sangat santun, Bahasa Indonesianya sangat rapi dan Bahasa Inggrisnya di atas rata-rata. Cuma, ia gila. Suatu saat ia pernah mengukur tinggi badannya dan memberi tanda di tembok, lalu melepas sepatu dan mengukurkan tinggi sepatunya dan dikurangkan dengan tanda tinggi badannya. Ia lalu nyengir dan bilang bahwa tingginya adalah tinggi badan + sepatu - sepatu. Ia juga pernah prihatin terhadap lagu Lionel Richie berjudul "Say You Say Me." Katanya, "Anak sekarang ini Bahasa Inggrisnya hancur ya. Apa tuh "Say You Say Me"? "Kata kamu kata saya" kan gak ada maknanya?" Saat itu saya yang kuliah di jurusan Keguruan Bahasa Inggris lalu tersengat. Iya juga ya? Jadi mana yang bener sih? Yang gila atau yang waras?

Intinya, saya belajar, kekurangan seseorang di satu bidang tidak berarti ia juga kurang di bidang lainnya. Dengan demikian saya belajar menilai bukan dari kekurangannya tapi justru dari kelebihannya...

28 November 2010 : Guilty Pleasure!

Keluar dari studio film malam ini, saya terpuas-puas menonton "Rapunzel" film animasi rilisan Disney yang paling mutakhir. Disney sangat berhasil menghibur saya yang sedang jenuh dengan plintiran cerita yang sangat brilian.

Dari semua adegan yang segar itu, saya mengingat baik adegan dimana Rapunzel melanggar perintah ibunya dan menikmati hidup alam bebas namun pada saat yang bersamaan merasa bersalah melakukan pelanggaran. Di satu sisi nikmatnya bukan main, di sisi lain merasa bersalahnya setengah mati!

Saya sendiri merasa sering di posisi itu. Menikmati kesenangan "nakal" tapi merasa bersalah luar biasa di saat yang sama. Mulai dari yang kecil, sampai yang peringkat khusus dewasa. Mulai dari tahu tidak baik makan durian, kambing dan cumi-cumi karena kadar kolesterol saya yang cukup tinggi, tapi tetap saja bilang, "aaaaaah, dikit aja lagiiii" sampai hal-hal yang sensasinya serupa, tapi tidak untuk dibahas di sini.

Saya lalu melantur dari film. Kalau di film, kelakuan Rapunzel melakukan guilty pleasure itu harus, karena menjadi keputusan kunci yang menggulirkan drama di film tersebut, kenyataan sehari-harinya mengatakan bahwa guilty pleasure yang saya lakukan kadang-kadang bikin runyam, tapi kebanyakan nikmat-nikmat saja dilakukan sepanjang tidak menimbulkan gejolak. Namanya guilty pleasure, tentu saja dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan orang atau pihak yang punya otoritas seperti polisi. Pasangan, orang tua, anak, keluarga ada 4 dari begitu "banyak polisi" dalam hidup kita. Selain itu juga agama, Tuhan. Guilty pleasure menjadi semakin nikmat karena sensasi ketegangannya. Kalau tidak dilarang, maka rasanya akan biasa-biasa saja.

Sayangnya yang namanya guilty pleasure itu menagih. Sekali dilakukan, tak mungkin tidak melakukan lagi. Saya jadi ingat, kalau di film kartun kerap muncul setan dan malaikat yang berusaha "memenangkan" perang batin. Saya sendiri kalau tidak sedang lupa diri, kadang mengatur dan menakar kadar pelanggaran. Saya suka sekali durian, bahkan pernah mabok karena makan 5 durian sendirian saat di Padang. Kini saya mengatasi kegemaran tersebut dengan makan es puter rasa durian yang ada durian atau paling tidak daging durian asli di atasnya. Dengan demikian saya makan cuma paling banyak 1 biji durian, tapi rasanya makan keseluruhan buah durian. Saya juga suka daging kambing. Biasanya kalau ke pesta nikah, yang pertama-tama saya tongkrongi adalah kambing gulingnya. Sekarang masih melakukan yang sama, tapi cuma ambil paling banyak 5 potong kecil untuk mengobati kangen kambing.

Melihat kegelisahan Rapunzel meninggalkan menaranya, saya jadi bertanya, keputusan apa yang sebetulnya tepat dalam menghadapi guilty pleasure? Melakukannya? Menghindarinya? Tanpa sengaja, dari yang saya ceritakan di atas, ternyata saya sudah punya kiat bagaimana mengatasinya. Tetap menikmatinya dalam bentuk pseudo-pleasure. Apa yang saya lakukan itu sebenarnya bukan benar-benar menelan 5 buah durian, tapi mencuri rasanya dari sebutir biji durian saja. Saya juga memakan 5 iris kecil kambing untuk menggantikan gumpalan daging yang biasa saya lahap. Saya melakukan berbagai hal kategori guilty pleasure yang semu, seperti melakukan padahal sebenarnya tidak melakukan. Hal yang sama berlaku untuk "hal-hal" lainnya...

Malam ini saya belajar trik mengubah guilty pleasure menjadi Real Pleasure melalui pseudo-guilty pleasure. Syaratnya : teguh pada peraturan diri sendiri, yaitu tidak tergoda melakukan lebih jauh! Karena kalau melangkah lebih jauh, bisa kejebur jurang ...

Saturday, November 27, 2010

26 November 2010 : Pelajar Kehidupan

Teman saya bercerita betapa kasihannya dia dengan sang keponakan yang sedang terkapar sakit terkena radang usus buntu dan harus dioperasi. Si anak berusia 7 tahun, anak pertama dari dua bersaudara hasil perkawinan kakak teman saya dari suami yang terdahulu. Adiknya ikut sang ayah ketika perceraian terjadi. Si Ibu sekarang sudah menikah lagi dan baru saja mempunyai anak kembar. Anak yang dulu? Disingkirkan begitu saja ke kakek neneknya. Ketika dikabari anaknya sakit, ia cuma bilang baru melahirkan dan tak ada biaya. Jadilah kakek nenek dan teman saya urunan untuk membayar biaya pengobatan. Untungnya teman saya smart, ia memasukkan anggota keluarganya ke asuransi.

Saya lalu teringat akan pembahasan saya beberapa hari lalu tentang orang tua durhaka. Saya bilang ke teman saya, kalau besok-besok anaknya menjadi dewasa dan kurang ajar sama orang tuanya, ya jangan salahkan anaknya, karena yang durhaka itu bukan anaknya, tapi orang tuanya!

Karena teman saya berkali-kali bilang kasihan, kasihan, kasihan, lama-lama saya berandai-andai. Saya bilang, kalau dilihat dari kondisinya memang benar kasihan sekali hidupnya. Tapi pernahkah kita terpikir bahwa semua ini tidak kebetulan? Bagaimana kalau kita melihat dari sudut pandang yang tidak biasa, bahwa ia lah yang memilih orang tua seperti yang dipunyainya sekarang untuk memperbaiki peringkat batinnya? Teman saya tidak menangkap maksud saya. Jadilah saya menceritakan perandaian ini dengan lebih detil. Kalau semua kejadian dalam hidup ini bukan kebetulan, berarti kehidupan ini sudah dirancang. Kalau misalnya yang merancang diri kita sendiri, maka kita jugalah yang menentukan tujuan dan pencapaian-pencapaian apa yang harus kita raih dalam hidup ini. Jadi kita jugalah yang dengan sengaja menentukan akan mengadapi cobaan apa dan akan bersinggungan dengan orang-orang berkarakter bagaimana supaya kita mengalami dan dapat mengatasi kesulitan dan rintangan yang kita ciptakan sendiri agar kita bisa memperoleh kemajuan batin yang berarti. Saya lalu berandai, "Kalau seperti itu kejadiannya, dan kalau anak ini memilih kakak kamu jadi ibunya supaya ia belajar unconditional love, apa ya kita masih kasihan. Itu kan proses pembelajaran?" Teman saya terdiam, mungkin dia dalam hati mengamini perandaian saya, tapi bisa juga ia dalam hati mengumpat : nih orang gila juga!

Saya lalu berpikir sendiri. Selama ini kalau ada apa-apa kita ini seringnya merasa yang jadi korban, lalu meratapi diri menangis-nangis dan minta dikasihani. Tak pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita alami ini adalah berbagai situasi yang memang kita ciptakan sendiri agar kita mengalami kemajuan batin sehingga pandangan kita terhadap sebuah musibah atau rintangan berubah drastis dari korban atau obyek penderita menjadi subyek yang mendesain dalam kapasitas sebagai pelajar kehidupan?

Tiba-tiba saya merasa "in charge" terhadap hidup kita. Tidak lagi asal kasihan, terutama pada diri sendiri, karena kalau dari sudut pandang itu, saya lah yang punya kendali dalam hidup : mau maju dan belajar supaya saya "lulus" dan "naik kelas"! Jadi, mulai sekarang : Tantangan Hidup? Siapa Takut!

25 November 2010 : The Back Up Plan

Pagi ini saya terbang ke Solo untuk kunjungan kerja selama dua hari. Sebenarnya hati saya cukup deg-deg an mengingat Garuda selama 4 hari belakangan mengalami kekacauan jadwal dan bahkan pembatalan penerbangan yang berawal dari penggantian sistem komputerisasi. Pesawat saya pun sempat tertunda, untungnya cuma 25 menit tapi teman saya yang pergi ke Bali dua hari lalu sempat terjebak berjam-jam, dari jam 9 sampai jam 17. Hal yang sama terjadi pada klien saya yang akan pergi ke Bali, tertunda dari pagi sampai matahari terbenam dengan penundaan berkala yang melelahkan.
Saya sendiri sempat tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Memangnya tidak ada masa percobaan terlebih dahulu? Memangnya tidak ada back up plan sama sekali? Apakah Garuda begitu optimis dan arogan nya sampai merasa yakin tidak akan ada hal yang salah saat mengimplementasikan sistem baru?
Kejadian ini menunjukkan bahwa Garuda masih tidak memandang konsumen sebagai prioritas dan hanya menjadi objek saja. Ganti rugi hanya diberikan kepada penerbangan yang dibatalkan, namun mereka yang terlunta-lunta selama berjam-jam tidak mendapat kompensasi lain kecuali makan. Tak pernah diperhitungkan atau dipertimbangkan kerugian calon penumpang atas tertundanya penerbangan melebihi batas toleransi .
Saya sendiri saat ini merasa was was karena begitu ketatnya jadwal kerja saya besok, mulai pagi hingga jadwal kepulangan ke Jakarta jam 18:45. Diperkirakan tiba di Jakarta pukul 19:55 , saya sudah ditunggu acara lain jam 21:00 di pusat kota Jakarta. Kalau sampai sistem Garuda yang baru masih belum beres, saya tak bisa membayangkan bahwa saya gagal hadir di acara malam tersebut.
Tiba-tiba saya bertanya pada diri sendiri : bila saya mempertanyakan keprofesionalan Garuda dalam memikirkan back up plan dan menggantungkan keprofesionalan saya untuk hadir di acara klien di malam hari, lalu apa back up plan saya bila pesawat Garuda saya besok di delay ? Saya terdiam. Mestinya yang paling aman ya saya tidak kemana-mana besok karena acara malam adalah acara yang penting. Tapi sekarang saya ada di Solo, jadi harus ada back up plan. Kini saya sedang menyusun beberapa alternatif pemecahan masalahnya, sehingga bila jadwal kerja besok tak sesuai yang diharapkan, saya masih bisa menyelamatkan muka saya untuk tetap hadir di acara malam.

Saya lalu merasa bahwa back up plan ini tidak hanya sebatas pekerjaan saja, tapi di setiap sisi kehidupan. Semuanya memerlukan back up plan. Artinya, meskipun kita sudah merencanakan yang terbaik, kita juga harus mempersiapkan juga beberapa alternatif bila rencana itu tidak berjalan sesuai yang diinginkan.
Hari ini saya belajar dari Garuda : A winner always prepares back up plans in life!

Wednesday, November 24, 2010

24 November 2010 : Wanita

Hari ini saya menghadiri acara L'oreal Indonesia Fellowships for Women in Science 2010, sebuah ajang penghargaan kepada perempuan peneliti Indonesia muda berbakat. Syarat utama mengikuti pemilihan fellows ini adalah wanita peneliti berusia di bawah 37 tahun. Dan ternyata, cukup banyak perempuan peneliti muda yang mengikuti program ini dengan proposal penelitian yang mengagumkan dan dapat mengharumkan nama Indonesia.

Dalam pidatonya, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mengatakan ajang ini adalah ajang diskriminasi yang bersifat positif. Mengapa harus dikhususkan untuk wanita saja? Padahal nasib peneliti Indonesia secara keseluruhan - tidak hanya wanita - juga membutuhkan perhatian. Saya lalu berpikir, iya ya, mengapa ada kata-kata emansipasi wanita? Mengapa kesetaraan gender menjadi issue yang masih terus diperjuangkan? Bukankah sekarang sudah abad ke 21 dimana zaman sudah berubah dan wanita sudah memegang peran setara dengan pria di bidang-bidang yang tak pernah terbayang sebelumnya?

Ternyata kesetaraan hak antar gender memang belum seindah yang dibayangkan orang. Sekarang ini kita melihat wanita menjadi pemimpin negara, menjadi pejabat kunci di pemerintahan, di parlemen, sampai menjadi pimpinan puncak perusahaan besar. Cendekiawan wanita juga tak kalah berkibarnya. Namun itu hanya pucuknya saja. Selebihnya keberadaan wanita masih tertinggal jauh karena dominasi kaum pria, dan karena budaya mendahulukan kaum pria inilah, kaum wanitanya juga maklum saja diperlakukan tidak adil oleh pria.

Terlepas dari perlunya perjuangan menyetarakan hak, saya sebetulnya mempertanyakan mengapa wanita diperlakukan seperti ratu dan pria diminta untuk mengalah. Kalau tidak mengalah, artinya tidak gentlemen. Mau bukti? Kalau di bis ada wanita berdiri, maka pria diminta untuk memberikan tempat duduknya bagi si wanita. Katanya mau kesetaraan gender, tetapi mengapa untuk hal yang begini ini tidak mau disetarakan?
Sekarang ini perjuangan kesetaraan gender lebih menuntut hak seperti apa yang diperoleh kaum pria, namun untuk hak-hak istimewa yang diperoleh wanita karena warisan budaya seperti budaya mendahulukan wanita, maunya tetap dipertahankan. Maka saya merasa bahwa yang harus diperjuangkan kaum perempuan bukan soal emansipasi yang selama ini sering salah kaprah, tapi soal kesetaraan kesempatan. Selebihnya, yang benar adalah persaingan sehat antar pria dan wanita. Kalau wanitanya bisa menunjukkan kemampuan yang lebih baik dan mendapat kesempatan yang sama, niscaya ia akan keluar sebagai pemenang, bukan karena ia wanita, tapi karena secara kualitas unggul.

Kalau sampai terjadi pengkhususan seperti yang dilakukan L'oreal dan Unesco, itu rasanya karena saat ini kita masih ditaraf mengedukasi masyarakat untuk meniadakan kepincangan kesempatan karena batasan-batasan budaya yang membedakan antara peran pria dan wanita.

Melalui keunggulan kualitas pemikiran dan ketekunan para perempuan peneliti, hari ini saya belajar untuk mengabaikan semua atribut yang menempel dari diri seseorang - apakah dia pria atau wanita, kaya atau miskin, cantik atau jelek - dan lebih fokus kepada kualitas pribadinya. Bukankah semua orang telanjang di hadapan Tuhan? Dalam ketelanjangan itulah tercermin keunggulan pribadinya.

Tuesday, November 23, 2010

23 November 2010 : Terjerat Teman

Malam ini saya curhat mengenai sesuatu yang sudah mengganggu saya berminggu-minggu kepada seorang teman. Kali ini, curhatan saya adalah soal group bbm. Alkisah saya menjadi anggota kelompok bbm yang berisi teman-teman dekat di luar lingkup kerja. Karena di luar pekerjaan, yang dibahas di bbm adalah hal remeh temeh yang enak dinikmati di kala santai, tapi jadi "nerve-breaking" alias naik darah di jam-jam kerja. Masalahnya "obrolan" mereka berlangsung 24 jam dan datangnya bertubi-tubi. Tadinya saya enjoy, lama-lama jadi stress dan mau marah sendiri ketika lampu merah bbm berkedip-kedip di kala saya sedang konsentrasi kerja, atau diskusi dan meeting, dan ternyata yang diobrolkan sangat tidak penting!

Sebenarnya saya sudah mengadu sampai tobat-tobat kepada seorang kerabat muda yang kebetulan berlatar belakang teknologi informasi. Saya bilang, apa saya keluar saja ya dari grup itu? Dia bilang, kalau keluar dari grup begitu saja tidak enak, karena akan ketahuan. Jadi kalau mau keluar harus pamit. Saya bilang, pamit? tak mungkin lah, bisa sakit hati semua mereka! Lagian mereka ini teman-teman baik saya. Kerabat saya kemudian mengusulkan ide cemerlang. Ia meminjam blackberry saya dan dalam sekejap utak utiknya menghasilkan solusi cerdas : obrolan bbm group nya tetap masuk, tapi tidak ada lampu yang berkedip ketika saya diserbu pesan remeh temeh mereka. Saya baru membukanya ketika saya ingin membuka, dan dengan demikian saya tetap bisa menikmati obrolan ringan dengan teman-teman saya, di saat yang saya inginkan.

Dari grup bbm ini saya belajar :

1. kedekatan dengan teman memang hal yang menyenangkan, tapi terlalu sering berkumpul dengan teman bisa jadi masalah sendiri. Dalam hal saya, kedekatan dan keseringan ini terwujud dalam bentuk chatting bertubi-tubi yang tak kenal siang malam, seolah teman-teman saya tak pernah tidur.

2. Pertemanan itu indah, namun pertemanan yang terlalu erat membuat kabur berbagai batasan-batasan yang seharusnya tetap ada. Pertemanan yang terlalu dekat itu bagaikan candu, inginnya apa-apa ada dia, dan apa-apa diceritakan dengan dia padahal tidak semuanya "bisa" diceritakan. Dengan adanya grup bbm ini, seolah ajang curhat kita menjadi "borderless" alias tanpa batas. Semua teman bisa melihat, membaca dan mengetahui secara "real-time" apa yang sedang saya rasakan, pikirkan, dan alami. Mau itu yang sifatnya baik dan positif atau yang sifatnya buruk dan berdampak gosip. Pertemanan seperti ini justru membuat orang-orang yang secara fisik dekat menjadi termarjinalkan. Tanpa sadar kita lebih mementingkan teman-teman kita dari keluarga terdekat bahkan pasangan kita. Kedekatan teknologi sering membuat kita rancu, mana yang seharusnya menjadi prioritas kita. Seperti yang pernah saya bahas di blog ini, saya pun kemarin melihat di sebuah mobil yang sedang berhenti karena lampu merah, sepasang suami isteri duduk bersebelahan, namun dua-duanya di dunia yang berbeda karena masing-masing sibuk dengan BB nya.

Saat ini saya mengalami dan menyadari bahwa tujuan membuat grup yang mestinya menjadi perekat antar pribadi, pada akhirnya justru punya potensi besar menjadi penyebab utama terpecahnya kesatuan ikatan. Maksudnya, bubar dengan pasangan dan keluarga karena terjerat kedekatan dengan teman.

Maka malam ini saya belajar, kita harus menjadi nakhoda hidup kita sendiri. Dalam hal bbm grouping, saya belajar bahwa kita harus bisa mengontrol teknologi, dan kita harus bisa mengontrol prioritas serta kedekatan kita dengan pihak-pihak yang bersinggungan dalam hidup kita. Jangan sampai mau tidur yang diberi ucapan good night terakhir adalah teman kita, dan saat bangun yang mendapat ucapan good morning pertama adalah teman kita juga, yang ironisnya berjarak puluhan kilometer sedang pasangan di sebelah kita cuekin saja ...

Monday, November 22, 2010

22 November 2010 : Orang Tua Durhaka

Membaca tulisan Samuel Mulia hari Minggu kemarin yang bercerita bahwa saat ia bekerja sambil kuliah dan menabung uang agar bisa membelikan ayahnya kue, respon ayahnya di luar dugaan dengan mengatakan bahwa uang itu seharusnya ditabung - mengingatkan saya pada diskusi yang kami lakukan saat kumpul-kumpul santai di apartemen Samuel Mulia sambil makan malam Senin lalu. Ia bercerita kalau ia sakit hati. Tidak bisakah ayahnya menghargai jerih payah seorang anak dalam mengekspresikan cinta dan bakti kepada orang tuanya? Ia lalu bertanya, "selama ini ada anak durhaka, apakah ada istilah orang tua durhaka?"

Saya berpikir selama seminggu ini, "Iya ya, kenapa tidak ada istilah orang tua durhaka? Selama ini selalu digambarkan bahwa surga adanya di telapak kaki ibu, atau orang tua. Selama ini orang tua selalu digambarkan sebagai seorang suci. Tak ada di kamus orang tua memerkosa anaknya, menjual anaknya dan mengeksploitasi anaknya. Hari ini adalah hari kesekian hebohnya seorang artis muda, Arumi, yang melarikan diri karena menurut versinya, ia dijodohkan kepada seorang pemuda asal Kudus dan dipaksa menemani berlibur hingga ke Singapura, sekamar di hotel. Kalau benar kejadiannya seperti itu, orang tua macam apa ayah ibunya?

Budaya kita menempatkan orang tua sebagai orang yang harus kita hormati, cintai, pelabuhan bakti kita, no matter what. Dalam bayangan kebanyakan orang, orang tua adalah seorang yang menjadi panutan dan sempurna. Begitu sempurnanya pencitraan orang tua sehingga kita tidak pernah mengasosiasikan mereka dengan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Saya pernah bereksperimen dan menanyakan kepada teman-teman dekat saya, "pernah nggak kamu terpikir atau membayangkan orang tua kamu having sex?" Semua menjawab, "pertanyaan macam apa itu? Of course nggak pernah!" Saya lalu melanjutkan, "kalau mereka tidak having sex, lha kamu asalnya dari mana?" Mereka tertegun, "iya, ya." Saya juga pernah menceramahi teman saya yang sangat anti ayahnya menikah lagi setelah ibunya meninggal dunia. Saya bilang, "kamu pikir ayah kamu itu nggak butuh seks? Nggak butuh sharing? Nggak butuh hiburan? Make no mistakes, your parents also does all the crazy things that we do!" Kita tidak pernah memikirkan bahwa orang tua kita adalah orang biasa juga. Yang gemar makan, hiburan dan bergaul. Tak ada yang salah kan kalau orang tua kita juga main twitter dan foursquare?

Saya sendiri senang berkumpul dengan teman-teman sekolah yang sekarang sudah jadi bapak-bapak dan ibu-ibu beranak remaja, bahkan ada yang sudah kuliah. Saat berkumpul kami semua tetap berlagak seperti anak sekolah puluhan tahun lalu. Pernahkah terbersit di otak kita bahwa orang tua kita juga memerlukan dan melakukan kegiatan yang sama? Selama ini kita di brainwash bahwa orang tua itu hanya melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang tua : Pengayom, Pemberi cinta kasih, Pelindung, Penyayang, Pembimbing. Selama ini kita sering protes bahwa orang tua kita terlalu menuntut kita untuk berlaku ini dan itu. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa kita juga melakukan tuntutan yang tak kalah beratnya kepada orang tua kita? Bahwa orang tua kita harus berlaku begini begitu. Termasuk menuntut mereka untuk bisa memahami jerih payah kita mengekspresikan cinta kasih kita melalui sepotong kue? Kalau kita bisa berteori bahwa semua orang menyatakan dan mengekpresikan diri dan perasaannya melalui caranya masing-masing, mengapa orang tua kita tidak boleh melakukan hal yang sama?

Tiba-tiba saya kasihan dengan orang tua. Mereka dibebani begitu banyak kewajiban. Di samping tanggung jawabnya kepada keluarga, mereka juga dituntut berperilaku sempurna. Di sisi lain, mereka tetap memiliki kebutuhan jasmani dan rohani bagi dirinya sendiri dan pasangan hidupnya. Begitu kompleksnya peran yang harus dimainkan orang tua. Jadi orang tua itu sama sekali tidak mudah. Tapi tak pernah sekalipun anak diberi wawasan tentang rumitnya peran orang tua. Sebagai anak, kerjanya kita mengeluh saja atas ketidakbecusan orang tua kita memerankan tugasnya.

Malam ini saya menjawab pertanyaan Sam dalam hati : ada saja orang tua durhaka, dan itu terjadi karena orang tua adalah manusia biasa. Kalau mereka juga manusia biasa, tentu kita akan maklum juga atas kelebihan dan kekurangannya, termasuk hasrat-hasrat kemanusiawiannya - semua hal yang kita rasakan dan alami, juga dirasakan dan dialami orang tua kita. Dengan perspektif ini, saya melihat orang tua dari sisi yang berbeda : tidak lagi orang tua yang otoriter dan yang harus selalu dituruti mau nya, tapi orang tua yang manusiawi, yang bisa berlaku benar, tapi juga bisa terjebak salah ... Saya teringat dalam diskusi kita Senin kemarin, seorang teman bercerita bagaimana ia merasa kesal terhadap sikap ayahnya yang membuatnya justru memberontak. Tapi, saya juga teringat seorang teman perempuan saya yang bercerita ketika puluhan tahun lalu pulang sekolah mendapati ayahnya sedang bercinta dengan wanita lain di kamar tidur dan membuatnya shock. Setelah ia bisa menguasai diri, ia berkata, "Papi, saya tidak akan memberitahu Mami apa yang telah Papi lakukan, asal Papi tidak mengulangi lagi perbuatan tadi." Sang ayah lalu mohon maaf dan sejak itu Beliau insaf dan menjadi seorang ayah sejati bagi keluarganya. Saya mau seperti teman perempuan saya itu. Saya mau menerima dan mencintai orang tua saya apa adanya, dan menjadi pribadi yang justru menjadikan segala sesuatunya menjadi (lebih) baik ketika kesalahan terjadi.

Mami, Papi, sekarang saya mengerti kalian dengan lebih baik. Di luar segala kekurangan kalian menjadi orang tua, saya sungguh salut atas pencapaian kalian selama ini dalam menjalankan peran sebagai orang tua mendidik lima anak yang memiliki watak dan kepribadian yang berlainan, dengan hasil yang relatif luar biasa. I love you even more today.

Sunday, November 21, 2010

21 November 2010 : Mengejar Fenomena

Saya sangat menikmati bagian pertama serial film terakhir Harry Potter. Yang katanya perlu mengantri-antri, saya mendapatkan dengan mudah dengan layar besar pula. Menurut saya film ini adalah yang terbaik dari ke tujuh film Harry Potter yang pernah ada sehingga saya tak sabar menanti bagian keduanya di bulan Juli tahun depan.

Harry Potter adalah karya fenomenal J.K. Rowling yang menciptakannya saat ia sedang depresi ditinggal mati ibunya dan bercerai dari suami pertamanya. Ia harus berjuang keras membesarkan puterinya dengan gaji pas-pas annya sebagai seorang sekretaris. Ide Harry Potter muncul dalam perjalanan kereta api dan sejak itu mengalir deraslah alur cerita penyihir muda ini yang menjadikan pengarangnya salah seorang wanita terkaya di dunia.

Dalam sebuah obrolan, Oprah bertanya padanya apakah ia akan terus menulis, dan Jo mengatakan ia tak akan pernah berhenti menulis. Ia bercerita banyak orang yang menanyakan bagaimana ia akan membuat karya yang lebih spektakuler dari Harry Potter, dan bertanya apa yang dilakukan Oprah saat ia berhenti menjalani talkshow nya yang fenomenal. Oprah malah bercerita ia membaca buku riwayat Michael Jackson. Dalam buku itu diceritakan bahwa Michael Jackson tidak pernah menyadari bahwa Thriller adalah sebuah karya fenomenal sehingga seumur hidupnya ia terus berusaha mengejar fenomena. Oprah bilang ia tidak mau menjadi seperti Michael Jackson. Fenomena itu bukan suatu untuk dikejar. Fenomena terjadi karena semua unsur kosmik kehidupan bersinergi bersamaan dan menjadikannya sebuah fenomena. J.K. Rowling membenarkannya. Ia bilang Harry Potter adalah sebuah fase hidupnya. Ia akan tetap berkarya dan berusaha melakukan yang terbaik tanpa membebani diri untuk menjadikan karya terbarunya sebuah fenomena yang melampaui Harry Potter. Baginya sulit untuk mendiskripsikan fenomena Harry Potter. Ia ditolak 12 penerbit sebelum penerbit ke 13 mau menerimanya, itu pun ia mendapat peringatan dari agennya bahwa menulis cerita anak-anak bukanlah cara yang tepat meraup keuntungan. Ide Harry Potter itupun muncul setelah kematian Ibunya. Ia bercerita jika ibunya tidak sakit dan meninggal, belum tentu pernah muncul cerita Harry Potter. Di kesempatan yang berbeda James Cameron bercerita bahwa setelah film fenomenalnya Titanic ia telah membuat sebuah film yang kemudian ditolak oleh berbagai bioskop untuk diputar. Ia tidak menyesalinya. Katanya, meskipun film itu ditolak di pasar, ia tak kecewa karena film itu memenuhi kepuasan batinnya. Baru setelah puluhan tahun kemudian ia dilingkupi dewi fortuna saat salah satu filmnya kembali menjadi fenomena dunia : The Avatar.

Mencerna apa yang didiskusikan Oprah, JK Rowling dan James Cameron, saya kemudian melihat secara flashback kehidupan lalu yang secara unik membawa saya dalam sebuah perjalanan rollercoaster yang sulit dipercaya. Saya lulus Summa Cumlaude padahal saya tidak suka bersekolah. Saya menjadi seorang asisten presiden direktur hanya dalam hitungan kurang dari dua tahun pengalaman kerja. Saya kemudian menjadi bagian dari sebuah perusahaan komunikasi terbesar di usia yang cukup muda. Jejaring kenalan saya luar biasa luasnya : dari tukang jual es duren sampai ke tingkat pengurus negara, sebuah spektrum yang tidak pernah masuk di akal sehat saya. Saya sama sekali tidak termasuk orang yang punya daftar kekayaan yang bisa diperhitungkan, namun saya juga tidak yakin kekayaan batin yang saya peroleh dan alami dalam hidup ini pernah dirasakan oleh mereka yang terkaya sekalipun. But here's the deal : saya berencana menutup bagian hidup profesional saya yang luar biasa ini sepuluh tahun lagi. Di saat itu, saya sudah punya angan-angan akan apa yang akan saya lakukan namun belum tahu bagaimana hasil yang akan terjadi nantinya. Persis seperti apa yang dikatakan Oprah. Ia menganggap bahwa "bab talkshow" yang dijalaninya selama 25 tahun ini adalah sebuah fenomena, dan ia tidak tahu bagaimana hasil bab baru yang akan dibangunnya bersama jaringan televisinya yang baru. Ia tidak mau memasang target bahwa bab barunya harus menjadi fenomena yang lebih besar dari yang sekarang, karena fenomena bukanlah area kekuasaannya. Yang pasti akan dilakukannya adalah tetap berkarya, sebaik mungkin. Di sanalah saya mengerti dan menangkap makna apa yang dikatakan Oprah. Kehidupan saya ini bukan untuk menciptakan fenomena, apalagi menciptakan fenomena yang melampaui fenomena yang pernah saya capai. Kehidupan saya adalah untuk melakukan yang terbaik bagi saya, masyarakat sekitar dan dunia. Kalau apa yang saya lakukan ini kemudian menjadi fenomena, itu adalah hasil karya kosmik kehidupan alias Sang Pencipta.

Saya lalu menceritakan mengenai hal ini kepada seorang kerabat dekat yang dahulu lulus S1 dengan Magna Cum laude. Di S2 nya kini ia sering bertanya pada saya apakah ia bisa mendapat nilai yang lebih baik dari yang terdahulu. Saya bilang, just do your best, God will do the rest. Kalau pun sudah melakukan yang terbaik tapi tidak bisa melebihi yang terdahulu, terimalah dengan tulus ikhlas dan syukurilah. Berarti, it's meant to be (that way) ...

Saturday, November 20, 2010

20 November 2010 : Kambing Hitam

Teman saya punya keponakan yang gemuk, lucu seperti tokoh Russel di film animasi Disney : Up. Yang membuat si keponakan ini berbeda dari Russel adalah sikapnya yang "annoying!" Mungkin karena dasarnya broken-home, dan ia dititipkan di orang tua teman saya sedang sang Ibu sudah menikah lagi dan baru punya anak kembar, ia suka berulah mencari perhatian. Orang tua teman saya yang sudah tidak punya anak kecil lagi sangat memanjakan cucunya ini. Jadilah ulahnya makin menjadi, maunya dituruti terus. Jadi: bikin pusing di rumah, juga bikin onar di sekolah. Karena kebandelannya, maka setiap insiden yang terjadi di sekolah, jadinya sang guru selalu mengambinghitamkan si anak, padahal tidak setiap saat si anak salah. Buktinya kerap kali ia pulang rumah mengadukan diperlakukan ini dan itu oleh teman sekelasnya, namun kakek neneknya selalu memandang bahwa apa yang terjadi masih dalam batas kewajaran anak-anak.

Hari ini sepulang sekolah, si anak bikin ulah lagi, tarik-tarikan tas dengan temannya. Serta merta si guru menuduh si anak atas ulahnya. Melihat si anak dipersalahkan terus, lama-lama kakeknya tidak terima juga. Beliau lalu naik darah dan memarahi sekaligus menceramahi gurunya. Sebagai seorang guru, mestinya ia tidak main menyalahkan dan menghukum. Guru tingkat TK dan SD harus punya kualitas ekstra sabar karena memang kelakuan anak seumur jagung suka ada saja, dan semuanya itu bila di batas kewajaran sah-sah saja. Jadilah saya yang sedang mengantar titipan tadi siang mendengar drama keluarga, sang kakek pulang bercerita dengan semangat menirukan kemurkaannya kepada si guru.

Diam-diam saya berpikir, wah, soal kambing hitam ini sih terjadi di mana-mana. Apa sih yang membuatkan seseorang jadi sasaran tembak? Pikir punya pikir akhirnya saya menemukan sebuah jawaban : kalau seseorang sering melakukan ulah, maka secara alami orang biasanya mengambil kesimpulan yang menyamaratakan bahwa kalau terjadi sesuatu, pasti dia biang keroknya! Kecenderungan men-generalisasi juga terjadi pada saya. Tapi hari ini saya disadarkan bahwa kita tidak bisa main pukul rata. Kita tidak tahu mengapa dan apa sebetulnya yang melatarbelakangi seseorang berlaku seperti itu, dan juga apa sebetulnya yang terjadi di balik sebuah kasus tertentu. Jangan-jangan untuk kasus ini bukan dia biang keroknya. Juga, siapa tahu bahwa si kambing hitam ini juga sering terkena masalah yang sama menimpa dia.

Jadi hari ini saya berjanji, kalau ada kejadian tertentu, saya tidak akan lagi seenaknya menarik kesimpulan, ini pasti karena ulah si anu, bahkan setelah saya selesai menginterogasi semua pihak terkait. Kalau biasanya saya masih saja punya persepsi bahwa tetap saja yang melakukan si anu, maka sekarang saya akan menghapus semua dugaan tersebut menjadi bersih. Istilah hukumnya : azas praduga tak bersalah.

Selain itu, saya harus melihat apakah semua yang terjadi masih di batas-batas kewajaran. Kadang kita ini sudah keburu sebal karena ada si kambing hitam dalam kejadian tertentu. Coba kalau kejadian itu dilakukan oleh orang lain, belum tentu kita menghakimi dia sama seperti kita menghakimi si kambing hitam.

Saya lalu menarik napas. Tidak enak sekali jadi kambing hitam. Makanya, jangan bikin ulah yang bikin orang menempelkan cap kambing hitam di jidat kita...

Friday, November 19, 2010

19 November 2010 : Lost in Translation

Sore ini untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun saya menulis sebuah press release. Biasanya saya hanya tinggal mengarahkan, namun kali ini karena rilis yang tadinya diterjemahkan oleh penerjemah kami bahasanya super hancur dan mendapat protes keras dari klien dan waktunya sudah sangat mendesak, saya mengambil alih tugas Account Manager saya dan membuat sendiri rilis versi Bahasa Inggrisnya dalam waktu kurang dari 30 menit.

Saya sempat mengomel-ngomel membaca hasil terjemahan sesbelumnya. Sang penerjemah hanya memindahkan kata per kata dari bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris yang membuat kalimatnya aneh terdengar dan tak bisa saya mengerti. Saya jadi teringat ketika di suatu Sabtu melihat sebuah stiker di belakang bus trans Jakarta bertuliskan : Take The Bus, No It's Way. Saya bingung mengartikannya sampai teman saya berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Coba terjemahkan kata per kata" Ya ampun! Bunyinya jadi : Ambil bus nya, tidak jalannya! Maksudnya naik bisnya, tapi jangan masuk ke jalan yang disediakan khusus untuk busway. Gila kali ya yang nulis itu! Belajar Bahasa Inggris dari mana pula itu? Begidik jangan sampai hal itu terjadi di kantor, saya lalu menyiapkan "ceramah" bagi penerjemah kantor :

1. Dalam menerjemahkan, perhatikan pesan yang disampaikan dalam bahasa Ibu dan pindahkan konsepnya dalam bahasa ke dua, bukan asal memindahkan kata per kata, tak akan ada maknanya.

2. Kuasai karakter budaya setiap bahasa : Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu namun terkena pengaruh kuat budaya Jawa adalah bahasa yang tidak suka menuturkan secara langsung karena di adat Jawa "pamali" hukumnya berbicara langsung pada yang diataskan. Karenanya kalimat Indonesia banyak yang diciptakan dari pendekatan kalimat pasif, contohnya : "Penghargaan ini diberikan kepada A", sedang Budaya Barat adalah budaya yang "direct" yang tidak suka basa basi dan apa adanya sehingga kalimat-kalimatnya lebih bersifat aktif. Dalam contoh di atas, kalimatnya menjadi "A menerima penghargaan ini."

3. Trik yang paling mudah dicobakan bila membaca terjemahan adalah dengan membacanya langsung tanpa melihat naskah aslinya. Kalau kita mengerti dengan mudah, berarti terjemahan itu kurang lebih benar. Kalau kita tak paham apa yang mau dikatakan, maka terjemahannya kemungkinan besar tidak benar.

Sambil menerjemahkan, pikiran saya melantur dan menemukan bahwa ketidakmampuan kita menerjemahkan makna sebuah kalimat atau percakapan dalam bahasa asing ini ternyata juga berlaku dengan bagaimana kita menerjemahkan "bahasa" pasangan. Karena datang dari kalangan yang berbeda, sering kali kita sering salah menerjemahkan "tanda-tanda" atau sinyal yang diberikan pasangan kita sehingga terjadilah kesalahpahaman yang berakhir dengan keributan.

Saya lalu memperhatikan bahwa seringnya terjadi kesalahpahaman antara saya dan pasangan saya adalah karena :

1. Saya tidak mampu menerjemahkan makna di balik sinyal-sinyal yang dikirimnya.
2. Saya tidak mampu memahami karakter budaya pasangan saya.

sehingga saya sering hanya "menerjemahkan" gerak gerik pasangan saya secara harafiah saja, sehingga sering salah menangkap maknanya. Saya yang terbiasa "direct" tak suka harus mematahkan "teka-teki silang" yang kerap dilakukan pasangan saya. Terkadang pasangan saya protes dan bilang, "seharusnya kamu tahu, kalau saya sedang begini ini artinya ini..." Saya lalu bilang, "Well, saya bukan peramal dan dukun jadi jangan mengharapkan saya bisa menebak setiap gerak gerik kamu. Karena saya bukan tukang ramal, jadi katakan saja apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu maui sehingga saya jelas menangkapnya dan tahu harus melakukan apa untuk memenuhi keinginan dan harapan kamu." Bukan berarti saya tidak romantis, tapi sungguh, permainan tebak-tebakan ini sungguh menguras batin saya. Memang, saya tahu, kalau terlalu transparan, sudah tidak fun lagi, tapi kalau terlalu misterius, buat saya yang tidak suka film misteri, jadinya menyebalkan dan membuat capai juga.

Jadi tolong, kalau mau keinginan dan maksud tujuan Anda dimengerti pasangan, jangan main-main dengan "silakan artikan sendiri apa arti tindakan saya ini." Bisa-bisa Anda dan dia jadi "lost in translation" - yang ada bukannya jadi mesra, tapi malah berantem besar.

Hari ini saya menemukan resep bagaimana sebaiknya menerjemahkan keinginan kita kepada pasangan agar tidak salah tangkap : katakan saja secara langsung dan jelas apa yang kita mau!

Thursday, November 18, 2010

18 November 2010 : Begitu-Begitu Saja

Perjalanan Kelapa Gading - Karawaci malam ini saya tempuh dalam jangka waktu satu film. Film yang saya tonton kali ini adalah "Date Night", sebuah film komedi action yang diperankan Steve Carell dan Tina Fey. Film yang membuat saya terpingkal-pingkal ini sebenarnya didasari oleh sebuah kenyataan pahit : pernikahan yang sering berujung hambar. Dalam film ini diceritakan bagaimana pasangan menjadi bosan akan kehidupan pernikahannya karena semua yang akan terjadi di dalam rumah, maupun tingkah laku pasangan dapat ditebak dengan tepat karena semua kelakuan dan aktivitas sudah menjadi sebuah kebiasaan dan berjalan seperti mesin saja, sehingga sang pasangan bisa mengatakan dengan tepat dan tutup mata apa saja yang dilakukannya, dan apa saja yang dilakukan pasangannya, bahkan sampai urutan aktivitas ranjangnya.

Selama berpasangan, saya juga mengalaminya dan semua rutinitas yang sampai sambil memejamkan mata saja tahu apa diletakkan di mana dan setiap rute yang ada di dalam rumah. Saya bahkan bisa membuat jadwal rutin mulai bangun sampai memejamkan mata. Saya lalu bertanya, kenapa ya yang awalnya begitu exciting menjadi begitu rutin? Padahal kita ini terdiri dari dua insan yang berbeda perilaku dan gaya, punya teman-teman yang berbeda dan pekerjaan yang berbeda pula, apa lagi latar belakang. Lalu mengapa ketika menjadi satu atap semuanya menjadi seragam? Saya bahkan merasa kehilangan potensi yang dulu pernah ada dan tidak tahu lagi kalau saya memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dari yang sehari-hari saya lakukan. Karena itu saya bisa memahami ketika dalam film sang suami terkaget-kaget melihat isterinya punya koneksi ini itu dan bisa berlaku genit, karena selama ini saya juga sudah punya imaji citra tersendiri atas pasangan saya berdasarkan rutinitas keseharian. Singkatnya, rutinitas sebuah hubungan punya potensi besar membunuh potensi diri.

Tak mengherankan, saat saya bercerai saya merasa bebas. Saya merasa hidup baru. Saya merasa : ini baru hidup! Saya bisa melakukan apa yang saya maui tanpa terikat suatu rutinitas yang menjenuhkan. Saya rasa saya tidak sendiri. Mungkin, ini juga yang dirasakan sebagian besar orang yang bercerai. Namun, sekarang saya juga menyadari bahwa kejenuhan dan kerutinan tersebut juga terjadi karena ulah saya dan pasangan saya yang membiarkan hidup ini menjadi monoton karena merasa bahwa sudah tidak ada lagi yang harus di "neko-neko" karena sudah menikah.

Masalahnya tidak mudah memberi warna pada sebuah rumah tangga. Ada anak pusing, tidak ada anak juga pusing juga. Ada pembantu pusing, tidak ada pembantu juga tak kalah pusing. Dulu waktu saya masih sendiri dan kos, wah, tak ada yang dipikir, bisa suka-suka. Saat saya memutuskan membeli rumah, kehidupan saya menjadi terjungkir balik. Saya tidak pernah terpikir bahwa rumah saya bisa kebocoran, korslet listrik, retak, cat memudar, kadar besi di air terlalu tinggi, mesti beli perangkat pel dan sapu, mesti gunting rumput dan segala macam tetek bengek rumah tangga yang sangat menyita waktu. Semuanya itu butuh uang dan tenaga yang tidak sedikit. Setelah menikah, ternyata tidak berarti tanggungan lebih ringan, malah berlipat. Bukan karena saya mau komplen, tapi kenyataannya begitu.Rumah jadi kurang besar, harus sedia tempat baju buat isteri, area make up dan meletakkan perangkatnya, dapur menjadi terlalu sempit karena dapur yang dulunya tak pernah ada aktivitas berarti kecuali masak mie instan, tiba-tiba dibebani masak sehari-hari. Dengan sederet kewajiban yang harus diurus dan dijalani, tak heran sebuah pasangan mudah tergelincir dalam rutinitas dan tanpa disadari kehidupan yang begitu-begitu saja berjalan bertahun-tahun sampai tiba saatnya kita ingin teriak dan keluar dari semuanya.

Saya jadi bertanya pada diri sendiri, bagaimana dong mengatasi hal ini karena cepat atau lambat saya toh akan menghadapi lagi situasi seperti ini? Tadi di film Steve Carell dan Tina Fey menetapkan sebuah date nite, satu malam yang menjadi us-time - namun lama kelamaan date nite yang seharusnya menjadi penyegar dalam pernikahan juga menjadi sebuah rutinitas : resto yang sama, tempat duduk yang sama, orang dan suasana yang sama, pembicaraan yang sama. Saya tiba-tiba teringat, tadi bertanya pada Account Manager saya ketika kami dalam perjalanan menuju klien di Kelapa Gading : Daerah mana di Jakarta yang belum pernah kamu explore? Jawabnya : wah banyak sekali. Saya juga begitu, padahal saya sudah terbosan-bosan di Jakarta. Bosan? Bagaimana saya bisa bilang bosan dengan Jakarta kalau yang saya lewati dan explore selama ini cuma beberapa area yang bisa dihitung dengan jari tangan? Saya bercerita waktu itu pergi ke daerah Pantai Indah Kapuk yang seumur-umur belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan saya merasa berada di sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya ada di Jakarta.

Saya lalu mengambil kesimpulan, kalau begitu dalam kehidupan rumah tangga saya yang lalu, saya ini cuma explore satu dua area dan setelah itu balik lagi ke situ-situ juga sehingga tak heran saya terbosan-bosan. Coba waktu itu saya sesadar malam ini, tentu lain lagi ceritanya karena begitu saya mulai merasa jenuh, saya tentu mulai bertanya pada diri sendiri : have I explore enough?

Malam ini saya menemukan sebuah resep kuno dalam sebuah hubungan : explore and you will find life and love that actually have been there forever...

Wednesday, November 17, 2010

17 November 2010 : The Power of Love

Mata saya tertumbuk pada sebuah tulisan :

When the power of love overcomes the love of power the world will know peace

wah, benar sekali maknanya dan seharusnya kalimat ini dibaca dan menjadi pegangan para pemimpin bangsa. Selama ini keserakahan membuat kita lupa berdamai karena lebih mengetengahkan kekuatan "kekuasaan". Banyak sekali orang yang setelah hidupnya tercukupi secara ekonomi kemudian mencari peran yang lebih dan mengincar kedudukan politik dan pemerintahan supaya memiliki kekuasaan. Sayangnya kekuasaan ini memiliki karakter yang menyandu, artinya sekali mengenyam nikmatnya kekuasaan, biasanya orang akan mabuk kepayang dan lupa akan mandat yang diberikan rakyat atas kekuasaan tersebut. Biasanya kalau sudah lupa diri, kekuasaan kemudian bertindak melebihi kekuasaannya dan menyebabkan sang penerima mandat untuk melakukan lompatan yang tidak masuk akal di bidang ekonomi dan kesejahteraan pribadinya. Ia lalu memasang jejaring yang terdiri dari kerabat dan teman-temannya agar bisa mencengkeram sehingga kekuasaannya tak lepas karena waktu, dan kekayaannya semakin menancap ke akar hingga tujuh turunan.

Namun kekuasaan ini tidak hanya terbatas pada pemerintahan, ia juga ada dalam kehidupan kita sehari-hari dalam skema dan lingkup yang lebih kecil. Dalam rumah tangga, di pekerjaan, dan di setiap tatanan masyarakat.

Kalimat tadi menjadi penanda dan peringatan agar saya selalu tetap di jalur cinta kasih dan menempatkan kekuasaan yang saya terima dengan penuh tanggung jawab dan welas asih, serta jauh dari keserakahan dan ketamakan agar tercipta kesejahteraan dan kedamaian yang penuh cinta kasih di lingkungan tempat saya berada, sekecil apa pun lingkup yang saya miliki ...

Tuesday, November 16, 2010

16 November 2010 : Stop and Go

Pagi ini saya menyempatkan diri membuka facebook untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang teman sambil melihat-lihat update apa yang dituliskan teman dan kerabat di jejaring sosial tersebut. Mata saya terhenti pada foto-foto yang diunggah seorang teman saya, Haroen yang kini tinggal di negeri Paman Sam bersama keluarganya. Di sana ia berfoto bersama anak dan ibunya. Pikiran saya pun melanglang buana mengingat kembali kedekatan kami ketika bersama-sama mewakili perusahaan telekomunikasi internasional, saya untuk perusahaan Amerika dan ia di perusahaan Perancis. Saya masih ingat betul awal perjumpaan saya dan dia. Ketika itu ia mengatakan menjadi seorang pembawa berita di acara English News Service di TVRI dan dengan polos saya mengatakan, "Kok nggak pernah lihat ya?" Beberapa hari kemudian saya mendapat telepon darinya, "Cepet nyalain tv, bentar lagi gua on air!" dan saya pun melihat bukti bahwa ia benar-benar seorang anchor tv. Kejadian lucu dan pekerjaan sehari-hari mendekatkan kami, bahkan ia kemudian kenal dengan mantan isteri saya dan kami dengan keluarganya. Saat ia menikah, mantan isteri saya menjadi juru rias bagi ibu dan adiknya. Waktu berlalu, ia pun pindah ke Amerika meneruskan studinya di bidang hukum international, menetap di sana dan membuka law firm nya sendiri. Hanya sekali-sekali saja kami kontak. Hari ini saya mengirimkan kabar bahwa Pak George Pattian, koleganya di perusahaan lama telah tiada. Saya merasa begitu jauh semua ini terjadi.

Dari Haroen, ingatan saya kemudian bagaikan sebuah album foto yang membuka lembar lama dan menemukan begitu banyak orang yang mampir di hidup saya dan sekarang sudah begitu jauh, bahkan sebagian besar lenyap tak berbekas seolah tak pernah hadir dalam hidup ini. Orang-orang yang dahulunya sangat dekat, dan sekarang pupus menghilang. Ada juga teman-teman lama yang kemudian muncul lagi dalam "bentuk baru" persahabatan yang justru lebih hangat dari yang dulu. Lalu orang-orang baru yang kini menjadi dekat di hati. Ada yang mampirnya singkat, ada yang bertahan tak lekang waktu. Orang dan kejadian datang dan pergi dalam hidup saya seperti cepatnya saya membalik lembaran album foto kehidupan ini.

Sama seperti album, setiap orang dan kejadian membawa kenangannya masing-masing dan menimbulkan kerinduan tersendiri. Tiba-tiba tersirat pertanyaan di benak saya : apakah saya telah menggunakan kesempatan saat saya bersama dengan orang-orang yang saya temui saat ini dengan sebaik-baiknya, sehingga bila takdir menuliskan kami tidak akan bertemu kembali, saya membawa kenangan terbaik akan mereka? Saya mengakui ada beberapa kasus yang saya sesali, tidak berbuat sebaik mungkin, yang kalau boleh diulang, saya tidak akan berlaku kasar, atau ceroboh, atau tidak adil kepada orang yang saya jumpai itu. Inginnya kalau diberi kesempatan lagi, saya akan melakukan hal yang terbaik baginya karena ia adalah orang yang sangat baik. Namun kesempatan itu sudah tidak lagi datang karena kedekatan kami sudah memudar dan waktu sudah berjalan menempuh rutenya yang baru.

Saya hari ini belajar untuk memanfaatkan waktu kebersamaan dengan orang-orang yang saya jumpai sebaik-baiknya dan memberikan hanya yang terbaik bagi mereka sehingga ketika semua peristiwa menjadi kenangan, semuanya memberikan kesan terbaik dan terindah yang bisa saya berikan untuk kesempatan dan orang tersebut. Dengan kata lain saya menjadi lebih sadar untuk menjadikan momen saat ini sebagai momen terbaik dalam hidup saya, sehingga kalau seluruh "momen saat" ini dikumpulkan - baik yang telah lewat dan yang sedang berlangsung, saya bisa menarik kesimpulan bahwa saya telah menjadikan hidup ini "momen terbaik" yang pernah ada...

Monday, November 15, 2010

15 November 2010 : Cara Tuhan

Saya punya kenalan bernama George Pattian. Kadang kami menyebut Beliau Opa George. Dulu, ketika saya menangani Mitra KSO Telkom dan menjadi koordinator komunikasinya, saya hampir setiap hari berinteraksi dengan Beliau yang menangani komunikasi kemitraan Telkom di wilayah Sumatra. Setelah meninggalkan dunia telekomunikasi, saya berjumpa kembali dengan Beliau di sebuah event otomotif. Ketika itu Beliau meminta alamat email saya dan sejak itu hampir setiap hari Beliau tak bosannya mengirimkan berbagai email, terutama renungan Harian. Karena kesibukan, kadang saya tidak membaca email yang dikirimkan, namun Beliau tak pernah patah arang : email Pak George tak pernah lelah hadir di bb saya.

Pagi ini, saya terkejut luar biasa ketika membuka email melalui blackberry saat membuka mata dan melihat apa saja yang tertinggal selama saya tidur malam tadi. Sebuah email singkat mengatakan selamat jalan. Selamat jalan? Apa yang terjadi? Jadilah saya mencari tahu sana sini dan akhirnya mendapat kabar bahwa Pak George telah tiada hari Minggu kemarin tanggal 14 November 2010 pukul 13.35 di rumahnya karena serangan jantung mendadak. Saya langsung teringat email terakhir yang Beliau kirimkan hari Jumat yang lalu. Saya tadinya berpikir Sabtu Minggu saya tidak mendapat email Beliau karena Beliau sedang berakhir pekan. Langsung saya buka kembali emailnya dan beginilah pesan terakhir Beliau melalui renungan harian Jumat, 12 November 2010 :

Santapan Harian
Jumat, 12 November 2010
Lakukan Dengan Cara Tuhan

Baca: 2 Tawarikh 16:1-14

16

1Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa, raja Israel, hendak berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama dengan maksud mencegah lalu lintas kepada Asa, raja Yehuda. 2Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik dengan pesan: 3"Ada perjanjian antara aku dan engkau, antara ayahku dan ayahmu. Ini kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah perjanjianmu dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku." 4Lalu Benhadad mendengarkan permintaan raja Asa; ia menyuruh panglima-panglimanya menyerang kota-kota Israel. Dan mereka memukul kalah Iyon, Dan, Abel-Maim dan segala tempat perbekalan kota-kota di Naftali. 5Segera sesudah Baesa mendengar hal itu, ia berhenti memperkuat Rama; ia menghentikan usahanya itu. 6Tetapi raja Asa mengerahkan segenap orang Yehuda, yang harus mengangkat batu dan kayu yang dipergunakan Baesa untuk memperkuat Rama itu. Ia mempergunakannya untuk memperkuat Geba dan Mizpa. 7Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: "Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu. 8Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya. 9Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan." 10Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat. 11Sesungguhnya riwayat Asa dari awal sampai akhir tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel. 12Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib. 13Kemudian Asa mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya. Ia mati pada tahun keempat puluh satu pemerintahannya, 14dan dikuburkan di kuburan yang telah digali baginya di kota Daud. Mereka membaringkannya di atas petiduran yang penuh dengan rempah-rempah dan segala macam rempah-rempah campuran yang dicampur menurut cara pencampur rempah-rempah, lalu menyalakan api yang sangat besar untuk menghormatinya.

=============================================================================================

Ketika kita mengalami masalah, apakah secara spontan kita langsung berusaha memecahkannya? Atau kita segera teringat pada orang yang dapat menolong kita memecahkan masalah itu? Ataukah kita datang kepada Allah dan memercayakan masalah itu kepada Dia?

Asa pernah mengalami pertolongan Tuhan yang luar biasa ketika menghadapi tentara Etiopia (2Taw. 14:2-15). Kita tentu masih ingat bagaimana pasukan berjumlah tiga ratus ribu orang harus melawan satu juta prajurit musuh. Nyatanya Asa menang karena Tuhan menolong dia! Namun pengalaman menakjubkan itu tidak terpatri kuat dalam ingatan Asa. Saat menghadapi Baesa, raja Israel, ia berlaku seperti orang yang tidak memiliki Allah. Apa yang dia lakukan justru berbanding terbalik dengan pengalamannya. Alih-alih berseru kepada Tuhan, Asa justru menghubungi Benhadad, raja Aram, untuk berpihak padanya (2-3). Dengan banyak hadiah, Asa berhasil menyogok raja Aram agar mendukung Yehuda. Dan upaya Asa memang menampakkan hasil (5). Asa beroleh keuntungan dari persahabatannya dengan dunia, tetapi ia mengorbankan iman kepada Allah.

Akan tetapi, cara yang ditempuh Asa tidak diperkenan Tuhan. Dan dengan tegas, Tuhan menyatakan hal itu melalui Hanani, sang pelihat (7-9). Anehnya, bukannya menyesal dan bertobat, Raja Asa justru sakit hati karena teguran itu (10). Dan iman Asa kepada Tuhan tampaknya berhenti sampai di situ. Karena waktu ia sakit dikemudian hari, Asa malah memilih mengandalkan pertolongan tenaga medis daripada mencari pertolongan Tuhan. Tragis!

Kita pun sesungguhnya berada dalam bahaya yang sama. Berkat yang kita terima dari Tuhan bukan merupakan ja-minan bahwa iman kita akan tetap terpelihara. Kemauan untuk setia, kerelaan untuk tetap taat, dan yang terutama kasih kita kepada Tuhan kiranya mengingatkan kita untuk senantiasa bergantung kepada Tuhan dalam mengatasi setiap persoalan yang menghadang kita.

===================================================================================

Dikutip dari Santapan Harian. Hak Cipta : Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab. Isi Santapan Harian lainnya seperti pengantar kitab, artikel ringkas, sisipan, dlsb. dapat diperoleh dengan membeli buku Santapan Harian dari Yayasan PPA: Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta 10710, ph:3442461-2; 3519742-3; Fax: 344972; email: ppa@ppa.or.id.
Informasi lengkap : PPA di: http://www.ppa.or.id.



Pak George hingga akhir hidupnya tak pernah ingkar akan Tuhan dan selalu patuh di jalanNya. Bahkan pesan terakhir Beliau tak lelah-lelahnya mengingatkan agar saya tidak pernah melupakan dan bergantung kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Selamat jalan Pak George. Saya tak akan melupakan pesan terakhir Bapak : Menjalani Hidup dengan cara Tuhan.

Sunday, November 14, 2010

14 November 2010 : Better!

Jarang saya menyaksikan acara Oprah Winfrey di hari Minggu karena biasanya saya masih di luar rumah, tapi hari ini saya berkesempatan menyaksikan Oprah mengumpulkan 300 penonton setianya sejak 25 tahun yang lalu di acara perdana season penutup acara The Oprah Winfrey show yang menghadiahi ke 300 penontonnya jalan-jalan ke Australia selama 8 hari.

Acara kali ini dibuka Oprah dengan bergandengan tangan bersama sahabat lamanya John Trravolta. Ia kemudian menayangkan sebuah film pendek tentang pengakuan seorang fans nya yang terinspirasi kata-kata John Travolta saat ia bersulang bagi ulang tahun ke 50 pembawa acara nomor satu dunia itu. Saat itu John mengatakan bahwa Oprah adalah "hadiah" yang diberikan Tuhan bagi dunia. Oprah dengan keunikannya membuat semua orang merasa nyaman berdekatan dan berbicara dengannya dan menjadi seorang sahabat yang menjadikan sahabatnya seorang yang lebih baik. Dalam bahasa Inggris, to make a better person. Kata-kata itu kemudian tertancap di benak si pemirsa yang kemudian bersama puterinya terbang ke Afrika dan membangun tempat tinggal yang layak bagi anak-anak yang kurang beruntung sehingga merasa hidupnya kini lebih bermakna karena dapat memberikan sumbangsih bagi hidup yang lebih baik bagi orang lain.

Saya lalu mengamini. Seorang sahabat selayaknya menjadi seorang yang dapat membuat sahabatnya menjadi orang yang lebih baik. Saya lalu bertanya apa yang sudah saya lakukan bagi orang-orang sekitar saya? di lingkungan keluarga? di lingkungan kerja? dan di lingkungan pertemanan? Apakah saya telah membantu keluarga saya menjadi orang yang lebih baik? Membantu teman-teman kerja saya menjadi orang yang lebih baik? membuat teman-teman saya menjadi orang yang lebih baik?

Jawaban saya: boro-boro. Menjadikan diri sendiri menjadi seorang yang lebih baik saja saya tidak yakin, apa lagi menjadi seorang yang menjadikan orang lain menjadi seorang yang lebih baik. Saya benar-benar kagum dengan teman-teman saya yang terjun langsung membantu mereka yang sedang kesulitan di Mentawai dan Merapi sementara saya hanya mengikuti perkembangannya saja melalui televisi. Ketika sedang ada tsunami di Aceh, saya bahkan tidak tahu apa-apa karena sedang berlibur di manca negara. Tahunya lewat CNN dan tidak punya gambaran sama sekali betapa parahnya kondisi di tanah air sampai saya pulang dan menyalakan tv lokal yang gambarnya beribu-ribu kali lebih seram dari apa yang ditayangkan CNN. Selama ini saya membantu membuat kampanye pendidikan masyarakat, namun itu juga karena saya dibayar. Memang saya selektif menerima pekerjaan dan memilih yang memberi manfaat bagi masyarakat, namun tetap, saya dibayar untuk itu.

Untuk keluarga, saya tidak bisa bicara banyak, tanya saja mereka. Yang jelas saya berusaha untuk mandiri dan tidak merepotkan mereka. Apakah mereka merasakan kasih sayang dan perhatian saya, mungkin ada yang merasakan namun juga banyak yang tidak tersentuh sehingga meskipun saudara rasanya jauh dan asing. Saya juga tidak serta merta membantu saudara yang membutuhkan, karena terkadang kebutuhan yang diperlukan saudara menurut saya adalah sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri namun tidak tersedia karena ia kurang berusaha, atau terkadang sesuatu yang "nice to have". Terkadang justru karena keluarga kesannya jadi menggampangkan dan menganggap bahwa yang namanya pertalian darah berarti kita wajib membantu. Buat saya, semua itu tunggu dulu, lihat-lihat, betul butuh dibantu atau tidak. Kalau memang iya, saya tentu tidak segan-segan membantu.

Teman? Wah, saya ini teman yang buruk sekali. Sehari-hari jadwal saya diisi dengan kerja, dan kalau sudah bersantai, maunya bersantai dengan orang-orang terdekat saja karena sehari-hari hidup saya isi nya sudah socializing, jadi weekends dan hari libur atau jam-jam selepas kerja mau nya saya "libur" juga dari socializing. Karena itu saya memilih betul siapa-siapa yang ingin saya libatkan dalam waktu-waktu tersebut. Bukannya saya anti sosial, tetapi yang saya maksudkan, saya ini lebih senang menghabiskan waktu tertentu dengan teman tertentu, tidak ramai-ramai karena saya merasa jauh lebih relaks dan memiliki waktu santai yang lebih berkualitas dengan jumlah (orang) yang kecil. Semoga saja teman-teman yang menghabiskan waktu bersama saya merasakan ada manfaatnya ketawa ketiwi dan relaks bersama saya.

Tapi, terinspirasi oleh wantia yang terinspirasi John Travolta, saya merasa saya harus melakukan sesuatu yang "besar" dalam sisa hidup saya agar saya bisa memberikan sumbangsih lebih bagi hidup (orang), apakah itu hidup teman dan kerabat terdekat, lingkup kerja, lingkup masyarakat, lingkup negara atau bahkan lingkup dunia.

Hari ini saya belajar, bahwa hidup ini tidak hanya bertujuan untuk membuat hidup kita lebih baik, namun ada tujuan lain dari hidup ini yang tak kalah pentingnya : menjadikan dunia yang kita tinggali ini menjadi sebuah tempat yang lebih baik, termasuk semua mahluk hidup yang hidup di atasnya. Saya sedang mencari bentuk sumbangsih yang bisa saya kerjakan bagi kehidupan yang lebih baik. Bagaimana dengan Anda? Siapa tahu Anda sudah punya dan bisa menjadi inspirasi bagi saya. Coba ceritakan...