Thursday, April 29, 2010

29 April 2010 : Katrol

Seharian saya bepergian dengan Wakil Menteri Perindustrian. Semalam saya ditelepon sekretaris Beliau mengatakan bahwa Pak Wamen ingin ditemani ke acara peringatan ulang tahun sebuah perusahaan di Bogor. Tadinya saya bertanya, saya ini cuma diminta menjadi penunjuk arah, atau benar-benar menemani? Pagi ini, saya tidak sekedar menemani, Beliau bahkan dengan santainya bilang mau ikut mobil saya saja. Dan jadilah kami mengobrol ngalor ngidul bahkan bersama-sama menikmati lagu instrumental rohani. Pulangnya, mobil saya ketambahan seorang direktur kementerian. Ketika ditanya oleh pihak pengundang, mereka terkagum-kagum dan bilang, "Wow! You must be really proud that a person of such high rank goes with your car." Saya sih menyingkat pembicaraan saja dengan mengatakan, "yes" padahal buat saya sama sekali bukan suatu yang "big deal".

Saya lalu berpikir, mengapa begitu banyak orang yang ingin dianggap penting dan ingin dekat-dekat dengan orang penting? Suatu saat saya menemani Presiden dan Ibu Negara serta beberapa menteri kabinet berjalan kaki pagi dari Monas ke Bunderan HI. Pada kesempatan itu, seorang presiden direktur pihak sponsor berkesempatan menyambut Beliau dan berjabat tangan dengannya. Dalam kesempatan bertemu berikutnya, Beliau secara khusus menanyakan fotonya dengan Presiden, dan ketika didapatkan, diframe dan digantungkan di tempat terpenting di kantornya. Saya sendiri, tanpa meminta diberi oleh pihak istana dan fotonya sekarang tersimpan rapi di laci kerja rumah sebagai kenang-kenangan akan acara yang fenomenal itu, karena berhasil mengumpulkan lebih dari 10.000 orang untuk berjalan bersama Presiden dan Ibu Negara. Ketika foto saya muncul di koran-koran berdekatan dengan Presiden sedang melambaikan tangan, heboh lah kenalan dan seisi kantor. Saya? Senang sih, tapi biasa saja tuh rasanya.

Saya sering bertemu dan bersama-sama dengan selebriti dan setiap kali bersama mereka puluhan orang berdesakan ingin berfoto dengan idola mereka masing-masing. Saya sendiri tak ada satu pun foto dengan mereka. Karena komentar si klien tadi, saya jadi berpikir, iya ya, kenapa ya? Jangan-jangan ada yang salah dengan saya? Padahal, kalau mau mengoleksi foto dengan orang terkenal, dinding rumah saya bisa berubah jadi wall of fame tersendiri. Mulai dari Presiden, Menteri, Anggota DPR sampai selebriti. Lalu muncullah jawabannya, saya menganggap mereka sama dengan saya. Tentu mereka istimewa, namun bila bertemu dari pribadi ke pribadi dan saling menyelami kepribadian masing-masing, kita semua sama saja. Presiden ada sisi manusiawinya. Selebriti juga. Saya banyak pengalaman lucu yang bersifat sangat pribadi dengan mereka yang tidak bisa saya ceritakan di sini saking pribadinya. Tapi justru karena itulah, saya tidak lantas membuat mereka seperti dewa. Kalau buat bangga-banggaan saat ketemu teman, saya tidak mau, karena saya menganggap teman-teman saya sama pentingnya dengan siapa pun yang saya jumpai. O iya, saya ada sih, satu-satunya foto yang saya pajang bersama kepala negara adalah foto saya dengan Presiden Obama. Saya pasang di dinting kamar kerja pribadi buat lucu-lucuan, karena fotonya dengan presiden lilin, alias di Madamme Tussauds, museum lilin...

Saya mengerti, sebuah gambar atau foto berbicara lebih keras dari kata-kata. Kalau ada foto salaman dengan Presiden, orang langsung keder dan merasa wah, saya tidak boleh main-main dengan orang ini, dia kenal Presiden lho. Padahal, kalau Anda sudah berkali-kali bertemu Presiden dan setiap kali salaman diabadikan, Anda akan tahu bahwa gaya Beliau ya sama saja, yang beda hanya latar belakang foto dan mungkin bajunya. Anda tentu juga tahu ada majalah elit yang menampilkan foto-foto mejeng sosialite kita. Mungkin Anda tidak percaya bahwa ada saja orang yang rela menyogok sang fotografer agar bisa dimuat di halaman mejeng itu, supaya bisa bilang, "Jeng, jeng, aku kemarin itu keluar di majalah ini lho..." Dan teman-teman arisannya menjadi sirik karena fotonya berjejeran dengan orang-orang tersohor di negeri ini.

Menjadi pentingkah saya gara-gara sekali salaman dan jalan dengan Presiden? Sekali ditumpangi wakil menteri? Berkali-kali ngobrol pribadi dengan Menteri? Dan cekakak cekikik dengan selebriti? Jawaban saya : tidak. Sama sekali tidak. Buat saya yang terpenting adalah apakah karya yang saya lakukan dapat memberikan manfaat dan dampak positif bagi kehidupan sekitar kita. Kalau dalam memperjuangkan karya, saya bertemu dengan orang-orang berpengaruh yang mendukung dan berjuang dengan saya melakukan sesuatu bagi bangsa ini, maka pertemuan dengan mereka itu dalam rangka tujuan yang lebih besar dari sekedar bangga-banggaan atau memanfaatkan.Karena itu saya sebal sekali kalau ada anggota keluarga atau teman yang bilang, "Kamu kan kenal dan dekat sama ini, tolongin dong mintain ini itu buat anak saya supaya bisa ini itu..." Jangan harap saya mengabulkan permintaannya. Pertemanan dan perkenalan saya bukan untuk dijual.

Saya jadi kasihan pada mereka yang ingin menjadi "seseorang" dengan bersalaman atau hanya foto bareng dengan selebriti. Ini justru menunjukkan bahwa secara spirit mereka "bukan siapa-siapa" dan "tidak penting". Padahal saya selalu percaya bahwa each of us is beautiful in our own way. Teman saya pernah mengeluhkan bahwa adiknya payah dalam pelajaran dan mencari nafkah, namun saya menemukan bahwa sang adik justru orang yang paling care di keluarganya, and that's something. Jika Anda merasa butuh katrol untuk menaikkan harkat, just drop the idea. Tutuplah mata Anda dan renungilah bahwa Anda ini adalah ciptaan Tuhan yang spesial dan karenanya Anda sama penting dan berharganya dengan orang lain. Tidak ada orang yang lebih tinggi atau lebih rendah di mata Tuhan kecuali dalam hal ibadah. Jadi berhentilah rendah diri atau tidak percaya diri. Kalau Anda penting di mata Tuhan, siapa lagi yang berani menganggap Anda tidak penting? Lain kali, kalau ada orang berkata sombong dia ketemu ini dan dugem dengan itu, dengarkan saja dengan enteng, seenteng kalimat yang masuk kuping kiri, keluar kuping kanan....