Saya punya kerabat yang belakangan ini gampang mengeluh dan marah-marah kalau sedikit saja kena masalah. Masalah macet yang bikin dia terlambat melulu, marah dan mutung. Mau berhenti kerja saja. Awalnya saya mencoba menghibur, lalu memberi wejangan, tapi lama-lama saya jengah juga mendengarnya.
Rupanya ia tidak sendirian, saya juga punya teman yang juara mengeluh, sampai-sampai kalau ia menelpon, saya cenderung malas mengangkat karena sudah hampir yakin paling-paling ia menjadikan saya telinga buangan keluhannya.
Saya jadi heran sendiri. Mengapa orang bisanya mengeluh terhadap hambatan yang ditemui dalam hidup ini? Padahal hambatan dalam hidup ini meskipun sakit, tidak enak dan menyebalkan justru merupakan pembelajaran atau peringatan buat kita. Pembelajaran agar kita "naik kelas" atau peringatan atas tingkah kita yang sudah kelewat jumawa. Seperti yang terjadi pada kerabat saya tadi. Ia muda, sangat pandai, juara melulu, dan akhirnya sering kali ia mengeluarkan pendapat seolah orang lain tidak punya pengalaman apa pun. Saya bilang kamu mungkin pintar namun yang pasti kamu tidak selalu benar. Hambatan tanpa kita sadari sering juga menjadi jalan yang menyelamatkan. Mungkin saya sudah pernah bercerita di blog ini bagaimana seorang bapak marah besar karena salah informasi gate sehingga tertinggal pesawat tanpa menyadari bahwa pesawat yang seharusnya membawa ia terbang saat ini tinggal puing dan semua penumpangnya tewas. Saya juga pernah keberatan mengadakan makan siang di Pearl Restaurant di Mariott karena menu di Syailendra lebih beragam, namun justru Pearl lah yang telah menyelamatkan saya dari ledakan bom Mariott yang pertama.
Selama menceramahi kerabat yang mengeluh tadi, saya kemudian menjelaskan bahwa dalam hidup ini kita belajar untuk bersifat tawakal dan ikhlas, serta bersyukur. Namun yang baru saya sadari sekarang adalah, selain ketiganya itu, kita juga ternyata harus belajar bagaimana mengubah keluhan menjadi rasa syukur. Saya baru menyadari bahwa di balik keluhan kita, selalu ada makna kurang bersyukur. Keluhan membuat kita terfokus pada satu hal kesialan kita, padahal selama hidup ini sudah berjuta karunia yang diberikan kepada kita yang sering kali lewat begitu saja tanpa syukur. Hidup di dunia ini tidak mungkin hanya merasa enak nya saja. Pasti ada tidak enaknya, pasti ada sakitnya, pasti ada susah dan dukanya. Karenanya perlu mata bijak kita untuk bisa melihat sisi positif dari setiap kejadian yang tidak kita hendaki.
Namun lepas dari semua itu, ternyata saya sekarang menyadari, alangkah tidak enaknya mendengar orang yang kerjanya mengeluh terus, takut terus, berpikiran negatif terus. Capek rasanya, dan energi kita rasanya tersedot habis di sana. Selain itu kuping terasa pekak mendengarnya. Mau menutup telepon kok ya tidak sopan, tapi kalau didengarkan terus kok ya bikin mabok saja. Saya kemudian membayangkan, bagaimana ya kalau saya yang melakukannya ke orang lain? Tiba-tiba saya jadi terbelalak sendiri. Ups. Bagaimana ya kelakuan saya pada orang sekitar selama ini? Kepada rekan kerja, kepada pembantu, supir, keluarga? Tukang mengeluh juga nggak ya? Jangan-jangan saya sudah bikin "budeg" orang lain dengan keluhan saya.
Hari ini saya mau mulai belajar, alih-alih mengeluh, saya mau belajar menggantikannya dengan kalimat syukur. Lagi pula, saya kok terngiang-ngiang dengan apa yang dikatakan Dewi Yull ketika dimintai komentar soal video porno Ariel-Luna-Tari. Ia mengatakan, "Kalau kita tidak bisa mengatakan sesuatu yang positif, sebaiknya tidak usah berkata apa-apa." Sebuah rumus yang luar biasa jitu!
Welcome to the world of Lawrence Tjandra where you celebrate life to its fullest. Come to see places I've been, read the articles published in media and share thoughts and views on diverse issues of life!
Showing posts with label bersyukur. Show all posts
Showing posts with label bersyukur. Show all posts
Thursday, August 12, 2010
Saturday, January 30, 2010
30 Januari 2009 : Ora et Labora
Saya punya kelompok pendalaman iman yang unik. Anggotanya terdiri dari orang orang yang biasa tampil di majalah-majalah sosialite dan kalau kumpul kacaunya setengah mati. Maksudnya, tertawa melulu. Kelompok ini tadinya dibentuk untuk melakukan sharing dan mengasah hati kita agar lebih peka atas karunia Allah, namun dalam perjalanannya, kelompok ini mungkin sudah agak mati akal, sehingga perlu bantuan orang yang lebih ahli dalam membimbing iman kami. Kami secara rutin mengadakan pertemuan dua minggu sekali, dan untuk kali ini diundanglah seorang pendeta.
Saya sendiri termasuk satu dari empat pendiri kelompok pendalaman iman ini, namun karena naik turunnya kehidupan pribadi, sudah hampir tiga tahun saya absen. Hari ini, adalah yang kedua kali saya datang setelah "cuti" panjang, sehingga teman saya yang cantik berteriak,"Lawrence Tjandra is Back, and I hope it's for good!" Teriakan ini disambut dengan suka cita oleh teman yang lain. Dalam hati, saya terharu atas perhatian dan kasih mereka.
Membawakan firman pada kelompok unik ini bukan hal yang mudah. Beberapa kali sang pendeta mati gaya karena celetukan dan komentar-komentar nakal teman-teman. Kali ini, yang dibahas adalah bagaimana naik ke tingkat yang lebih tinggi alias next level. Terus terang, kalau soal yang satu ini, sampai saat ini, apa yang dikotbahkan sang pendeta belum masuk di otak saya. Mungkin karena ilmu saya masih cetek, dan bolos lama pula, sehingga "ndak mudeng". Namun ada dua hal yang langsung menancap. Yang pertama adalah, tak peduli siapa kita, yang penting kita jaga hati kita. Kalau hati kita baik dan bersih, tak usah peduli omongan orang, karena orang toh akan bicara seenaknya menurut pandangan mereka. Kata Pak Pendeta, orang akan bicara, karena mereka punya mulut.
Yang ke dua, lebih menancap di otak. Pak Pendeta berpesan agar kita tak henti-hentinya berdoa. Mau telepon, tumpangkan tangan kita di atas telepon, agar pembicaraan kita diberkati. Mau nulis di notebook, tumpangkan tangan kita di atas notebook. Teman saya bahkan bilang, kalau perlu, tumpangkan tangan kita di atas contact list, agar apa yang kita bicarakan dengan mereka jadi terberkati.
Saya jadi ingat ocehan Samuel Mulia yang kali ini berhalangan hadir. Dia pernah mengingatkan saya, bahwa kata "Ora et Labora" itu tidak sembarangan ditulis. Artinya, berdoa dan bekerja, bukan sebaliknya. Yang terjadi selama ini dengan kita adalah fakta sebaliknya. Kita kerja mati-matian, dan kalau menemukan jalan buntu, baru berdoa mati-matian. Bagaimana bisa diberkati, kalau sebelumnya tak minta. Di atas meja kerja kakak saya tertera, "Be part of the solution, not the problem." Maka kalau doa kita di belakang setelah semuanya runyam, kita ini part of the problem, bukan the solution. Setelah semuanya hancur berantakan, kita berdoa agar Tuhan sudi membereskannya.
Maka yang benar adalah berdoa dulu, mohon berkat dan petunjuk, baru berkarya sebaik mungkin, sambil memasrahkan diri diarahkan oleh Allah. Artinya, kalau dalam bekerja kita disuruh belok kiri, ya ikuti belok kiri.
Saya sendiri sudah memraktekan apa yang dipesankan Pak Pendeta, namun hanya untuk hal-hal yang besar. Ada dua hal yang ajaib yang terjadi, yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah ketika perusahaan kami diminta untuk menangani acara peresmian pengiriman gas pertama dari Indonesia ke Malaysia. Waktu itu Presidennya adalah Ibu Megawati Soekarnoputri dan Perdana Menterinya adalah Mahatir Mohammad. Acara yang tadinya direncanakan di Jakarta, tiba-tiba dipindahkan ke Istana Tampaksiring, Bali seminggu sebelum hari-H. Istana Tampaksiring adalah istana peristirahatan sehingga tidak memiliki fasilitas untuk sebuah kegiatan formal yang berkapasitas 300 orang. Maka, oleh pihak istana kami diizinkan untuk membuat tenda acara di halaman istana yang asri. Karena Presiden meminta diadakan telewicara antara Bali, Sumatra dan Malaysia, kami harus memasang tv-wall, rangkaian pesawat televisi yang dijadikan satu sebagai backdrop. Waktu itu, teknologi tv-wall belum secanggih sekarang, sehingga pantulan cahaya matahari menghilangkan gambar yang tertera di televisi. Untuk keamanan Presiden dan Tamu Negara, kami dilarang untuk menutup seluruh tenda, sehingga tenda acara harus dibiarkan tetap terbuka. Tak ada jalan selain mengikuti prosedur yang berlaku. Dan semua kru cemas, kalau cuaca benderang, acara telewicara bisa gagal total karena tak terlihat gambarnya.
Selama lima hari, yang saya lakukan adalah komat kamit berdoa dalam hati kepada Tuhan. Yang saya minta bukan soal terangnya gambar, tapi mohon agar negara dan bangsa kita tidak dipermalukan. Pada hari upacara, langit terang benderang dan kru kami sudah pasrah dan berputus asa. Herannya, saya malah tenang saja. Saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita. Kalau pun terang benderang dan gambar tak tampak, ya itu adalah kemauan Tuhan, dan kita harus bisa memetik hikmahnya. Karena acara yang sebelumnya terlambat dimulai, maka mundur pulalah pelaksanaan upacara pengiriman gas ini, yang tadinya jam 10:00 menjadi jam 10:30. Lalu perubahan yang menakjubkan terjadi. Sekitar jam 10:00 lebih, cuaca mulai berawan, dan ketika acara berlangsung, awan gelap menutupi area istana, sehingga acara telewicara berjalan dengan sangat lancar, dan gambar di televisi terlihat sangat jelas. Karena acaranya mundur, maka akhirnya juga mundur, dan baru selesai jam 12:00, tepat ketika Perdana Menteri Thailand Thaksin hadir untuk santap siang bersama dan dilanjutkan dengan pembicaraan tertutup ketiga kepala negara. Yang menakjubkan lagi, awan gelap itu berangsur angsur sirna sehingga di saat hidangan santap siang disajikan, langit kembali terang benderang. Saya langsung berdoa mengucap syukur atas anugerah dan mukjijat Tuhan.
Satu lagi. Tanggal 1 Juni diperingati Hari Susu Sedunia. Sebuah acara besar dipersiapkan di Bundaran HI dengan melibatkan anak SD untuk membagikan paket informasi dan susu gratis kepada pengendara yang melintasi HI. Bahkan sebuah SD sudah mempersiapkan drumband anak-anak untuk memeriahkan acara ini, tepat di lingkaran Bundaran. Karena acara ini melibatkan begitu banyak unsur, termasuk belasan artis yang mendukung gerakan minum susu, saya berdoa lagi, mohon kelancaran acara.
Acara dimulai jam 15:00 dengan sebuah konferensi pers. Jumlah wartawan yang datang mencapai 80 orang, dan artis serta narasumber sudah hadir semua di sana. Kira-kira jam 15:20, langit berubah menjadi gelap, dan di tengah musim kemarau, terjadi hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang mengganggu, di lantai bawah. Saya yang bertindak sebagai moderator, lambat laun menyadari, bahwa suara gemuruh itu berasal dari anak anak SD yang berteduh. Hujan tak kunjung reda, kami memutuskan agar memulangkan anak-anak SD. Sedang para tamu, tidak dapat ke mana-mana, terjebak di dalam ruang konferensi pers. Karena punya waktu luang banyak, dan narasumber tidak ke mana mana, maka wartawan jadi bertanya lebih jauh mengenai seputar manfaat susu bagi kesehatan. Hasil liputannya luar biasa banyak dan mendalam hingga berbulan-bulan kemudian, dan diulas dari berbagai angle.
Hujan baru reda jam 17:30. Karena harus mengambil gambar, kru televisi dan wartawan foto membujuk selebriti kita untuk membagikan paket informasi ke sejumlah pengendara di depan hotel Nikko. Saat membagikan, dan saking bersemangatnya, seorang selebriti remaja sudah lupa kalau ia berada di jalan utama yang pengemudinya sering ngebut. Untung dia didampingi polisi sehingga pengemudi jadi lebih takut dan berhati-hati. Seketika itu juga saya disadarkan dan mengucap syukur kepada Tuhan atas hujan yang diguyurkanNya. Itu baru satu orang selebriti muda, coba kalau ratusan anak SD mengerubuti bundaran ikon ibu kota negara ini. Saya membayangkan bisa saja ada korban tertabrak. Kalau itu terjadi, maka headline esok pagi bukan soal manfaat susu, tapi tertabraknya anak SD yang membagikan susu gratis. Allah Mahabesar.
Kedua peristiwa di atas memang peristiwa besar. Yang belum saya lakukan adalah berdoa mengawali setiap tindakan kecil. Saya lalu memperhatikan bahwa supir saya mengucapkan Bismillah sebelum menginjak pedal memulai perjalanan. Bismillah dan Alhamdulillah saat akan menyantap makanan. Bismillah saat akan melakukan sebuah kegiatan. Saya? Makan saja, doa lewaaaat... kalau ditegur, saya selalu bilang bahwa "Ah, Tuhan sudah tahu kok kalau saya bersyukur..."
Maka hari ini saya diingatkan untuk mulai memulai setiap tindakan dengan doa mohon berkat dan berkahNya....
Saya sendiri termasuk satu dari empat pendiri kelompok pendalaman iman ini, namun karena naik turunnya kehidupan pribadi, sudah hampir tiga tahun saya absen. Hari ini, adalah yang kedua kali saya datang setelah "cuti" panjang, sehingga teman saya yang cantik berteriak,"Lawrence Tjandra is Back, and I hope it's for good!" Teriakan ini disambut dengan suka cita oleh teman yang lain. Dalam hati, saya terharu atas perhatian dan kasih mereka.
Membawakan firman pada kelompok unik ini bukan hal yang mudah. Beberapa kali sang pendeta mati gaya karena celetukan dan komentar-komentar nakal teman-teman. Kali ini, yang dibahas adalah bagaimana naik ke tingkat yang lebih tinggi alias next level. Terus terang, kalau soal yang satu ini, sampai saat ini, apa yang dikotbahkan sang pendeta belum masuk di otak saya. Mungkin karena ilmu saya masih cetek, dan bolos lama pula, sehingga "ndak mudeng". Namun ada dua hal yang langsung menancap. Yang pertama adalah, tak peduli siapa kita, yang penting kita jaga hati kita. Kalau hati kita baik dan bersih, tak usah peduli omongan orang, karena orang toh akan bicara seenaknya menurut pandangan mereka. Kata Pak Pendeta, orang akan bicara, karena mereka punya mulut.
Yang ke dua, lebih menancap di otak. Pak Pendeta berpesan agar kita tak henti-hentinya berdoa. Mau telepon, tumpangkan tangan kita di atas telepon, agar pembicaraan kita diberkati. Mau nulis di notebook, tumpangkan tangan kita di atas notebook. Teman saya bahkan bilang, kalau perlu, tumpangkan tangan kita di atas contact list, agar apa yang kita bicarakan dengan mereka jadi terberkati.
Saya jadi ingat ocehan Samuel Mulia yang kali ini berhalangan hadir. Dia pernah mengingatkan saya, bahwa kata "Ora et Labora" itu tidak sembarangan ditulis. Artinya, berdoa dan bekerja, bukan sebaliknya. Yang terjadi selama ini dengan kita adalah fakta sebaliknya. Kita kerja mati-matian, dan kalau menemukan jalan buntu, baru berdoa mati-matian. Bagaimana bisa diberkati, kalau sebelumnya tak minta. Di atas meja kerja kakak saya tertera, "Be part of the solution, not the problem." Maka kalau doa kita di belakang setelah semuanya runyam, kita ini part of the problem, bukan the solution. Setelah semuanya hancur berantakan, kita berdoa agar Tuhan sudi membereskannya.
Maka yang benar adalah berdoa dulu, mohon berkat dan petunjuk, baru berkarya sebaik mungkin, sambil memasrahkan diri diarahkan oleh Allah. Artinya, kalau dalam bekerja kita disuruh belok kiri, ya ikuti belok kiri.
Saya sendiri sudah memraktekan apa yang dipesankan Pak Pendeta, namun hanya untuk hal-hal yang besar. Ada dua hal yang ajaib yang terjadi, yang bisa saya bagikan. Yang pertama adalah ketika perusahaan kami diminta untuk menangani acara peresmian pengiriman gas pertama dari Indonesia ke Malaysia. Waktu itu Presidennya adalah Ibu Megawati Soekarnoputri dan Perdana Menterinya adalah Mahatir Mohammad. Acara yang tadinya direncanakan di Jakarta, tiba-tiba dipindahkan ke Istana Tampaksiring, Bali seminggu sebelum hari-H. Istana Tampaksiring adalah istana peristirahatan sehingga tidak memiliki fasilitas untuk sebuah kegiatan formal yang berkapasitas 300 orang. Maka, oleh pihak istana kami diizinkan untuk membuat tenda acara di halaman istana yang asri. Karena Presiden meminta diadakan telewicara antara Bali, Sumatra dan Malaysia, kami harus memasang tv-wall, rangkaian pesawat televisi yang dijadikan satu sebagai backdrop. Waktu itu, teknologi tv-wall belum secanggih sekarang, sehingga pantulan cahaya matahari menghilangkan gambar yang tertera di televisi. Untuk keamanan Presiden dan Tamu Negara, kami dilarang untuk menutup seluruh tenda, sehingga tenda acara harus dibiarkan tetap terbuka. Tak ada jalan selain mengikuti prosedur yang berlaku. Dan semua kru cemas, kalau cuaca benderang, acara telewicara bisa gagal total karena tak terlihat gambarnya.
Selama lima hari, yang saya lakukan adalah komat kamit berdoa dalam hati kepada Tuhan. Yang saya minta bukan soal terangnya gambar, tapi mohon agar negara dan bangsa kita tidak dipermalukan. Pada hari upacara, langit terang benderang dan kru kami sudah pasrah dan berputus asa. Herannya, saya malah tenang saja. Saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita. Kalau pun terang benderang dan gambar tak tampak, ya itu adalah kemauan Tuhan, dan kita harus bisa memetik hikmahnya. Karena acara yang sebelumnya terlambat dimulai, maka mundur pulalah pelaksanaan upacara pengiriman gas ini, yang tadinya jam 10:00 menjadi jam 10:30. Lalu perubahan yang menakjubkan terjadi. Sekitar jam 10:00 lebih, cuaca mulai berawan, dan ketika acara berlangsung, awan gelap menutupi area istana, sehingga acara telewicara berjalan dengan sangat lancar, dan gambar di televisi terlihat sangat jelas. Karena acaranya mundur, maka akhirnya juga mundur, dan baru selesai jam 12:00, tepat ketika Perdana Menteri Thailand Thaksin hadir untuk santap siang bersama dan dilanjutkan dengan pembicaraan tertutup ketiga kepala negara. Yang menakjubkan lagi, awan gelap itu berangsur angsur sirna sehingga di saat hidangan santap siang disajikan, langit kembali terang benderang. Saya langsung berdoa mengucap syukur atas anugerah dan mukjijat Tuhan.
Satu lagi. Tanggal 1 Juni diperingati Hari Susu Sedunia. Sebuah acara besar dipersiapkan di Bundaran HI dengan melibatkan anak SD untuk membagikan paket informasi dan susu gratis kepada pengendara yang melintasi HI. Bahkan sebuah SD sudah mempersiapkan drumband anak-anak untuk memeriahkan acara ini, tepat di lingkaran Bundaran. Karena acara ini melibatkan begitu banyak unsur, termasuk belasan artis yang mendukung gerakan minum susu, saya berdoa lagi, mohon kelancaran acara.
Acara dimulai jam 15:00 dengan sebuah konferensi pers. Jumlah wartawan yang datang mencapai 80 orang, dan artis serta narasumber sudah hadir semua di sana. Kira-kira jam 15:20, langit berubah menjadi gelap, dan di tengah musim kemarau, terjadi hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang mengganggu, di lantai bawah. Saya yang bertindak sebagai moderator, lambat laun menyadari, bahwa suara gemuruh itu berasal dari anak anak SD yang berteduh. Hujan tak kunjung reda, kami memutuskan agar memulangkan anak-anak SD. Sedang para tamu, tidak dapat ke mana-mana, terjebak di dalam ruang konferensi pers. Karena punya waktu luang banyak, dan narasumber tidak ke mana mana, maka wartawan jadi bertanya lebih jauh mengenai seputar manfaat susu bagi kesehatan. Hasil liputannya luar biasa banyak dan mendalam hingga berbulan-bulan kemudian, dan diulas dari berbagai angle.
Hujan baru reda jam 17:30. Karena harus mengambil gambar, kru televisi dan wartawan foto membujuk selebriti kita untuk membagikan paket informasi ke sejumlah pengendara di depan hotel Nikko. Saat membagikan, dan saking bersemangatnya, seorang selebriti remaja sudah lupa kalau ia berada di jalan utama yang pengemudinya sering ngebut. Untung dia didampingi polisi sehingga pengemudi jadi lebih takut dan berhati-hati. Seketika itu juga saya disadarkan dan mengucap syukur kepada Tuhan atas hujan yang diguyurkanNya. Itu baru satu orang selebriti muda, coba kalau ratusan anak SD mengerubuti bundaran ikon ibu kota negara ini. Saya membayangkan bisa saja ada korban tertabrak. Kalau itu terjadi, maka headline esok pagi bukan soal manfaat susu, tapi tertabraknya anak SD yang membagikan susu gratis. Allah Mahabesar.
Kedua peristiwa di atas memang peristiwa besar. Yang belum saya lakukan adalah berdoa mengawali setiap tindakan kecil. Saya lalu memperhatikan bahwa supir saya mengucapkan Bismillah sebelum menginjak pedal memulai perjalanan. Bismillah dan Alhamdulillah saat akan menyantap makanan. Bismillah saat akan melakukan sebuah kegiatan. Saya? Makan saja, doa lewaaaat... kalau ditegur, saya selalu bilang bahwa "Ah, Tuhan sudah tahu kok kalau saya bersyukur..."
Maka hari ini saya diingatkan untuk mulai memulai setiap tindakan dengan doa mohon berkat dan berkahNya....
Labels:
'lawrence tjandra',
bersyukur,
doa
Tuesday, January 19, 2010
19 Januari 2010 : Ditampar!
Hari ini rasa rindu saya kepada seseorang yang sudah tidak memedulikan saya lagi sampailah pada puncaknya. Saking tidak tahannya, saya sempat mengirimkan pesan singkat dua hari yang lalu, dan sampai, tapi tidak ada jawaban. Saya sms lagi kemarin, dan sampai saat ini nomornya dimatikan.
Secara virtual, saya mengambil palu dan memukulkannya berulang kali ke kepala botak saya. Tung! Tung! Tung! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sudah tahu sudah usai, masih saja tidak belajar belajar dan menerima realita! Saya membayangkan Dallan*, sang pembaca watak yang berkali kali menceramahi saya soal ini selama 45 menit di Perth! Terngiang-ngiang kata stubborn, and you never learn, and you keep repeating the same thing, over and over again with the same mistakes and results! You have to change! And somehow, I don't know how, you will change! Saya jadi terdiam mencoba mencerna dan belajar dari ketololan saya.
Oke oke, saya memang bodoh! Masih memikirkan dan berharap yang tak mungkin. Saya tahu itu. Tapi di sisi lain hati ini juga bilang, siapa tahu? Memang semua ini proses, dan dalam proses tarik ulur rasa ini, rasanya saya butuh pembuktian. Bukti bahwa semuanya memang telah usai, dan dia sudah tidak peduli lagi pada saya. Dan reaksinya terhadap aksi konyol saya ini adalah buktinya. Sebagai orang yang selalu ingin berpikir analitis dan rasional, saya harus bisa menerima bukti nyata ini. Tak peduli nyata atau tidak, tapi yang kasat mata, beginilah buktinya.
Lama saya terdiam mencerna realita ini, dan memikirkannya. Selama ini saya bertanya dalam hati, bagaimana caranya mengobati luka yang ada di hati ini. Sudah mencoba tegar dan rasional, masih saja tersedot dalam lingkaran setan yang tidak berkesudahan. Masih curi curi baca sms dan email basinya, masih curi curi memandang fotonya. Padahal beberapa teman dekat saya yang sudah seperti malaikat telah menceramahi saya habis habisan. Mereka tak pernah berhenti mengawal hari hari saya. Tapi, tetap saja.... (dan saya tak berani menceritakan apa yang saya sudah lakukan selama ini, semoga saja mereka tidak baca blog ini, dan kalau iya, masih sudi memaafkan saya yang bebal ini)
Hari ini, saya seperti ditampar untuk bangun. Dibukakan mata terhadap realita yang sebetulnya sudah saya ketahui sejak beberapa waktu lalu, tapi tidak mau menerima kenyataan. Tapi akhirnya saya menyadari juga, kalau tamparan itu perlu. Perlu adanya sebuah shocking effect untuk menghentikan sesuatu yang terjadi berkepanjangan dan bertele tele tanpa hasil. Dan hari ini, saya melakukannya. Plak! Ibaratnya, kalau tidak bisa diberitahu baik baik, ya harus diberi pelajaran! And that's exactly what I did to myself today!
Hasilnya? Yang jelas saya jadi terbangun, dan mengakui, bahwa semuanya sudah berakhir. Dan saya tidak boleh marah. Atau kecewa lagi. Karena memang akhirnya sampai di sini saja. Dan memang seperti itu jalannya.
Tadi saat makan malam dengan seorang teman, saya bercerita tentang pelajaran yang saya petik dari menonton film The Lord of The Rings. Semua tentu ingat bahwa film legendaris itu terbagi atas tiga bagian. Yang mau saya ceritakan adalah seusai menonton film pertama, saya benar benar kesal dan marah, bukan karena kualitas filmya karena menurut saya, filmnya sungguh luar biasa! Tapi... produser dan sutradara macam apa itu, yang memenggal film seenaknya sendiri, dan membiarkan film yang sama sekali tak tuntas itu berakhir dengan kata "bersambung"?
Lama benar saya geram, betul betul geram. Rugi besar rasanya menonton film itu! Sampai akhirnya saya dibawa untuk menyadari makna lain dibalik film yang dipenggal "seenaknya" itu. Tak tahu bagaimana awalnya, saya jadi mengaitkannya dengan realita hidup, atau sebuah hubungan, atau sebuah cerita hidup. Saya jadi mendapat pencerahan, bahwa begitulah hidup ini, bisa berhenti kapan saja, apakah berhentinya selesai dengan kata "Tamat" yang aman dan tenang, atau terpenggal di tengah jalan, mungkin karena kecelakaan, dibunuh, sakit mendadak, atau apapun. Tapi yang namanya mati ya tetap mati. Tamat. Apa pun ceritanya. Juga sebuah hubungan. Mau berakhirnya happy ending, atau terpisah karena meninggal, bercerai, diselingkuhi, menyelingkuhi, dipaksa kawin dengan pilihan orang tua atau apa pun, tetap saja ada akhirnya. Tetap saja harus tamat. Dan kita harus bisa menerimanya, karena ceritanya memang berakhir sampai di situ saja.
Saat menceritakannya, saya diingatkan kembali atas pencerahan itu, dan dibimbing untuk mempergunakannya untuk menyadari situasi sekarang, bahwa hubungan saya dengan si tidak peduli itu sudah berakhir, sudah tamat, dan saya harus menerimanya dengan legawa. Dan sekali lagi, mengikhlaskannya. (bicara soal ikhlas, meski sudah diberitahu berkali kali, tapi kok tidak belajar belajar ya! aarrrgh!! Dasar bebal!!!)
Dan ... ah, saya jadi ingat satu kisah lagi yang menguatkan hal ini. Di sebuah acara natal sederhana beberapa tahun silam, saya dihampiri Oom Willem Soeryadjaya, sang pendiri Astra. Beliau memilih duduk dan mengobrol santai dengan saya di deretan kursi belakang dari pada di deretan depan. Namun Oom Willem tetap Oom Willem, bersembunyi di mana pun tetap terlihat, sehingga si pembawa acara minta Oom Willem memberi kesaksian atau wejangan. Oom Willem lalu bercerita tentang bersyukur. Bahwa kita harus selalu mensyukuri keadaan kita. Apa yang dimiliki kita bukan punya kita, sehingga bila diambil, kita harus merelakannya, karena "itu" bukan milik kita. Kita cuma "dipinjami" saja. Oom Willem malah mengajak kita untuk mensyukuri, bahwa kita boleh pernah punya, boleh pernah memiliki, boleh pernah bersama dan boleh pernah menikmati apa yang dititipkan pada kita, sependek apa pun waktunya. Beliau bercerita bagaimana Beliau mendirikan dan membesarkan Astra, dan ketika semua semua jerih payahnya itu terambil, akhirnya si Oom bisa mensyukuri, pernah diberi kesempatan mendirikan dan membesarkan Astra hingga saat ini menjadi salah satu Blue chip utama di negeri ini. Oom Willem pun merasa bangga, pernah diberi kesempatan menjadi bagian (penting) dalam kejayaan itu. Sharing Oom Willem begitu melekat di otak dan hati saya, dan pelahan lahan saya mencoba mempraktekkannya. Saya jadi lebih legawa, ketika barang kecintaan saya rusak, atau hilang. Atau bahkan ketika ayah saya berpulang. Semuanya saya lalui dengan bersyukur. Bersyukur diberi kesempatan punya ayah yang luar biasa.
Maka hari ini saya diingatkan dua hal: Menerima dengan legawa dan ikhlas bahwa segala sesuatu itu ada akhirnya, tak peduli bagaimana hal itu berakhir - yang namanya tamat tetap tamat ; dan mensyukuri apa yang sudah dititipkan Tuhan kepada kita, tak peduli betapa singkatnya titipan itu. Apa yang saya awali dengan kecewa dan marah, hari ini saya akhiri dengan menerima dan bersyukur...
* Dallan : di Victoria Park ph 94706076 atau Armadale ph 94983788, West Australia
Secara virtual, saya mengambil palu dan memukulkannya berulang kali ke kepala botak saya. Tung! Tung! Tung! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sudah tahu sudah usai, masih saja tidak belajar belajar dan menerima realita! Saya membayangkan Dallan*, sang pembaca watak yang berkali kali menceramahi saya soal ini selama 45 menit di Perth! Terngiang-ngiang kata stubborn, and you never learn, and you keep repeating the same thing, over and over again with the same mistakes and results! You have to change! And somehow, I don't know how, you will change! Saya jadi terdiam mencoba mencerna dan belajar dari ketololan saya.
Oke oke, saya memang bodoh! Masih memikirkan dan berharap yang tak mungkin. Saya tahu itu. Tapi di sisi lain hati ini juga bilang, siapa tahu? Memang semua ini proses, dan dalam proses tarik ulur rasa ini, rasanya saya butuh pembuktian. Bukti bahwa semuanya memang telah usai, dan dia sudah tidak peduli lagi pada saya. Dan reaksinya terhadap aksi konyol saya ini adalah buktinya. Sebagai orang yang selalu ingin berpikir analitis dan rasional, saya harus bisa menerima bukti nyata ini. Tak peduli nyata atau tidak, tapi yang kasat mata, beginilah buktinya.
Lama saya terdiam mencerna realita ini, dan memikirkannya. Selama ini saya bertanya dalam hati, bagaimana caranya mengobati luka yang ada di hati ini. Sudah mencoba tegar dan rasional, masih saja tersedot dalam lingkaran setan yang tidak berkesudahan. Masih curi curi baca sms dan email basinya, masih curi curi memandang fotonya. Padahal beberapa teman dekat saya yang sudah seperti malaikat telah menceramahi saya habis habisan. Mereka tak pernah berhenti mengawal hari hari saya. Tapi, tetap saja.... (dan saya tak berani menceritakan apa yang saya sudah lakukan selama ini, semoga saja mereka tidak baca blog ini, dan kalau iya, masih sudi memaafkan saya yang bebal ini)
Hari ini, saya seperti ditampar untuk bangun. Dibukakan mata terhadap realita yang sebetulnya sudah saya ketahui sejak beberapa waktu lalu, tapi tidak mau menerima kenyataan. Tapi akhirnya saya menyadari juga, kalau tamparan itu perlu. Perlu adanya sebuah shocking effect untuk menghentikan sesuatu yang terjadi berkepanjangan dan bertele tele tanpa hasil. Dan hari ini, saya melakukannya. Plak! Ibaratnya, kalau tidak bisa diberitahu baik baik, ya harus diberi pelajaran! And that's exactly what I did to myself today!
Hasilnya? Yang jelas saya jadi terbangun, dan mengakui, bahwa semuanya sudah berakhir. Dan saya tidak boleh marah. Atau kecewa lagi. Karena memang akhirnya sampai di sini saja. Dan memang seperti itu jalannya.
Tadi saat makan malam dengan seorang teman, saya bercerita tentang pelajaran yang saya petik dari menonton film The Lord of The Rings. Semua tentu ingat bahwa film legendaris itu terbagi atas tiga bagian. Yang mau saya ceritakan adalah seusai menonton film pertama, saya benar benar kesal dan marah, bukan karena kualitas filmya karena menurut saya, filmnya sungguh luar biasa! Tapi... produser dan sutradara macam apa itu, yang memenggal film seenaknya sendiri, dan membiarkan film yang sama sekali tak tuntas itu berakhir dengan kata "bersambung"?
Lama benar saya geram, betul betul geram. Rugi besar rasanya menonton film itu! Sampai akhirnya saya dibawa untuk menyadari makna lain dibalik film yang dipenggal "seenaknya" itu. Tak tahu bagaimana awalnya, saya jadi mengaitkannya dengan realita hidup, atau sebuah hubungan, atau sebuah cerita hidup. Saya jadi mendapat pencerahan, bahwa begitulah hidup ini, bisa berhenti kapan saja, apakah berhentinya selesai dengan kata "Tamat" yang aman dan tenang, atau terpenggal di tengah jalan, mungkin karena kecelakaan, dibunuh, sakit mendadak, atau apapun. Tapi yang namanya mati ya tetap mati. Tamat. Apa pun ceritanya. Juga sebuah hubungan. Mau berakhirnya happy ending, atau terpisah karena meninggal, bercerai, diselingkuhi, menyelingkuhi, dipaksa kawin dengan pilihan orang tua atau apa pun, tetap saja ada akhirnya. Tetap saja harus tamat. Dan kita harus bisa menerimanya, karena ceritanya memang berakhir sampai di situ saja.
Saat menceritakannya, saya diingatkan kembali atas pencerahan itu, dan dibimbing untuk mempergunakannya untuk menyadari situasi sekarang, bahwa hubungan saya dengan si tidak peduli itu sudah berakhir, sudah tamat, dan saya harus menerimanya dengan legawa. Dan sekali lagi, mengikhlaskannya. (bicara soal ikhlas, meski sudah diberitahu berkali kali, tapi kok tidak belajar belajar ya! aarrrgh!! Dasar bebal!!!)
Dan ... ah, saya jadi ingat satu kisah lagi yang menguatkan hal ini. Di sebuah acara natal sederhana beberapa tahun silam, saya dihampiri Oom Willem Soeryadjaya, sang pendiri Astra. Beliau memilih duduk dan mengobrol santai dengan saya di deretan kursi belakang dari pada di deretan depan. Namun Oom Willem tetap Oom Willem, bersembunyi di mana pun tetap terlihat, sehingga si pembawa acara minta Oom Willem memberi kesaksian atau wejangan. Oom Willem lalu bercerita tentang bersyukur. Bahwa kita harus selalu mensyukuri keadaan kita. Apa yang dimiliki kita bukan punya kita, sehingga bila diambil, kita harus merelakannya, karena "itu" bukan milik kita. Kita cuma "dipinjami" saja. Oom Willem malah mengajak kita untuk mensyukuri, bahwa kita boleh pernah punya, boleh pernah memiliki, boleh pernah bersama dan boleh pernah menikmati apa yang dititipkan pada kita, sependek apa pun waktunya. Beliau bercerita bagaimana Beliau mendirikan dan membesarkan Astra, dan ketika semua semua jerih payahnya itu terambil, akhirnya si Oom bisa mensyukuri, pernah diberi kesempatan mendirikan dan membesarkan Astra hingga saat ini menjadi salah satu Blue chip utama di negeri ini. Oom Willem pun merasa bangga, pernah diberi kesempatan menjadi bagian (penting) dalam kejayaan itu. Sharing Oom Willem begitu melekat di otak dan hati saya, dan pelahan lahan saya mencoba mempraktekkannya. Saya jadi lebih legawa, ketika barang kecintaan saya rusak, atau hilang. Atau bahkan ketika ayah saya berpulang. Semuanya saya lalui dengan bersyukur. Bersyukur diberi kesempatan punya ayah yang luar biasa.
Maka hari ini saya diingatkan dua hal: Menerima dengan legawa dan ikhlas bahwa segala sesuatu itu ada akhirnya, tak peduli bagaimana hal itu berakhir - yang namanya tamat tetap tamat ; dan mensyukuri apa yang sudah dititipkan Tuhan kepada kita, tak peduli betapa singkatnya titipan itu. Apa yang saya awali dengan kecewa dan marah, hari ini saya akhiri dengan menerima dan bersyukur...
* Dallan : di Victoria Park ph 94706076 atau Armadale ph 94983788, West Australia
Subscribe to:
Posts (Atom)