Friday, August 19, 2011

Menghargai

Appreciate anything anybody does for you regardless kinship or the money you pay for the truth is s/he is doing you a favor.

Hargailah apa pun yang dilakukan siapa pun bagimu, tanpa peduli apakah masihbertalian darah atau dibayar jasanya, karena sesungguhnya semua itu dikerjakan bagimu atas kemurahan hatinya.

Thursday, August 18, 2011

17 Agustus 2011 : Akhlak Bangsa

Petang ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya berdiri di atas mimbar gereja untuk memberikan homili atau siraman batin yang biasanya diberikan oleh seorang pastor. Entah apa yang ada di benak pastor kepala paroki Santa Helena, Romo Heri, ketika suatu pagi menelpon dan meminta saya menggantikannya memberi homili pada Misa Kemerdekaan 2011. Sebuah misa besar yang dipersembahkan 3 orang pastor (misa biasa dipersembahkan oleh seorang pastor), lengkap dengan bendera dan panji-panji, tarian pengiring persembahan dan iringan koor kelompok musik keroncong. Di awal Misa, bahkan diputarkan cukilan pembacaan naskah proklamasi yang dibacakan Soekarno mewakili bangsa ini, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Awalnya saya bilang akan saya pertimbangkan. Lalu saya menanyakan, "Romo, temanya apa?" Beliau menjawab, "Kemerdekaan yang membebaskan (kerap kali kemerdekaan disalahartikan sebagai hak untuk berbuat sesuka hati. Mestinya kemerdekaan menjadi sarana untuk meraih tujuan-tujuan mulia, termasuk dalam bernegara dan berbangsa)." Saya lalu membalas sms Beliau sambil mencandai, "O Ok Romo, Tak semdhi sik Romo. Hehe" (baik romo saya semedi dulu ya). Sebuah candaan yang keliru, karena dianggap sebagai "ya" oleh Romo Heri yang segera menyahut, "Syukurlah. Terima kasih ya, Salam."

Saya lalu ingin mencari tahu lebih dalam, "Bacaannya apa Romo?" Berikut adalah daftarnya :Putera Sirakh 10:1-8, 1Petrus 2: 3-17 dan Injil Matius 22 :15-21 Intinya, bacaan pertama dan kedua mengenai penyelenggaraan kepemimpinan sebuah negara dan yang terakhir pencobaan terhadap Yesus mengenai bagian Allah dan bagian Kaisar.

Saya lalu berpikir keras. Should I do this? Mau ngomong apa saya? Di hadapan umat dalam sebuah Misa Besar pula? Tapi seketika saya seperti mendapat jawaban bahwa ini kehendak Tuhan, dan saya diberi amanah untuk menyampaikan pesanNya. Maka saya pun mempersiapkan diri, melakukan uji coba materi pada berbagai pihak, apakah pesan yang saya akan sampaikan sensitif untuk kuping umat, atau bisa diterima. Sampai pagi ini, saya baru menuangkannya dalam bentuk speech pointers satu halaman.

Setiap pagi, saya selalu mengirimi kata bijak kepada 200 lebih kontak BB dan pagi ini tanpa terkecuali. Sayangnya isi kata bijak tersebut mendapat reaksi negatif dari seorang kerabat dekat. Ia bilang, kalimat saya tidak bisa di forwardkan kepada teman-temannya. Dia bilang percuma. Saya bertanya, "kenapa? memangnya kamu tidak ingin berpartisipasi dalam membangun negeri ini?" Dia menjawab : buat apa melakukan semua ini? tidak ada gunanya, seperti menggarami air di laut. Saya bilang, "Garam di laut terdiri dari bulir bulir garam. Jadi setiap bulir memiliki arti penting dalam menyumbangkan rasa asin air laut." Beliau melanjutkan : ya tapi tidak dengan cara seperti ini. Romo pasti takut bicara soal negara dan melimpahkannya kepada kamu! Saya bilang, wah saya malah melihatnya sebagai penugasan Tuhan yang luar biasa yang sedang saya alami, bahwa saya, warga yang tidak ada apa-apanya ini diberi kesempatan menjadi saluran berkatNya kepada orang lain. Saya menambahkan, "Rancangan kita bukan rancangan Allah."

Pembicaraan tadi mengusik hati saya juga, yang tadinya mantap menjadi galau dan bertambah grogi melihat betapa banyak umat yang hadir, dan persiapan gereja yang luar biasa besarnya untuk Misa ini. Saya segera menangkap Gereja memberikan sinyal penting bagi umat dan masyarakat atas berkah kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini. Jadilah, selesai bacaan pertama, saya sempat menghilang ke belakang untuk menurunkan rasa deg-deg an. Saya berdoa, "Tuhan, tentu ada maksudnya Engkau menunjuk aku untuk menjadi saluran berkahMu. Turunlah atas aku dan berbicaralah melalui aku, agar nanti, yang berbicara bukanlah aku, namun Dikau." Setelah agak tenang, saya segera memasuki ruangan gereja lagi.

Menjelang bacaan Injil dikumandangkan, saya merasa ada aliran yang sangat panas menjalar ke seluruh tubuh. Saya segera menyadari ke"aneh"an ini dan sempat menganalisanya, bahwa bila semua ini karena ke nervous an saya, mestinya efek yang terasa adalah dingin dan jantung berdebar. Kenyataannya tubuh saya menghangat dan jantung saya berdetak lembut. Detik itu saya meyakini Kuasa Roh Kudus turun atas saya.

Saya lalu maju dengan sangat tenang dan memulai homili. Selama 15 menit saya merasakan seluruh gereja senyap. Yang terdengar adalah suara saya yang merasuk hingga ujung ruangan. Saya memperhatikan segenap umat memperhatikan dengan seksama. Sebuah pemandangan yang jauh berbeda ketika biasanya saya berada di kursi umat, dan terkantuk-kantuk mendengar kotbah panjang pastor.

Apa yang saya sampaikan sebetulnya tak banyak berubah dari yang telah saya persiapkan. Di menit-menit pertama saya melakukan reality check tentang pencapaian 66 tahun kemerdekaan Indonesia, mulai dari kemerdekaan bernegara, ekonomi, pendidikan dan budaya, serta kemerdekaan berpendapat. Saya memperhatikan umat yang tadinya tak acuh mulai melek dan memperhatikan setiap telaahan saya yang singkat tapi tajam terhadap kebebasan yang kita peroleh selama 66 tahun. Kemudian saya mengejutkan umat ketika membeberkan bahwa pada saat ini bangsa Indonesia menduduki peringkat kekuatan ekonomi dunia ke 18, sehingga masuk dalam negara G20 dan diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun lagi, Indonesia akan mencapai posisi ke 4 kekuatan dunia. Yang saya pertanyakan adalah, ketika kita meraih posisi tersebut, apakah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri, atau sekali lagi kita tersingkir dan terjajah?

Saya lalu mengutip kalimat yang saya ciptakan untuk disebarkan melalui bbm tadi pagi :

The treasure of a country lies in its nature and its people, but the future of a nation relies only on its people.

Kekayaan sebuah negara terletak pada alam dan manusianya, tetapi masa depan sebuah bangsa terletak hanya pada manusianya.

Dan unsur yang paling penting dari manusia adalah akhlaknya.

Di sinilah ajaran-ajaran kekatolikan berperan, karena semua ajaran Yesus adalah mengenai cinta kasih dan akhlak. Sebagai seorang katolik, tingkah laku kita harus mencerminkan cinta kasih dan akhlak seperti yang diajarkan Yesus. Karena itu saya mengimbau umat untuk mempraktekkan apa yang diajarkanNya, mulai dari diri sendiri, anak, keluarga kemudian kepada komunitas.

Saya katakan, kita bisa mulai dari hal yang kecil, misalnya, pada bacaan injil disebutkan apa yang menjadi hak Allah berikanlah kepada Allah, apa yang menjadi hak Kaisar, berikanlah kepada Kaisar. Ketika kita pergi ke gereja, kita memberikan hak Allah. Kalau kita datang terlambat, pulang lebih dahulu, bukankah kita telah melakukan praktek korupsi terhadap hak Allah? Bila kita membawakan mainan, games, dan buku gambar agar anak bisa tenang di gereja, bukankah kita mengajarkan anak kita untuk korupsi waktu terhadap hak Allah dan memberikan gambaran dan pengajaran yang keliru tentang tatanan beribadah? Jadi mulailah dari hal yang sehari-hari, yang terdekat dengan diri kita.

Saya lalu menceritakan pembicaraan saya dengan kerabat tadi pagi. Saya bilang, kalau kita setuju bahwa setiap bulir memberi arti bagi rasa asin di laut, maka Anda akan setuju bahwa setiap dari kita memberi arti bagi terbentuknya akhlak bangsa Indonesia. Akan kah kita berpartisipasi membangunnya?

Saya menutup homili dengan mencuplik sebuah puisi indah yang dikarang pujangga Cina Lao Tzu :

Watch your thoughts, they become words
Watch your words, they become actions
Watch your actions, they become habits
Watch your habits, they become character
Watch your character, it becomes your destiny

Jagalah pikiranmu karena akan menjadi kata-kata
Jagalah perkataanmu karena akan menjadi tindakan
Jagalah tindakanmu karena akan menjadi kebiasaan
Jagalah kebiasaanmu karena akan menjadi karakter
Jagalah karaktermu karena akan menjadi takdirmu.

Semoga sepuluh tahun mendatang, ketika kita merayakan kemerdekaan kita yang ke 76 dan memiliki kekuatan ekonomi terbesar ke 4 di dunia, kita bukan saja menjadi tuan rumah di negera kita sendiri, namun menjadi bangsa yang berdaulat, berakhlak dan bermartabat.

Sesaat saya mengakhiri homili, terdengar tepuk tangan semua umat menggema mengiringi langkah saya kembali ke bangku umat. Romo lalu mencandai bahwa sepanjang sejarah keromoannya, baru kali ini ada homili yang mendapat applaus - yang lalu disambut tertawa oleh semua umat mencairkan suasana senyap selama 15 menit tadi. Yang saya rasakan adalah syukur atas keagungan Tuhan yang telah berkarya melalui lidah dan pikiran saya.

Sesuai misa, saya mendapat salam apresiasi dari berbagai umat, sampai ada yang mengira saya ini dewan gereja. Saya tertawa, "Wah boro-boro dewan gereja pak, kartu keluarga gereja saja saya belum punya." Saya kemudian men-sms Romo, berterimakasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan. Ini sungguh pengalaman pertama yang luar biasa bagi saya. Jawaban Romo? "Saya yang terima kasih. Umat juga merasa disegarkan. Salam hangat."

(catatan : tulisan tentang homili saya beserta komentar umat juga ada di blog www.parokisantahelena.blogspot.com tulisan Romo Heri. Selamat menikmati)

Monday, August 01, 2011

pity

Do not pity the dead. Pity the living. And above all, pity those who live without love.

- Prof. Dumbledore in Harry Potter and the Deadly Hallows

nobility

There is nothing noble about being superior to some other person. True nobility lies in being superior to your former self - taken from "The Monk who Sold His Ferrari."

anger and opportunity

For every second of anger and disappointment we lose a second of opportunities and enlightments.

Friday, July 29, 2011

Quote of the day

Sent by my dearest friend Eden Bunag :

There comes a time in your life,
when you walk away from all the drama
and the people who create it.
You surround yourself
with people who make you laugh.
Forget the bad and focus on the good.
Love the people who treat you right,
pray for the ones who don't.
Life is too short to be anything but happy.
Falling down is a part of life,
getting back up is living.

Let this moment be the time!

Monday, July 04, 2011

Digoda dan Menggoda / To Tell or Not to Tell

Semalam saya menonton sebuah film yang dibintangi Kiera Knightley, Sam Worthington dan Eva Mendes berjudul "Last Night". Film yang tadinya ditujukan sebagai obak ngantuk, malah membuat saya melek dan pikiran melayang sampai pagi.

"Last Night" bercerita mengenai kecurigaan seorang isteri yang baru mengetahui ada rekan kerja baru suaminya yang cantik dan seksi dan secara jelas keduanya saling tertarik. Joanna (Knightley) baru tahu bahwa si cantik Laura (Mendes) telah bekerja selama tiga bulan sebagai rekanan suaminya Michael (Worthington)dalam sebuah pesta. Malam itu juga Joanna segera mencium aroma ketertarikan suaminya pada rekanan kerjanya. Esok paginya Michael melakukan perjalanan kerja bersama Laura. Sepanjang waktu perjalanan Laura yang tahu persis Michael telah beristeri menggoda Michael sehingga pertahanan sang suami yang tadinya mati-matian mencoba menghindar akhirnya bobol juga. Di pihak lain, Joanna secara tak sengaja bertemu cinta lamanya dari Paris, Alex (Guillame Canet) yang berada di New York untuk semalam. Alex tak pernah ada dalam kamus perbincangan Joanna dengan Michael. Saat Michael ditarik dalam pusaran pesona Laura, Joanna pun terlena masuk dalam putaran memori yang membakar bara lama.

Yang berputar dalam otak saya adalah :

1. Kita ini orang yang rentan godaan. Sudah tahu punya pasangan masih juga mau dan suka menggoda. Dan juga mau dan suka digoda. Tak peduli apakah kita sedang suntuk atau di tengah kebahagiaan. Michael bilang, "You can be happy and still be temped."
Bila mencoba, ada dua hal yang mungkin terjadi. Menyesal dan merasa bersalah seumur hidup, atau menjadi kecanduan dan semakin menggila.

2. Kita ini orang yang tidak tahu diri. Sudah tahu yang dituju sudah punya pasangan, masih juga digoda-goda. Kalaupun akhirnya kita dibuang seperti sampah, akhirnya kita juga yang sakit hati dan marah-marah. Salah siapa sebenarnya bermain api?

3. Kita ini suka main misterius-misterius an. Jujur bukan berarti cerita semuanya, mungkin masuk dalam kamus kita. Ada kah hal atau orang yang kita "simpan" dalam kehidupan kita sebagai "our guilty pleasure secret" yang kita tak mau pasangan kita tahu, tapi dalam hati nyala bara itu berkobar-kobar terutama saat tak akur atau tidak mood dengan pasangan? Harus kah kita bercerita sampai titik koma pada pasangan kita? atau biarkan saja karena kalau diceritakan akan mengganggu ketentraman hubungan yang sudah dijalin dengan "sempurna"?

Film semalam berjudul "Last Night" berhenti dengan menyisakan begitu banyak pertanyaan mengenai kelanjutan hubungan suami isteri itu. Seolah ingin menggugah pikiran kita untuk berkaca dan bertanya mengenai berjuta hal tentang arti sebuah hubungan dan kejujuran. Dari tiga poin di atas, Anda ada di mana?

O satu lagi, yang tertinggal. Hanya karena kita tergoda untuk menerima tantangan godaan, bukan berarti pasangan kita tidak bisa dalam posisi yang sama. Film ini secara gamblang menggambarkan ketika sang suami sedang masuk dalam godaan seorang wanita yang menggairahkan, isterinya justru juga sedang menjadi godaan yang menggairahkan bagi orang lain...

Wednesday, June 15, 2011

15 Juni 2011 : Tergantikan

Lama tak terdengar kabar, saya sedang mengisi waktu luang dengan menonton marathon film serial Glee. Selama ini saya menontonnya sepotong-sepotong di channel Starworld, tapi tentu lebih asik kalau bisa menonton satu season penuh dengan jadwal sesuka-suka saya.

Tadi malam, saya tertegun mendengar sebaris kalimat yang dilontarkan Kurt untuk menghentikan aksi tengil Rachel yang merasa paling diva dan tak tergantikan oleh siapa pun dalam klub nyanyi tersebut. Ia "menampar" Rachel dengan kata kata, "everyone is replaceable, including you!" Yang tertampar bukan cuma Rachel, saya juga, sampai terngiang-ngiang dan pagi ini saya meng upload nya sebagai bahan renungan teman-teman terdekat di blackberry messenger.

Nasihat ini sudah lama saya dengar dalam bentuk yang berbeda dan selalu digaungkan oleh almarhum Presiden Soeharto : Ojo Dumeh, atau artinya: jangan mentang-mentang.
dan beberapa waktu lalu saya juga mendengar lewat beyonce dalam hitsnya irrepleaceable :

I can have another you by tomorrow
so don't you ever for a second
get to thinking you're irreplaceable

sebenarnya sih bukan menggantikan Tuhan, atau keluarga, atau teman atau pacar yang saya tangkap, tapi lebih jangan sok, jangan jumawa, jangan mentang-mentangnya, dikira bahwa saya ini segitu hebatnya sampai tidak bisa digantikan. Hal ini yang sering kita lupakan. Sehebat apa pun toh kita bakal pensiun, atau meninggal, dan kalau sudah tak ada toh tetap harus digantikan. Kegagalan kita untuk menyadari tak ada yang abadi sudah dibuktikan dengan terjungkalnya Marcos, Pak Harto, Hosni Mobarak, hingga Khaddafy. Kekuatan membuat kita lupa. Kepintaran membuat kita lupa. Keahlian membuat kita lupa. Keberhasilan membuat kita lupa. Kekayaan membuat kita lupa. Kekuasaan membuat kita lupa. bahkan, kebahagiaan membuat kita lupa.

Lewat Kurt saya diingatkan untuk stay humble karena menyadari tak ada yang abadi dan keadaan kita saat ini rentan berubah dan digantikan. Yes, I am so repleceable. However, my aim in life is to be irreplaceable. At least at heart.

Sunday, May 15, 2011

Indah pada waktunya

Pagi ini saya sedang menikmati sarapan pagi di gerai McD terbaru di kawasan rumah yang suasananya sudah seperti di luar negeri saja: ya tata ruangnya, ya baunya, ya segalanya, lengkap dengan televisi siaran luar negeri. Saat sedang menyeruput orange juice yang segar, saya mendapat bbm dari seorang klien yang minta waktu menghubungi karena ada hal yang penting. Hari Minggu pagi dan waktu belum menunjukkan jam 8? Ini pasti krisis.

Benar saja. Tetapi yang membuat saya terhenyak adalah musibah yang diceritakan sang klien terjadi dalam sebuah proyek yang sebelumnya akan diserahkan kepada saya. Sang klien merasa bahwa budget yang saya ajukan terlalu tinggi dan semuanya dapat dilakukan sendiri. Tentu saya dengan sigap dan tanpa tanggung-tanggung membantu klien saya, tetapi dalam hati saya merasa bersyukur kepada Tuhan karena proyek itu tidak jatuh ke tangan saya. Tak terbayang runyamnya hidup saya kalau musibah itu terjadi saat saya sedang in-charge. Seketika itu juga saya berdoa mengucap mensyukuri rencana Tuhan. Jujur, saat saya menerima berita bahwa kami tidak jadi dipakai untuk proyek ini, saya agak kecewa, karena kami sudah melakukan banyak hal untuk mempersiapkannya dan rasanya upaya kami sia-sia saja. Sekarang saya mengerti mengapa saya tidak diberi proyek ini oleh Sang Kuasa. Ia justru menyelamatkan saya dari musibah yang sedang terjadi.

Hari ini saya kembali ditegaskan dan ditunjukkan untuk berjalan dalam rencana Tuhan. Apa yang tadinya saya anggap sebagai sebuah kegagalan, kini ternyata sebuah penyelamatan yang dilakukan sendiri oleh Sang Khalik. Sampai detik saya menulis artikel ini, krisis masih berlangsung, tetapi bebannya tidak ada di bahu saya. Saya hanya membantu dan melakukan tugas saya sebagai seorang konsultan bagaimana mengatasi krisis yang sedang terjadi.

Tuhan, terima kasih, Engkau telah menjadikan segalanya indah pada waktunya.

Monday, April 25, 2011

Memberi dan Menuai

Malam ini saya melayat ke orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Almarhum adalah kenalan teman baik saya. Ia seorang pemuda kristen usia 24 tahun yang taat beribadah, santun dan aktif di organisasi kepemudaan gereja. Orang tuanya bercerai saat ia duduk di bangku SMP karena ibunya kecantol orang lain.

Tanggal 12 April lalu, ia melamar di tempat teman baik saya bekerja dengan niatan agar ia dapat memperoleh penghasilan lebih untuk membiayai pengobatan ayahnya yang gagal ginjal. Akhir pekan lalu, saat jeda makan siang, ia menjemput kekasihnya untuk bersantap bersama, dan sepulang ia mengantar sang pacar kembali ke kantor - dalam perjalanan kembali ke kantornya sendiri, ia kecelakaan dan kepalanya terlindas dua ban truk. Seketika wajahnya yang tampan dan bersinar menjadi tak berbentuk. Teman-teman SD nya kemudian saling bahu-membahu dan memantau perkembangan kesehatan si pemuda. Tadi pagi, ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Tepat di hari Manajer SDM teman saya akan menghubungi untuk menerimanya menjadi karyawan tetap dengan penghasilan tiga kali lipat dari yang didapatnya sekarang.

Dengan penghasilan yang pas-pas an dan almarhum sebagai tulang punggung keluarga, tentu sanak keluarganya bingung atas biaya mengeluarkannya dari rumah sakit, dan pengurusan pemakamannya. Tanpa sepengetahuan keluarganya, teman-temannya sudah lebih dahulu bertindak. Bahu-membahu mereka mengumpulkan dana dan dari masing-masing teman kemudian menyebar ke teman lainnya, bahkan yang tak mengenal ikut menyumbang. Dengan jejaring yang ada salah seorang rekannya menelpon ibunya yang punya kenalan pemilik rumah duka terkenal di Jakarta. Rumah duka itu kemudian memberi 3 ruangan khusus bagi almarhum dan mengurus ambulans dan peti jenazahnya secara cuma-cuma. Ibu si teman tadi juga menghubungi temannya yang lain yang pengusaha roti. Si pengusaha roti lalu menyumbangkan kotak konsumsi selama jenazah disemayamkan di rumah duka. Soal pemakaman? Sang pemilik rumah duka ikut meminta kesediaan berbagai pihak sehingga almarhum dapat dimakamkan secara cuma-cuma di San Diego Hills kamis ini.

Malam ini saya dibuat terperangah oleh penuhnya orang dari segala macam kalangan yang hadir untuk mengikuti kebaktian tutup peti. Tidak hanya memenuhi ke 3 ruangan yang disediakan secara cuma-cuma, tetapi meluber hingga memenuhi lorong jalan umum.

Detik itu juga saya seperti disambar petir dan diingatkan :

1. Benarlah atas nasihat : Give and you will be given. Saya melihat cerminan ketulusan dan keikhlasan hati almarhum selama hidupnya dalam memberi tanpa pamrih. Sehingga Beliau diberi kemudahan bahkan saat sudah meninggal dunia.

2. Benarlah pepatah yang mengatakan : Untuk melihat kebesaran seseorang, lihatlah pada saat ia mati. Sang pemuda bukanlah orang kaya dan berkedudukan, namun ia telah menunjukkan kemuliaannya saat ia meninggal.

Dari kejadian ini saya kembali ditunjukkan, bahwa dalam hidup ini jangan ragu untuk memberi dan berderma. Kita tidak akan kekurangan karena berbagi dan menolong orang. Give and you will be given.

Malam ini ketika merenungkan semua yang terjadi dengan penuh ketakjuban, saya memperoleh sebuah email yang berisikan kata bijak yang ditorehkan Peggy Collins, katanya :

In helping others and receiving help through networking, you are creating a spirit of interdependence that is practical and beneficial as well. No other business skill is as valuable or provides a more lasting legacy than networking to help you reach your goals. In the process, you can build relationships which last a lifetime.

Saat yang benar-benar tepat menerimanya dan tidak hanya berlaku dalam dunia usaha saja namun di setiap lini kehidupan. Semoga saya semakin bijak karena kejadian ini. Dalam hati saya tak putus mendoakan agar almarhum dapat menerima kepergiannya dengan ikhlas dan memahami bahwa bahkan dalam kepergiannya, ia masih saja memberi, bahkan pada orang yang tak dikenalnya. Bagi saya ia memberikan pelajaran hidup dan kasih dan memberi yang tak ternilai harganya.

Semoga Tuhan berkenan mengampuni dosanya dan memberinya istirahat kekal.
Amin.

Wednesday, April 20, 2011

Alam Khayali

Saya mendapat pesan di blackberry messenger yang berisi informasi bahwa seorang teman sekelas di SD akan (akhirnya) menikah bulan Mei ini. Diceritakan pertemuan sang dokter spesialis yang super nerd ini bertemu dengan calon pengantinnya yang ternyata puteri guru SMA kami. Ketika itu si dokter tengah dipanggil untuk mengobati seorang pasien dan ternyata sang calon nyonya ada di sana. Teman saya yang sudah ibu-ibu itu berkomentar,"Ooo so sweet...."

Saya tertawa melihat komentarnya lalu segera mengetik balasan pesan, "you make it sounds sooooo romantic!" Kenyataannya mungkin jauh dari itu. Saya jadi teringat ketika dunia tersihir uforia berita pernikahan Pangeran Charles dan Puteri Diana. Semua hati mata pikiran dan pembicaraan tertuju pada pernikahan akbar itu. Seolah-olah pernikahan kerajaan yang adanya di dongeng-dongeng menjadi kenyataan. Kenyataannya sang pangeran dan sang puteri tidak hidup "happily ever after." Yang ada hanyalah perselingkuhan, balas dendam, pertengkaran dan intrik. Kini setelah puluhan tahun cerita dongeng itu terkubur bersama tewasnya sang Puteri di lorong kota Paris, dunia pun jatuh cinta pada kisah cinta dan pernikahan Pangeran William dan kekasih putus sambungnya Kate Middleton. Sekali lagi angan dan khayalan melambung, menghidupkan pernikahan impian ini.

Terus terang, saya yang hidup dan mengikuti kisah mereka, sedikit banyak terkena kehebohan persiapan pernikahan akbar tahun ini. Kemarin saya melihat iklan program televisi yang didedikasikan khusus bagi pernikahan Will & Kate. Koran Kompas pun setiap hari menurunkan berita yang tidak kecil mengenai perkembangan persiapan pesta akbar ini.

Di tengah kemeriahan fairy tale royal wedding, saya tiba-tiba terhenyak. Iya ya, kita ini senang sekali hidup dalam khayalan. Rasanya nyaman dan nikmat sekali. Karena itu sinetron glamor dan percintaan remeh temeh sangat digemari, tak peduli usia. Apa salahnya membumi? mensyukuri dan menikmati realita walaupun tak seindah mimpi? Justru dengan melihat realita kita tidak tertipu oleh bayangan yang menipu sehingga kita tidak salah hidup atau salah langkah. Tapi tampaknya rakyat dunia memang sedang perlu cuti dari realita. Kita letih dengan resesi yang berkepanjangan, perang tak berkesudahan, kerserakahan dan semua berita negatif yang berputar di sekeliling kita. Belum lagi berbagai kejadian yang bersinggungan dengan kita pribadi.

Saya lalu berpikir, apakah saya terlalu serius menanggapi kehebohan remeh temeh yang ditunjukkan dunia terhadap berita baik pernikahan ini? Rasanya sih iya. Padahal orang cuma sedang butuh hiburan saja, refreshing. Jadi, kalau saya ikutan menikmati berita gembira ini, tak ada salahnya juga. Asal tidak kebablasan, bisa tak bisa kembali dari alam khayali...

Thursday, March 31, 2011

Dealing with the Devil

Beberapa hari ini ramai diberitakan bahwa sejumlah wanita cantik menggerogoti uang nasabahnya sendiri di Citibank hingga 17 milyar. Saya bahkan mendengar kabar bahwa jumlahnya sebetulnya melampaui angka tersebut. Di saat yang sama kita mendengar penipuan yang dilakukan oleh Selly, perempuan muda yang menggunakan uang tipuannya untuk kepentingan hura-hura dan membeli simpati teman-temannya. Kejadian fenomenal ini kemudian jadi pergunjingan dari berbagai sudut. Teman saya Petty yang pemimpin redaksi sebuah majalah wanita melihat dari sudut pandang kewanitaan. Saya kok melihatnya dari sudut pengalaman saya pribadi.

Ketika saya mendapat teror dari seseorang yang ternyata sudah terencana rapi, tanpa disengaja kami yang menyelidiki perkara ini menemukan sebuah "lubang" kecil yang menjadi titik naas sang pelaku. Kejadian itu lalu terbongkar dan ketahuan siapa sesungguhnya orang yang tega menyebarkan fitnah. Kejadian Citibank pun demikian juga. Kegiatan yang sudah rapi dilakukan bertahun-tahun akhirnya tergelincir di ujung jalan.

Saya lalu merenungkan semua kejadian ini dengan sebuah analisa : ooo begini ya kalau bersahabat dengan setan. Dirasakan nikmatnya sekali, lalu ketagihan, lalu lupa diri. Kenikmatan yang kita peroleh membuat kita terbuai dan lupa bahwa semuanya itu tidaklah cuma-cuma. Semakin kita terperosok di dalamnya, semakin dalam dan sakit pula imbalan yang diminta setan. Saya juga lalu berpendapat bahwa tak ada rencana setan yang sempurna. Seperti prinsip yin dan yang, di setiap bagian hitam pasti ada titik putihnya, dan di setiap lubang putih ada juga titik hitamnya. Prinsip ini mengingatkan agar kita selalu waspada dan tidak takabur.

Saya juga memperhatikan bahwa semuanya ini tidak terjadi hanya untuk perkara harta, tapi untuk semua unsur kehidupan. Semua yang berurusan dengan setan, pasti sama saja ritmenya. Mau urusan cinta, narkoba, jabatan, kekuasaan semua rawan berjabat tangan dengan setan. Sekali kita tergoda, akan tergoda lagi...

Saya lalu mengerti pentingnya selalu membina komunikasi dengan Allah pencipta. Agar kita selalu ingat akan tujuan kita hidup di dunia ini. Belajar dari proses kehidupan agar menjadi roh yang lebih baik setelah kita meninggal nanti. Sengsara, kesakitan, kesedihan, perjuangan, keringat, kekaguman, syukur, kerelaan, ketawakalan, kearifan, keikhlasan dan ketulusan merupakan berbagai unsur yang membuat kita belajar dan memahami kehidupan. Hendaklah kita tidak berniat keluar dari unsur-unsur itu, karena dari sanalah kita ini hidup...

Hari ini melalui berbagai liputan media mengenai kejahatan, saya belajar mengenai hakikat hidup.

Thought of the day : communication

It's not enough to just put out a message and hope people "get it."
We have to follow up to be certain we connected -
to make sure the messages received was the same one we intended to give.

- David Cottrell

Friday, March 25, 2011

Memberi

Kemarin saya menerima sebuah cerita yang sangat inspiratif dari teman baik saya, Andreas. Semoga cerita ini juga bisa memberi inspirasi bagi Anda :


Seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yg tidak begitu laku.Makin hari makin sedikit orang yg beli pakan ternak di toko tsb. Dalam keputusasaanya, Pria tersebut mendapat ide yaitu menginvestasikan 5.000 $ (uang yg cukup banyak pada zaman itu) untuk membeli 1.000 ekor Anak ayam.

Para tetangganya langsung mengejek & menganggap pria itu gila.
Jual pakan ayam saja, Tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa anak ayam tersebut diberikan secara GRATIS kepada pembeli pakan ternaknya.
Benar 2x Gila ! Toko mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam. Terus membagi bagikan anak ayam tersebut secara Gratis.

Mana ada pebisnis waras yg melakukan itu ?
Nyatanya, setelah ada program gratis anak ayam tersebut, mulai banyak orang membeli ditokonya.
Semakin hari ternyata tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki ternyata pembeli yg menerima Anak ayam gratis itu, kembali lagi.

Mengapa bisa demikian ?
Tentu saja mereka beli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Apa pesan moral dari cerita ini ?
Jangan pernah takut untuk memberi karena memberi adalah langkah pertama untuk menerima.
"Sayangnya banyak orang selalu berpikir yg sebaliknya. Menerima dulu, baru memberi"
Ini yg membuat kita tidak mengalami kemajuan dalam hidup ini.

Mana ada petani yg bisa menuai jika tidak pernah menabur sebelumnya ?
Selama ada kesempatan, jadilah orang yg murah hati.
Beri kebaikan. Beri perhatian. Beri dan beri...
Jangan hanya mau memberi jika ada keuntungan saja.
Ingatlah bahwa hidup ini seperti Gema.

Apa yg kita keluarkan akan kembali kepada kita.
Apa yg kita berikan akan kita dapatkan kembali bahkan berkali kali lipat dari apa yg diberikan.
Mari selalu melakukan kebaikan.

Tuesday, March 15, 2011

Harta Karun Lemari Jadoel

Sabtu kemarin saya bebenah, membereskan dua ruang kerja saya di rumah yang berantakan penuh barang dan buku, dan memasukkan sekaligus merapikannya kembali dalam ruang perpustakaan pribadi yang baru jadi. Saya sudah mau putus asa melihat begitu banyaknya buku yang harus saya rapikan, belum lagi tumpukan kertas dan barang-barang yang dulunya berhasil saya sembunyikan di antara sela-sela laci lemari buku yang lama tapi tekad saya agar semuanya selesai dalam waktu setengah hari membuat saya terbangun pagi-pagi dan mulai membongkar satu per satu mulai dari tumpukan buku terdekat.

Saya cukup kaget sekaligus kagum melihat harta karun yang saya temukan dari onggokan kertas di dua ruangan. Saya menemukan setumpuk surat cinta yang saya kumpulkan dari waktu saya masih di sekolah menengah pertama hingga menjelang kuliah, sebelum akhirnya putus dari kisah asmara jarak jauh yang tak tentu ujung pangkalnya. Tumpukan itu langsung saya buang tanpa saya baca lagi karena tak sanggup membayangkan betapa konyol isinya penuh dengan janji-janji cinta monyet. Saya juga menemukan beberapa surat mendiang ayah dan nenek saya yang seketika itu juga membawa kembali kenangan indah bersama mereka. Saya lalu membuat sebuah file khusus untuk menyimpan surat-surat tersebut. Saya juga cukup kaget bahwa di sela-sela tumpukan kertas itu menyembul pas foto tetangga dan teman baik saya sejak SD yang hingga detik ini masih intens bertukar kabar. Saya lalu memotret pas foto itu dan mengirimkan lewat blackberry messenger kepada teman saya yang sekarang sudah menjadi seorang ibu yang cantik jelita dengan dua anak menjelang dewasa dan ketawa ketiwi atas foto yang sudah berumur lebih dari 30 tahun itu.

Secara ringkas, saya kagum dan terpesona, atas banyaknya "sampah" dan "harta karun" yang saya kumpulkan selama ini. Barang-barang itu memiliki "nilai historis" tersendiri bagi saya dan saya bawa-bawa dari Malang ke Salatiga ke Malang ke Jakarta dan berpindah rumah dari tempat kakak saya ke tempat kos ke rumah pertama saya di Cinere dan akhirnya di rumah yang sekarang. Tadi pagi, saya juga membongkar sebagian lemari pakaian saya, dan menghasilkan dua kantong pakaian yang juga saya bawa-bawa dari rumah ke rumah.

Saat melihat semua harta karun yang sudah saya tata ulang dan sebagian (besar) masuk dalam dus dan kantong plastik, tiba-tiba terbersit : waaaah, kalau dibilang bahwa rumah dan isinya itu cerminan kehidupan kita, aduh betapa runyamnya kehidupan saya : isinya sebagian besar "sampah" dan "harta karun" dari masa lalu yang saya bawa ke mana-mana dan sebagian besar sudah kadaluarsa, usang, tidak pernah saya pakai lagi, tapi for the sake of memory, saya membebani diri saya untuk membawanya kemana saya pergi. Kira-kira begitu juga kah hidup saya?

Jawabnya kurang lebih sama dengan isi lemari saya. Saat saya terdiam sejenak selama 10 menit di pagi hari tadi sebelum berangkat kantor, saya menyadari bahwa pikiran dan hidup saya saat ini isinya sebagian adalah "sampah" dan "harta karun" masa lalu yang membebani dan membuat berat langkah sehingga hidup ini terasa berat, terseok dan tidak memiliki energi lagi. Saya lalu berpikir, kalau semua "sampah" dan "harta karun" masa lalu itu saya buang seperti yang saya lakukan dengan barang-barang dan baju ini, bagaimana ya jadinya? Sejujurnya, saya sungguh lega melihat lemari perpustakaan saya sekarang bersih, rapi dan ringkas. Rasanya ruangan juga menjadi lega dan saya juga memperoleh berbanyak space kosong untuk buku-buku baru saya kelak. Mungkin itu yang akan terjadi kalau saya membuang semua ketakutan, kegagalan dan kepahitan masa lalu : saya menjadi lega, dan punya space untuk berbagai hal baru. Karena semua beban itu "dibuang", maka saya akan merasa ringan dan punya tenaga lagi untuk melangkah...

Saya jadi semangat! Pulang nanti saya melanjutkan aksi sapu jagad yang tadi terhenti karena harus berangkat kantor. Saya juga mau menyapu jagad ruang yang ada di jiwa ini agar punya tempat bagi masa depan dan kehidupan yang lebih exciting ketimbang dibebani masa lalu dan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Saya membayangkan, hati dan kehidupan saya jadinya lebih bersih, lebih rapi dan lebih legaaa....

Monday, February 21, 2011

Best in Me - Blue

Hari Valentine kemarin saya mendapat hadiah sebuah lagu yang dinyanyikan kelompok musik Blue, berjudul Best in Me :

From the moment I met you I just knew you'd be mine
You touched my hand
And I knew that this was gonna be our time
I don't ever wanna lose this feeling
I don't wanna spend a moment apart

Chorus:
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

Every day that I'm here with you
I know that it feels right
And I've just got to be near you every day and every night
And you know that we belong together
It just had to be you and me

'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

And you know that we belong together, It just had to be you and me

'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you
'Cos you bring out the best in me, like no-one else can do
That's why I'm by your side, and that's why I love you

The King's Speech : Mematahkan Takut Pada Diri Sendiri

Saya menonton film "The King's Speech" yang dimainkan dengan sangat luar biasa oleh Colin Firth. Tak heran kalau ia kemudian memenangkan Golden Globe untuk perannya sebagai Raja George VI, ayahanda Ratu Elizabeth II yang sekarang bertahta.

Diceritakan kalau Sang Raja menaiki tahta tanpa rencana. Yang seharusnya naik adalah kakaknya yang memilih menikah dengan seorang janda Amerika. Sebagai calon raja di peringkat ke dua, ia tak punya pilihan lain untuk menerimanya, padahal sebagai raja, ia punya cacat yang luar biasa mengganggu pekerjaannya : gagap. Permaisuri pun lalu mencari berbagai terapis namun selalu gagal, sampai akhirnya ia menemukan nama Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang ahli terapi bicara asal Perth, Australia yang nyentrik. Lionel lah yang berhasil membimbing Bertie, nama rumah sang raja, mengatasi kegagapannya.

Sepanjang film rasanya saya melihat diri sendiri yang sering dihadapkan dengan ketakutan-ketakutan saya sendiri yang menghambat kemajuan saya. Orang yang gagap ternyata tidak tergagap dalam membaca ketika telinganya tidak dipekaki oleh suara musik klasik sehingga tidak dapat mendengar suaranya sendiri. Begitu emosi dan ketakutan merasuki kalbu, saat itu juga ia mulai tergagap kembali. Maka cara terbaik untuk mengatasi luapan emosi adalah mengalihkan perhatiannya dari ketakutan dan emosinya ke hal-hal yang menenangkan dan membuatnya nyaman.

Orang yang mengenal saya mungkin heran kalau saya bilang saya sering punya masalah menaklukkan ketakutan saya sendiri. Contohnya saja dari luar, tampaknya saya santai-santai dan beran-berani saja tapi saya sering takut ini takut itu. Bahkan takut menelepon karena takut salah waktu atau salah ucap. Meskipun bergerak di bidang komunikasi, saya merasa kemampuan komunikasi untuk urusan pribadi saya kacau sekali. Tapi itulah saya yang sebenarnya.

Film ini sungguh membuka mata bahwa kegagalan yang terbesar dalam hidup ini diakibatkan karena ketakutan terhadap diri sendiri yang tidak teratasi, dan satu-satunya jalan yang harus dilakukan adalah menghadapinya sendiri pula. Lionel mengajak mantan the Duke of York itu untuk kembali dan menghadapi trauma masa kecil dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikhawatirkan dan ditakutkan sudah tidak ada lagi. Awalnya sulit sekali menguak masalah pribadi apa lagi berurusan dengan pewaris tahta kerajaan Inggris, namun cara yang blak-blakan dan tulus membuktikan bahwa baja setebal apa pun terkoyak dan terbukalah mata hati yang bertahun-tahun terluka. Begitu luka itu tersembuhkan, bersinarlah kualitas negarawan sang raja yang memang telah mendedikasikan hidupnya bagi bangsa dan negara...

Kalau ada waktu, saksikan filmnya, dijamin terinspirasi....

Bantal

Seorang teman saya mengeluhkan kemanjaan anaknya yang sekarang sedang belajar di luar negeri. Usia yang semestinya sudah mandiri, tapi tetap saja santai dan bergantung pada orang tuanya. Puncaknya, kartu kredit tambahan yang dibuatkan khusus untuk keperluan emergensi digunakan untuk belanja barang yang bukan kebutuhan pokok. Saya lalu buka mulut, "blokir saja."

Orang tua sekarang, termasuk kakak-kakak saya adalah orang tua yang terlalu protektif dan memanjakan anaknya. Takut anaknya susah. Takut anaknya kenapa-kenapa. Padahal di sanalah pangkal perkaranya. Anak cenderung menggampangkan dan merasa bahwa kalau ada apa-apa toh ada bantal empuk yang siap menolongnya. Saya lalu mengutip lagi kalimat sakti "Life begins at the end of your comfort zone." Kalau anak-anak selalu di comfort zone, bagaimana mereka hidup?

Sebagai orang tua kita harus menantang dan mendorong mereka untuk melihat realita hidup. Kebanyakan orang tua yang berdiskusi dengan saya soal hal ini merasa terusik karena tidak nyaman dan takut anaknya terperosok dalam pergaulan dan lingkungan yang salah kalau dibebaskan. Saya bilang, "tidak akan, jika kita sebagai orang tua meletakkan dasar nilai dan tanggung jawab yang cukup." Nilai untuk memiliki visi hidup, mensyukuri keadaan dan bertanggung jawab, tidak kepada orang lain termasuk kepada orang tuanya, tetapi terlebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan Tuhan.

Maka saya sarankan teman saya memberikan uang secukupnya kepada sang anak, dan memberi aturan bahwa "cukup tidak cukup, ya segitu yang saya berikan kepada kamu. Kalau kamu mau ini itu, ya menabung, atau carilah tambahan yang halal." Teman saya cerita kalau anaknya waktu itu mau membuat kartu kredit sendiri namun ia larang karena takut kalau ia tak bisa membayar. Saya bilang, biar saja, biar dia mengerti akibatnya kalau ia tidak melakukan perencanaan hidup dengan baik. Saya lalu memberi contoh di tahun 1983 - 1987 saya mendapat jatah seratus ribu dari orang tua untuk hidup setiap bulannya di Salatiga. Uang itu sudah mencakup uang kos, cuci baju, makan dan hiburan, termasuk belanja buku bacaan dan kaset atau menonton kegemaran saya. Dana itu juga termasuk ongkos foto kopi dan biaya operasional kuliah, kecuali uang kuliah yang jumlahnya di luar uang bulanan. Orang tua saya tidak akan memberi tambahan bila saya kekurangan. Jadi saya harus memperhitungkan dengan cermat keadaan keuangan saya. Saya kos di tempat yang sederhana, makan berdua teman se kos dari rantangan, dan kalau makan di luar, saya cuma makan serba standar, tidak tambah sate ini atau itu. Tapi di sana lah saya belajar bertanggungjawab dan menyukuri apa yang saya miliki. Buktinya, saya tetap happy dan berprestasi, tak pernah mengeluh. Saya tidak hanya diajari mengenai nilai dan tanggung jawab, tetapi lebih dari itu, ayah ibu saya mengajarkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Keadaan ini saya bagikan kepada teman saya tadi.

Mendengar cerita ini, seorang kenalan lalu menukas, "iya, tapi zaman kita dulu kan berbeda dengan zaman sekarang?" Saya lalu menjawab kembali, "zaman kita muda dulu, orang tua kita juga bilangnya sama. Jadi apa bedanya? Setiap zaman tentu berbeda, dan karena itulah semakin penting bekal yang kita berikan kepada anak kita adalah bekal nilai dan tanggung jawab, bukan materi. Karena materi akan habis dalam sekejap, sedangg bekal nilai dan tanggung jawab akan merupakan sumbu yang menjadi modal untuk menerangi hidupnya sepanjang masa."

Jadi, cinta tidak harus diwujudkan dalam bentuk bantal empuk yang selalu menadah sehingga anak atau saudara kita jadi serba menggampangkan. Cinta yang baik adalah cinta yang mendidik. Cinta yang membuat orang yang kita cintai memiliki visi hidup, bersyukur atas anugerah yang diperolehnya dan bertanggung jawab atas hidupnya kepada dirinya sendiri dan Tuhan. Memang tidak mudah untuk menerapkannya, terutama cinta yang benar itu tidak selalu manis dan enak dirasa, tetapi memberi "hidup" bagi yang dicintainya. Mungkin ia tidak merasakan sekarang, tapi akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Monday, February 14, 2011

Mengalir

Saya baru saja keluar dari rumah sakit. Saya terpaksa bermalam di "hotel" istimewa itu selama sehari karena tekanan saya tiba-tiba naik menjadi 190/130, maka dokter saya mengatakan sebaiknya "tinggal" sehari saja di sini. Tapi istirahat sehari itu menjadi heboh di antara keluarga dan mereka yang tahu, padahal saya sekarang baik-baik saja. Semua itu adalah akibat "kenakalan" saya terlalu rakus melihat segala macam makanan lezat saat mengaduk-aduk isi Jakarta kota dalam rangka Tahun Baru Cina. Bahkan saya sudah periksa ke dokter Munawar, dokter jantung kepresidenan yang kebetulan saya kenal baik, di Rumah Sakit Jantung Binawaluya dan hasilnya semua baik, cuma ya itu tadi, bandel makan.

Kehebohan ini sedikit banyak disebabkan karena dokter saya berpesan agar saya istrirahat total, tidak menerima telepon atau tamu apa lagi yang berhubungan dengan pekerjaan. Namanya orang Indonesia, semakin dilarang, semakin banyak yang ingin tahu kenapa dan sakit apa. Akibatnya tetap saja saya tak bisa mencegah kakak saya datang bersama serombongan sepupu dan tante saya dan membuat heboh karena suara ketawanya keluar sampai ke lorong rumah sakit. Karena tak sempat menengok, maka Sabtu malam kemarin seorang tante dan om saya kemudian mengambil inisiatif cemerlang menjenguk dan menginap di rumah tanpa memberitahu saya.

Tentu saja saya kagetnya setengah mati. Saya tidak siap, bahkan tidak tampak bekas-bekas sakit, apa lagi saya baru saja bermalam minggu dan baru menginjakkan kaki di rumah sehabis acara dinner dan nonton film. Tapi ya, namanya diberi perhatian, saya ya terima juga dan menyiapkan kamar. Ketika jam menunjukkan waktu lewat tengah malam, saya segera menyudahi acara basa basi dengan alasan besok mau ke gereja jadi saya akan mengantar mereka pulang pagi-pagi sebelum ke gereja. Belum selesai bicara, saya menangkap ada yang janggal di meja makan : kaca penutup candle holder saya pecah. Si Tante cuma bilang, "Iya tadi itu kesenggol om, pecah. Gampanglah semprong kayak gitu banyak di Jelambar nanti tante beliin lagi!" Tanpa banyak mulut saya naik ke kamar tidur.

Saya lalu tak bisa tidur. Cukup rasanya! Buat saya kehadiran om dan tante itu sangat tidak menghargai yang punya rumah, meskipun niatnya baik! Saya yang terbiasa semua terencana dan dibicarakan di awal, tidak suka kejutan. Bahkan ibu atau kakak saya yang mau datang ke rumah saja memberitahu terlebih dahulu. Jangan salah sangka, saya senang sekali kalau ada yang datang bahkan bermalam di rumah, akan saya jamu sebaik-baiknya. Saya juga tentu tak akan pernah menolak siapa yang akan datang ke rumah, untuk bermalam sekalipun, but let me know first so I can prepare and be prepared. Siapa tahu saya sudah ada rencana sebelumnya, atau saya sedang tidak dalam keadaan siap menerima tamu, siapa pun itu. Saya juga dalam hati mengomel atas sikap "bela diri" tante soal semprong yang pecah. That's not the issue. Buat saya, kalau salah ya ngaku saja minta maaf and shut up!

Maka, hari Minggunya saya bangun lebih awal, dan "curhat" pada anak si om tante sambil memintanya untuk membantu menasihati orang tuanya agar lebih "thoughtful". Lalu saya bergegas menyiapkan makan pagi dan mengantar mereka pulang ke rumahnya di daerah Jakarta Pusat. Karena di pusat, saya mengubah rencana untuk ke gereja katedral saja, mengikuti misa yang jam 10.30. Saya terlambat 10 menit dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pergi ke gereja katedral, saya berdiri di pojok belakang. Penuhnya orang dan sirkulasi katedral yang kurang baik membuat saya berkeringat dan ingin agar misa cepat selesai saja.

Tapi justru di akhir misa, pastor memberitahu bahwa museum katedral sedang dibuka setelah misa. Museum ini adalah tempat penyimpanan benda-benda sejarah perjalanan agama Katolik yang tidak dibuka setiap saat. Saya sudah lama ingin berkunjung, tapi waktunya tidak pernah klop. Kali ini, tanpa disangka keinginan yang sudah terpendam bertahun-tahun itu terbuka begitu saja dan menjadi pengalaman dan kenangan yang tak akan terlupakan.

Tiba-tiba saya sekali lagi disadarkan untuk berterima kasih kepada om, tante yang datang tanpa disangka-sangka. Kalau tidak karena mereka, saya tak akan repot-repot mau ke Jakarta pagi-pagi mengantar mereka dan ngebut ke gereja siang. Sepulang dari gereja, saya memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia dan menemukan pengganti semprong yang pecah, bagaikan disimpankan untuk saya, karena tinggal satu-satunya.

Tuhan itu luar biasa. Saya lalu memohon ampun atas kekeraskepalaan saya. Saya seketika menyadari bahwa saya tidak bisa membuat segala sempurna. Ketika ada yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak, saya hendaknya ingat untuk mengikuti arus tanpa banyak berontak, karena Tuhan sudah punya rencana buat kita.

Saya lalu jadi ingat : rencanaKu bukanlah rencanamu. dan semuanya akan dijadikan indah pada waktunya. Pagi ini saya menerima pesan bbm :

Life is too short
to wake up with regrets
Love the people who treat you right and
forget the ones who don't!
Believe that everything happens for a reason.
If you get a chance - take it
if it changes your life - let it
Nobody said life would be easy
they just promised
it would be worth it!


It certainly is. Terima kasih Tuhan! Terima kasih Om, Tante. I am the one who should apologize. Thank you for the wonderful experience in life, because of you...

Friday, January 28, 2011

Pahlawan Kesiangan

Entah mengapa beberapa hari ini saya disuguhi berbagai peristiwa yang bertema sama. Kemarin, saat sarapan pagi dan melakukan ritual pindah-pindah channel, saya terhenti di Starworld yang menanyangkan film serial komedi "Gary Unmarried" yang saat itu menceritakan Gary merasa hidupnya bagai neraka karena pacarnya yang cantik melakukan berbagai peraturan guna mengubah hidupnya yang suka-suka menjadi teratur dan "berkelas". Puncaknya ia diajak menonton opera yang sama sekali tak dimengertinya, lalu terjadilah pertengkaran sampai keluarlah kata-kata putus. Ia lalu berpikir ulang dan menyadari itikad baik sang pacar maka Gary pun meminta maaf kepada sang pacar dan mengatakan siap untuk dipermak. Reaksi pacarnya? Gembira dan mengajak Gary nonton balet. Seketika itu, padam lah semangat Gary untuk kembali pada sang pacar.

Kemarinnya, pagi-pagi saya mendapat gossip hangat dari seorang teman tentang teman kami yang ingin cerai karena sang suami mata keranjang bahkan berani selingkuh di depan mata. Ternyata teman kami itu sebenarnya tahu kebiasaan sang suami sebelum menikah, hanya saja ia berpikir bahwa perkawinan dan anak akan mengubah semuanya menjadi lebih baik.

Saya heran, kenapa ya kita ini sering mau jadi pahlawan kesiangan? Padahal hati kecil kita tahu bahwa ada kebiasaan atau keadaan buruk yang melekat pada seseorang, tapi kita justru tertantang untuk "membantu" memperbaiki keadaannya, dan berharap berhasil, wah jadi pahlawan yang kemudian dapat tanda jasa besar dari sang pujaan hati, dan si pujaan hati lalu menyerahkan seluruh hidup dan cintanya dan tergantung kepada kita. Well, pengalaman hidup saya mengatakan semuanya mimpi karena kita tahu perubahan itu harus datang dari orangnya sendiri dan bukan dari orang lain yang dengan tegar dan disiplin melakukan pengaturan dan mendirikan pagar-pagar sehingga orang yang ingin kita "tolong" tidak lari dari pakem yang seharusnya dijalani. Face it, that person never change!

Jadi kasusnya adalah, apakah kita mau menerima seseorang seutuhnya, apa adanya. Jangan pernah berpikir, "duuuuh cakeeep ya, sayang suka .... tapi gakpapa deh nanti kalau sudah jadi pacarku, bisa laaaah dididik...." Percayalah, kita sendiri yang akan menyesal karena upaya ksatria kita sia-sia saja. Dan kalau sia-sia, yang dimarahi justru objek kita, yang dibilang nggak bisa mengerti perasaan kita lah, yang ini itulah. Padahal sebetulnya yang perlu disemprot ya kita sendiri. Sudah tahu keadaannya seperti itu, mengapa juga masih cari gara-gara.

Saya jadi ingat film "Object of My Affection" yang dibintangi Jennifer Aniston dan Paul Rudd dimana si cewek jatuh hati pada temannya yang gay, dan berpikir bisa membuat sang pujaan bisa berpaling padanya. Pada akhirnya, ia sendiri yang berurai air mata karena usaha apa pun yang dilakukannya, sang lelaki tetap memilih lelaki lain sebagai pujaannya...

Kembali lagi ke soal teman saya itu, sekarang ia merasa kesal dan tersudut karena ditinggal bersenang-senang oleh suaminya dengan para perempuan lain. Ia lalu mau cerai saja. Saya sih tak berkomentar apa pun karena curhatnya tidak pada saya, dan saya pun tidak memperpanjang masalah ini kepada teman yang bergosip pada saya, tapi kalau saya disodori cerita ini, saya akan bertanya padanya, "waktu elo mau jadi pahlawan, ada plan B nggak kalo gak berhasil, atau di pikiran lo cuma terbayang happy ending seperti film-film Hollywood?" Well, welcome to reality, and ... by the way, what happen to your vow to be there for your spouse in sickness and in health, for better or for worse?