Hari ini adalah Rabu Abu, awal masa pra paskah, 40 hari menjelang Hari Raya Paskah bagi umat kristiani. Rabu Abu, mengingatkan kita bahwa kita ini asalnya dari abu dan akan kembali ke abu. Rabu Abu juga menandai dimulainya masa Puasa dan Pantang. Berbeda dengan saudara-saudara kita yang beragama Islam, Puasa dan Pantang Katolik sangatlah ringan. Puasa hanya wajib di hari Rabu Abu dan Jumat Suci, aturannya pun hanya makan kenyang sekali dalam sehari itu. Pantang dilakukan setiap hari Jumat selama masa pra paskah dan dibebaskan kepada masing-masing individu untuk memilih ingin pantang apa. Kalau kebiasaannya merokok, ya pantang rokok. Kenalan saya James yang addicted to coke, memilih pantang coca cola selama masa prapaskah. Saya sendiri, biasanya pantang.... mundur! :-)
Tapi itu dulu, selama beberapa tahun belakangan ini, saya mencoba menjalankan ibadah Pantang ini dengan pantang daging. Kalau biasanya pantang daging itu kategorinya hanya daging sapi, maka buat saya segala macam daging, termasuk daging udang dan jenis fauna apa pun lainnya. Maka hari ini menu makan siang saya adalah karedok dan di malam hari adalah nasi capcay, tanpa daging.
Malam ini, saya menghadiri reuni terbatas dengan bekas sekretaris di Matari, Linda yang setelah keliling Eropah dan Amerika, stop over di Jakarta selama dua hari untuk melanjutkan perjalanan ke Hong Kong, sebelum pulang ke rumahnya di Brisbane, Australia. Acara makan-makan itu menjadi agak ribet karena saya menjadi satu-satunya yang pantang, padahal yang lain pesan pangsit dan segala macam menu lezat. Melihat saya wanti-wanti pada waiter agar pesanan saya bebas daging, Linda kemudian nyeletuk, "Udah, makan aja, besok baru pantang... gak usah ngikuti Vatikan. I'll do my fasting tomorrow." Saya melongo, "Haa?"
Lama-lama saya pikir, bener juga sih, yang namanya peraturan itu kan manusia yang bikin ya. Yesus nggak pernah tuh mengajari kapan pantang dan puasa. Yesus cuma diceritakan puasa 40 hari lamanya. Tapi saya pikir-pikir lagi, saudara saya yang Muslim, nggak ada tuh yang protes puasa dengan lebih berat selama 40 hari dan menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan hati. Kami yang puasa dan pantangnya super ringan, kok malah nawar-nawar? Lalu saya bertanya pada diri sendiri: "Kamu itu dulu kan gak mau melakukan yang gini-gini, kenapa sekarang kamu melakukannya? Bertobat dan jadi balik ke rel gereja?"
Lama saya bergumul dengan diri sendiri, lalu timbul jawabannya. Oke, saya melakukannya untuk diri sendiri, bukan untuk gereja. Gereja cuma memberi saya sarana hari dan masa pra paskah saja, selebihnya itu keputusan saya untuk menjalankannya. Saya menjalankannya untuk beberapa alasan. Yang pertama tentu alasan religius, sehingga setiap saya berpantang, saya diingatkan akan Tuhan dan pentingnya penguasaan diri agar lebih dekat padaNya. Yang kedua, dan ini tidak masuk dalam kategori alasan gerejawi, adalah unsur kesehatan. Masa prapaskah menjadi alasan buat saya untuk memilih makanan yang lebih sehat. Sayur sayuran.
Beberapa hari yang lalu, saya menonton Oprah yang sedang mengetengahkan bahasan tentang resep favorit. Salah satu bintang tamunya adalah ahli masak Paula Deen, yang memamerkan kepiawaiannya membuat cake. Saat cemplung sana cemplung sini bahan kuenya, saya mengikuti Oprah dengan membelalakkan mata. O My God! Kuning telurnya sekian, tepungnya sekian, gulanya sekian, whipped creamnya segunung, margarinnya seciduk, rum dan lain-lain masuk semua ke adonan! Saya baru sekali ini sadar bahwa makanan yang saya telan isinya dari berbagai macam bahan yang tidak sehat dalam jumlah besar! Ngeri saya membayangkan semua bahan itu masuk ke mulut dan tubuh saya. Pantas saja es krim satu scoop itu berisi ratusan kalau tidak ribuan kalori, sehingga perlu olah raga berjam-jam untuk mengikisnya keluar dari tubuh. Masalahnya, yang masuk bukan cuma cake dan es krim, tapi berbagai hal masuk semua ke dalam tubuh, sehingga olah raga yang tercanggihpun tak akan mampu mengejar derasnya arus kalori yang masuk ke tubuh. Lalu kita jadi obes, kelebihan berat badan yang kelewat banyak. Seolah mewakili keterkejutan saya, Oprah lalu spontan bertanya pada Paula,"Waduh, kebayang nggak sih kalori yang masuk ke tubuh kita?" Tukas Paula, "I don't know, I'm your cook, not your doctor!" Hahaha benar juga. Dia kan koki, bukan ahli gizi...
Tapi acara itu membuat saya ngeri dan berpikir tajam. Saya harus mengurangi makanan yang tidak sehat seperti itu. Masih banyak pilihan makanan sehat lainnya yang tersedia bagi kita. Saya memang sudah mulai banting setir selama setahun lalu, ketika berat saya melammbung jadi 78 kg di awal tahun 2009 sepulang dari Perth. Waktu itu, selain perut saya menjadi melembung, dokter menemukan kadar kolesterol saya sudah di atas batas aman. Ancaman sang dokter : mau minum obat, atau tanpa obat tapi olah raga dan makan yang sehat! Saya memilih yang kedua. Maka dalam waktu 11 bulan, saya kehilangan 13 kilo, kini saya di kitaran 65 kilo, bahkan setelah liburan 3 minggu di Perth yang biasanya membuat berat badan saya meledak!Dan kadar kolesterol saya stabil di angka normal. Apa yang saya lakukan? Saya giat membaca buku dan majalah soal diet, dan menyaring informasi yang masuk akal. Banyak metode diet yang ditawarkan, tapi saya menganggap kebanyakan sangat ekstrim dan menyiksa. Padahal buat saya, diet yang benar adalah tetap menikmati hidup, hanya saja pola makannya diatur. Kalau sampai tidak makan sama sekali, wah itu pasti tidak benar karena sudah membuat saya sengsara.
Maka, selama setahun kemarin, dan sampai hari ini, saya mengusahakan agar saya bisa berolahraga paling tidak 30 menit sehari, menguras 300 kalori di pagi hari, antara bangun tidur dan sarapan pagi. Saya memilih tidak ke fitness center karena buang-buang uang saja. Selain jadwal kerja saya tidak bisa diajak regular untuk urusan fitness center, yang ada malah jadi lahan cuci mata saja jadinya. Jadi saya memilih berinvestasi di sepeda statis. Setiap pagi di hari kerja, saya bersepeda statis di depan televisi sambil menonton acara infotainment pagi, agar tidak terasa unsur olah raganya. It works! Saya jadi betah. Dan setiap Sabtu pagi, biasanya saya mengayuh sepeda onthel saya keliling kompleks agar ada suasana lain. Lalu saya sarapan roti gandum, ditambah madu dan jus buah goji masing masing sebanyak 2 sendok makan. Siang, saya biasanya memakan bekal dari rumah, dengan menu yang tidak gorengan dan banyak sayurnya. Malam, saya usahakan tidak makan nasi dan hanya makan sayur dan lauk saja. Ditambah buah di siang dan malam hari. Saya memilih buah yang murah meriah tapi sehat, pepaya, agar lancar ke belakang dikeesokan harinya.
Masalahnya, upaya hidup sehat ini banyak excusenya juga. Saya sering termakan rayuan, "waaah sekali-sekali." Hari ini saja. Kali ini saja. Dan sekali-sekalinya jadi setiap hari! Tadi, saya juga dapat rayuan seperti itu saat makan malam bersama, tapi kali ini tidak mempan. Saya menggunakan momentum pantang katolik untuk memberi warning yang lebih tegas. Saat mandi malam tadi, saya malah berpikir, bagaimana ya kalau selama 40 hari saya tidak makan nasi? Wah, hasilnya pasti lebih tokcer. Jadi, saya sekarang sedang mempertimbangkan akan melakukan eksperimen selama 40 hari tidak makan nasi, hanya lauk saja. Saya memang belum bilang pada pembantu yang menyiapkan bekal saya, jadi masih ada waktu untuk membuat keputusan.
Hari ini untuk pertama kalinya saya berpikir secara analitis tentang mengapa saya puasa dan pantang. Saya menemukan jawabannya. Saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Supaya bisa lebih mengontrol diri sambil menyehatkan diri dengan menggunakan sarana yang disediakan oleh gereja : masa prapaskah. Bonusnya? Jadi lebih dekat dengan Tuhan. Jadi bukan seperti orang kebanyakan yang puasa untuk lebih dekat dengan Tuhan duluan, yang lain-lain bonus. Boleh dong sedikit beda, semoga hasilnya sama saja....
No comments:
Post a Comment