Monday, April 25, 2011

Memberi dan Menuai

Malam ini saya melayat ke orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Almarhum adalah kenalan teman baik saya. Ia seorang pemuda kristen usia 24 tahun yang taat beribadah, santun dan aktif di organisasi kepemudaan gereja. Orang tuanya bercerai saat ia duduk di bangku SMP karena ibunya kecantol orang lain.

Tanggal 12 April lalu, ia melamar di tempat teman baik saya bekerja dengan niatan agar ia dapat memperoleh penghasilan lebih untuk membiayai pengobatan ayahnya yang gagal ginjal. Akhir pekan lalu, saat jeda makan siang, ia menjemput kekasihnya untuk bersantap bersama, dan sepulang ia mengantar sang pacar kembali ke kantor - dalam perjalanan kembali ke kantornya sendiri, ia kecelakaan dan kepalanya terlindas dua ban truk. Seketika wajahnya yang tampan dan bersinar menjadi tak berbentuk. Teman-teman SD nya kemudian saling bahu-membahu dan memantau perkembangan kesehatan si pemuda. Tadi pagi, ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Tepat di hari Manajer SDM teman saya akan menghubungi untuk menerimanya menjadi karyawan tetap dengan penghasilan tiga kali lipat dari yang didapatnya sekarang.

Dengan penghasilan yang pas-pas an dan almarhum sebagai tulang punggung keluarga, tentu sanak keluarganya bingung atas biaya mengeluarkannya dari rumah sakit, dan pengurusan pemakamannya. Tanpa sepengetahuan keluarganya, teman-temannya sudah lebih dahulu bertindak. Bahu-membahu mereka mengumpulkan dana dan dari masing-masing teman kemudian menyebar ke teman lainnya, bahkan yang tak mengenal ikut menyumbang. Dengan jejaring yang ada salah seorang rekannya menelpon ibunya yang punya kenalan pemilik rumah duka terkenal di Jakarta. Rumah duka itu kemudian memberi 3 ruangan khusus bagi almarhum dan mengurus ambulans dan peti jenazahnya secara cuma-cuma. Ibu si teman tadi juga menghubungi temannya yang lain yang pengusaha roti. Si pengusaha roti lalu menyumbangkan kotak konsumsi selama jenazah disemayamkan di rumah duka. Soal pemakaman? Sang pemilik rumah duka ikut meminta kesediaan berbagai pihak sehingga almarhum dapat dimakamkan secara cuma-cuma di San Diego Hills kamis ini.

Malam ini saya dibuat terperangah oleh penuhnya orang dari segala macam kalangan yang hadir untuk mengikuti kebaktian tutup peti. Tidak hanya memenuhi ke 3 ruangan yang disediakan secara cuma-cuma, tetapi meluber hingga memenuhi lorong jalan umum.

Detik itu juga saya seperti disambar petir dan diingatkan :

1. Benarlah atas nasihat : Give and you will be given. Saya melihat cerminan ketulusan dan keikhlasan hati almarhum selama hidupnya dalam memberi tanpa pamrih. Sehingga Beliau diberi kemudahan bahkan saat sudah meninggal dunia.

2. Benarlah pepatah yang mengatakan : Untuk melihat kebesaran seseorang, lihatlah pada saat ia mati. Sang pemuda bukanlah orang kaya dan berkedudukan, namun ia telah menunjukkan kemuliaannya saat ia meninggal.

Dari kejadian ini saya kembali ditunjukkan, bahwa dalam hidup ini jangan ragu untuk memberi dan berderma. Kita tidak akan kekurangan karena berbagi dan menolong orang. Give and you will be given.

Malam ini ketika merenungkan semua yang terjadi dengan penuh ketakjuban, saya memperoleh sebuah email yang berisikan kata bijak yang ditorehkan Peggy Collins, katanya :

In helping others and receiving help through networking, you are creating a spirit of interdependence that is practical and beneficial as well. No other business skill is as valuable or provides a more lasting legacy than networking to help you reach your goals. In the process, you can build relationships which last a lifetime.

Saat yang benar-benar tepat menerimanya dan tidak hanya berlaku dalam dunia usaha saja namun di setiap lini kehidupan. Semoga saya semakin bijak karena kejadian ini. Dalam hati saya tak putus mendoakan agar almarhum dapat menerima kepergiannya dengan ikhlas dan memahami bahwa bahkan dalam kepergiannya, ia masih saja memberi, bahkan pada orang yang tak dikenalnya. Bagi saya ia memberikan pelajaran hidup dan kasih dan memberi yang tak ternilai harganya.

Semoga Tuhan berkenan mengampuni dosanya dan memberinya istirahat kekal.
Amin.

Wednesday, April 20, 2011

Alam Khayali

Saya mendapat pesan di blackberry messenger yang berisi informasi bahwa seorang teman sekelas di SD akan (akhirnya) menikah bulan Mei ini. Diceritakan pertemuan sang dokter spesialis yang super nerd ini bertemu dengan calon pengantinnya yang ternyata puteri guru SMA kami. Ketika itu si dokter tengah dipanggil untuk mengobati seorang pasien dan ternyata sang calon nyonya ada di sana. Teman saya yang sudah ibu-ibu itu berkomentar,"Ooo so sweet...."

Saya tertawa melihat komentarnya lalu segera mengetik balasan pesan, "you make it sounds sooooo romantic!" Kenyataannya mungkin jauh dari itu. Saya jadi teringat ketika dunia tersihir uforia berita pernikahan Pangeran Charles dan Puteri Diana. Semua hati mata pikiran dan pembicaraan tertuju pada pernikahan akbar itu. Seolah-olah pernikahan kerajaan yang adanya di dongeng-dongeng menjadi kenyataan. Kenyataannya sang pangeran dan sang puteri tidak hidup "happily ever after." Yang ada hanyalah perselingkuhan, balas dendam, pertengkaran dan intrik. Kini setelah puluhan tahun cerita dongeng itu terkubur bersama tewasnya sang Puteri di lorong kota Paris, dunia pun jatuh cinta pada kisah cinta dan pernikahan Pangeran William dan kekasih putus sambungnya Kate Middleton. Sekali lagi angan dan khayalan melambung, menghidupkan pernikahan impian ini.

Terus terang, saya yang hidup dan mengikuti kisah mereka, sedikit banyak terkena kehebohan persiapan pernikahan akbar tahun ini. Kemarin saya melihat iklan program televisi yang didedikasikan khusus bagi pernikahan Will & Kate. Koran Kompas pun setiap hari menurunkan berita yang tidak kecil mengenai perkembangan persiapan pesta akbar ini.

Di tengah kemeriahan fairy tale royal wedding, saya tiba-tiba terhenyak. Iya ya, kita ini senang sekali hidup dalam khayalan. Rasanya nyaman dan nikmat sekali. Karena itu sinetron glamor dan percintaan remeh temeh sangat digemari, tak peduli usia. Apa salahnya membumi? mensyukuri dan menikmati realita walaupun tak seindah mimpi? Justru dengan melihat realita kita tidak tertipu oleh bayangan yang menipu sehingga kita tidak salah hidup atau salah langkah. Tapi tampaknya rakyat dunia memang sedang perlu cuti dari realita. Kita letih dengan resesi yang berkepanjangan, perang tak berkesudahan, kerserakahan dan semua berita negatif yang berputar di sekeliling kita. Belum lagi berbagai kejadian yang bersinggungan dengan kita pribadi.

Saya lalu berpikir, apakah saya terlalu serius menanggapi kehebohan remeh temeh yang ditunjukkan dunia terhadap berita baik pernikahan ini? Rasanya sih iya. Padahal orang cuma sedang butuh hiburan saja, refreshing. Jadi, kalau saya ikutan menikmati berita gembira ini, tak ada salahnya juga. Asal tidak kebablasan, bisa tak bisa kembali dari alam khayali...

Thursday, March 31, 2011

Dealing with the Devil

Beberapa hari ini ramai diberitakan bahwa sejumlah wanita cantik menggerogoti uang nasabahnya sendiri di Citibank hingga 17 milyar. Saya bahkan mendengar kabar bahwa jumlahnya sebetulnya melampaui angka tersebut. Di saat yang sama kita mendengar penipuan yang dilakukan oleh Selly, perempuan muda yang menggunakan uang tipuannya untuk kepentingan hura-hura dan membeli simpati teman-temannya. Kejadian fenomenal ini kemudian jadi pergunjingan dari berbagai sudut. Teman saya Petty yang pemimpin redaksi sebuah majalah wanita melihat dari sudut pandang kewanitaan. Saya kok melihatnya dari sudut pengalaman saya pribadi.

Ketika saya mendapat teror dari seseorang yang ternyata sudah terencana rapi, tanpa disengaja kami yang menyelidiki perkara ini menemukan sebuah "lubang" kecil yang menjadi titik naas sang pelaku. Kejadian itu lalu terbongkar dan ketahuan siapa sesungguhnya orang yang tega menyebarkan fitnah. Kejadian Citibank pun demikian juga. Kegiatan yang sudah rapi dilakukan bertahun-tahun akhirnya tergelincir di ujung jalan.

Saya lalu merenungkan semua kejadian ini dengan sebuah analisa : ooo begini ya kalau bersahabat dengan setan. Dirasakan nikmatnya sekali, lalu ketagihan, lalu lupa diri. Kenikmatan yang kita peroleh membuat kita terbuai dan lupa bahwa semuanya itu tidaklah cuma-cuma. Semakin kita terperosok di dalamnya, semakin dalam dan sakit pula imbalan yang diminta setan. Saya juga lalu berpendapat bahwa tak ada rencana setan yang sempurna. Seperti prinsip yin dan yang, di setiap bagian hitam pasti ada titik putihnya, dan di setiap lubang putih ada juga titik hitamnya. Prinsip ini mengingatkan agar kita selalu waspada dan tidak takabur.

Saya juga memperhatikan bahwa semuanya ini tidak terjadi hanya untuk perkara harta, tapi untuk semua unsur kehidupan. Semua yang berurusan dengan setan, pasti sama saja ritmenya. Mau urusan cinta, narkoba, jabatan, kekuasaan semua rawan berjabat tangan dengan setan. Sekali kita tergoda, akan tergoda lagi...

Saya lalu mengerti pentingnya selalu membina komunikasi dengan Allah pencipta. Agar kita selalu ingat akan tujuan kita hidup di dunia ini. Belajar dari proses kehidupan agar menjadi roh yang lebih baik setelah kita meninggal nanti. Sengsara, kesakitan, kesedihan, perjuangan, keringat, kekaguman, syukur, kerelaan, ketawakalan, kearifan, keikhlasan dan ketulusan merupakan berbagai unsur yang membuat kita belajar dan memahami kehidupan. Hendaklah kita tidak berniat keluar dari unsur-unsur itu, karena dari sanalah kita ini hidup...

Hari ini melalui berbagai liputan media mengenai kejahatan, saya belajar mengenai hakikat hidup.

Thought of the day : communication

It's not enough to just put out a message and hope people "get it."
We have to follow up to be certain we connected -
to make sure the messages received was the same one we intended to give.

- David Cottrell

Friday, March 25, 2011

Memberi

Kemarin saya menerima sebuah cerita yang sangat inspiratif dari teman baik saya, Andreas. Semoga cerita ini juga bisa memberi inspirasi bagi Anda :


Seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yg tidak begitu laku.Makin hari makin sedikit orang yg beli pakan ternak di toko tsb. Dalam keputusasaanya, Pria tersebut mendapat ide yaitu menginvestasikan 5.000 $ (uang yg cukup banyak pada zaman itu) untuk membeli 1.000 ekor Anak ayam.

Para tetangganya langsung mengejek & menganggap pria itu gila.
Jual pakan ayam saja, Tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa anak ayam tersebut diberikan secara GRATIS kepada pembeli pakan ternaknya.
Benar 2x Gila ! Toko mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam. Terus membagi bagikan anak ayam tersebut secara Gratis.

Mana ada pebisnis waras yg melakukan itu ?
Nyatanya, setelah ada program gratis anak ayam tersebut, mulai banyak orang membeli ditokonya.
Semakin hari ternyata tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki ternyata pembeli yg menerima Anak ayam gratis itu, kembali lagi.

Mengapa bisa demikian ?
Tentu saja mereka beli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Apa pesan moral dari cerita ini ?
Jangan pernah takut untuk memberi karena memberi adalah langkah pertama untuk menerima.
"Sayangnya banyak orang selalu berpikir yg sebaliknya. Menerima dulu, baru memberi"
Ini yg membuat kita tidak mengalami kemajuan dalam hidup ini.

Mana ada petani yg bisa menuai jika tidak pernah menabur sebelumnya ?
Selama ada kesempatan, jadilah orang yg murah hati.
Beri kebaikan. Beri perhatian. Beri dan beri...
Jangan hanya mau memberi jika ada keuntungan saja.
Ingatlah bahwa hidup ini seperti Gema.

Apa yg kita keluarkan akan kembali kepada kita.
Apa yg kita berikan akan kita dapatkan kembali bahkan berkali kali lipat dari apa yg diberikan.
Mari selalu melakukan kebaikan.

Tuesday, March 15, 2011

Harta Karun Lemari Jadoel

Sabtu kemarin saya bebenah, membereskan dua ruang kerja saya di rumah yang berantakan penuh barang dan buku, dan memasukkan sekaligus merapikannya kembali dalam ruang perpustakaan pribadi yang baru jadi. Saya sudah mau putus asa melihat begitu banyaknya buku yang harus saya rapikan, belum lagi tumpukan kertas dan barang-barang yang dulunya berhasil saya sembunyikan di antara sela-sela laci lemari buku yang lama tapi tekad saya agar semuanya selesai dalam waktu setengah hari membuat saya terbangun pagi-pagi dan mulai membongkar satu per satu mulai dari tumpukan buku terdekat.

Saya cukup kaget sekaligus kagum melihat harta karun yang saya temukan dari onggokan kertas di dua ruangan. Saya menemukan setumpuk surat cinta yang saya kumpulkan dari waktu saya masih di sekolah menengah pertama hingga menjelang kuliah, sebelum akhirnya putus dari kisah asmara jarak jauh yang tak tentu ujung pangkalnya. Tumpukan itu langsung saya buang tanpa saya baca lagi karena tak sanggup membayangkan betapa konyol isinya penuh dengan janji-janji cinta monyet. Saya juga menemukan beberapa surat mendiang ayah dan nenek saya yang seketika itu juga membawa kembali kenangan indah bersama mereka. Saya lalu membuat sebuah file khusus untuk menyimpan surat-surat tersebut. Saya juga cukup kaget bahwa di sela-sela tumpukan kertas itu menyembul pas foto tetangga dan teman baik saya sejak SD yang hingga detik ini masih intens bertukar kabar. Saya lalu memotret pas foto itu dan mengirimkan lewat blackberry messenger kepada teman saya yang sekarang sudah menjadi seorang ibu yang cantik jelita dengan dua anak menjelang dewasa dan ketawa ketiwi atas foto yang sudah berumur lebih dari 30 tahun itu.

Secara ringkas, saya kagum dan terpesona, atas banyaknya "sampah" dan "harta karun" yang saya kumpulkan selama ini. Barang-barang itu memiliki "nilai historis" tersendiri bagi saya dan saya bawa-bawa dari Malang ke Salatiga ke Malang ke Jakarta dan berpindah rumah dari tempat kakak saya ke tempat kos ke rumah pertama saya di Cinere dan akhirnya di rumah yang sekarang. Tadi pagi, saya juga membongkar sebagian lemari pakaian saya, dan menghasilkan dua kantong pakaian yang juga saya bawa-bawa dari rumah ke rumah.

Saat melihat semua harta karun yang sudah saya tata ulang dan sebagian (besar) masuk dalam dus dan kantong plastik, tiba-tiba terbersit : waaaah, kalau dibilang bahwa rumah dan isinya itu cerminan kehidupan kita, aduh betapa runyamnya kehidupan saya : isinya sebagian besar "sampah" dan "harta karun" dari masa lalu yang saya bawa ke mana-mana dan sebagian besar sudah kadaluarsa, usang, tidak pernah saya pakai lagi, tapi for the sake of memory, saya membebani diri saya untuk membawanya kemana saya pergi. Kira-kira begitu juga kah hidup saya?

Jawabnya kurang lebih sama dengan isi lemari saya. Saat saya terdiam sejenak selama 10 menit di pagi hari tadi sebelum berangkat kantor, saya menyadari bahwa pikiran dan hidup saya saat ini isinya sebagian adalah "sampah" dan "harta karun" masa lalu yang membebani dan membuat berat langkah sehingga hidup ini terasa berat, terseok dan tidak memiliki energi lagi. Saya lalu berpikir, kalau semua "sampah" dan "harta karun" masa lalu itu saya buang seperti yang saya lakukan dengan barang-barang dan baju ini, bagaimana ya jadinya? Sejujurnya, saya sungguh lega melihat lemari perpustakaan saya sekarang bersih, rapi dan ringkas. Rasanya ruangan juga menjadi lega dan saya juga memperoleh berbanyak space kosong untuk buku-buku baru saya kelak. Mungkin itu yang akan terjadi kalau saya membuang semua ketakutan, kegagalan dan kepahitan masa lalu : saya menjadi lega, dan punya space untuk berbagai hal baru. Karena semua beban itu "dibuang", maka saya akan merasa ringan dan punya tenaga lagi untuk melangkah...

Saya jadi semangat! Pulang nanti saya melanjutkan aksi sapu jagad yang tadi terhenti karena harus berangkat kantor. Saya juga mau menyapu jagad ruang yang ada di jiwa ini agar punya tempat bagi masa depan dan kehidupan yang lebih exciting ketimbang dibebani masa lalu dan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Saya membayangkan, hati dan kehidupan saya jadinya lebih bersih, lebih rapi dan lebih legaaa....

Monday, February 21, 2011

Best in Me - Blue

Hari Valentine kemarin saya mendapat hadiah sebuah lagu yang dinyanyikan kelompok musik Blue, berjudul Best in Me :

From the moment I met you I just knew you'd be mine
You touched my hand
And I knew that this was gonna be our time
I don't ever wanna lose this feeling
I don't wanna spend a moment apart

Chorus:
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

Every day that I'm here with you
I know that it feels right
And I've just got to be near you every day and every night
And you know that we belong together
It just had to be you and me

'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

And you know that we belong together, It just had to be you and me

'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

The King's Speech : Mematahkan Takut Pada Diri Sendiri

Saya menonton film "The King's Speech" yang dimainkan dengan sangat luar biasa oleh Colin Firth. Tak heran kalau ia kemudian memenangkan Golden Globe untuk perannya sebagai Raja George VI, ayahanda Ratu Elizabeth II yang sekarang bertahta.

Diceritakan kalau Sang Raja menaiki tahta tanpa rencana. Yang seharusnya naik adalah kakaknya yang memilih menikah dengan seorang janda Amerika. Sebagai calon raja di peringkat ke dua, ia tak punya pilihan lain untuk menerimanya, padahal sebagai raja, ia punya cacat yang luar biasa mengganggu pekerjaannya : gagap. Permaisuri pun lalu mencari berbagai terapis namun selalu gagal, sampai akhirnya ia menemukan nama Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang ahli terapi bicara asal Perth, Australia yang nyentrik. Lionel lah yang berhasil membimbing Bertie, nama rumah sang raja, mengatasi kegagapannya.

Sepanjang film rasanya saya melihat diri sendiri yang sering dihadapkan dengan ketakutan-ketakutan saya sendiri yang menghambat kemajuan saya. Orang yang gagap ternyata tidak tergagap dalam membaca ketika telinganya tidak dipekaki oleh suara musik klasik sehingga tidak dapat mendengar suaranya sendiri. Begitu emosi dan ketakutan merasuki kalbu, saat itu juga ia mulai tergagap kembali. Maka cara terbaik untuk mengatasi luapan emosi adalah mengalihkan perhatiannya dari ketakutan dan emosinya ke hal-hal yang menenangkan dan membuatnya nyaman.

Orang yang mengenal saya mungkin heran kalau saya bilang saya sering punya masalah menaklukkan ketakutan saya sendiri. Contohnya saja dari luar, tampaknya saya santai-santai dan beran-berani saja tapi saya sering takut ini takut itu. Bahkan takut menelepon karena takut salah waktu atau salah ucap. Meskipun bergerak di bidang komunikasi, saya merasa kemampuan komunikasi untuk urusan pribadi saya kacau sekali. Tapi itulah saya yang sebenarnya.

Film ini sungguh membuka mata bahwa kegagalan yang terbesar dalam hidup ini diakibatkan karena ketakutan terhadap diri sendiri yang tidak teratasi, dan satu-satunya jalan yang harus dilakukan adalah menghadapinya sendiri pula. Lionel mengajak mantan the Duke of York itu untuk kembali dan menghadapi trauma masa kecil dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikhawatirkan dan ditakutkan sudah tidak ada lagi. Awalnya sulit sekali menguak masalah pribadi apa lagi berurusan dengan pewaris tahta kerajaan Inggris, namun cara yang blak-blakan dan tulus membuktikan bahwa baja setebal apa pun terkoyak dan terbukalah mata hati yang bertahun-tahun terluka. Begitu luka itu tersembuhkan, bersinarlah kualitas negarawan sang raja yang memang telah mendedikasikan hidupnya bagi bangsa dan negara...

Kalau ada waktu, saksikan filmnya, dijamin terinspirasi....

Bantal

Seorang teman saya mengeluhkan kemanjaan anaknya yang sekarang sedang belajar di luar negeri. Usia yang semestinya sudah mandiri, tapi tetap saja santai dan bergantung pada orang tuanya. Puncaknya, kartu kredit tambahan yang dibuatkan khusus untuk keperluan emergensi digunakan untuk belanja barang yang bukan kebutuhan pokok. Saya lalu buka mulut, "blokir saja."

Orang tua sekarang, termasuk kakak-kakak saya adalah orang tua yang terlalu protektif dan memanjakan anaknya. Takut anaknya susah. Takut anaknya kenapa-kenapa. Padahal di sanalah pangkal perkaranya. Anak cenderung menggampangkan dan merasa bahwa kalau ada apa-apa toh ada bantal empuk yang siap menolongnya. Saya lalu mengutip lagi kalimat sakti "Life begins at the end of your comfort zone." Kalau anak-anak selalu di comfort zone, bagaimana mereka hidup?

Sebagai orang tua kita harus menantang dan mendorong mereka untuk melihat realita hidup. Kebanyakan orang tua yang berdiskusi dengan saya soal hal ini merasa terusik karena tidak nyaman dan takut anaknya terperosok dalam pergaulan dan lingkungan yang salah kalau dibebaskan. Saya bilang, "tidak akan, jika kita sebagai orang tua meletakkan dasar nilai dan tanggung jawab yang cukup." Nilai untuk memiliki visi hidup, mensyukuri keadaan dan bertanggung jawab, tidak kepada orang lain termasuk kepada orang tuanya, tetapi terlebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan Tuhan.

Maka saya sarankan teman saya memberikan uang secukupnya kepada sang anak, dan memberi aturan bahwa "cukup tidak cukup, ya segitu yang saya berikan kepada kamu. Kalau kamu mau ini itu, ya menabung, atau carilah tambahan yang halal." Teman saya cerita kalau anaknya waktu itu mau membuat kartu kredit sendiri namun ia larang karena takut kalau ia tak bisa membayar. Saya bilang, biar saja, biar dia mengerti akibatnya kalau ia tidak melakukan perencanaan hidup dengan baik. Saya lalu memberi contoh di tahun 1983 - 1987 saya mendapat jatah seratus ribu dari orang tua untuk hidup setiap bulannya di Salatiga. Uang itu sudah mencakup uang kos, cuci baju, makan dan hiburan, termasuk belanja buku bacaan dan kaset atau menonton kegemaran saya. Dana itu juga termasuk ongkos foto kopi dan biaya operasional kuliah, kecuali uang kuliah yang jumlahnya di luar uang bulanan. Orang tua saya tidak akan memberi tambahan bila saya kekurangan. Jadi saya harus memperhitungkan dengan cermat keadaan keuangan saya. Saya kos di tempat yang sederhana, makan berdua teman se kos dari rantangan, dan kalau makan di luar, saya cuma makan serba standar, tidak tambah sate ini atau itu. Tapi di sana lah saya belajar bertanggungjawab dan menyukuri apa yang saya miliki. Buktinya, saya tetap happy dan berprestasi, tak pernah mengeluh. Saya tidak hanya diajari mengenai nilai dan tanggung jawab, tetapi lebih dari itu, ayah ibu saya mengajarkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Keadaan ini saya bagikan kepada teman saya tadi.

Mendengar cerita ini, seorang kenalan lalu menukas, "iya, tapi zaman kita dulu kan berbeda dengan zaman sekarang?" Saya lalu menjawab kembali, "zaman kita muda dulu, orang tua kita juga bilangnya sama. Jadi apa bedanya? Setiap zaman tentu berbeda, dan karena itulah semakin penting bekal yang kita berikan kepada anak kita adalah bekal nilai dan tanggung jawab, bukan materi. Karena materi akan habis dalam sekejap, sedangg bekal nilai dan tanggung jawab akan merupakan sumbu yang menjadi modal untuk menerangi hidupnya sepanjang masa."

Jadi, cinta tidak harus diwujudkan dalam bentuk bantal empuk yang selalu menadah sehingga anak atau saudara kita jadi serba menggampangkan. Cinta yang baik adalah cinta yang mendidik. Cinta yang membuat orang yang kita cintai memiliki visi hidup, bersyukur atas anugerah yang diperolehnya dan bertanggung jawab atas hidupnya kepada dirinya sendiri dan Tuhan. Memang tidak mudah untuk menerapkannya, terutama cinta yang benar itu tidak selalu manis dan enak dirasa, tetapi memberi "hidup" bagi yang dicintainya. Mungkin ia tidak merasakan sekarang, tapi akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Monday, February 14, 2011

Mengalir

Saya baru saja keluar dari rumah sakit. Saya terpaksa bermalam di "hotel" istimewa itu selama sehari karena tekanan saya tiba-tiba naik menjadi 190/130, maka dokter saya mengatakan sebaiknya "tinggal" sehari saja di sini. Tapi istirahat sehari itu menjadi heboh di antara keluarga dan mereka yang tahu, padahal saya sekarang baik-baik saja. Semua itu adalah akibat "kenakalan" saya terlalu rakus melihat segala macam makanan lezat saat mengaduk-aduk isi Jakarta kota dalam rangka Tahun Baru Cina. Bahkan saya sudah periksa ke dokter Munawar, dokter jantung kepresidenan yang kebetulan saya kenal baik, di Rumah Sakit Jantung Binawaluya dan hasilnya semua baik, cuma ya itu tadi, bandel makan.

Kehebohan ini sedikit banyak disebabkan karena dokter saya berpesan agar saya istrirahat total, tidak menerima telepon atau tamu apa lagi yang berhubungan dengan pekerjaan. Namanya orang Indonesia, semakin dilarang, semakin banyak yang ingin tahu kenapa dan sakit apa. Akibatnya tetap saja saya tak bisa mencegah kakak saya datang bersama serombongan sepupu dan tante saya dan membuat heboh karena suara ketawanya keluar sampai ke lorong rumah sakit. Karena tak sempat menengok, maka Sabtu malam kemarin seorang tante dan om saya kemudian mengambil inisiatif cemerlang menjenguk dan menginap di rumah tanpa memberitahu saya.

Tentu saja saya kagetnya setengah mati. Saya tidak siap, bahkan tidak tampak bekas-bekas sakit, apa lagi saya baru saja bermalam minggu dan baru menginjakkan kaki di rumah sehabis acara dinner dan nonton film. Tapi ya, namanya diberi perhatian, saya ya terima juga dan menyiapkan kamar. Ketika jam menunjukkan waktu lewat tengah malam, saya segera menyudahi acara basa basi dengan alasan besok mau ke gereja jadi saya akan mengantar mereka pulang pagi-pagi sebelum ke gereja. Belum selesai bicara, saya menangkap ada yang janggal di meja makan : kaca penutup candle holder saya pecah. Si Tante cuma bilang, "Iya tadi itu kesenggol om, pecah. Gampanglah semprong kayak gitu banyak di Jelambar nanti tante beliin lagi!" Tanpa banyak mulut saya naik ke kamar tidur.

Saya lalu tak bisa tidur. Cukup rasanya! Buat saya kehadiran om dan tante itu sangat tidak menghargai yang punya rumah, meskipun niatnya baik! Saya yang terbiasa semua terencana dan dibicarakan di awal, tidak suka kejutan. Bahkan ibu atau kakak saya yang mau datang ke rumah saja memberitahu terlebih dahulu. Jangan salah sangka, saya senang sekali kalau ada yang datang bahkan bermalam di rumah, akan saya jamu sebaik-baiknya. Saya juga tentu tak akan pernah menolak siapa yang akan datang ke rumah, untuk bermalam sekalipun, but let me know first so I can prepare and be prepared. Siapa tahu saya sudah ada rencana sebelumnya, atau saya sedang tidak dalam keadaan siap menerima tamu, siapa pun itu. Saya juga dalam hati mengomel atas sikap "bela diri" tante soal semprong yang pecah. That's not the issue. Buat saya, kalau salah ya ngaku saja minta maaf and shut up!

Maka, hari Minggunya saya bangun lebih awal, dan "curhat" pada anak si om tante sambil memintanya untuk membantu menasihati orang tuanya agar lebih "thoughtful". Lalu saya bergegas menyiapkan makan pagi dan mengantar mereka pulang ke rumahnya di daerah Jakarta Pusat. Karena di pusat, saya mengubah rencana untuk ke gereja katedral saja, mengikuti misa yang jam 10.30. Saya terlambat 10 menit dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pergi ke gereja katedral, saya berdiri di pojok belakang. Penuhnya orang dan sirkulasi katedral yang kurang baik membuat saya berkeringat dan ingin agar misa cepat selesai saja.

Tapi justru di akhir misa, pastor memberitahu bahwa museum katedral sedang dibuka setelah misa. Museum ini adalah tempat penyimpanan benda-benda sejarah perjalanan agama Katolik yang tidak dibuka setiap saat. Saya sudah lama ingin berkunjung, tapi waktunya tidak pernah klop. Kali ini, tanpa disangka keinginan yang sudah terpendam bertahun-tahun itu terbuka begitu saja dan menjadi pengalaman dan kenangan yang tak akan terlupakan.

Tiba-tiba saya sekali lagi disadarkan untuk berterima kasih kepada om, tante yang datang tanpa disangka-sangka. Kalau tidak karena mereka, saya tak akan repot-repot mau ke Jakarta pagi-pagi mengantar mereka dan ngebut ke gereja siang. Sepulang dari gereja, saya memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia dan menemukan pengganti semprong yang pecah, bagaikan disimpankan untuk saya, karena tinggal satu-satunya.

Tuhan itu luar biasa. Saya lalu memohon ampun atas kekeraskepalaan saya. Saya seketika menyadari bahwa saya tidak bisa membuat segala sempurna. Ketika ada yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak, saya hendaknya ingat untuk mengikuti arus tanpa banyak berontak, karena Tuhan sudah punya rencana buat kita.

Saya lalu jadi ingat : rencanaKu bukanlah rencanamu. dan semuanya akan dijadikan indah pada waktunya. Pagi ini saya menerima pesan bbm :

Life is too short
to wake up with regrets
Love the people who treat you right and
forget the ones who don't!
Believe that everything happens for a reason.
If you get a chance - take it
if it changes your life - let it
Nobody said life would be easy
they just promised
it would be worth it!


It certainly is. Terima kasih Tuhan! Terima kasih Om, Tante. I am the one who should apologize. Thank you for the wonderful experience in life, because of you...

Friday, January 28, 2011

Pahlawan Kesiangan

Entah mengapa beberapa hari ini saya disuguhi berbagai peristiwa yang bertema sama. Kemarin, saat sarapan pagi dan melakukan ritual pindah-pindah channel, saya terhenti di Starworld yang menanyangkan film serial komedi "Gary Unmarried" yang saat itu menceritakan Gary merasa hidupnya bagai neraka karena pacarnya yang cantik melakukan berbagai peraturan guna mengubah hidupnya yang suka-suka menjadi teratur dan "berkelas". Puncaknya ia diajak menonton opera yang sama sekali tak dimengertinya, lalu terjadilah pertengkaran sampai keluarlah kata-kata putus. Ia lalu berpikir ulang dan menyadari itikad baik sang pacar maka Gary pun meminta maaf kepada sang pacar dan mengatakan siap untuk dipermak. Reaksi pacarnya? Gembira dan mengajak Gary nonton balet. Seketika itu, padam lah semangat Gary untuk kembali pada sang pacar.

Kemarinnya, pagi-pagi saya mendapat gossip hangat dari seorang teman tentang teman kami yang ingin cerai karena sang suami mata keranjang bahkan berani selingkuh di depan mata. Ternyata teman kami itu sebenarnya tahu kebiasaan sang suami sebelum menikah, hanya saja ia berpikir bahwa perkawinan dan anak akan mengubah semuanya menjadi lebih baik.

Saya heran, kenapa ya kita ini sering mau jadi pahlawan kesiangan? Padahal hati kecil kita tahu bahwa ada kebiasaan atau keadaan buruk yang melekat pada seseorang, tapi kita justru tertantang untuk "membantu" memperbaiki keadaannya, dan berharap berhasil, wah jadi pahlawan yang kemudian dapat tanda jasa besar dari sang pujaan hati, dan si pujaan hati lalu menyerahkan seluruh hidup dan cintanya dan tergantung kepada kita. Well, pengalaman hidup saya mengatakan semuanya mimpi karena kita tahu perubahan itu harus datang dari orangnya sendiri dan bukan dari orang lain yang dengan tegar dan disiplin melakukan pengaturan dan mendirikan pagar-pagar sehingga orang yang ingin kita "tolong" tidak lari dari pakem yang seharusnya dijalani. Face it, that person never change!

Jadi kasusnya adalah, apakah kita mau menerima seseorang seutuhnya, apa adanya. Jangan pernah berpikir, "duuuuh cakeeep ya, sayang suka .... tapi gakpapa deh nanti kalau sudah jadi pacarku, bisa laaaah dididik...." Percayalah, kita sendiri yang akan menyesal karena upaya ksatria kita sia-sia saja. Dan kalau sia-sia, yang dimarahi justru objek kita, yang dibilang nggak bisa mengerti perasaan kita lah, yang ini itulah. Padahal sebetulnya yang perlu disemprot ya kita sendiri. Sudah tahu keadaannya seperti itu, mengapa juga masih cari gara-gara.

Saya jadi ingat film "Object of My Affection" yang dibintangi Jennifer Aniston dan Paul Rudd dimana si cewek jatuh hati pada temannya yang gay, dan berpikir bisa membuat sang pujaan bisa berpaling padanya. Pada akhirnya, ia sendiri yang berurai air mata karena usaha apa pun yang dilakukannya, sang lelaki tetap memilih lelaki lain sebagai pujaannya...

Kembali lagi ke soal teman saya itu, sekarang ia merasa kesal dan tersudut karena ditinggal bersenang-senang oleh suaminya dengan para perempuan lain. Ia lalu mau cerai saja. Saya sih tak berkomentar apa pun karena curhatnya tidak pada saya, dan saya pun tidak memperpanjang masalah ini kepada teman yang bergosip pada saya, tapi kalau saya disodori cerita ini, saya akan bertanya padanya, "waktu elo mau jadi pahlawan, ada plan B nggak kalo gak berhasil, atau di pikiran lo cuma terbayang happy ending seperti film-film Hollywood?" Well, welcome to reality, and ... by the way, what happen to your vow to be there for your spouse in sickness and in health, for better or for worse?

Tuesday, January 25, 2011

Jatuh Cinta Lagi di Bukittinggi

Ini catatan perjalanan saya keliling Padang - Bukittinggi yang tercecer dari tahun 2008. Catatan ini saya ambil dari email saya kepada kakak saya Gita yang tinggal di Perth. Karena email ke kakak sendiri, jadi bahasa yang tertulis harap dimaklumi karena bukan bahasa baku.

Rabu kemarin aku berangkat first flight ke Padang untuk memenuhi undangan menjadi pembicara bareng pemrednya trans tv karena tadinya sesi ngajarku jam 2 tapi berhubung pemrednya transtv mesti pulang hari, jadi ya dituker, sesi ku mulai jam 7 malam.

Karena nganggur, jadinya aku putar putar Padang dulu, beli oleh oleh keripik (yummy banget!), ke pantai Padang, ngelewati china town dan jembatan Siti Nurbaya, ngelewati juga kuburan Siti Nurbaya, terus lanjut ke Teluk Bayur. Jangan salah, bukannya romantis, tapi Teluk Bayur itu pelabuhan perdagangan, tempat lalu lintas kapal besar! hehehe... Abis dari situ cari makan. Yang lucu di Padang nggak ada restoran Padang (ya karena di kotanya lah ya hehehe), adanya nasi kapau atau ampera (ampera itu maksudnya campur). Mana Padang pas lagi hujan, jadi mantap!

Sempet tidur siang bentar, udah dibanguni diajak makan sate danguang danguang, sate padang enak banget di daerah china town, jadi kenyang sebelum ngajar. Sesiku jam 19:00 malah molor sampe jam 22:30 saking serunya. Begitu abis ngajar, dengan suara udah mulai serak, ditantangin pesta duren, waaah jadilah makan duren padang. Legit uenak lho!

Besok paginya aku sarapan lontong gulai paku di hotel. Yummy lho, aku sampe nambah 2 kali! Hotelnya tuh kalau liat depan, lihat gunung, belakangnya langsung pantai Padang. seru juga. Abis makan, langsung meluncur ke Bukittinggi tapi berhenti berkali kali, maklum objek wisatanya banyak banget!

Pemberhentian pertama di Lembah Anai. Pas di pinggir jalan, ada air terjun lembah anai yang terkenal itu. wah, berhenti deh, foto foto di sana. Karena Istana Pagaruyuang habis terbakar kena sambar petir tahun lalu, supirku lalu belok ke cagar budaya Minangkabau di daerah padang panjang. Wah keren deh, foto foto di rumah gadang khas Minangkabau. Di dalam dijelasin all about budaya minang! Keluar dari situ udah jam makan siang, jadilah makan di Sate Mak Syukur! Sate Padang enak banget, dan hitungannya per tusuk, jadi gak boleh buang tusuk sate di sana hehe... dimakan pake kuah kari kental dan lontong (lontongnya kayak ketupat gitu), dan kerupuk kulit. enyak enyak enyak hehehe...

Kenyang makan, lanjut ke Pandai Sikek, daerah kerajinan kain dan kayu, seru juga, aku sempat beli miniatur rumah gadang (tapi sampe di jakarta patah, harus di lem). Bukannya sibuk belanja, aku malah foto foto di belakang toko karena di sana ada hamparan sawah dan ada rumah adat berlatar belakang bukitbarisan. kereeennnn hehehe...

Tadinya dari sana mau langsung ke Bukittinggi, tapi terus ganti acara, belok dulu ke danau Maninjau. Masuk ke daerah pegunungan, jadi ngantuk juga, tapi tiba tiba di ujung kelok 44 (ada 44 kelokan yang 45 derajat, keren deh!) muncul hamparan danau maninjau yang spektakuler, danaunya bening banget sampe bingung karena gunung yang membatasi danau tercermin di air danaunya, mana cuaca bener bener cerah, jadi keren banget! Terus mobilnya turun menyusuri kelok 44 dan di ujung danau, nyemil di resto yang menjorok ke danau. Danaunya tenang banget, bener bener nyenengin deh!

Dari sana langsung menuju The Hills, dulu Novotel Bukittinggi, hotel bekas bangunan Belanda bergaya India, keren lho, dan yang senangnya, background pemandangan kamar dan hotel adalah Ngarai Sianok! Plus, hotelnya bener bener di tengah kota, tinggal jalan gak sampai 5 menit, udah jam gadang, pasar atas, pasar bawah, wah meriah deh! Mau ke gereja juga jalan kaki (tapi aneh gerejanya tutupan terus, jadi gak tau jadwal misanya).

Besoknya aku ke Payakumbuh, ke Lembah Harau, wah spektakuler banget, lembahnya itu tebing tebing tinggi, warna hitam coklat bergaris garis putih gitu. dan di sana ada 4 air terjun keren keren.... ada juga echo homestay, 300 ribuan perhari, kalo mau nyepi, keren banget tempatnya!

Pulang dari sana, explore ngarai sianok sambil makan gulai itik di kaki ngarai. enak buanget, empuk! Sampe makan dua kali lho! hehehe... Lanjut ke panorama, dari sana bisa lihat ngarai sianok komplet, dan saking bagusnya ngarai sianok sampai dijadikan gambar di uang 1000 rupiah! Terus masuk ke Lubang Jepang. Jadi di jaman penjajahan Jepang bikin kota di bawah kota, ada kantor nya, ada tempat masak, ada tempat tidur, ada penjara juga ada tempat pembantaian romusha nya :-P. Supaya komplet aku juga ke benteng Fort de Kock. Dasar tukang nonton bioskop, tadinya aku pikir itu benteng Belanda yang gimana gitu, pas lihat aku jadi terpesona dan terbengong bengong. Bentengnya kayak menara tangki air di rumah-rumah! Hahahaha... Untung bentengnya sekompleks sama kebun binatang, dan keduanya disambung sama jembatan yang melintang di atas kota keren banget karena bangunan jembatan gantungnya menggambarkan budaya Minang.

Sabtunya aku full santai, berenang, belanja, keluar masuk pasar (di pasar basah digosipin :orang jepang masuk pasar hahahha aku nikmati aja sambil cengar cengir hehehe). Terus makan nasi ampera di Uni Lis. Yang istimewanya jus timunnya, pake cinnamon! Enak deh! Malam minggu di jam gadang seru dan meriah abis! Kayaknya orang Bukittinggi tumplek blek di sana. Gak ngapa ngapain, cuma seru seruan aja.. Jam Gadang itu peninggalan Belanda (dan sampe sekarang kalau rusak masih manggil teknisi dari Belanda!) dan sampe sekarang udah 3 kali ganti kubah, yang pertama kubah gereja, yang kedua kubah kuil Jepang, dan sesudah merdeka ganti atap rumah Minang! Yang uniknya suaranya kayak bunyi lonceng gereja dan angka IV romawinya di tulis IIII hehehe...

Minggu sebelum meninggalkan Bukittinggi aku nyobain pical sakai, model pecel gitu tapi pake rebung segala. seger dan uenak! Perjalanan ke Padang sekarang lewat Solok dan menyusuri danau singkarak, danau terbesar di sumatera barat. Tapi beda dengan danau maninjau yang bersih, danau ini rada busuk kalau disamperin dari dekat, padahal di danau ini ada satu jenis ikan yang gak ada di tempat lain: ikan bilis yang uenak itu lho! Jadi saranku kalau di danau singkarak, mending gak berhenti karena jalanan menuju padangnya bener bener di pinggir danau, keren abeez! Kalau mau makan, ada resto di atas tebing keren banget, di atas gunung gitu...

Sebelum ke airport, aku masih punya dua agenda: ke pantai air manis, tempatnya itu kayak tanah lot, kita bisa nyeberang ke pulau kecil dengan jalan kaki, tapi yang istimewa dari pantai ini adalah batu berserakan yang menyerupai pecahan kapal dan ada batu seperti orang bersujud, yang disebut batu Malinkundang! Sayang rada kurang terawat! Agenda terakhir, dan jadi penutup yang perfect adalah Es Durian Padang! Kayak es campur gitu, tapi di cover abis sama daging durian yang udah di blender. Bener bener nendang!

Waaaah pokoknya liburan kali ini wooooke abez deh. dan biarpun traveling sendiri, ternyata enjoy aja tuh, juga dapat teman-teman baru di perjalanan yang gak kalah serunya! Hehehe...


Okeeee.... sekian laporan pandangan mata dari Padang Bukittinggi...

Wednesday, January 19, 2011

Membabat Kebiasaan

Jamie Oliver, penulis dan presenter memasak yang kondang di Inggris ternyata diminta oleh pemerintah Inggris untuk membenahi pola makan generasi muda di sana dengan menghampiri sekolah dan mengubah pola makan murid sekolah yang cenderung tidak sehat. Kini pola makan generasi muda di Inggris dinilai telah berubah lebih banyak mengonsumsi buah dan sayuran serta cenderung memilih menu lokal yang lebih sehat ketimbang junk food.

Melihat keberhasilan pemerintah Inggris mengubah pola makan generasi mudanya, pemerintah Amerika lalu mengundangnya untuk membenahi pola makan generasi muda Amerika yang cenderung obes. Jamie terkaget-kaget melihat para siswa menyantap pizza ukuran raksasa untuk sarapan pagi mereka, segala macam goreng-gorengan seperti chicken nugget dan french fries untuk makan siang serta minuman bersoda. Tak satu pun menu sayur dan buah muncul di sana. Ketika ditanya, pengurus kantin mengatakan semuanya sudah sesuai dengan standar USDA yang tak lain kementerian pertanian.

Reaksi murid, guru, dan penduduk setempat? Curiga, marah dan tersinggung. Para pengurus kantin menanyakan apa perlunya Jamie datang ke sekolahnya dan mengganti menu. Mengapa diganti kalau selama ini semuanya baik-baik saja? Murid-murid terkejut dan melongo ketika Jamie mengumumkan tidak ada lagi menu french fries. Radio setempat yang mewawancarainya bahkan mengejek siapa Jamie sampai punya otoritas mengobrak-abrik tatanan yang selama ini dianggap baik dan nyaman.

Kenyataannya sebagian besar anak usia dini dan remaja di Amerika yang terserang obesitas dan tak sedikit yang berakhir dengan food addiction alias ketagihan makan, berakibat bobot rata-rata usia muda Amerika meningkat tak wajar sehingga mengurangi produktivitas negara. Segala macam imbauan sampai Oprah Winfrey sudah melakukan upaya namun tetap tak ada hasil karena rupanya pola makan yang diperkenalkan di usia dini tidak benar sehingga timbul pemikiran mengubah kebiasaan harus dimulai dari sekolah di mana anak menghabiskan hampir 2/3 harinya.

Melihat liputan ini dan bagaimana Jamie tetap optimis bisa melakukan perubahan, saya jadi berkaca. Iya yah, kalau mau mawas diri, saya yakin saya punya kecenderungan ketagihan berbagai kebiasaan buruk. Bukan cuma soal makanan, tapi juga yang berhubungan dengan tabiat yang tanpa saya sadari menghambat perkembangan diri saya, baik batiniah maupun berbagai kemampuan saya yang lain. Saya lalu melakukan kilas balik dan menemukan bahwa di setiap akhir perjalanan hidup yang buruk dan traumatis, ternyata saya mengalami lonjakan pembelajaran, pendewasaan dan sudut pandang yang jauh lebih bijaksana dari sebelumnya.

Saya ingat, setiap awal tahun, saya selalu menatap tahun yang baru ini dengan berbagai pertanyaan apakah saya dapat melampauinya sebaik atau lebih baik dari tahun sebelumnya. Saya selalu merasa bahwa tahun yang ada di hadapan saya adalah tahun yang lebih berat dari sebelumnya. Tapi sekarang saya menyadari, itulah esensi "naik kelas". Saya jadi ingat bagaimana perusahaan saya melakukan evaluasi kinerja karyawan setiap tahunnya. Kami membaginya menjadi kategori set back, stagnan, achiever, star. Set back adalah kalau terjadi kemunduran dari kinerja tahun lalu, stagnan kalau datar-datar saja, achiever kalau bisa menghasilkan lebih dari yang distandarkan, dan star kalau pencapaiannya sangat cemerlang - semuanya dibandingkan dengan performa tahun sebelumnya, dengan demikian diharapkan setiap tahunnya terjadi peningkatan kinerja. Hasil evaluasi itu kemudian dikaitkan dengan peningkatan renumerasi berdasarkan kinerja. Bisa dipastikan mereka di kelompok set back dan stagnan tidak mendapat peningkatan renumerasi yang bisa dibawa pulang.

Hidup ini ternyata seperti itu. Kalau tidak mengalami peningkatan, kita tidak maju. Dan peningkatan itu dicapai ketika kita mau bersakit-sakit dahulu. Karenanya sekarang saya paham pepatah bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Hanya saja, dalam hidup, semuanya terjadi dalam siklus yang selalu bergulir sepanjang hidup.

Maka, sebagai kesimpulan semua yang saya tonton di televisi pagi ini dan pemeriksaan batin hari ini, saya mengutip sebuah kalimat yang ditulis di sebuah gelas :

"Life begins at the end of your comfort zone"

Mulai sekarang, ketika dalam situasi sulit, saya akan mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi justru merupakan esensi kehidupan, bukan duri atau hambatan karena dari situlah kita belajar dan naik kelas...

Thursday, January 13, 2011

Dalai Lama

Sebuah pesan di blackberry messenger muncul dari teman saya Wida. Kali ini ia membawakan kata-kata bijak pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama :


Manusia mengorbankan kesehatannya untuk mencari uang. Lalu ia mengorbankan uangnya untuk memperoleh kesehatannya kembali.

Lalu ia begitu khawatir akan masa depan sehingga ia tidak menikmati masa kini.

Dan sebagai akibatnya ia tidak hidup di masa kini atau di masa depan.

Dan ia hidup seolah-olah ia tak pernah akan mati, lalu ia mati tak pernah benar-benar "hidup"!

aslinya seperti ini :

Man! he sacrifices his health to make money. Then he sacrifices his money to recuperate his health.

And then he is so anxious about the future that he doesn't enjoy the present.

And as a result he doesn't live in the present or the future.

And he lives as if he is never going to die, and then he dies having never really lived!


Sebuah nasihat dan peringatan bagi kita semua untuk tidak lupa mensyukuri apa yang ada di hadapan kita, dan menikmati hidup saat ini.

Thursday, January 06, 2011

Handbook 2011

Pagi ini saya memperoleh kiriman renungan dari teman saya Tommy yang begitu bagus sehingga saya broadcast ke seluruh teman dan kerabat yang punya blackberry messenger. Kini saya membagikannya bagi Anda.

HANDBOOK 2011 :

HEALTH :

01. Drink plenty of water..
02. Eat breakfast like a king,
lunch like a prince and
dinner like a beggar.
03. Live with the 3 E's--Energy,
Enthusiasm and Empathy.
04. Make time to pray.
05. Play more games.
06. Read more books than you.
did in 2010.
07. Sit in silence for at least 10
minutes each day.
08. Sleep for 7 hours.
09. Take a 10-30 minutes walk
daily. And while you walk,
smile.

PERSONALITY:

10. Don't over do. Keep your
limits.
11. Don't take yourself so.
seriously. No one else does.
12. Don't waste your precious
energy on gossip.
13. Dream more while you are
awake.
14. Envy is a waste of time.
You already have all
you need.
15. Forget issues of the past.
Don't remind your partner
with his/her mistakes of the
past. That will ruin your
present happiness.
16. Life is too short to waste
time hating anyone. Don't
hate others.
17. Make peace with your past
so it won't spoil the present.
18. No one is in charge of your
happiness except you.
19. Smile and laugh more.
20. You don't have to win every
argument,Agree to disagree

SOCIETY:

21. Call your family often.
22. Each day give something
good to others.
23. Forgive everyone for
everything..
24. Spend time w/people over
the age of 70 & under the
age of 6..
25. Try to make at least three
people smile each day.
26. What other people think of
you is none of your
business.

LIFE:

27. Do the right thing!
28. GOD heals everything.
29. However good or bad a
situation is, it will change..
30. No matter how you feel, get
up, dress up and show up.
31. The best is yet to come..
32. When awake in the morning,
thank GOD for it.
33. Your Inner most is always
happy. So, be happy.

LAST BUT NOT THE LEAST:

34. Please Forward this to
everyone you care about,
I just did...

Wednesday, January 05, 2011

4 Januari 2011 : Rencana Kematian vs Kehidupan

Sesaat sebelum kembali ke Jakarta, saya menemukan iklan obituari yang sangat menarik dari the Straits Times tanggal 4 Januari 2011. Isinya begini :

Tommy Ng Tock Hiang
24 December 1962 - 01 January 2011

I will always love you sister

I wish I could stay, well; you know I've tried all the way.
And so, I need to go now, and yet I know,
that I'll think of you each step of my way
And I will always love you.
Sweet memories, that's all I have, and all I'm taking with me.
Good bye sis, oh, please don't cry,
cause we both know I'm not wanting to leave you.
But I will always love you.
And I hope life will treat you kind.
And I hope that you have all that you ever dreamed of.
Oh, I do wish you joy.
And I wish you happiness.
But above all these, I wish you love.
I love you Irene, I will always love you.
Your Brother Tommy

Saya tercenung. Ada apa dengan Tommy? Meninggal karena sakitkah ia? Bunuh dirikah ia? Sebegitu siapkah ia menghadapi kematian sehingga bisa pasang iklan 4 hari setelah ia wafat?

Saya lalu bertanya, seberapa siap saya terhadap kematian? Apa yang sudah saya siapkan bagi kematian saya?
Haruskah saya mempersiapkah kematian? atau justru merancang kehidupan?
Bagaimana dengan Anda?

Apa pun itu, Rest in Peace, Tommy. Terima kasih sudah membuat saya berpikir.

31 Desember 2010 : Flashback for the Future

Saat detik-detik pergantian tahun, di tengah kemeriahan pesta jalanan di Singapura saya merenungi perjalan saya di tahun 2010.

2010 has been a truly amazing year. Tak pernah terbayangkan bahwa tahun ini merupakan tahun pembelajaran yang luar biasa. Resolusi 2009 untuk menulis dan “membukukan” apa yang saya pelajari setiap hari di tahun ini merupakan perjalanan pembelajaran batin yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Seorang cenayang mengatakan saya akan melakukan perjalan batin yang akan membawa saya pada “next level” namun ia tak tahu bagaimana ini terjadi.

Menulis blog setiap harinya memberi saya pelajaran hidup tentang visi, misi, komitmen hidup dan bagaimana memenuhinya. Berkali-kali saya mau menyerah karena tak tahu mesti menulis apa karena merasa pada hari itu tidak belajar apa-apa. Tak jarang juga karena malas yang memuncak. Orang-orang terdekat saya tahu betapa sengsaranya saya harus menyelesaikan blog setiap harinya. Begitu banyak kesenangan yang harus saya tanggalkan hanya karena, “saya masih harus nulis blog hari ini, nih!” Tahun ini saya benar-benar belajar soal bagaimana menjalani dan teguh pada komitmen. Sebuah pelajaran yang luar biasa berharga dan semoga dapat membenahi bagaimana saya menjalani komitmen kehidupan.

Jangan salah, ada saat-saat tertentu dimana saya benar-benar merasa belajar dan hal ini membuat lancar menulis blog. Tapi saya juga menemukan saat dimana saya belajar, ternyata pembelajaran hidup itu merupakan pengulangan dari yang saya belajari sebelumnya. Tadinya saya ngotot, kok sama ya? Apa saya tidak belajar yang lain hari ini? Akhirnya saya menyadari bahwa pembelajaran hidup tidak harus “selesai” hari ini. Seperti juga komunikasi dan ilmu iklan, berbagai hal dalam hidup baru saya pahami betul setelah berkali-kali terjadi.

Membaca ulang blog ini juga menyadarkan bahwa hidup ini aneh dan tidak bisa serta merta dijelaskan dengan akal sehat. Perjalanan hidup selama 2010 saya awali dengan past life regression dan sebuah relationship yang berantakan dan saya akhiri dengan rasa lengkap yang menenangkan. Tahun ini juga saya belajar dari kehidupan dan kematian. Kebahagiaan dan kesedihan. Keberhasilan juga kegagalan. Cinta dan benci lengkap dengan intrik-intrik di dalamnya. Saya belajar dari apa yang terjadi dari diri sendiri, maupun dari teman atau kerabat atau juga film, buku bahkan segaris kalimat yang terlihat sekilas namun tertancap di benak.

Kedekatan dengan Sang Khalik juga menjadi topik pembelajaran yang memperoleh porsi besar. Ada suatu titik dimana saya merasa sebagai manusia saya ini sangat kurang ajar. Saya jadi mempertanyakan yang mana Tuhan yang mana ciptaannya karena setiap berdoa kerjanya cuma main perintah dan suruh-suruh. Tuhan minta ini, semoga ini, tolong itu, berikan ini, itu. Kapan saya memuliakan Dia? Memuliakannya basa basi? Saya masih mencari pola berdoa yang benar, yang tidak memerintah atau minta minta saja kerjanya. Ada satu titik pula saya ini menyadari bahwa saya ini berdoa khusus seperti novena kalau ada butuhnya saja. Maka saya berusaha mendoakan koronka, doa mengingat luka dan sengsara Yesus setiap hari. Saya mau jadi orang yang tahu berterima kasih dan mengingat Tuhan ada atau tidak ada kebutuhan. Jangan sampai Tuhan bilang nanti ketika saya sudah menghadapNya : ”Siapa elo? Giliran butuh minta-minta, kalo senang lupa Gue... Sana lo!”

Keluarga menjadi sumber inspirasi dan cekcok namun tahun ini saya belajar memahami arti Ohana : keluarga yang saling mendukung dan tak pernah meninggalkan siapa pun dalam kondisi apa pun. Sebuah konsep keluarga ala Hawaii yang menyentuh hati. Pada akhirnya, seburuk apa pun mereka, kita tak pernah bisa benar-benar lepas karena ikatan darah, jadi saya mau mencintai dan memeluk harta paling berharga yang diberi kehidupan ini : keluarga.

Saya juga belajar bahwa apa yang kita lakukan memiliki dampak yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Begitu banyak orang yang membaca apa yang saya pelajari dan ternyata menikmati yang saya pelajari. Apa yang terjadi pada saya ternyata secara ajaib terjadi juga pada teman dan kenalan saya yang lain. Karena itu saya harus berhati hati bersikap dan berujar.

Saya juga menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat dan tak pernah ada satu momen pun yang terulang dalam hidup ini, meskipun kita berada di tempat yang sama dengan orang-orang dan situasi yang sama, tetapi waktunya berbeda danpembicaraan berbeda, suasananya berbeda karena orang-orang dan unsur-unsur yang di dalamnya tidak sama persis dengan yang kita alami sebelumnya. Karena itu saya belajar bahwa momen saat ini sangat penting kita nikmati dan jalani dengan benar. This is the moment. It will never return.

Terima kasih hidup, terima kasih 2010 untuk tahun pembelajaran batin yang luar biasa. Semoga di tahun depan saya menjadi insan yang lebih baik dan belajar dalam bentuk yang berbeda. Saya berjanji akan membagikan melalui blog ini saat ada hal besar dan penting yang saya pelajari dalam hidup saya. Cuma kali ini, tentunya, tidak setiap hari...

30 Desember 2010 : Sendiri

Setiba di Singapura hal yang pertama kali saya lakukan adalah mengaktifkan blackberry untuk mengetahui apakah layanan yang bisa membuat saya terhubung dengan keluarga, teman dan pekerjaan dari seluruh dunia itu dapat saya akses secara gratis sesuai iklan yang terpampang di koran kemarin pagi. Beberapa minggu lalu ketika saya di Singapura, layanan ini tak dapat berfungsi meskipun saya sudah keliling ke berbagai gerai mitra operator di berbagai belahan negeri kecil ini.

Teman seperjalanan saya awalnya juga mengalami hal yang sama. Ia lalu mengutak atik perangkatnya dan sebelum tiba di pusat kota, layanan yang diharapkan dapat berfungsi. Anehnya, setelah disetting seperti yang dilakukannya, perangkat saya tetap tak dapat digunakan. Saya utak utik kanan kiri, tetap tak berfungsi. Saya sungguh penasaran dan jengkel. Jadi, agenda pertama saya setelah tiba di hotel adalah mendatangi gerai utama mitra operator yang letaknya sejalan dengan hotel saya.

Saya harus mengantri lama di sana dan hasilnya juga nihil. Katanya, saya harus menghubungi operator di Jakarta. Kesal, saya lalu meminta bantuan kerabat saya untuk membantu berurusan dengan operator di Jakarta. Dengan sabar ia lalu bicara dengan petugas di tanah air. Kerabat saya memang orang teknik dan mengerti seluk beluk teknologi. Saya cuma pengguna yang sok tahu saja. Setelah bicara beberapa menit, ia lalu bilang bahwa layanan internasional saya belum diaktifkan. Saya bilang kok bisa, padahal waktu saya ke Australia semuanya berjalan lancar. Ternyata ini terjadi karena saya suka gonta ganti telepon genggam. Dulu Bold, lalu onyx 1 dan sekarang onyx 2 dan perangkat terbaru saya belum terdaftar. Dalam hitungan menit, layanan yang saya tunggu aktif semua.

Komentar kerabat saya? “Makanya jangan sok tahu. ... aku tanya sudah diregister kamu bilang sudah, tapi ternyata belum ... tapi kalau kamu yang bicara dengan petugas kayaknya kamu juga akan bingung, karena ia banyak bertanya masalah teknis...” Iya, benar juga. Saya sok tahu. Saya bilang sudah diregister karena memang waktu di awal sudah didaftar, namun karena ganti handset, maka ternyata saya harus mendaftar ulang disesuaikan dengan perangkat saya. Tak mau kalah, saya cuma bilang, “Makanya ada kamu.” Hehehe...

Kalimat singkat itu membuat saya sadar, saya tidak bisa sendiri dalam hidup ini. Selama ini saya ditempa untuk bisa mandiri, melakukan semuanya sendiri, bertanggung jawab terhadap perbuatan sendiri. Semuanya tidak salah, tapi ternyata untuk berhasil tidak semua hal bisa dikerjakan sendiri. Hidup ini hanya bisa dijalani dan dicapai dengan sempurna bila ada campur tangan orang lain. Pasangan, teman, keluarga, rekan kerja, klien, bahkan berjuta orang lain yang datang dan pergi dalam sekejap dalam hidup ini, juga saingan dan musuh. Tiba-tiba saya menyadari bahwa hidup saya bisa sempurna hanya karena interaksi mahkluk ciptaan Tuhan yang lain.

Hari ini saya belajar saya tidak berarti apa-apa tanpa bersinggungan dengan orang lain atau ciptaan Tuhan yang lain dan hidup saya dihitung dari betapa besar saya bisa menempatkan diri dalam interaksi dengan sesama makhluk Tuhan itu. Jadi konsep semua bisa dilakukan dan sendiri? Mulai sekarang, ke laut saja . Sesendiri-sendirinya saya, toh saya masih berurusan dengan orang tua, pasangan, pembantu, teman kerja dan beribu orang lainnya yang ada di sekitar saya....

Wednesday, December 29, 2010

29 Desember 2010 : Bunuh Diri

Sambil mengantar kerabat periksa ukuran kaca mata, saya tertegun membaca berita seorang anak usia 18 tahun bunuh diri terjun bebas dari apartemennya tanpa busana... gara-gara tidak dapat menonton final pertandingan bola tim nasional Indonesia melawan Malaysia.

Sebegitu pentingnyakah pertandingan itu bagi hidupnya sehingga ia memilih bunuh diri ketika niatnya tak tercapai? Apa dia tidak bisa mengikutinya melalui siarang langsung di tv saja? Kenapa mesti pakai telanjang bulat segala? Adakah kegagalannya menonton bola hanya pemicu terhadap beban yang lebih besar dalam hidupnya sehingga ia memilih mati saja?

Malam kemarin, di tengah santap malam bersama teman-teman terdekat saya mendengar kabar anak dari seorang kenalan bunuh diri di usia yang ke 17 dan ditengarai kehancuran rumah tangga orang tuanya sebagai penyebab. Dengar-dengar ia mengetahui baik sang ayah maupun ibunya sibuk dengan selingkuhannya masing-masing. Benarkah beban itu menjadi terlalu berat ditangani sehingga lebih baik memilih menghentikan perjalanan hidupnya sekarang karena tidak terbayang bagaimana masa depannya di kemudian hari karena tingkah laku orang tuanya?

Saya jadi ingat pesan teman saya Indrawati, seorang sosiolog yang juga memiliki indra ke 6 dan mendapat karunia bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah dan roh. Katanya, "Jangan pernah bunuh diri. Orang yang bunuh diri tidak hidup di alam orang hidup namun juga tidak hidup di alam orang mati. Ia akan sengsara dan tak dapat berkomunikasi sampai waktunya telah tiba baginya untuk meninggal dan pindah ke alam orang mati." Sepengetahuan saya, semua agama yang benar juga melarang ummatnya bunuh diri.

Agama juga mengatakan bahwa cobaan yang kita hadapi tidak pernah melebihi batas kekuatan kita. Saya juga mengalami berbagai keputusasaan dalam hidup ini namun tak pernah terbersit di dalam benak untuk mengakhiri hidup gara-gara masalah. Bagi saya tantangan hidup adalah sebuah "permainan" yang harus ditaklukan. Tentu ada menang dan kalah, namun hidup kita tak akan berakhir dengan kalah dari pertarungan. Buat saya, there is more to life than just give up to a problem or situation.

Saya sungguh prihatin dengan semakin rendahnya semangat juang manusia. Kejadian bunuh diri karena tidak dapat tiket nonton ini akan selalu terkenang di hati saya sebagai peringatan untuk tidak pernah (mudah) menyerah terhadap tantangan hidup. Rugi mati percuma untuk alasan yang sangat sepele. Dan karenanya kalau ada masalah, saya harus benar-benar objektif apakah ini soal hidup dan mati, atau sebenarnya cuma masalah kecil yang kelihatannya saja besar. Kalau ada permasalahan yang berat, mungkin saatnya saya melantunkan lagu count your blessing. Lagunya bilang :

When I'm worried and I can't sleep
I count my blessings instead of sheep
And I fall asleep counting my blessings
When my bankroll is getting small
I think of when I had none at all
And I fall asleep counting my blessings
I think about a nursery and I picture curly heads
And one by one I count them as they slumber in their beds
If you're worried and you can't sleep
Just count your blessings instead of sheep
And you'll fall asleep counting your blessings
I think about a nursery and I picture curly heads
And one by one I count them as they slumber in their beds
If you're worried and you can't sleep
Just count your blessings instead of sheep
And you'll fall asleep counting your blessings


dan satu lagi lagu dengan judul yang sama namun lirik berbeda :

When upon life’s billows you are tempest tossed,
When you are discouraged, thinking all is lost,
Count your many blessings, name them one by one,
And it will surprise you what the Lord hath done.

Refrain

Count your blessings,
name them one by one, Count your blessings,
see what God hath done! Count your blessings,
name them one by one,
And it will surprise you what the Lord hath done.

Are you ever burdened with a load of care?
Does the cross seem heavy you are called to bear?
Count your many blessings, every doubt will fly,
And you will keep singing as the days go by.

Refrain

When you look at others with their lands and gold,
Think that Christ has promised you His wealth untold;
Count your many blessings.
Wealth can never buy your reward in heaven,
nor your home on high.

Refrain

So, amid the conflict whether great or small,
Do not be disheartened, God is over all;
Count your many blessings, angels will attend,
Help and comfort give you to your journey’s end.

Refrain

28 Desember 2010 : Manajemen Cinta

Teman saya datang sendirian dengan muka sebal setelah terlambat hampir satu jam dari janji makan malam bersama kami. Ia kemudian bercerita tentang kekesalannya pada kekasih yang sudah janjian menjemput tapi kemudian datang dengan celana pendek dan belum mandi padahal sudah tahu kami akan santap malam di resto hip terbaru di Jakarta dan dresscodenya adalah black and gold.

Dia lalu bercerita bahwa dia dan kekasihnya setiap malam selalu membahas detil acara keesokan harinya. Jam berapa, acara apa, pake baju apa dan lain lain. Dalam hati, waduh, seperti me-manage perusahaan saja. Saya jadi ingat setiap mau pulang saya selalu mereview jadwal kerja keesokan harinya. Tapi saya juga jadi berkaca, saya juga melakukan yang sama dengan teman saya itu, mereview apa yang akan dilakukan bersama keesokan harinya, meskipun tidak seketat dia. Kalau kejadiannya seperti yang diceritakannya, memang menjengkelkan, tapi meskipun mengomel berat, saya pribadi tidak akan memilih dinner bersama teman-teman, namun akan memilih menghabiskan waktu bersama kekasih saya.

Dipikir-pikir lagi, ternyata banyak yang menerapkan resep sukses manajemen di pekerjaan ke rana rumah dan pribadi. Saya ingat apa yang dilakukan Captain von Trapp di The Sound of Music yang menerapkan disiplin militer ke tujuh anaknya, sampai Suster Maria datang sebagai pengasuh dan memorakporandakan kedisiplinan yang kaku lalu menggantikannya dengan Manajemen Cinta, artinya semua dilakukan dengan fun and love. Kedisiplinan terbukti telah menjebak kita pada rutinitas yang membosankan dan mengekang, karena itu sedikit fleksibilitas membuat hidup kita lebih hidup karena kita berdua akhirnya tidak keberatan kalau ada berbagai kejutan dan rencana yang tidak berjalan seperti yang telah diagendakan dan berbelok pada kegiatan lain yang sama sekali berbeda tapi tak kalah fun karena dinikmati dan dilakukan berdua.

Di awal tahun, saya pernah di warning oleh seorang cenayang yang mengatakan saya sangat efisien dalam bekerja tapi sangat berantakan dalam hal asmara dan kehidupan pribadi. Saya disarankan untuk menerapkan resep sukses di rana pekerjaan ke rana pribadi. Selama ini saya selalu memisahkan kehidupan kerja dan pribadi dan mulai meragukan pendekatan saya itu ketika dinasihati sang cenayang. Mungkin benar juga, saya harus menerapkan keefisienan cara kerja saya ke kehidupan pribadi. Tapi sekarang saya jadi berpikir lagi : benarkah menerapkan resep sukses di kantor bisa membuat kehidupan pribadi saya lebih baik? Rasanya kalau penerapannya 100% runyam juga jadinya. Mantan saya pernah komplen katanya kok dia merasa seperti karyawan saya saja. Jadi, for sure, gaya manajemen saya di kantor tidak tepat diterapkan di rumah. Manajemen yang bagaimana yang mesti diterapkan?

Balik lagi ke The Sound of Music, saya jadi menyadari bahwa yang berhasil adalah kerangkanya menggunakan kerangka dasarnya manajemen pekerjaan : ada rencana, disiplin dan review, tetapi pelaksanaannya tak boleh kaku alias rigid. Saya juga menyadari tidak boleh menerapkan prinsip Key Performance Indicator kepada individu dalam keluarga karena cenderung membuat "performance" si anggota keluarga itu terpatok dan hanya diukur berdasarkan KPI itu. Saya juga tidak boleh menerapkan prinsip ROI atau Return on Investment karena apa yang dilakukan kepada keluarga itu bukan suatu investasi yang harus dihitung keuntungan atau labanya dari sana. Jadi meskipun ada tatanan dasarnya, tetapi manajemen rumah itu harus mengalir dan punya hati yang berbeda dengan "hati yang kita taruh di kantor." Saya sudah lama mematok bahwa kerja itu untuk hidup dan bukannya sebaliknya. Karena itu hati yang saya pasang di kantor seharusnya merupakan alat atau bagian untuk mencapai tujuan yang lebih utama, yaitu hati yang menghidupkan saya dalam kehidupan yang lebih luas di luar pekerjaan. Hati yang membentuk saya yang sejati. Ketika semua dikerjakan dengan hati, maka tiba-tiba kita merasa bahwa aturan rumah yang ada itu semuanya fun dan dilakukan dengan suka rela dan sepemahaman bahwa apa yang dilakukan itu adalah wujud kecintaan, kesenangan dan kenyamanan bersama. Setiap individu berkembang sesuai dengan talenta dan kesukaannya masing-masing, namun tetap pada koridor yang membentuk karakter keluarga. Itu yang dilakukan oleh Suster Maria. Ia me-manage rumah tangga yang tadinya kaku dengan manajemen cinta kasih.

Mungkin, itu lah resep yang tepat, manajemen cinta kasih untuk "mengatur" dan "memanage" urusan pribadi, rumah tangga dan cinta kita...